
Sesampainya di depan pintu rumah sakit, Freddy langsung keluar dan berlari memutar untuk membukakkan pintu mobil untuk Risya.
Setelah terbuka, Freddy pun langsung membopong tubuh Risya dengan kedua tangannya dan segera berjalan masuk tanpa memperdulikan mobilnya masih berada di depan pintu.
"Dokter Freddy, apa yang terjadi kepadanya?" Salah satu suster bertanya selepas melihat Freddy berjalan dengan sangat terburu-buru.
"Dia demam," Hanya itulah yang bisa Freddy jawab.
Wajah pucat bercampu dengan ekspresi rasa sakit milik Risya menjadi bukti kalau dia benar-benar sudah masuk ke dalam penderitaan yang tidak bisa dia bagi kepada orang lain.
Kemunculan Freddy yang sedang menggendong Risya pun membuat bnyak pasang mata merasa simpati. Bagi mereka semua, kekhawatiran yang Freddy berikan terhadap gadis tersebut, terlihat seperti seorang Ayah yang sedang menatap penuh simpati pada anaknya sendiri.
TING!
Setelah pintu Lift terbuka, Freddy bergegas masuk.
"Risya, bertahanlah." Kata Freddy mencoba menyemangati Risya.
Risya membuka kelopak matanya dengan pelan, lalu dengan posisinya itu, Risya pun jadi melihat rahang paman Freddy yang cukup jelas. Garis wajah yang cukup jelas itu terasa seperti pahatan patung yang bisa hidup.
Risya kemudian mengangkat tangan kanannya dan menyentuh wajah paman Freddy dengan pelan.
"Kenapa paman sangat kawatir sekali?" Tanya Risya kepada Freddy yang masih saja berekspresi khawatir.
Freddy sedikit menunduk ke bawah dan menatap Risya yang masih saja bisa memberikan senyuman lemah di bawah tekanan rasa sakitnya sendiri.
Sekilas, hal itu membuat Freddy tanpa sengaja mengingat kisah masa lalunya saat menggendong Risyella dengan cara yang sama seperti itu. Membawa Risyella untuk melakukan persalinan, karena masa itu Vatler masih saja belum bisa di hubungi untuk segera pulang.
'Apa akan terjadi lagi?' Benak hati Freddy kepada Risya
CUP.
Telapak tangan Risya yang sempat menutupi mulutnya pun Freddy cium dengan penuh perasaan, lalu menjawab : "Karena paman tidak ingin kau kenapa-kenapa. Kau sudah memberikan paman uang 100 juta milikmu, jadi jangan sia-siakan itu. Kau harus sembuh,"
Risya menurunkan tangan kanannya dan mencengkram kemeja biru milik Freddy dengan erat. "Bukannya hidup adalah sebuah titipan? Aku tidak tahu soal jangan sia-siakan hidupku setelah memberikan paman uang 100 juta itu. Bagiku...ukh.."
"Jangan banyak bicara lagi, kau harus tetap sembuh. Senin besok, kau akan melakukan operasi, jadi persiapkan dirimu." Beber Freddy.
"Operasi? Operasi apa?" Tanya Risya dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Cara agar kau bisa sembuh selain harus makan obat-obatan, kau harus menjalankan transplantasi sumsum tulang belakang. Itulah yang akan paman lakukan kepadamu minggu depan, jadi tetaplah bertahan."
"................" Risya hanya diam. Menajalankan operasi? Bagi Risya terasa tidak ada gunanya, karena semua sakit itu pasti akan bertambah banyak.
Risya tidak menyukai rasa sakit, tapi sayangnya dia sering merasakan sakit batin yang mendalam.
Apa yang bisa dilakukannya?
Bertahan? Memangnya bertahan demi apa?
Berbagai pertanyaan selalu muncul di benaknya.
Sangat disayangkan, kalau Risya merasa tidak ada yang harus di pertahankan dari rasa sakit yang terus menerus saja bermunculan menghantuinya setiap hari.
"Iya," Jawab Risya, hanya mengiyakan saja tanpa membuat janji tertentu.
"................" Namun dimata Freddy, tidak terlihat ekspresi semangat yang biasanya Risya perlihatkan. 'Apa dia sudah menyerah?'
Hati Freddy memang merasa kalau Risya seperti orang yang sudah menyerah dalam segala hal. Tetapi, Freddy tetap berusaha menyangkal ekspresi itu adalah ekspresi menyerah.
'Mungkin karena rasa sakitnya dari penyakitnya, dia tidak terlihat bersemangat.' Batin Freddy.
"Tuan? Apa yang membawa anda datangkemari?" Tanya Bu Emi kepada Vatler yang tiba-tiba saja datang mencarinya.
"Risya, apa dia sudah pulang?"
"Ehm..1 jam yang lalu, saya memang sudah melihat Nona Risya pulang dengan seorang pria. Apa anda tidak bertemu dengannya?"
"Baiklah kalau begitu," Tanpa menjawab apa yang ditanyakan bu Emi kepadanya, Vatler berjalan pergi menuju motornya lagi.
'Orang kaya memang selalu seenaknya sendiri.' Benak hati bu Emi. Lalu pergi, mengabaikan Vatler yang hanya menanyakan hal singat tentang Risya saja.
Tap...Tap....Tap...
Vatle rkembali memakai helm nya, setelah itu dia langsung menyalakan mesin motrnya.
'Kemana Freddy membawanya?' Vatler tidak pernah habis pikir, kalau Freddy kembali mengulangi perbuatannya dengan membawa Risya.
'Padahal dia hanyalah orang luar, kenapa terus saja masuk kedalam hubunganku?' Vatler pun jadi semakin kesal, karena di masa lalunya Freddy juga pernah berurusan dengan Risyella, dan sekarang pun Freddy kembali melakukan hal yang sama, lebih dekat dengan Risya, yang notabene nya adalah anaknya Vatler dengan Risyella.
__ADS_1
Vatler sempat menghubungi Risya beberapa kali, tapi tidak pernah di angkat sekalipun.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
DRRTT...
DRRTT.....
Freddy menatap layar handphone yang sedang dia pegang itu dengan tatapan dingin. Tertera nama Ayah sebagai orang yang menghubungi nomor Risya, yang artinya orang itu adalah Vatler.
'Kau tidak berhak lagi mengurusnya.' Pikir Freddy, kemudian mematikan handphone Risya agar tidak ada lagi orang yang mengganggunya.
PIP....PIP....PIP....
Alat detektor jantung yang terpasang pada tubuh Risya pun jadi mengisi keheningan di dalam kamar rawat inap yang Freddy pesan secara khusus.
Disana Freddy bisa melihat wajah Risya yang sudah tidak pucat lagi seperti sebelumnya.
Tetapi karena Risya masih dalam di bawah pengaruh obat, makannya Risya tetap terbaring tidur dengan wajah yang tenang.
"Risya, aku berharap kau bisa bertahan. Bisa ke Cafe Blurry lagi. Vanes pasti merindukan kita berdua datang kesana setiap minggu." Tatap Freddy pada wajah yang sedang tertidur itu. Setelah puas menatapnya, Freddy pun meninggalkan kecupan di kening Risya, sebelum akhirnya Freddy pergi meninggalkan Risya sendirian di dalam kamar.
"Freddy," panggil Jansen setelah melihat Freddy akhirnya keluar juga dari kamar.
Freddy menoleh kearah Jansen yang sedang berjalan menghampirinya. "Ada apa?"
"Kau gunakan saja ini dulu. Di dalamnya ada uang 600 juta." Jensen menyerahkan sebuah cek kepada Freddy sejumlah 600 juta.
Fredddy hanya menatapnya, lalu bertanya : "Aku tidak memintamu me-"
"Aku tahu. Tapi aku tidak tega melihatnya tersiksa terus seperti itu. Aku meminjamimu uangku, mau kapanpun kau mengembalikannya, aku tidak masalah. Tapi yang terpenting dia harus segera melakukan operasi. Masalahnya Deni mengatakan kalau kau tidak lebih dulu membayarnya, sumsum itu akan dibeli oleh orang lain." Ucap Jansen panjang lebar, yang dimana hal tersebut sontak membuat Freddy semakin dihantui akan kematian yang akan mendatangi Risya jika tidak segera membayar uang untuk membeli sumsum itu.
Freddy pun menerimanya. Meskipun dengan terpaksa tetapi yang terpenting adalah dia bisa menambah saldo di rekeningnya.
"Aku pasti akan megembalikannya kepadamu, Terima kasih," Kata Freddy.
Diberikan ucapan terima kasih dengan ekspresi Freddy yang terlihat senang itupun berhasil menjatuhkan Jansen dalam keterkejutannya.
Itu pertama kalinya untuk Jansen menerima rasa terima kasih yang terkesan sangat tulus itu dari seorang Freddy.
__ADS_1