
Matanya Risyella seketika membulat sempurna saat tatapan mata Vatler ternyata kian mendingin seiring waktu berlalu.
'Kenapa dia terlihat seperti marah? Apakah karena aku selalunya tidak menatapnya saat berbicara, makannya dia menatapku setajam itu?' Mau bagaimanapun Vatler menatapnya, sekalipun dalam diri Risyella terbesit rasa takut yang terus menghantui karena dia merasa khawatir dirinya jika suatu saat Vatler marah, pastinya punya daya kuat yang mempengaruhi emosinal dan psikologisnya Risyella, sayangnya lagi-lagi entah kenapa Risyella tetap saja senang karena Vatler akan menjadi calon suaminya.
Tapi antara pikiran dan hati yang berusaha dia kuatkan itu, nyatanya tidak bisa membuat fisiknya secara alami mengikuti apa yang diharapkannya.
Karena secara tidak sengaja, tatapan intimidasi yang Vatler berikan itu ternyata memberikan efek pada matanya.
"Ah...." Risyella refleks mendesah ketika tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang basah sudah mengalir membasahi pipinya sendiri.
".......!" Sedangkan Vatler yang sadar dengan ekspresinya sendiri jelas menakuti wanita ini, Vatler yang bukannya buru-buru melepaskan kedua tangannya dari wajah Risyella, yang ada justru dia buru-buru menarik wajah itu agar kian mendekat.
Tubuhnya justru bergerak untuk mencium Risyella yang terliihat sedih itu.
CUP.
".........?!" Risyella membelalakkan kedua matanya. Dia tidak pernah berpikir kalau Vatler punya inisiatif untuk menenangkannya dengan sebuah ciuman? 'Apa yang terjadi? Kenapa Vatler tiba-tiba saja meciumku?'
Ketika di satu sisi Risyella bingung sendiri dengan tindakan yang Vatler lakukan terhadapnya, maka Vatler yang yang tidak memiliki alasan untuk menyangkal ciuman yang sedang dilakukannya, Vatler pun ******* semakin dalam.
__ADS_1
Dimana bibir yang saat ini sedang Vatler cium, ternyata, 'Manis.' Detik hati Vatler saat sudut matanya sempat mencoba mengintip wajah Risyella yang terlihat mematung itu. 'Terlepas dari penampilan dan wajahnya, ternyata....bibir dari ciuman ini lebih manis ketimbang apa yang dilakukan oleh Angie kepadaku. Hahh...diam-diam ternyata dia membuatku candu, bagaimana ini?'
"Eumphh...!" Ronta Risyella sambil memukul-mukul dada bidang Vatler agar memberhentikan ciuman itu.
Tapi karena saat itu Vatler merasa ketagihan, Vatler pun tidak menggubris Risyella yang sedang meronta untuk melepaskan ciumannya itu. Dan yang ada adalah Vatler saat ini melingkarkan tangannya di pinggang ramping Risyella.
"Umphh...!"
BUKH...BUKH.......
'Kenapa pukulannya jadi tambar terasa ya?'
Di luar mimpi.
"Uhmph...!" Risyella memukul dada bidang Vatler dengan keras agar pria yang ada di bawahnya itu segera tersadar dari tidurnya. 'Kapan dia akan melepaskanku?! Dia memang menciumku, tapi jika selama ini, aku bisa-bisa mati kehabisan nafas.'
Risyella yang merasa tidak ada gunanya memukul-mukul dada yang terasa keras seperti batu itu, terpaksa membuat metode lain. Walaupun sedikit susah, sebab tubuhnya saat ini di peluk erat oleh Vatler dan bibir mereka berdua sudah menyatu sama lain, tapi karena tangannya masih bisa bebas, maka dia pun meraih mata Vatler yang sedari terpejam itu.
Risyella membuka paksa kelopak mata yang terus tertutup itu.
__ADS_1
NYET..
"Ahw...!" Seketika Vatler langsung merintih sakit karena matanya tiba-tiba di buka paksa oleh Risyella. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Vatler menuntut, karena baru saja matanya sempat kena colok.
Tapi karena perbuatan itu pula, ciuman diantara mereka berdua akhirnya berakhir sudah.
Dimana, Vatler yang menginginkan sebuah jawaban pada si tersangka, rupanya tersangka itu sudah lemas di atas tubuhnya dengan nafas memburu. "Hahh...hah...hah..., kamu lah....hah...apa yang kamu...lakukan padaku?" Tanya balik Risyella. Dia tak kuasa dulu untuk berdiri karena dia merasa tubuhnya perlu penyesuaian diri setelah berolahraga kecil.
".............?!" Vatler segera menyangga tubuhnya dengan kedua sikunya kebelakang, sehingga tubuh bagian atas sedikit terangkat, dan menimbulkan Risyella yang masih berada di atas tubuhnya pun terangkat pula. 'Yang tadi itu berarti hanya mimpi?'
Merasakan detak jantung Vatler ternyata lebih cepat ketimbang sebelumnya, Risyella akhirnya bangkit dari atas tubuh Vatler.
"Maaf, aku tadi sebenarnya hanya ingin membangunkanmu, karena teleponmu terus saja berdering. Tapi-" Tapi apa yang Risyella dapatkan sesaat tadi adalah dirinya justru ditarik masuk kedalam pelukannya, dan di saat itu pula wajahnya ditarik akan mendapatkan sebuah ciuman dari Vatler yang tadi sedang tidur dan bermimpi.
Mimpi apa Risyella tidak tahu. Yang hanya dia bisa simpulkan adalah kalua Vatler pasti sedang bermimpi berciuman dengan wanita idamannya sendiri.
'Sudah pasti itu. Mana mungkin kan, pria sehebat dia setampan dia tidak memiliki cinta pertama? Jadi aku hanyalah benalu yang tiba-tiba menempel padanya.' Benak hati Risyella. Meskipun patut disyukuri karena akhirnya kembali mendapatkan bibir yang sebenarnya Risyella idam-idamkan, tapi tetap saja terbesit rasa kecewa karena pikiran dari tebakannya tadi.
"Pasti nikmat kan?" Tanya Vatler. Lagi-lagi Vatler memasang ekspresi wajah seperti orang yang baru saja tidak mendapatkan hal apapun, padahal baru saja mencium Risyella dengan lumayan ganas.
__ADS_1
Seketika Risyella terkejut, 'Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu? Ya..tadi memanng cukup nikmat. Tapi bagaimanapun, pasti orang yang ada di mimpimi itu adalah wanita pujaanmu. Sampai aku memukul dadamu saja kamu tidak bangun-bangun.'