Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
60 : IPHTV : Pahlawan


__ADS_3

Jam 02:45 PM


Seperti yang diperkirakan, pada jam tersebut hujan deras sudah mengguyur kota. Dikarenakan Risyella dan Vatler pergi menggunakan sepeda motor dan ditambah mereka memiliki barang belanjaan yang cukup besar, mereka berdua pun jadi menunggu.


"Apa kau sangat yakin akan membawa pulang itu? Belanjaanmu itu terlalu banyak."


Risyella yang mendapakan sedikit peringatan segera menjawab, "Ini hanya satu kardus. Memangnya kenapa?"


'Apa yang dia pikirkan?. Sekalipun satu kardus, tapi kardus itu saja cukup besar. Ditambah sekarang hujan. Bagaimana mau membawanya?' Vatler terus memperhatikan gerak gerik Risyella yang antara berat sekaligus kedinginan. "Sini," Vatler merebut kardus yang dibawa Risyella.


"Hei, kau mau bawa kemana?" Risyella jadi ragu karena kardusnya tadi sudah disita oleh Vatler.


Langkah kaki Vatler yang begitu lebar dan cepat pun berhasil membuat Risyella sedikit kewalahan untuk menyusul pria tinggi itu.


'Padahal dia hanya berjalan, kenapa kesannya aku harus berlari mengejarnya! Aku tahu dia punya kaki yang panjang, apa kau mau meninggalkanku!' Dengan langkah tergesa-gesa Risyella pun terus berusaha mengikuti Vatler sambil berteriak, "Vatler! Tunggu!"


'Dia memanggil namaku?' Vatler sejujurnya sedikit terkejut saat Risyella justru meneriaki namanya, dengan lantang?


Vatler menoleh kebelakang, terlihat wanita yang tadi meneriaki namanya, si pemilik kaki pendek itu ternata sedang berlari kearahnya dengan bersusah payah.


Apakah dirinya pernah dikejar seperti itu sebelumnya?


'Aku rasa ini pertama kalinya ada wanita yang mengejarku sampai seperti itu.' Vatler pun tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, sampai dia menyadari ada sesuatu yang salah.


Vatler mendongak ke atas, hiasan kupu-kupu yang menggantung di atap Mall persis, terlihat ada satu yang putus.


BRUK.


".............." Kardus yang Vatler bawa segera dia lepas dan langsung berlari kearah Risyella yang saat ini sedang berdiri tepat di tengah-tengah lobi.


'Kenapa dia berlari kearahku dengan ekspresi seram begitu?' Takut dengan ekspresi Vatler, Risyella pun jadi tersenyum canggung dan mengambil satu langkah mundur yang berakhir dengan Vatler yang langsung berlari dan menerjang tubuhnya. "A-apa?!'


BRUK...


PRANK...


Tepat setelah Vatler memeluk tubuh RIsyella dan mendorongnya ke belakang, suara kaca dari hiasan kupu-kupu yang tadi mengantung di langit-langit Mall pun akhirnya jatuh dan pecah.


"................." Risyella sontak termangu melihat tubuh dari pria yang berhasil membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama itu kini ada di depannya persis.


Tidak hanya itu, tapi pria itu, Vatler saat ini memeluknya dengan cukup erat.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Hei...mereka tidak terluka kan?"


"Itu hampir saja, apakah mereka berdua bak-baik saja?"


"Sebenarnya bagaimana mereka merawat Mall ini? Kalu saja suaminya tidak buru-buru menyelamatkannya, apa jadinya nanti?"


"Untung saja pria itu bergerak cepat menyelamatkannya."


Berbarbagai komentar dari para pengunjung langsung menghampiri Vatler dan Risyella yang saat ini masih berada di posisi yang sama.


DRAP...DRAP.....DRAP.......


Beberapa scurity pun lari terburu-buru menghampiri dua orang yang saat ini dalam posisi terbaring dan memeluk.


"Tuan...anda tidak apa-apa?" Tanya scurity tersebut pada Vatler.


Tetapi semua kalimat yang keluar dari mulut mereka semua seakan tidak ada satu pun yang terdengar.


Karena mereka berdua sudah masuk kedalam suasananya mereka sendiri.


Untuk saat ini Risyella sangat bersyukur karena membawa Vatler bersamanya, maka hal berbahaya tadi bisa dihindari.


'Kenapa diam? Apakah dia pingsan?' Untuk memastikan apa yang mengganggu di dalam pikirannya, Vatler pun sedikit mengangkat tubuhnya dan memperhatikan Risyella yang berhasil dia selamatkan sebelum malapetaka itu datang kepada Risyella. ".............!"


Namun, yang Vatler temukan adalah dia melihat mata Risyella yang hendak menangis tapi masih Risyella tahan.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja." jawab Risyella dengan bibir bagian bawah gemetar.


Takut.


Jelas saja sangat takut. Karena dibawah hujan lebat dsertai petir itu, bahaya bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu.


Sebagai buktinya, sekalipun berada di dalam ruangan, dia ternyata bisa menemui bahaya juga.


Perasaan takut itu memang muncul, tapi entah kenapa setelah ada satu orang yang berlari kearahnya dan memeluknya dalam perlindungannya, Risyella merasa sudah tidak begitu perduli dengan rasa takutnya selain rasa takjub pada pria ini.


Vatler. Satu-satunya pahlawan tiba-tiba muncul dan masuk kedalam kehidupannya.

__ADS_1


"Tidak terluka kan?" Tanya Vatler sekali lagi sembari menyingkir dari atas tubuh Risyella.


"Iya." Sahut Risyella dengan lirih.


"Nona? Apa anda terluka?" Scurity tersebut berusaha membantu Risyella berdiri.


"Tidak." Jawabnya lagi.


Tapi..


Saat berusaha untuk berdiri, Risyella malah jatuh terduduk. 'Kenapa kakiku gemetar?! Aku tidak mau terlihat lemah oleh mereka. Jadi aku harus berdiri!' Benak hati Risyella.


Dia yang tidak ingin dipandang sebagai wanita lemah hanya karena baru saja mengalami insiden seperti itu, terus berusaha untuk berdiri.


Tapi apa yang hati dan pikirannya inginkan tidak dapat direspon dengan baik oleh tubuhnya.


Sepasang kakinya benar-benar merasa lemas, sampai akhirnya RIsyella yang sudah tidak mampu menahan air matanya yang sedari terbendung, berakhir dengan tangisan kecil yang masih saja bersuha Risyella tahan.


"Hiks...m-maaf...aku tidak bisa berdiri..maaf." Ringih Risyella.


Vatler yang tiba-tiba hatinya merasa tidak tahan dengan kondisinya Risyella yang pastinya sedang terkejut bercampur dengan sedih dan malu karena jadi pusat perhatian banyak orang, mau tidak mau Vatler pun turun tangan.


"Kau tidak punya hak untuk minta maaf pada mereka." Lontar Vatler kepada Risyella agar tidak minta maaf terus.


"Iya benar. Seharusnya kami lah yang minta maaf kepada anda. Karena kelalaian kami, anda hampir saja terkena musibah." Salah satu Scurity itu pun mengajukan permintaan maaf secara langsung kepada Risyella yang masih terduduk di lantai.


"Kami minta maaf." Lalu di ikuti oleh dua orang lainnya.


'Apa-apaan ini? Kenapa aku jadi mengalami hal ini? Mereka minta maaf kepadaku di depan banyak orang.' Perasan malu itu pun benar-benar muncul.


Dan disaat itulah Vatler tiba-tiba kembali berlutut, kemudian menggendongnya.


"Kita tuntut mereka." Ucap Vatler sambil menatap ketiga Scurty itu dengan tatapan tajam,


"Apa?! Mereka kan sudah minta maaf?!" Kata Risyella dengan berbisik.


"Minta maaf tidak akan pernah bisa mengganti rugi mentalmu. Saat ini juga, mereka harus di tuntut dan mengganti rugi padamu. Kalau tidak seperti itu, pasti ada dua dan ketiga kalinya. Sekarang kau selamat karena aku menyadarinya lebih dulu, tapi apa yang terjadi tidak ada aku?" Jelas Vatler panjang lebar.


Risyella pun berhasil dibuat bungkam, karena Vatler memiliki banyak sekali sangkalan yang cukup kuat untuk membuat pemilik dari Mall itu Vatler tuntut ganti rugi.


'Yang dikatakannya memang benar. Aku sangat beruntung karena hari ini aku pergi bersama dengannya. Karena jika tidak, pasti aku pulang dengan meninggalkan nama saja.'

__ADS_1


__ADS_2