
'Aku lupa, sudah berapa lama aku tidak menjenguknya. Dia pasti mau protes lagi.' Vatler pun pergi menjauh untuk menerima telepon dari Angie.
Sedangkan semua pelayan bergegas pergi menuju kamar utama untuk melaksanakan perintah yang di perintahkan oleh Tuan majika muda mereka.
"Kira-kira Nyonya kenapa bisa sampai terluka seperti itu ya?" Tanya pelayan pria ini.
"Walaupun kamu bertanya, aku juga sama-sama tidak tahu." Jawab rekan kerja dari temannya tadi.
"Tapi apakah kalian dengar berita siang tadi? Ada pesawat yang mengalami turbulensi parah, ada sepuluhpenumpang yang mengalami cedera parah, lima lainnya luka ringan, tapi mereka semua termasuk selamat." Tiba-tiba pelayan wanita ini memberitahu berita yang sempat dia dapatkan dari media sosial miliknya.
"Oh ya, kamu benar. Aku juga sempat melihatnya, tapi aku hanya dapat kebagian kalau pesawat itu bagian dalamnya bnayak yang rusak. Tapi untung saja pesawatnya bisa sampai di bandara dengan selamat." Ungkap wanita ini juga, mendukung penjelasan yang di ceritakan oleh temannya itu.
Dan mereka semua bersama-sama pergi menuju kamar utama.
TOK...TOK...TOK...
"Nyonya, kami datang untuk membereskan semua dekorasi yang ada di dalam kamar anda. Bolehkan kami masuk?" Tanya pelayan wanita ini, mewakili semua teman-temannya yang ada di belakangnya persis.
"A-ah..iya, masuk saja." jawab seorang wanita yang ada di dalam persis, dan siapa lagi kalau buka Risyella sendiri.
"Baiklah, kami masuk ya, permisi." Katanya lagi, sebelum dia akhirnya memutar knop pintu dan mendorong pintu itu dengan pelan.
KLEK...
Setelah berhasil di buka, mereka semua langsung di kejutkan dengan kondisi kamar yang saat ini sudah benar-benar bersih juga rapi. Dan semua barang-barang yang di gunakan untuk mendekorasi kamar utama yang awalnya di gunakan untuk tujuan memperlihatkan kesan romantis khusus untuk Tuan Vatler juga nona Risyella, kini berakhir dengan keadaan yang sudah seperti sedia kala.
"Kalian hanya tinggal membawanya saja." Kata Risyella, sedikit menuntut agar mereka semua cepat-cepat pergi dari kamarnya.
"Baiklah, kami akan membawanya." Ucapnya, karena merasa tidak ada gunanya juga mengatakan 'ini seharusnya di kerjakan oleh kami' semua itu tidak berarti lagi karena kamar sudah keburu bersih juga rapi.
__ADS_1
Empat orang di antaranya keluar bersama, sambil membawa barang-bara yang sudah tersusun rapi di dalam kardus, tapi sisanya adalah mereka merasa curiga dengan keberadaan dari Nyonya muda mereka yang saat ini sedang duduk di lantai?
"Nyonya, tapi kenapa anda duduk di lantai? Itu kan dingin?" Tanyay wanita ini, merasa khawatir sekigus janggal dengan posisi Risyella yang juga terus saja memunggungi mereka.
"Karena aku ingin duduk di lantai yang dingn saja." Jawabnya.
"Tapi kalau anda sakit bagaimana? Dan kenapa pintu jendelanya terbuka, anda bisa masuk angin loh." ucap pelayan yang satunya lagi, saat melihat kedua pintu yang terbuat dari kaca besar itu ternyata terbuka lebar, sehingga tirainya pun benar-benar berkibar, sebab banyak angin yang dengan leluasa masuk kedalam kamarnya.
Karena itulah pelayan ini langsung berjalan untuk menutup pintu itu.
KLEK.
Setelah menutupnya, dia pun berbalik untuk menghadap ke arah Nyonya mereka yang masih saja berusaha untuk tidak bertatap wajah, dan terus memunggunginya.
"Nyonya, kenapa anda menunduk?"
Kedua pelayan itu perlahan berjalan menghampiri majikannya itu.
"Jangan mendekat." Tolak Risyella dengan tegas.
Mendengar penolakan langsung oleh Risyella yang merupakan majika mereka juga, membuat mereka jadi merasakan adanya kejanggalan, dimana sang Nyonya ini sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.
Apa itu?
Karena tidak mau adanya masalah apapun, jika mereka berdua mengabaikan hal yang membuat Risyella menolak untuk mereka dekati, maka mereka berdua pun terpakas melakukan hal yang sebaliknya.
"Nyonya, sebaiknya anda jangan sembunyikan apapun dari kami." Kata pelayan pertama.
"Jadi harap beritahu apa yang anda sembunyikan itu." Ucap pelayan kedua.
__ADS_1
Lalu perlahan mereka berdua berjalan mendekati Risyella yang masih duduk di lantai sambil menutup mulutnya?
"Nyonya, apa yang an-" Ketika pelayan pertama ini menarik tangan kanan dari Risyella, mereka berdua langsung terkejut, apa lagi jika saat mereka berdua melihat ke arah karpet yang ada di depan Risyella persis itu.
"Nyonya, saya akan panggilkan Tuan." Pelayan kedua ini segera berlari keluar dari kamar milik majikannya.
_____________
-"Vatler, kenapa kamu tidak mengunjungiku? Ini sudah hampir seminggu, aku bosan jika hanya melihat wajah yang sama terus."- Ungkap Angie, selaku orang yang menjadi dalang dari Vatler di ganggu dengan sederet panggilan yang sempat tidak Vatler jawab.
Padahal alasan kenapa Vatler tidak sempat menjawab panggilan dari Angie adalah karena ia sedang sibuk setelah mengalami satu insiden besar yang sebenarnya hampir merenggut nyawanya juga.
"Kan aku sedang punya banyak pekerjaan. Jadi palingan minggu depan aku baru bisa ke rumahmu lagi." Jawab Vatler, sambil memandangi kolam renang yang ada di depanya persis, sehingga dia pun melihat pantulan dari dirinya juga.
-"Pekerjaan apa? Kata teman Freddy, kamu tidak ada pekerjaan apapun, bahkan sempat mengatakan kalau kamu mengambil cuti."- Ucap Angie, menuntut penjelasan yang lebih detail dari satu alasan yang memiliki banyak makna itu. -"Mau seberapa banyak alasan apa lagi yang akan kamu gunakan untuk mengelabuhiku?"- Imbuh Angie.
"Alasan apa, aku memang sedang sib-" belum juga berbicara dengan tuntas kepada Angie, ucapannya langsung terpotong oleh salah satu pelayannya.
"Tuan! Ada keadaan darurat! Anda harus melihat Nyonya!" Teriak pelayan ini kepada Vatler yang sedang berbicara dengan Angie lewat telepon.
"..........!" Vatler segera berbalik dan melihat eksresi terkejut yang dilakukan oleh satu pelayannya itu.
-"Vatler, ada apa? Kenapa dengan Ibumu? Ap-"-
"Nanti aku telepon kamu balik, aku tutup dulu." Vatler langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak. Setelah menutup teleponnya, Vatler segera bertanya kepada pelayan itu. "Memangnya apa yang terjadi kepadanya?"
"Saat kami masuk, semua kamar sudah rapi dan bersih, tapi saat itu juga kami melihat Nyonya duduk di lantai sambil menutup mulutnya, ternyata Nyonya baru saja muntah. " Jelasnya.
Vatler pun jadi di buat kembali untuk diam dalam seribu bahasa.
__ADS_1