Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
156 : IPHTV : Di tinggal pergi mereka berdua


__ADS_3

Ironis...


Seluruh kenangan yang berisi kehangatan itu akhirnya sirna juga, dan membawa kenangan pahit untuk Vatler sendiri.


Karena waktu yang dia jalani itu benar-benar dia siakan. Apa yang sudah di berikan Istrinya kepadanya pun tidak bisa Vatler jaga sama hal nya dengan sosok Risyella yang tidak bisa Vatler jaga dengan baik, hingga akhir dari dua orang yang seharusnya Vatler lindungi, justru dipilih untuk menemani tuhan yang ada di atas sana.


"Ini adalah ulah dari Ayah sendiri, makannya jadinya seperti ini. Aku sudah pernah memperingatkan Ayah, tapi hasilnya adalah ini." Arshel pun menatap sang Ayah yang saat in berdiri dalam lamunan paling dalam, hingga apa yang Vatler lihat jadi terasa nyata, dan salah satunya adalah sosok Arshel, anak pertamanya.


"Aku tahu." jawab Vatler cukup singkat.


Sampai Vatler kemudian mengernyitkan matanya, karena dia tiba-tiba dihalusinasikan oleh Risya dan Risyella yang ada di bawah sana sedang bermain bersama-sama.


"Yah...tapi dengan seperti ini, Risya jadi lebih bahagia. Kan dari dulu dia sangat merindukan Ibu, makannya wajahnya bisa sebahagia itu kan?" Ucap Arshel lagi kepada sang Ayah.


"Hahaha..ibu, jangan gelitik aku lagi, itu geli." Tawa dari Risya pun menggelegar di dalam rumah yang sebenarnya kini sudah sepi. Tapi karena Vatler saat ini mendapatkan halusinasi yang cukup banyak, makannya dia jadi merasa melihat ada dua orang yang sebenarnya sudah tidak ada, jadi terlihat ada.


Dan itu adalah Risyella dan Risya.


"Tapi ibu sangat ingin mendengarmu tertawa seperti ini." Terlihat Risyella sungguh menikmati bisa mempermainkan Risya, yang merupakan anaknya dari hubungannya dengan Vatler.


"Nah ini kan ibu sudah mendengarku tertawa, jadi hen..hahaha...hentikan itu..ibu!" Teriak Risya saat perutnya terus mendaptakan gelitikan yang cukup menggelikan sampai Risya tidak mampu untuk tidak tertawa terus.


"Tapi Ibu kurang puas saja. Kan ini, pertama kalinya Ibu bisa membuat Risya tertawa." Ungkap Risyella.


Hingga Vatler sendiri langsung membelalakkan matanya. Dia kemudian menatap kedua tagannya sendiri dan bergumam lirih. "Jadi apakah aku juga belum pernah membuat Risya tertawa sampai seperti itu?"


"Sudah jelas lah, kan Ayah lebih suka keluar untuk bekerja ketimbang menemani kami bermain. Apakah kali ini, Ayah baru menyesali waktu yang sudah Ayah buang sia-sia itu?" Tanya Arshel. "Bukannya Risya juga pernah bertanya, kapan bisa liburan bersama? Tapi Ayah justru langsung menolaknya saat itu juga, makannya Risya jadi enggan untuk dekat dengan Ayah yang tidak berguna sepertimu itu.


Tapi dengan seperti ini, Risya akan terbebas dari rasa sedihnya. Karena Ayah yang membuatnya seperti ini, Risya tidak akan mendapatkan kesedihannya lagi, karena tujuannya untuk menyusul Ibu sudah dikabulkan.


Setidaknya itulah yang bisa aku katakan sebagai anak Ayah. Tapi selebihnya pikirkan sendiri apa yang salah dengan semua keputusan yang Ayah ambil selama ini.


Ayah itu,-" Arshel kembali menatap ke depan. Tampan dingin yang cukup mirip dengan Vatler itu, perlahan jadi pudar, karena akhirnya Arshel yang sangat jarang tersenyum itu, kini tiba-tiba saja tersenyum lembut, saat melihat adanya dua orang yang saat ini sedang bersenang-senang di bawah sana tanpa mengajak Arshel.


"Ayah itu berhasil menyia-nyiakan dua orang perempuan yang sebenarnya sangat menyayanngi Ayah. Dan sekarang, Ayah akan sendirian, selamanya." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Ibu! Lihat! Arshel ternyata ada di sana!" Teriak Risya sambil menunjuk ke arah atas, atau lebih tepatnya sebenarnya menunjuk ke arah mereka berdua. "Ibu harus gelitik si kakak tembok itu! Jangan aku saja!" Protes Risya kepada sang Ibu.


Sang Ibu, yaitu Risyella pun mencoba melihat ke arah atas sana, dan melihat ada dua pria yang saat ini berdiri berjejer di atas tangga.


Akan tetapi, Risyella hanya mmeberikan senyuman lembut kepada mereka berdua, sambil melambaikan tangannya.


"Ibu harus bawa anak itu kesini, dan gel ihhhihh..!" Ucapannya Risya pun mengambang di udara dan di gantikan tawa penuh cekikikan, sakinng gelinya, di gelitik oleh Risyella. "Tidak bisa Risya, karena kita berdua sudah berbeda alam dengan mereka berdua." beritahu Risyella kepada anak perempuannya itu.


Dan Arshel yang tahu akan kenyataan itu, membalas senyuman sang Ibu, dan akhirnya berjalan pergi dari sana, meninggalkan sang Ayah, yaitu Vatler yang terlihat terpegun dengan sosok kedua orang perempuan yang ada di bawah sana benar-benar memperlihatkan ekspresi wajah yang bahagia.


"Risyella." Panggil Vatler dengan nada yang cukup ragu, karena dia memang sedang meragukan apa yang dia lihat itu.


"Vatler," sahut Risyella detik itu juga.


"Ayah?" Risyella yang sudah menghentikan tindakannya untuk menggelitik Risya, membuat Risya segera bangun dari acara berbaring tadi, lalu mendongak ke arah atas, hingga Risya sendiri akhirnya bisa melihat sang Ayah yang sampai terakhir Risya menghembuskan nafas terakhirnya pun, dia tidak sempat bisa bertemu dengan Ayahnya ini.


Vatler perlahan mengambil langkahnya untuk menuruni satu per satu anak tangga.


Dia yang sangat menyesali perbuatannya, dia yang sangat merindukan kedua orang ini, membuatnya sangat ingin sekali bisa memeluknya.


"Iya, kebetulan ini sudah waktunya pergi." Jawab Risyella.


"Ya ayo, jangann sampai terlambat, karena Ayah itu." Sorotan mata Risya pun berubah menjadi dingin, dan itu di tunjukkan kepada Vatler yang dari tadi untuk pertama kalinya, Vatler memasang wajah cemas kepada mereka berdua.


"Risya, jangan seperti itu kepada Ayahmu. Itu tidak baik." Tegur Risyella kepada Risya yang ternyata punya keberanian tinggi untuk menatap Vatler dengan tatapan yang cukup dingin.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo pergi." Pinta Risya kepada Risyella sambil menarik gaun ibunya itu, agar benar-benar menuruti kemauannya.


"Iya..iya." Jawab Risyella. Dengan terpaksa, Risyella pun segera menuruti kemauan dari Risya itu untuk segera pergi dari sana, karena tidak mau terlambat. "Vatler, terima kasih sudah menjaga Risya, sekarang aku yang akan menjaganya. Jaga dirimu baik-baik ya, jangan sampai sakit sepertiku yang sering menyusahkanmu." Ungkap Risyella kepada Vatler yang kian menunjukkan wajah khawatirnya.


"Tidak-" Vatler yang entah dari mana datangnya rasa takut itu mulai mengambil langkah yang lebih cepat agar bisa menghampiri mereka berdua.


Risyella memutar badannya, dan di susul dengan Risya yang kini di tangan kirinya sudah memegang boneka kelinci kesayangannya.


Tanpa menghiraukan lagi apa reaksi yang sedang Vatler gunakan itu, Risyella dan Risya pun berjalan pergi menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Risyella, Risya! Tunggu, jangan tinggalkan aku lagi." Matanya sudah sendu, suara yang Vatler keluarkan pun jadi gemetar, apalagi saat melihat Risyella dan Risya kini sudah berjalan menuju pintu rumah.


"Disana ada ice cream kan? Apakah ada banyak kelinci untuk menemani temanku ini?" menunjuk pada satu boneka kelinci yang sedang Risya bawa.


"Banyak kok, bahkan disana pada gemuk-gemuk, pasti suka dengan Risya karena bawa teman baru untuk mereka." Jawab Risyella seraya mengusap ujung kepala Risya, lalu kedua pintu besar yang menjadi awal dari semua kisah mereka semua akhirnya Risyella dan Risya gunakan sebagai pintu dari akhir kebersamaan antara dunia manusia yang masih di tinggali oleh vatler itu.


"Risyella! Risya!" Teriak Vatler, mencoba memanggi mereka berdua agar berhenti, agar tidak pergi dari sisinya.


Tapi panggilannya itu tidak di gubris oleh mereka berdua, hingga Vatler pun akhirnya berlari dengan mengejarnya.


KLEK.


Kedua pintu itu terbuka dengan sendirinya, dan membiarkan kedua orang itu pergi begitu saja tanpa mau menunggu Vatler yang sedang berlari untuk menyusulnya.


Tapi mau seberapa cepat Vatler mengerahkan tenaganya untuk menyusul kedua orang yang sangat Vatler rindukan itu, tidak menjadikan Vatler mendapatkan apa yang dia harapkan itu.


Tangan kanannya yang mencoba untuk meraih bahu Risyella, justru berakhir dengan dirinya yang hanya menggapai angin kosong saja.


JDERR....


Dan rupanya, tangis yang dimiliki oleh Vatler itu juga di wakili oleh alam yang saat ini sedang hujan deras dengan petir yang menggelegar.


JDERR...


"Risyella! Risya! Aku menyesal! Aku mohon, kembalilah! Kembali..." Tangisan Vatler pada akhirnya pecah juga. Dia benar-benar merasakan perasaan paling menyedihkan di dunia, ketimbang harus kehilangan hartanya miliknya, dan itu adalah sosok dua orang yang harusnya berada di sisinya untuk waktu yang lebih lama.


Tapi apa?


Semua apa yang di kehendaki oleh tuhan, sungguh tidak membiarkan Vatler mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kalian berdua, aku mohon kembali. Aku tidak ingin merasakan kesepian yang seperti ini lagi... Risyella, maafkan aku, Risya." Dan Vatler pun berjongkok sampai berakhir dengan duduk di lantai.


Air matanya membasahi wajahnya, dan hati yang terasa sakit itu benar-benar seperti sedang di tikam dengan pisau yang amat dalam.


Ini kali kedua Vatler akhirnya mendapatkan raa sakit yang lebih dalam ketimbang empat belas tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2