
Menghentikan ciumannya untuk sesaat, Risyella pun kembali menatap Vatler dengan menahan air matanya sambil berkata : “Vatler. Meskipun aku sudah tidak ada, kau selalu ada di dalam hatiku. Sampai bumi ini berakhir, aku akan tetap mencintaimu. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku. Aku memang sering merasa sakit hati, tapi kau adalah orang yang tidak bisa aku benci. Maafkan aku, karena sudah meninggalkan tugasku sebagai Ibu. Maaf...Maaf...aku minta maaf Vatler.” Ungkap Risyella.
Tidak kuat menahan rasa bersalah dan rasa sakit hati yang masih ada, Risyella semakin menunduk menempelkan dahinya di dahi Vatler. Sampai air mata yang dari tadi Risyella bendung pun akhirnya pecah.
“Risyella,” Panggil Vatler pada wanita yang tiba-tiba mengungkapkan perasaannya.
Meskipun sepasang matanya masih ditutup oleh tangan Risyella, namun sayangnya Vatler sudah tidak bisa mendengar suaranya lagi selain pipinya yang tiba-tiba jadi terasa basah.
Sebuah tangisan dalam diam Risyella lakukan. Dia tidak ingin pria ini, melihat maupun mendengar tangisannya. Dia tidak menginginkan Vatler tahu kondisi dari ekspresi wajah dan suaranya yang sedang menahan tangisannya sendiri.
“Ah~” Desah Risyella tatkala dia sudah tidak kuat untuk menahan hatinya untuk berbicara lagi. “Apa kau tahu, waktu itu Risya menemuiku dengan tangisannya? Vatler, aku tidak ingin dia menerima apa yang aku terima darimu. Risya tidak membutuhkan apapun lagi kecuali kasih sayangmu. Gantikanlah aku untuk menyayanginya, itu saja pesanku. Dan terima kasih, karena aku bisa menemuimu, walaupun dalam keadaan seperti ini.”
Merasakan kalau kata-kata itu adalah kalimat terakhir dari Risyella, Vatler langsung mencengkram tangan kanan Risyella agar membuatnya bisa melihat wajahnya itu.
Tapi..
“RIs-” Tangan yang semula bisa Vatler raih itu, perlahan menghilang.
“Jaga dirimu,” Pesan terakhir Risyella sebelum akhirnya Risyella berdiri memunggungi Vatler.
Vatler yang langsung berdiri untuk menggapai tubuh Risyella pun berakhir sia-sia, karena Risyella keburu menghilang dari depan matanya.
WUSHH~
Pada akhirnya Vatler hanya bisa meraih angin kosong saja.
Sayup-sayup angin yang lembut itu pun datang, dan menggerakkan seluruh bunga Wisteria yang menjuntai itu.
Vatler hanya bisa menatap keberadaan pohon yang ditanam sendiri oleh Risyella. Pohon dari kehidupan Risyella yang lain, itulah yang Vatler percayai atas keberadaan pohon itu.
‘Hati-’ Vatler kembali dibuat untuk menyentuh dadanya sendiri. Kata ‘Hati’ yang terucap itu menjadi fakta nyata kalau hatinya memang masih belum bisa melupakan perasaan yang Vatler miliki beberapa tahun ini.
Hati yang merindukan keberadaan dari wanita yang menjadi pendamping hidupnya itu.
Sampai Vatler pun menyadarinya.
__ADS_1
Asal dari dirinya tidak ingin menikah dengan wanita lain, karena selama ini dia sudah menaruh perasaannya hanya untuk Risyella seorang.
Tapi yang menjadi pertanyaan dari dalam diri Vatler sendiri adalah kenapa sekarang?
Kenapa sekarang dia baru bisa mengetahui isi hatinya yang tidak bisa dia buka lagi untuk menaruh rasa untuk wanita lain?
Ternyata, itu semua karena Risyella berhasil menjadi sosok yang membelenggu hatinya. Agar dirinya tidak berpaling pada wanita lain.
“Ahaha……., ternyata akhirnya adalah seperti ini?” Cibir Vatler pada dirinya sendiri.
********
“An…”
Satu panggilan yang samar, tiba-tiba terdengar.
“Tuan?”
Untuk panggilan yang kedua, akhirnya berhasil membuat pria yang sedang terbaring di sofa, membuka kelopak matanya.
“Tuan, sebaiknya anda tidur di kamar anda.” Dan orang yang berhasil membangunkan majikan besarnya adalah bibi Jeni.
Bibi Jeni yang sebenarnya tahu kalau majikannya itu memang menangis di dalam tidurnya pun, tidak akan berani mengingatnya secara langsung. Dia memilih diam, dan memberikan saran untuk majikannya tersebut untuk pindah tempat.
“Apa Risya pulang?” Tanya Vatler.
Bibi Jeni hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya. “Oh ya, Tuan. Saya baru ingat, beberapa hari lagi adalah hari itu.”
Hari itu yang dimaksud oleh bibi Jeni adalah tanggal dari wafatnya sang Nyonya, yaitu Risyella.
‘Benar juga. Mungkin karena sebentar lagi, adalah tanggal meninggalnya Risyella, makannya aku tiba-tiba bisa bermimpi bertemu dengannya. Hanya saja-' Vatler pun menyentuh bibirnya sendiri dengan wajah berpikirnya, ‘Kenapa rasanya sangat nyata sekali? Aku merasa memang dicium sungguhan. Apakah mimpi, bisa sampai terasa nyata seperti itu? Tidak, pasti karena aku terlalu lelah saja, makannya bisa punya imajinasi berlebih seperti itu.’
Vatler pun hanya mengiyakan setuju atas pemikirannya tadi. kalau tubuhnya yang memang sudah lelah itu, berhasil memicu imajinasinya sendiri untuk berpikir lebih sampai merasakan hal yang seharusnya tidak mungkin bisa Vatler rasakan.
‘Sebaiknya aku memang istirahat dulu, setelah itu aku akan membawa Risya pulang.’ Setelah berpikir demikian, Vatler pun beranjak dari sofa dan membawa laptop miliknya, untuk dia bawa ke dalam kamarnya.
**************
__ADS_1
“Risya, bagaimana dengan ujianmu tadi?” Setelah sesi ujian selesai, Freddy pun mengantar Risya pulang bersama.
“Sulit,” Celetuk Risya. Tubuhnya bersandar ke arah pintu mobil sambil memejamkan matanya.
Freddy yang melihat kondisi Risya terlihat sangat lesu itu, buru-buru menyentuh dahi Risya. ‘Demam lagi. Tapi sampai bertahan seperti ini, dia termasuk sudah kuat.’ Benak hati Freddy, sambil menaikkan kecepatan laju mobilnya.
“Paman,”
“Hmm?” Dehem Freddy sembari melirik ke arah Risya.
Risya pun sempat melirik kearah Freddy yang sedang menyetir itu, tapi tak lama kemudian Risya kembali menatap jalanan yang ada lewat jendela mobilnya. “Apakah paman sedang mengumpulkan uang untukku?”
DEG!
Freddy seketika mengatupkan mulutnya itu. ‘Kenapa dia bisa tahu? Apakah dia tahu dari Jansen? Semalam yang Risya temui kan anak itu, pasti dialah yang memberitahu soal aku sedang mencari uang itu.’ Pikir Freddy. “Siapa yang mengatakan itu?”
“Kak Jensen.”
Tebakan Freddy pun sangat tepat sekali. Kalau asal dari Risya bisa tahu, adalah karena Jensen.
“Berapa banyak? Kalau sampai Milyaran, aku tidak bisa mengembalikan uang itu pada paman.”
“Tidak, tidak sampai Milyar. Hanya 300 juta saja.” Bohong. Freddy sengaja menyembunyikannya agar tidak menjadi beban pikiran Risya.
“300? Memangnya untuk apa uang sebanyak itu?” Toleh Risya kerarah Freddy, mengharapkan jawaban saat itu juga.
“Intinya untuk membantu pengobatanmu.”
Sebuah jawaban penuh dengan makna, membuat Risya semakin curiga kepada Freddy si paman kesayangannya itu.
‘300 juta? Itu jumlah yang lumayan. Lebih baik aku membantu cicilannya.’ Risya pun membuka handphone nya yang baru. Setelah beberapa menit mengutak-atik handphone nya itu, satu notifikasi pesan dari handphone milik Freddy pun terdengar. “Aku sudah mengirimkan uang 100 juta untuk paman, jadi sisanya tinggal 200 juta lagi. Nanti yang 200 itu, akan aku berikan menyusul. Tidak masalah kan?” Jelas Risya.
‘Berapa banyak uang saku yang Risya terima setiap bulan dari Vatler itu? Dan sejak kapan, Risya menabung? 100 juta itu bisa buat foya-foya keluar negeri, tapi sayangnya Risya bukanlah perempuan yang seperti itu. Apa sifatnya ini juga menurun dari Risyella?’ Pikir Freddy lagi.
Sejujurnya Freddy sama sekali tidak melihat Risya sebagai gadis pemboros. Dimana yang biasanya di umur-umur remaja seperti Risya sekarang ini, akan menjadi remaja dengan kenakalannya, Risya justru seperti seseorang yang tidak memiliki sebuah ambisi untuk melakukan banyak hal.
Freddy yang tidak mau membuat Risya menunggu jawabannya, segera Freddy jawab, “Tidak masalah. Tapi darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” Akhirnya Freddy bertanya karena tidak tahan dengan rasa penasarannya sendir.
__ADS_1
“Uang saku. Ayah selalu memberikanku uang 15 juta setiap bulan, jadi aku bisa mengumpulkan 100 juta itu dengan mudah.” Beber Risya.
‘Vatler itu, dia bisa mengeluarkan 30 juta lebih dalam sebulan? Dia memang orang beda level.’ Batin Freddy mencibir dirinya sendiri karena tidak mampu menyaingi kehebatan Vatler dalam hal mendapatkan uang banyak dengan mudah, lalu mengeluarkan uang itu sendiri juga dengan sangat mudahnya.