
Di dalam ruang spa.
Setelah Vatler masuk, dia hanya mendapati keheningan saja.
Vatler celingukan untuk mencari seseorang yang dia percayai masih berada di ruangan itu. Hingga secara kebetulan, tepat di belakang sofa, terdapat bathtup yang berisi air berwarna putih layaknya susu, lalu ditaburi bunga mawar berwarna merah.
Tapi meskipun begitu, Vatler tidak melihat seseorang yang sedang berendam di dalam sana.
Tetapi disebabkan Vatler ingin serius mencari keberadaaan dari wanita itu, Vatler pun berjalan mendekat kearah bathtup itu berada.
Sampai dia akhirnya melihat sesuatu yang ternyata sedang asik tidur?
'Dia sudah tidur? Padahal aku pikir aku sudah ngebut.' Tatap Vatler terhadap seorang wanita yang dimana keberadaan tubuh dari wanita itu sudah terendam air sepenuhnya, dan hanya tinggal menyisakan kepalanya saja yang ternyata kelopak mata itu sudah tertutup.
Ya..apa yang Vatler lihat saat ini adalah Risyella sudah tertidur lelap.
"................" Sampai beberapa menit kemudian, kepala Risyella semakin masuk kedalam air.
Blupupp....
"........?!" Vatler yang melihat Risyella hampir tenggelam itu, tangannya dengan cepat menggapai lengan kanan Risyella, dan...
SPLASH....
Air yang sempat terminum dan tiba-tiba mendapati tangannya tiba-tiba di tarik, hingga tubuhnya pun jadi sedikit tertarik pula, sukses membuat Risyella tersadar dari rasa kantuknya. "Uhukkk....uhukkk....."
Risyella terbatuk sebab air itu juga sempat masuk lewat hidungnya.
"Apa? Siapa yang menarikku? Uhukk...uhuk..."
"Kamu hampir tenggelam." Itulah yang Vatler katakan kepada Risyella.
Risyella yang tidak tahu sebelumnya karena apa tiba-tiba tangannya ditarik, langsung menoleh kesamping kanannya. Ternyata yang baru saja menyelamatkannya sebelum dirinya tenggelam karena tidur sambil berendam adalah Vatler?!
__ADS_1
'Hah....?!' Karena saking terkejutnya, Risyella langsung berdiri. "Kenapa kamu tioba-tiba sudah ada disini?"
"Bukannya kamu ingin Donat?" Dengan raut wajahnya yang datar itu, Vatler memperlihatkan tangan kirinya yang saat ini memegang paper bag yang berisi dua lusin donat.
WUSHH.....
Angin yang berasal dari Ac yang menyala itu berhasil menyita perhatian Risyella untuk melirik ke bawah, dimana saat ini tubuhnya tiba-tiba terasa lebih dingin?!
"Kyaaa....!" Risyella menjerit sekeras-kerasnya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan, lalu dia segera kembali duduk di bathtup untuk menutupi seluruh tubuhnya yang saat ini sedang telanjang.
Dan akibat dari perbuatannya itu, seluruh air yang ada di dalam bathtup pun langsung meluap.
BYURR....
"...............?" Vatler yang tidak beraksi apapun ketika melihat tubuh Risyella yang tidak memakai apapun itu segera maruh paper bag di meja samping bathtup persis dan kemudian Vatler melangkah mundur.
'Memalukan...ini lebih memalukan dari pada kemarin. Kenapa juga aku langsung berdiri seperti tadi. Bagaimana ini? Karena aku sangat malu sampai merasa tidak punya muka untuk mengahadap, pasti nanti akan sangat canggung kan?' Racau Risyella.
"Aku tidak melihat apapun."
Blupup...Blupup.....Blupup....
'Tidak melihat apanya. Jelas-jelas dia melihatnya. Kenapa pakai mengatakan tidak melihatnya sih? Kesannya kan, aku jadi seperti bukan apa-apa. Yah..aku ini memang bukan apa-apanya dia sih. Tapi sakit juga ya? Seakan aku ini bukan wanita. Lihat saja ekspresinya itu, dia benar-benar bisa mengendalikan ekspresinya sendiri. Kenapa rasanya jadi sedikit menyebalkan ya?' Pikir Risyella lagi merasa kesal dengan ekspresi wajah Vatler yang benar-benar terlihat seperti dinding. 'Tapi aku benar-benar malu.'
Risyella dalam diam, ketika seluruh tubuhnya saat ini masuk kedalam air, kedua tangannya pun meraba dadanya sendiri yang memang kecil.
Dari situlah, terbesit kalau apa yang dikatakan oleh Kevin beberapa jam lalu, memang ada benarnya.
'Dada sekecil ini memangnya apa yang bisa di banggakan? Ketika semua pria saja sukanya yanng montok-montok kan?' Pikir Risyella lagi. Matanya pun kembali menatap ke arah depan.
Langit yang awalnya terlihat cerah itu, kini kembali terselimuti oleh awan berwarna kelabu.
"Oh, ya....tadi habis dari mana?" Dengan berani, demi memecah keheningan diantara mereka berdua, Risyella pun mengutarakan satu pertanyaan yang dari awal Vatler pergi itu, selalu saja membuatnya kepikiran.
__ADS_1
Vatler yang awalnya berdiri memunggungi Risyella, sesaat itu dia menjeling kearah samping kanan, setelah itu Vatler kembali menatap ke depan dan pergi menuju sofa lalu dia pun duduk disana.
"Apakah kamu sangat penasaran?"
"Yah~ Tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa." Kata Risyella dengan wajah sudha merungut minta penjelasan.
Vatler terdiam sejenak. Selagi tangan kanannya membuka tutup dari pemantik api, Vatler kemudian menjawab. "Lagi pula ini bukan hal besar. Aku tadi pergi karena aa seseorang yang memintaku untuk membakar sesuatu."
"Hah? Membakar?" Risyella segera menoleh ke belakang.
"Ya...aku baru saja membakar gubuk."
"Apa?!" terkejut Risyella. Diam-diam dibalik penampilan Vatler yang terlihat seperti orang berkelas, dan untuk pekerjaannya, Risyella juha berpikir kalau Vatler adalah pekerja kantoran itu, ternyata bisa membakar gubuk?
Gubuk yang dimaksud oleh Vatler sendiri adalah sebuah rumah.
____________________
"Bos! Kenapa markas kita bisa kebakaran?" Tanya pria ini, kepada laki-laki berperawakan tinggi, punya bekas luka di pipi sebelah kanannya, dan saat ini dianya memakai kalung rantai besar berwarna emas dan sebuah kacamata hitam yang menutupi sepasang matanya.
Saat ini sepuluh orang itu sedang berdiri mengamati rumah kosong yang awalnya mereka jadikan sebagai markas mereka, kini sudah terbakar dan mulai menghanguskan seluruh sisi dari rumah itu.
"Jika sudah seperti ini, artinya keberadaan kita sudah tidak aman lagi." Sahut pria ini, yang tadi di panggil Bos oleh salah satu dari anak buahnya.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Untuk mencari tempat persembunyian lagi, pasti akan lebih susah."
"Dari pada mengambil resiko, jika kita bersama-sama terus, sebaiknya kalian berpencar. Aku ada satu tempat yang aku pikir lebih aman dari ini. Dan aku akan mmeberikan kalian cara bagaimana untuk pergi ke lokasi itu." Imbuhnya lagi.
Melihat beberapa anak buahnya ada yang terluka dan tidak sadarkan diri, maka dia akhirnya tahu, kalau beberapa waktu lalu memang ada yang menyusup ke markasnya.
Setelah melumpukan para penjaga, dan mengambil apa yang dikiranya penting, jejak yang dia tinggalkan adalah dengan cara membakarnya.
Tapi yang jadi pertannyaannya adalah...
__ADS_1
'Siapa yang melakukan hal ini di siang bolong seperti ini?' Itulah pikiran aneh yang terlintas di dalam kepalanya. 'Apakah orang yang menyusup ke markas ku berhasil mengambil informasi yang aku kumpulkan di dalam laptop ku? Tidak-tidak....harusnya itu tidak mungkin, karena aku meletakkannya di brankas bawah tanah. Jadi tidak mungkin laptop milikku bisa ketahuan. Untuk memastikan apa yang aku pikirkan ini, aku harus menunggu apinya benar-benar padam.'