Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
41 : IPHTV


__ADS_3

Dalam kecepatan di atas 70 km/jam, Freddy pun pergi membawa Risya ke rumah sakit lagi.


"..................." Risya hanya diam membisu sambil memperhatikan jalanan yang mereka lalui. 'Sakit.' Detik hati Risya dengan mata sayu. Sampai keringat dingin pun sudah mulai membasahi wajahnya.


Tapi apa yang bisa Risya lakukan saat ini hanyalah bertahan. Karena sering memendam perasaannya sendiri dalam segala hal, Risya pikir menahan rasa sakit itu pun tetap bisa dia lakukan.


Tapi kenyataannya?


"Risya!" Freddy yang melihat Risya tiba-tiba memejamkan matanya, langsung menepuk-nepuk wajah Risya agar sadar gai.


Tapi sekalipun sudah mencobanya beberapa kali, Freddy tetap tidak mendapatkan hasilnya.


"Tch..." Fredy pun berdecih kesal, dia semakin menambah kecepatan laju mobilnya sampai angkat seratus. 'Risya, jangan seperti ini. Sedikit lagi aku pasti bisa membawakan sumsum untukmu.' Batin Freddy.


Dia akan merasa bersalah jika Risya yang sudah menjadi tanggung jawabnya, terkena musibah yang lebih mengerikan ketimbang sekedar pingsan seperti itu.


Lebih tepatnya, adalah menutup mata selamanya.


TIN....TIN....!


Freddy benar-benar membunyikan klakson sepanjang jalan, mengebut layaknya sedang balapan liar. Dia akan terkena tilang jika melakukannya di jalan raya seperti itu?


Itu tidak akan pernah terjadi, karena selain dirinya seorang dokter, dia juga merupakan seorang mantan dari pasukan khusus. Karena itulah, siapapun yang mengenali Freddy, mereka akan memilih diam.


Sama hal nya dengan apa yang Vatler kerjakan sampai sekarang, dulu Freddy juga merupakan mantan dari pasukan itu.


Tapi Freddy memilih keluar karena seseorang.


Risyella yang menjadi penyebab dirinya memilih untuk keluar dari pekerjaan lama, dan memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Satu alasan yang pasti, Freddy ingin bisa menyelamatkan seseorang yang membutuhkan bantuannya.


Hanya sekedar itu saja.


Namun, yang paling membuat dirinya merasa keputusannya untuk keluar dari pekerjaan lama, itu adalah keputusan yang tepat, tidak lain adalah karena dia bisa merawat Risya dengan bebas.


Sebagai pamannya, sebagai dokternya, dan sebagai walinya.


'Aku tidak akan membiarkanmu mengalami apa yang Ibumu alami, Risya.' Pikir Freddy.


*********

__ADS_1


Siang itu pula, Vatler pergi mengunjungi rumah sakit dimana Freddy bekerja.


Seperti biasa, setiap kali Vatler pergi ke tempat umum seperti itu, dia akan menjadi sorotan utama para wanita yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Siapa dia?"


"Wah~ Pria itu tampan juga, kira-kira dia sudah punya kekasih apa belum ya?"


Satu persatu para perempuan mulai bergosip dengan penampilan Vatler yang bagi mereka cukuplah menggoda.


"Hei, kau lihat dulu. Dia sudah memakai cincin di jari manisnya, artinya dia sudah memiliki kekasih, atau bahkan Istri." Jawab perempuan ini, pada suster yang tadi sempat bergumam dalam sebuah pertanyaan.


Setelah diberitahu seperti itu, suster ini pun mencoba melirik ke arah jari manis dari tangan kiri Vatler. Disana terpampang dengan jelas, sebuah cincin berwarna emas putih, yang artinya Vatler memang sudah memiliki pasangannya sendiri.


"Yah~ Aku pikir pria itu masih lajang." Dumel Suster ini, lalu melanjutkan pekerjaannya untuk mengantarkan pasiennya.


Di satu sisi, Vatler sebenarnya sudah lama sekali tidak memakai cincin pernikahannya.


Namun karena sesuatu yang terjadi di dalam mimpinya, penyesalan yang Vatler miliki pun dia tambal dengan memakai kembali cincin pernikahannya.


Walaupun tidak merubah apapun, tapi Vatler terus saja terngiang dengan ucapan yang sempat Risyella katakan kepadanya sebelum menghilang pergi dari mimpinya.


Meski dunia berakhir, Risyella tetap mencintainya. Dan meskipun sudah tidak ada di dunia lagi, Risyella yang selama hidupnya hanya memiliki cinta untuknya, tapi tidak Vatler membalasnya dan hanya berubah menjadi rasa sakit hati, Risyella tidak bisa membencinya?


"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang suster yang kebetulan lewat akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Vatler yang terlihat seperti sedang mencari seseorang.


Vatler kemudian memberhentikan langkahnya, lalu berkata : "Apa Freddy ada?"


Suster ini pun menoleh ke belakang sambil berpikir sesaat. "Dokter Freddy sepertinya belum juga datang semenjak pagi ini."


"................." Tanpa sepatah kata, Vatler berjalan pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih atau apapun itu.


Dan suster ini pun hanya bisa pasrah melihat tingkah Vatler yang tidak mempunyai kesan sopan sama sekali.


*


*


*

__ADS_1


BRAK!


Suara dari pintu yang terbuka dengan cukup kasar itu langsung membuat Jansen yang baru saja keluar dari toilet, terkejut setengah mati.


"Hei, apa kau tidak punya sopan santun?"


Vatler pun langsung mendelik Jansen dengan tatapan yang cukup tajam. "Aku memang tidak memiliki sopan santun." Jawab Vatler dengan nada paling dingin.


Bahkan Jansen sendiri langsung menerima imbas dengan hatinya yang langsung menciut setelah ditatap oleh Vatler seperti tatapan ingin membunuhnya. 'Apa-apaan dengan tatapannya itu? Padahal aku baru bertemu, tapi dia seperti menatapku seolah aku baru saja merebut kekasihnya.' pikir Jansen.


"Dimana dia?" Tanya Vatler sambil berjalan masuk seperti orang yang akan memergoki kekasihnya yang sedang selingkuh di belakangnya.


"Dia siapa?" Jansen sendiri tidak mengerti maksud dari ucapannya Vatler. Karena di dalam pikirannya, dia merasa ada dua persepsi, yaitu antara Vatler sedang mencari Freddy atau sedang mencari kekasihnya yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam kantornya.


"Orang yang membawa anakku."


Jensen seketika dibuat diam membisu. Jensen yang mengira kalau orang yang Vatler cari adalah kekasihnya, atau Freddy, ternyata pria itu memang sedang mencari Freddy,. Tapi yang membuatnya terkejut itu, Freddy membawa anaknya Vatler?


"A-apa maksudmu perempuan yang tadi malam datang kesini hanya untuk menemui Freddy?"


"................" Vatler langsung menoleh ke arah Jansen dan menatapnya denagn cukup intens. "Itu kau sudah tahu. Jadi dimana dia sekarang?"


Jensen yang tidak kuat ditatap lama-lama oleh Vatler, membuatnya segera memalingkan wajahnya ke tempat lain lalu menjawab, "Dia sedang mengantar anakmu ke sekolah. Tapi sekarang harusnya dia su-"


BRAK!


Dalam sekelebat mata, Vatler sudah pergi menghilang dari hadapannya.


"Apa aku baru saja berbicara dengan tembok?" Gumam Jensen dengan senyuman tawarnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Vatler sejujurnya sudah ke rumah Freddy, sekarang sudah pergi ke rumah sakit tepat Freddy bekerja, tapi ternyata Freddy ada di sekolahnya tempat Arshel dan Risya sekolah?


'Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana?' Kutuk Vatler pada dirinya sendiri.


Tanpa ba bi bu lagi, Vatler pergi dengan mengendarai motornya.


Karena Freddy pergi mengantarkan Risya dengan mobilnya sendiri, maka Vatler pun tidak bisa melacaknya lagi, selain harus mengecek seluruh Cctv di kota.

__ADS_1


Tapi Vatler tidak punya waktu untuk mencarinya dengan seperti itu, jadi mau tidak mau Vatler pun pergi ke sekolah.


Namuan, sekitar 5 menit kemudian, mobil milik Freddy akhirnya datang.


__ADS_2