
Apa kenangan paling pahit dalam hidup seseorang?
Apakah itu ketika tidak bisa menggapai apa yang diinginkan?
Atau ketika mata dan imajinasi itu tiba-tiba terbayang oleh seseorang yang sangat kamu rindukan, tapi yang dirindukan sudah tidak ada?
Semua kenangan tidak menyenangkan itu pasti ada dalam kehidupan seseorang.
Dan salah kenangan pahit yang masih membekas di dalam hati dan pikirannya, adalah Vatler.
“Sayang, apa kau melihat perutku tadi?” tanya seorang wanita hamil dengan wajah bahagianya. Siapa yang tidak bahagia saat anak yang ada di dalam kandungannya menendang perut dari sang ibu.
“Iya, tadi aku melihatnya. Jangan-jangan kalau sudah besar, dia akan menjadi pemain sepak bola.” jawab pria itu, yang tidak lain adalah sang suami yang sedang mengelus-elus perut sang istri.
“Dia kan perempuan, masa jadi pemain sepak bola.” rungut wanita tersebut pada suaminya.
“Hahaha….bisa jadi sepak bola adalah hobinya saja kan?”
“Aku nggak mau ya, masa anak perempuan hobinya main sepak bola.” gerundel wanita tersebut, masih saja kurang suka dengan ucapan dari suaminya sambil menekan wajah suaminya agar menjauh dari perutnya.
“Iya...iya, lagian sebentar lagi lahiran, jadi sebentar lagi kita akan tahu kesukannya itu apa, kan?” jawab pria tersebut sambil menghalau tangan Istrinya agar tidak menjauhkan dirinya dari keinginannya untuk mendengar suara yang ada di perut Istrinya.
“Vatler.” panggil Angie. Tapi panggilannya tidak tersahut juga. Membuat Angie melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Vatler persis dengan memanggil namanya lagi, “Vatler, apa kau melamun?”
“................!” Vatler yang baru tersadar karena Angie memicunya dengan lambaian tangannya, membuatnya langsung melirik Angie dan menatapnya secara intens.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Angie merasa risih saat di tatap oleh Vatler.
“Apa kau tidak terpikirkan untuk menikah?” tanya Vatler balik.
Angie mengernyit, dia sudah tahu asal muasal kenapa Vatler tiba-tiba saja membahas pernikahan kepadanya. ‘Jangan-jangan dia teringat masa lalunya?’
Angie sempat melihat pasangan suami istri yang tadi sedang duduk, saat ini mereka sedang berjalan dan melewati belakang Vatler persis.
Melihat Istri dari suami tersebut sedang hamil, maka Angie sadar sepenuhnya kalau Vatler masih tidak bisa terlepas dari rasa bersalahnya sendiri karena dulu pernah membiarkan Istrinya yang sedang hamil seperti itu, sempat ditinggal pergi karena alasan pekerjaan.
__ADS_1
Seperti sekarang ini.
Demi pekerjaan, Vatler lagi-lagi meninggalkan kedua anaknya.
“Vatler, jika kau tidak mau pergi, biarkan tugasmu di lempar ke orang lain saja.” kata Angie, langsung mengalihkan topik pernikahan.
“Apa kau pernah aku melempar pekerjaanku kepada orang lain? Aku sudah mengambil jadwal ini dari setengah bulan yang lalu, dan sekarang kau menyuruhku melepaskannya?”
“Iya, aku mengerti. Tapi masalahnya pekerjaan Ini akan memakan waktu lama, Aku pikir ini kurang baik untuk Arshel dan Risya di tinggal selama itu.” jawab Angie. ‘Coa kau pikirkan lagi, kau sendiri saja tadi memperhatikan mereka berdua sampai melamun. Jika seperti itu, suatu saat itu akan mengganggu pekerjaanmu juga. Kau mengerti maksudku kan?” imbuh Angie.
Vatler terdiam.
Dia sadar bahwa baik dari reaksi dan responnya tadi, itu membuktikan kalau dirinya pasti akan mendapatkan kendala di tengah-tengah misi penyamaran. Jika terulang lagi, maka itu akan beresiko terhadap dirinya juga Angie, kalau penyamaran itu bisa gagal kapan saja dan bahkan bisa lebih bahaya.
‘Hah~ Kenapa juga saat aku melihat kedua orang tadi, aku tiba-tiba jadi teringat masa laluku.’ Vatler kembali menatap Angie. Demi kepentingan bersama, memang ada bagusnya agar antara perasaan pribadi dengan pekerjaannya itu Vatler benahi terlebih dahulu.
“Bagaimana?” Angie mengharapkan jawaban dari Vatler.
“................, baiklah. Kau berikan saja pekerjaanku pada temanmu.” jawab Vatler sambil memberikan tiket pesawat kepada Angie. “Kau hati-hatilah disana.” Pesan Vatler untuk yang terakhir kalinya.
Ya..
Siapa lagi yang bisa mengingatkan Vatler apa tanggung jawab sebenarnya sebagai ayah kepada anaknya jika bukan dirinya.
Sejujurnya Angie terbesit ingin menikah lagi, tapi orang yang benar-benar Angie inginkan sebenarnya adalah pria itu.
Vatler.
Namun, disisi lain Vatler bukanlah tipe orang yang mudah membuka hatinya. Dan Angie bukanlah wanita yang tepat untuk membuka kembali hati milik pria itu.
Hati Vatler sempat pernah terbuka, tapi sayangnya itu bukanlah dirinya, melainkan Risyella.
Tapi nahasnya, hati Vatler terbuka saat Risyella sudah pergi selamanya. Karena itulah, hati itu tidak bisa dibuka lagi jika bukan Risyella sendiri.
‘Menyesali apa yang sudah terjadi dan berlalu memanglah hal yang wajar. Tapi apa yang kau sesali itu adalah karena kesalahan terbesarmu sendiri, Vatler. Dan sekarang kau hidup dalam belenggu penyesalan itu. Jangan sia-siakan apa yang sudah Risyella berikan kepadamu.’ batin Angie saat melihat kepergian Vatler yang memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Angie pun berbalik pergi membawa kopernya ke arah yang berlawanan dengan arah Vatler pergi.
__________________
‘Aku sadar, kalau akhir-akhir ini aku jadi sering melamun. Dan yang parahnya lagi, yang aku lamunkan itu adalah masa laluku. Kenapa aku jadi seperti ini?’ Vatler sudah bingung dengan perasaannya sendiri.
Dia merasa frustasi ketika semua yang ada di sekitarnya seperti selalu berhubungan dengan apa yang tidak pernah dia lakukan kepada mendiang istrinya.
Risyella.
Itulah nama dari wanita yang dimana 13 tahun lalu dia pernah menjalin hubungan kontrak pernikahan selama kurang lebih 3 tahun.
Tapi semua itu sudah berakhir begitu saja.
“Hah~” tiba-tiba Vatler tersenyum miring, dia tersenyum karena dia sedang menertawai dirinya sendiri yang terlihat sangat menyedihkan.
Bagaimana tidak menyedihkan, jika semua kisah dari masa lalunya membuatnya terjerat dalam rasa bersalahnya.
Hati yang awalnya tidak pernah dia buka sekalipun untuk Risyella, malah tiba-tiba terbuka saat wanita itu sudah tidak ada.
‘Padahal dia hanyalah wanita biasa, tapi kenapa kenangan dari sisa masa lalunya selalu menghantuiku sampai seperti ini?’ pikir Vatler.
Sampai akhirnya di tengah jalan, Vatler tiba-tiba berpapasan dengan seseorang yang tidak lain adalah Freddy.
“Karena aku sekarang akan pergi ke sana, aku memintamu untuk membuat janji temu dengannya atas namaku sekarang juga.” ucap Freddy pada seseorang di ujung telepon. Saat mengetahui ada seseorang yang terus menatap ke arahnya, Freddy pun menghentikan langkahnya saat itu juga. “Akan aku hubungi lagi nanti,” Freddy langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Dua orang yang merupakan kenalan lama itu pun akhirnya saling menatap satu sama lain.
“Vatler, kelihatannya kau sehat sentosa,” sapa Freddy kepada Vatler.
“Kau sendiri, tidak jauh berbeda denganku.” sahut Vatler.
‘Aku pikir dia akan pergi lagi dengan Angie.’ pikir Freddy saat memperhatikan penampilan Vatler.
‘Apa dia mau pergi ke luar negeri?’ pikir Vatler juga, saat melihat Freddy sampai membawa dua koper secara bersamaan.
__ADS_1