
'Aku memang mengatakan hari ini adalah ulang tahunku, dan menyurh nya agar tidak membawakan hadiah apapun, karena malam iin yang aku butuhkan bukan hadiah berupa barang, tapi tubuhnya.
Setelah malam itu, aku jadi sangat menginginkannya, dan memutuskan agar Freddy jadi pilihanku yang terakhir.
Makannya, sebisa mungkin dia harus datang, agar kita berdua bisa menjalani malam kedua kita, Freddy.' Rencana di balik kedatangan Angie ke kantor Freddy adalah agar Freddy datang ke rumahnya.
Dengan dalih ulang tahun, sebenarnya malam ini akan Angie jadikan sebagai hari yang paling spesial, sebab dia merencakan pesta ulang tahunnya untuk mereka berdua saja.
Dan berharap, malam ini akan menjadi malam yang panas dan menyenangkan.
Itulah harapan dari Angie yang tidak bisa mendapatkan hati vatler.
Makannya, karena sudah pernah sekali berhubungan dengan Freddy, keputusannya pun sudah bulat, untuk menjadikan Freddy sebagai miliknya.
'Aku melakukan ini, karena aku tidak mau sendirian terus. Apalagi dia, aku sangat tidak ingin melihat dia terjerat dalam urusan tanggung jawabnya secara terus-menerus. Lagi pula tugasnya untuk merawat Risya juga sudah selesai, dan dia sudah tidak terikat apapun dengan Risyella.
Makannya, aku berani melakuan ini kepadamu Freddy.' Dan Angie pun berjalan pergi menuju basement, dimana dia memarkirkan mobilnya di sana.
_____________
Di sebuah danau.
Mobil berwarna putih itu terparkir di bawah pohon besar persis. Tapi si pemilik dari mobil itu sudah pergi menuju tepi danau, sambil bermain lempar batu, yang mengandalkan skill yang cukup bagus agar batu yang dia lempar itu memantul di permukaan air sebelum akhirnya tenggelam.
Dalam lima kali percobaan, tentu saja pria ini berhasil melakukannya dengan cukup sempurna.
Sampai lemparan batu yang tadinya hanya ada satu saja, kini bertambah satu.
Kedua batu itu pun akhirnya saling beradu siapakan yang punya pantulan paling banyak, dialah yang menang.
Dan tentu saja yang menang adalah si pria yang pertama kali sampai di danau itu.
"Kemampuanmu masih saja bagus. Kenapa kamu selalunya punya skill yang bagus, padahal usiamu saja sudah berkepala empat." Ucap pria yang baru saja datang ini, yaitu Freddy.
"Apa hubungannya dengan usia?" Tanya balik pria yang merupakan orang yang pertama kali sampai di pinggir danau, yaitu Vatler. "Jika iri, maka harus berlatih. Tapi aku memang yakin, kamu memang tidak akan pernah bisa melampauiku." Vatler mendelik tajam ke arah Freddy yang sedang mencoba kembali untuk melempar batu miliknya ke permukaan air, dan berharap akan dapat banyak pantulan yang tercipta.
Tapi sayangnya ketika Freddy sebentar lagi akan mendapatkan pantulan yang ke llma, batu milik Freddy tiba-tiba saja di hantam dengan batu yang di lempar Vatler.
Sehingga harapannya pada pantulan terbanyak itu pun berakhir sudah, karena Vatler sudah menyelesaikan perlombaan singkat itu.
Karena sudah seperti itu, Freddy pun terpaksa menyudahinya, dan menuntut sebuah penjelasan yang ingin di bahas oleh Vatler kepadanya.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, sampai membuatku pergi ke tempat ini lagi setelah sepuluh tahun lamanya tidak pernah berkumpul disini?" Kata Freddy, memulai pembasahan untuk apa yang akan di bicarakan oleh Vatler kepadanya.
"Apa kamu melakukannya karena kamu mendapatkan wasiat dari Risyella?"
Satu pertanyaan itu langsung membawa pergi mereka berdua dalam nuansa nostalgia.
Freddy yang terkejut karena Vatler rupanya sudah tahu dengan wasiat itu, langsung tersenyum tipis, dan bertanya balik, "Darimana kamu tahu?"
__ADS_1
"Arshel. Dia mengatakan kepadaku kalau kamu yang bertanggung jawab merawat Risya secara diam-diam karena perintah dari mendiang Riseyella, benar kan?"
'Arshel? Darimana dia tahu kalau aku mendapatkan perintah dari Risyella kalau aku harus menjaga Risya? Padahal pertemuan pertama kami, jelas saat aku menggendong Risyella waktu itu.
Darimana dia mengetahuinya?' Rentetan pertanyaan pun terus bermunculan di dalam kepalanya.
Dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Arshel, karena memang sengaja untuk menghindari sebuah pertemuan dengan anaknya vatler yang satu itu.
Tapi semua rahasianya saat ini sudah terbongkar, makannya Vatler pun memanggilnya untuk bertemu dan membahas soal wasiat yang pernah Risyella berikan kepada Freddy, sedangkan Vatler sendiri sebagi suami sah nya Risyella tidak mendapatkan sepatah kata terakhir apapun, karena sepeninggalnya Risyella setelah melahirkan Arshel dan Risya, Vatler belum berada di sisinya Risyella, bahkan sampai hembusan nafas terakhir milik Risyella sendiri.
Hah..Vatler ingin sekali membunuh dirinya sendiri karena dia sama sekali tidak berbuat apapun.
Tapi jika seperti itu, itu akan menjadi dosa besar yang tidak akan termaafkan karena sekarang yang ada di sisinya adalah Arshel sendiri.
Jadi dia tidak akan melakukan hal bodoh itu.
Freddy yang merasa terjerat dalam hubungan rumah tangga yang tidak sempurna itu pun akhirnya menjawab. "Iya. Aku memang mendapatkan wasiat dari Risyella,"
Vatler semakin mengernyitkan matanya, karema Freddy memanggil Istrinya Vatler dengan nama depannya, Risyella?
Iya, memang itulah nama dari mendiang istri Vatler .
"Dia menyuruhku untuk menjaganya. Karena itu, aku merawatnya. Karena Risyella sudah paham kalau kamu tidak akan mungkin bisa merawat serta memberikannya kasih sayang.
Makannya Vatler, jika saja dulu kamu memberikan Risyella kepadaku, tidak mungkin Risyella meninggal."
"Lagi pula semuanya sudah berlalu."
'Aku rawat?' Kata yang langsung menyayat hatinya itu, membuat Vatler segera memberikan bogem mentah kepada Freddy.
BUKHH..
Bogem mentah itu langsung mendarat di wajah Freddy.
"Phuih..." Freddy langsung meludah sembarangan karena darah yang keluar dari sudut bibirnya itu membuatnya hampir menelan ludahnya sendiri.
Tapi tidka hanya sampai di situ saja, sebab Vatler dengan cepat langsung meraih kerah baju Freddy dan berbicara langsung di depan wajahnya dengan sorotan mata yang cukup tajam.
"Kamu merawatnya? Dan apa kamu baru saja melimpahkan kesalahan itu kepadaku? Padahal jika kamu mengatakan kalau Risya sakit, aku bisa langsung mengatasi penyakitnya itu. Tapi karena kamu sendiri bungkam seolah kamu mau berjasa di depan Risya sendiri gara-gara mendukungnya untuk merahasiakan penyakitnya dariku, maka itu adalah kesalahanmu juga.
Ya...kesalahanmu itu lebih besar ketimbang aku. Karena jika saja aku diberitahu penyakitnya, sudah pasti Risya langsung aku tangani.
Kamu memang tidak mengerti apapun, jadi tidak usah sok jadi pahlawan." Satu pukulan lagi pun langsung mendarat di perut Freddy, hingga Freddy yang baru saja mendapatkan pukulan itu segera mematung.
Freddy akhirnya baru menyadari hal itu, 'Jika saja aku mengatakannya kepadanya penyakit Risya, walaupun aku mengkhianati kepercayaan Risya padaku, dia bisa sembuh? Ah~ Ya...kenapa aku lupa, Risya memang anaknya, dan dia dari keluarga itu. Makannya bisa melakukan segalanya dengan cukup mudah.
Dan aku bukanlah apa-apa.'
Sambil menahan rasa sakit di perutnya, Freddy yang mendapatkan kesadaran dari Vatler dengan kata-kata serta pukulan telaknya, Freddy pun di buat jatuh terduduk dengan posisi berlutut di depan Vatler.
__ADS_1
Freddy menundukkan kepalanya seraya tersenyum mencibir.
"Tapi Vatler. Padahal kamu juga salah, dan aku salah, bukannya ini artinya kita bedua sama-sama salah dengan Risya, serta Risyella?" Kata Freddy.
Vatler yang berdiri menatap Freddy yang berlutut itu pun kembali di ingatkan lagi, kalau pada akhirnya mereka berdua juga-juga sama salah.
'Mungkin jika aku dari awal memberikannya kasih sayang, Risya pasti akan memberitahukan kondisinya langsung kepadaku.
Tapi karena Risya tidak mendapatkan satu hal yang sebenarnya bisa aku berikan, makannya Risya jadi menghindariku.
Dia akhirnya takut kepadaku, menyuruh Freddy untuk ikut merahasiakan penyakitnya, dan haislnya adalah seperti ini.' Tatap Vatler kepada Freddy.
Sedangkan Freddy, dia juga ikut memikirkan hal yang sama sepeti apa yang barusan di kataan oleh vatler tadi. 'Jika aku memberitahukannya penyakitnya, sudah pasti Risya bisa sehat ya. Kalau seperti itu aku bisa melanjutkan wasiat yang diberikan Risyella kepadaku.
Tapi karena aku ikut dalam keegoisan milik Risya, jadinya Risya meninggalkanku. Hanya saja mau di pikirkan bagaimanapun, aku dan dia juga sama-sama salah.
Karena satu orang perempuan, kami bedua lgai-lagi masuk dalam penyesalan yang sepeti ini. Hahh~ Risyella, anamu memang sangat mirip denganmu.
Tapi sekarang aku jadi tidak bisa melihat salinan dari wajahmu itu.'
__________________
"Arshel, aku turut beduka cita ya dengan adikmu. Maafkan soal aku yang waktu itu." Kata Rose kepada Arshel tepat di depan Arshel sendiri seraya memberkan ucapan minta maaf dengan kejadian yang pernah membuat geger satu sekolah, sebab Rose membuat perkara pada adik beradik ini.
"Padahal yang harusnya mendapatkan permintaan maaf darimu itu adalah adikku, bukan aku." Kata Arshel, malas menatap lawan bicaranya itu, Arshel pun tanpa sadar jadi melakukan hal yang biasanya Risya lakukan, yaitu memandangi jendela yang memperlihatkan sisi dari halaman dengan gedung sekolah. 'Kebetulan sekali, Ayah sudah datang tanpa aku beritahu. Kalau saja Ayah dari dulu seperti ini, Risya pasti sangat senang. Tapi karena semuanya sudah berlau, biarkan aku yang mewakili dirimu ya, Risya.'
"K-kalau begitu aku akan mengu-" Rose yang merasa bersalah itu awalnya ingin memberitahu kalau dia akan mengunjungi makamnya Risya, tapi sebelum dia mengatakan hal itu kepada Arshel, Arshel tiba-tiba saja langsung berdiri dan pergi meninggalkannya.
"Padahal aku sebenarnya hampir melupakannya. Tapi karena kamu sangat ingin meminta maaf, maka kunjungi saja makamnya, selagi tanahnya masih basah." Beber Arshel tepat di ambang pintu.
Dan setelah mengatakan hal itu kepada Rose si anak pindahan yang akhirnya mampu merubah sifatnya itu, Arshel pun sungguh pergi dari kelasnya.
"Kenapa tidak dari awal saja dia meminta maaf kepada Risya?" Bisik seorang perempuan yang sedang duduk di meja kepada teman di depannya itu.
"Iya. Tapi kenapa juga anak baru itu masih ada di sekolah kita ya? Padahal dia sudah membuat perkara dengan Risya. Tahu kan, kalau Risya da Arshel dari keluarga Ellistone itu?"
"Iya ya. Padahal dia sudah berbuat buruk kepada adiknya, kenapa Arshel tidak membalasnya saja dengan mengeluarkannya dari sekolah?" Ucap perempuan yang lainnya.
"Tapi aku dengar-dengar, dia tidak di keluarkan langsung karena Risya yang memintanya."
"Ah~ Padahal sudah di perlakukan seperti itu, tapi kenapa Risya sebaik itu kepada anak baru itu sih?"
Semua ucapan dari selurh murid di kelas nya itu pun langsung terdengar oleh Rose, karena mereka membicarakannya dengan nada yang keras agar Rose mendengarnya.
'Jadi alasan kenapa aku tidak jadi di keluarkan oleh adiknya Arshel karena adiknya itu meminta agar aku tidak di keluarkan?' pikirnya.
Dia pun menyadari akan kesalahannya sendiri yang pernah dia lakukan kepada Risya.
Tapi semua kalimat atas menamakan permintaan maafnya, sayangnya sudah tidak bisa dia sampaikan langsung kepada Risya, sebab Risya sudah tidak lagi bersekolah di sebabkan insiden yang terjadi dua hari yang lalu.
__ADS_1
Rose pun menoleh ke arah jendela.
Dia melihat Arshel berjalan cepat menuju satu mobil yang dikendarai oleh seorang pria yang kebetulan wajahnya cukup mirip dengan Arshel, dan Rose pun dapat menduganya, kalau orang itu adalah Ayah nya Arshel.