
Setelah Vatler berhasil mengurus satu orang yang tidak tahu sopan santun karena sengaja bertamu di tengah malam seperti ini, dan di tambah kemunculannya itu berhasil membuat Risyella menjerit ketakutan, Vatler pun kembali ke masuk kedalam kamarnya.
Kamar yang gelap dan sangat hening adalah hal yang pertama kali Vatler rasakan saat memasuki kedalam kamarnya.
Dia terus melangkah masuk kedalam kamarnya sendiri hingga dia memberhentikan langkah kakinya tepat di samping tempat tidur.
'Apa dia sudah tidur?' Vatler terus menatap gundukan selimut, dimana di dalam selimut itu seseorang tengah bersembunyi.
Vatler mengangkat tangannya, mengulurkannya ke depan. Karena terbesit rasa penasaran, sebab selama ini tidak ada seorang pun yang menempati tempat tidurnya kecuali dirinya sendiri, Vatler pun sedikit menarik sisi selimut untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan wanita itu di atas tempat tidurnya.
SRET.....
"............!" Vatler melihat Risyella saat ini sudah tertidur lelap di atas tempat tidurnya bersama dengan kelima stick lampu Glow In The Dark.
Kelima lampu yang bercahaya menerangi posisi Risyella yang sedang tertidur dalam posisi meringkuk.
".............." Karena Vatler tidak mungkin membangunkan Risyella untuk embali ke kamarnya, Vatler pun memutuskan pergi meninggalkannya sambil membawa baju hoddie miliknya.
****
"Kenapa tidak menemani calon Istrimu tidur?" Tanya pria ini, dengan jubah mandi sudah melekat ditubuhnya.
Tapi apa yang ditanyakan oleh pria itu, Vatler tidak meresponnya sama sekali dan memilih untuk pergi menuju dapur.
"Hei Vatler, dari mana kamu tiba-tiba bisa mendapatkan calon Istri? Carikan untukku juga dong." Pinta pria ini sambil duduk di atas meja dapur dan mengamati apa yang sedang Vatler lakukan saat ini.
"Kalau kamu mau, aku akan meminta Ibuku mencarikannya untukmu." Sahut Vatler dengan nada yang datar. Dia sama sekali benar-benar tidak berminat untuk membahas itu lagi.
"Jadi Ibumu toh, boleh juga." Pria ini mengangguk-angguk tanda setuju dengan jawaban Vatler barusan.
"Jadi apa yang mau kamu lakukan ditengah malam seperti ini dirumahku?" Tanya Vatler sembari menuangkan air panas kedalam kedua cangkir kopi di depannya.
"Apa lagi kalau bukan mengunjunngimu dan mencari tahu seperti apa calon Istrimu."
"................" Vatler mengaduk-aduk kopi yang sudah dia seduh, tapi sudut matanya terus saja menangkap sosok pria yang saat ini ada di sebelahnya itu.
"Tapi aku tidak menyangka, kenapa kamu mau menerima wanita itu untuk jadi calon Istrimu? Padahal selama ini kamu selalu menolak semua kencan buta, sampai teman-temanmu sendiri jadi korban keberuntungan dan kesialanmu." Jelas pria ini kepada Vatler. Dia adalah Liam, sepupu Vatler.
Vatler sebenarnya mengira kalau Liam sedang berada di luar negeri, tapi kenyatannya? Kenapa Liam yang baru saja pergi keluar negeri itu, sekarang ada di rumahnya?
"Apa yang kamu lihat dari dalam diri wanita itu?" Tanya Liam sekali lagi.
__ADS_1
"Aku hanya lelah dengan semua kencan buta itu. Karena kali ini Ibu yang memilihnya langsung seperti itu, tidak ada salahnya aku mengakhiri serencana Ibu. Aku tidak mempermasalahkan segala kekurangannya, asal dia memang mau menikah dengan orang sepertiku." Jelas Vatler, tangan kanannya menyeragkan cangkir kopi kepada Liam.
Liam menerima kopi pemberian Vatler, lalu memandangi permukaan kopi itu sambil bertanya, "Jadi kamu hanya memanfaatkannya saja?"
Dan keterdiaman Vatler itu pun menjadi jawaban untuk Liam, bahwa hubungan yang akan Vatler jalin dengan wanita pilihan Ibunya, yaitu Risyella hanya sebatas memanfaatkan dan dimanfaatkan.
"Sampai seperti itu ya? Tapi sebaiknya kamu hati-hati, jangan karena keegoisanmu, kamu mendapatkan penyesalan." Kata Lia, meemperingatkan.
Vatler yang hanya terdiam saja itu, akhirnya menyeruput kopinya.
*******
Esok paginya.
Setelah kegelapan yang dingin menghilang, sekarang datanglah cahaya kehangatan.
Pagi itu kicauan burung menyambut datangnya pagi yang akan diselimuti mentari pagi. Sampai suara mungil dari burung-burung yang ada di luar rumah, akhirnya menyeruak masuk kedalam kamar yang saat ini sedang dia tempati.
Sosok yang kini masih meringkuk tidur di atas kasur itu, tiba-tiba berganti posisi menjadi miring ke kiri, namun dengan posisi kepala yan bertolak belakang dengan posisi tempat tidur itu.
"Uhh..." Dia adalah penghuni kamar Vatler yang masih molor, yaitu Risyella.
Sesaat dia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, tapi setelah itu Risyella kembali melanjutkan tidurnya.
Langkah kaki itu perlahan berjalan masuk kedalam kamar yang saat ini sedang ditempati Risyella.
Liam yang penasaran dengan wanita yang akan menjadi Istri sepupunya itu, terpaksa masuk tanpa Izin demi melihat seperti apakah wanita yang Vatler bawa kedalam rumah prbadinya?
'Apa dia wanita yang pemalas? Hampir jam sembilan, tapi dia masih tertidur. Apakah Vatler juga tidak mempermasalahkan perilakunya yang seperti ini?' Pikir Liam, dengan langkah senyap, dia berjalan menuju sisi samping tempat tidur itu.
"Hoahhmm...." Setelah menguap lebar, lagi-lagi Risyella merubah posisi tidurnya jadi miring ke kanan, sehingga saat Liam hampir melihat wajahnya Risyella, sekarang posisinya jadi memunggungi Liam.
"............" Liam yang semakin penasaran, ditambah tanpa sepengetahuan Vatler, karena dirinya masuk kedalam kamarnya, akhirnya Liam berjalan ke sisi lain demi melihat wajah wanita calon Istri Vatler yang sedang tertidur itu.
Karena wajahnya tertutup oleh rambut, Liam mencoba mengambil rambut itu agar bisa dia tepis.
Sampai secara tiba-tiba pergelangan tangan Liam tiba-tiba di cengkram kuat.
'Apa?!' Liam terkejut sebab tangannya tiba-tiba mendapatkan cengkraman kuat dari orang yang baru saja bangun tidur itu.
GREP.
__ADS_1
"Siapa?" Sebuah pertanyaan itu langsung keluar dari mulu Risyella yang masih memejamkan matanya.
Ujung mata Risyella pun menangkap seorang pria yang saat ini ada di depannya?
"................?!" Risyella yang sadar dirinya tiba-tiba mencengkram tangan Liam, dia buru-buru melepaskannya dan segera bangkit dari kasurnya dengan posisi sudah berdiri di atas tempat tidur. "Kamu siapa?!" Tanya Risyella dengan tegas.
'Woww.., baru bangun tidur dia sudah memperlihatkan tubuhnya yang seksi.' Liam pun hanya melongo melihat Risyella sudah berdiri begitu saja di atas tempat tidur sambil menutut Liam itu siapa?
Tapi dari pada melihat reaksi terkejut itu, justru sepasang mata Liam malah terpaku pada penampilan Risyella yang cukup berantakan tapi juga punya kesan seksi.
Walaupun saat ini Risyella tengah memakai setelan piyama kebesaran, karena itu adalah piyama milik Vatler, tapi kesan seksi itu tiba-tiba saja datang saat satu kancing bagian atas Risyella ternyata sudah terlepas, sampai baju itu miring ke arah kanan dan memperlihatkan bahunya yang putih tanpa terlihat adanya tali bra yang artinya Risyella memang tidak memakai pakaian dal*mnya.
Tapi yang lebih mengesankan lagi adaah..
WUSHH....
Ac yang saat ini sudah kembali menyala itu langsung menghembuskan suhu yang dingin, dan langsung menerpa sepasang kaki Risyella yang telanjang?!
".............?!" Risyella yang merasakan kakinya tiba-tiba terasa dingin, segera melirik ke bawah, dan benar saja! Celananya sudah melorot! Yang sontak saja membuat Risyella yang menyadari tatapan Liam terus tertuju pada kedua pahanya yang terekspose itu, segera berteriak sejadi-jadinya. "Akkkkhhhh....!"
Risyella yang sudah malu sejadi-jadinya, dengan sebuah jeritan keras, dia meraih bantal yang ada disekitarnya dan melemparkannya kepada Liam.
BUKH....
Satu lemparan pertama berhasil mengenai wajahnya yang tidak bedah jauh dengan ketampanannya Vatler. "Siapa kamu! Kenapa bisa masuk kesini! Kamu melihatnya ya?! Ha! Kamu melihatnya ya! Jawab!" Teriak Risyella.
""Tunggu..tunggu.." Liam tentu saja panik.
"Tunggu apa!" Risyella langsung turun dari tempat tidurnya dan mengejar Liam itu.
Liam yang tiba-tiba dikejar, langsung berlari.
Tapi karena Risyella larinya kencang, dia yang berhasil mengejar Liam, langsung memukul punggungnya.
BBUKH....
"Ahw..." Rintih Liam. 'Kenapa tenaganya kuat sekali?! Terus, dia malah mengejarkan dengan pakaiannya yang seperti itu. Apa dia gila?'
"Keluar!" Risyella kembali memukul punggung Liam.
BUKH..
__ADS_1
'Vatler! Calon Istrimu kenapa ganas!' Teriak Liam di dalam hatinya.