Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
9 : IPHTV 30 miliar


__ADS_3

“Kau jangan membohongiku.” kata Freddy, menuntut temannya itu agar tidak berbohong kepadanya, karena persoalan yang dibahas oleh temannya ini cukuplah serius. 


“Aku tidak berbohong, aku memang sudah mendapatkan orangnya, tapi bukan berarti aku bisa mendapatkannya, itulah yang aku maksud.” jawabnya. 


Namanya adalah Deni, dan umurnya baru di awal 30 tahunan. Deni bekerja sebagai dokter, tapi meskipun sebagai dokter, Deni lebih dominan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Freddy kepadanya. 


Dan Deni sengaja datang ke rumah Freddy, juga karena ada urusan yang harus diberitahukan kepada Freddy secara langsung. 


Tentu saja yang dia bahas kali ini dengan Freddy adalah persoalan yang berhubungan dengan pasien.


Tapi siapa pasien yang sedang Freddy rawat, sayangnya Deni belum tahu, karena Freddy benar-benar orang yang mampu menjaga rahasianya sendiri.


“Aku mengerti maksudmu. Mereka pasti punya syarat untuk itu, apa dan berapa yang mereka mau?”


Dani mengangkat salah satu alisnya, karena merasa terheran dengan reaksi wajah Freddy yang kini terlihat serius dari sebelumnya. 


Dimata Deni, tatapan Freddy itu seperti orang yang akan menyerahkan segalanya demi mendapatkan apa yang sedang dia inginkan. 


“Dia meminta 30 miliar.” jawab Deni dengan singkat, dan langsung kembal memperhatikan ekspresi wajah Freddy yang sudah memperlihatkan wajah berpikirnya.


“.................” Freddy terdiam sejenak setelah mendengar angka yang disebutkan oleh Deni, ternyata sebanyak 30 miliar. 


“Dia meminta sebanyak itu, apa kau benar-benar ingin mendapatkan itu?” tanya Dani lagi. “30 miliar itu bukan uang sedikit. Sekalipun kau menjual rumah ini, kau masih saja kekurangan uang sampai 20 miliar.” imbuh Deni. 


“Aku juga tahu.” celetuk Freddy. Dia tahu kalau uang sebanyak 30 miliar itu bukanlah uang yang sedikit dan mudah didapatkan layaknya menulis angka 30 itu sendiri. 

__ADS_1


Tapi disini, Freddy benar-benar ingin mendapatkan uang demi mendapatkan hal yang dia inginkan dalam waktu dekat ini.


“Memangnya, pasien misteriusmu itu kira-kira bisa bertahan berapa lama lagi?” akhirnya Deni berani bertanya kepada Freddy, karena saking penasarannya. 


“Jika hanya mengandalkan kemo, dia bisa bertahan cukup lama, tapi kembali lagi itu tergantung dari niatnya. Tapi jika dia terus absen, paling tidak sekitar 3-4 bulan.” jelas Freddy, masih tidak ingin mengatakan siapa pasiennya kepada Deni, padahal Deni sendiri adalah teman kerjanya. 


Tapi karena ini adalah keinginan dari sang pasien, mau tidak mau, Freddy akan menurutinya dan berusaha untuk tidak bocor. 


Itu adalah keinginannya….


____________________________


“Uhm~” Risya mengernyitkan matanya karena merasa terusik gara-gara mimpinya tadi.


“Nona~ Anda sudah bangun?” tanya paman Ard kepada Risya yang masih terbaring di kursi belakang. 


Meski begitu, Risya tetap bangun dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. 


TIN...TIN….TIN……


TIN…..


Suara klakson itu menjadi pertanda kalau mereka masih berada di tengah jalan, dan sedang mengalami kemacetan.


“Belum nona, ini karena didepan ada kecelakaan, jadi macet seperti ini.” jelas paman Ard kepada nona Risya. 

__ADS_1


Risya yang masih setengah sadar, langsung tersadar sepenuhnya saat sudut matanya tidak sengaja melihat ada satu orang lagi yang posisinya duduk di depan, dan terlihat sedang tertidur. 


Risya pun sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mencoba mencari tahu apakah perkiraannya memang benar atau tidak.


“...................” Risya yang sudah memunculkan kepalanya diantara mereka berdua yang duduk di kursi depan, langsung menoleh ke arah kiri, dimana kakaknya, yaitu Arshel, ternyata benar-benar tertidur.


Risya terus memandanginya, karena memang pada dasarnya bagi Risya sendiri, melihat wajah kakaknya yang tampan, tetap tidak akan membuat Risya merasa bosan atau apapun.


Tapi terlepas dari itu semua, Risya hanya membenci sifat Arshel yang dingin, tapi cukup tegas. 


‘Apa nona sebagai adiknya juga merasa terpikat dengan wajah tuan muda?’ pikir paman Ard.  


Paman Ard sengaja diam, karena ingin memberikan nona mudanya mendapatkan waktu terbatasnya untuk dirinya sendiri dalam menikmati wajah kakaknya sendiri yang kebetulan sedang tertidur pulas. 


‘Kakak memang tampan, tapi karena punya sifat yang menyebalkan itu, setidaknya dia tidak dihampiri para ngengat.’ pikir Risya yang masih memperhatikan wajah kakaknya yang cukup mirip dengan sang ayah. 


Sebagai laki-laki memiliki gen keturunan dari ayah yang tampan, maka tidak heran Risya sering mendengar semua gosip tentang Arshel yang memang banyak disukai banyak perempuan satu sekolah, namun karena tidak berani mendekatinya, karena itulah yang ada hanyalah topik hangat tentang Arshel yang dibicarakan di belakang. 


“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu?” tanya Arshel secara tiba-tiba kepada Risya yang sudah memasang wajah terkejut karena ketahuan secara terang-terangan memandang wajah Arshel yang tadi sedang tertidur. 


‘Jangan-jangan dia hanya berpura-pura tidur dan membuatku kepergok begini.’ kata hati Risya dengan kakaknya yang sudah berhasil memergoki Risya yang sedang memandang wajahnya dalam jarak yang cukup dekat. 


Sampai jarak diantara mereka yang sangat dekat, membuat mereka berdua merasakan deru nafas masing-masing.


“Sampai kapan? Kapan lagi kalau sampai aku merasa puas.” jawab Risya kepada Arshel yang berekspresi seperti biasanya, yaitu datar dengan sorotan mata yang cukup dingin. 

__ADS_1


“......................” 


__ADS_2