Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
154 : IPHTV : Diagnosa


__ADS_3

Risyella yang terlihat semakin panik sendiri dalam keterdiamannya, lantas membuat Vatler tentu saja semakin menaikkan laju mobilnya.


Sampai sepuluh menit kemudian, dia sudah sampai dirumah sakit.


Setelah sampai di depan pintu masuk persis rumah sakit, Vatler buru-buru keluar untuk mengantarkan Risyella masuk.


KLEK.


"Kita sudah sampai." Beritahu Vatler.


Namun yang menjadi masalah selanjutnya, Risyella sudah tidak sadarkan diri.


"Ada apa Tuan?" Tanya salah satu orang perawat yang tidak sengaja melihat Vatler yang keluar dari mobil dengan cukup terburu-buru.


"Apakah dokter Alvis ada di dalam?" tanya Vatler seaya menggendong Risyella di depan dengan kedua tangannya.


"Itu, baru saja beliau masuk ke mobil untuk pulang." Jawabnya.


"Suruh dia kembali ke rumah sakit secepatnya, katakan padanya kalau Vat, menunnggu di ruangannya." Perintahnya.


Tanpa memperdulikan apa reaksi dan tanggapan yang di berikan oleh perawat perempuan itu, Vatler langsung berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit.


"A-apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dia kenalannya dokter Alvis?" Gumam perawat ini.


Di saat dia akan menghubungi dokter Alvis, tiba-tiba saja dia melihat mobilnya hendak melewatinya.


Tentu saja demi membantu seorang kenalan yang ternyata istrinya sedang mengalami keadaan darurat, perawat wanita ini memberanikan diri untuk menghadang mobil seniornya.


"Kak! Berhenti!" Teriak wanita ini tepat setelah berhasil menghadang mobil sedan putih yang digunakan oleh dokter Alvis.


"Hei, apa kamu gila? Mau membuatku masuk ke penjara karena menabrak asistenku sendiri?" Protes pria berkacamata ini kepada seorang perawat yang dengan nekat malah menghadang mobilnya yang akan lewat, dan itu hampir saja membuat asistennya itu kena tabrak olehnya juga.


"M-maaf, tapi ini keadaan darurat."


"Darurat apa? Setiap hari orang yang aku hadapi adalah pasien yang sedang dalam keadaan darurat." Cetus pria ini.


"Tadi, ada seorang pria membawa istrinya yang pingsan, untuk memberitahu kakak, kalau Vat saat ini sedang menunngu di ruangan kakak. Bagaimana tuh? Kondisinya terlihat darurat, istrinya itu...di kepalanya ada luka. Kelihatannya ini lebih serius deh kak." Jelas perawat ini.


'Vat?' Avis ini mencoba berpikir, siapakah orang yang baisanya di panggil Vat kecuali 'Vatler?' Membelalakkan matanya, karena sudah menemukan siapa orang yang sedang mencari dirinya, Alvis langsung keluar dari mobil dan berteriak. "Parkirkan mobilku lagi." Perintahnya kepada asistennya itu.


"Iya!" Balasnya.


Langkah kaki Alvis tentu saja cepat. Dia tidak mau membuat temannya itu menunggu.

__ADS_1


TING.


Sangat kebetulan ada lift yang baru saja sampai, dan Alvis segera masuk dan menekan tombol lantai tiga.


'Tapi asistenku bilang, Vatler membawa istrinya? Bagaimana bisa orang seperti dia bisa mendapatkan istri?' Pikir Alvis, merasa tidak percaya saja, karena saat ketika dulu di kampus, Vatler yang merupakan tipe pria yang cukup terkenal dengan mudah itu adalah orang yang sangat menghindari agar tidak dekat-dekat dengan wanita.


Meskipun banyak yang menyukainya karena tampangnya, tentunya, tidak ada satu orang wanita pun yang berhasil membuat hati seorang Vatler yang punya muka seperti dinding itu luluh.


'Dan sekarang yang dia bawa itu, betulan istrinya? Aku akan lihat, apakah dia memang istrinya? Kali saja asitenku yang suka mengkhayal itu salah bicara.'


TING...


Sesampainya di lantai tiga, Alvis segera pergi ke kantornya?


Tidak. Yang di maksud Vatler itu adalah pergi ke lab, untuk melakuan pemeriksaan kepada wanita yang di bawa oleh Vatler itu.


KLEK.


Kali pertama saat Alvis masuk adalah dia langsung di suguhkan dengan punggung Vatler yang saat ini sedang berdiri di depan komputer?


"Hei Vatler, ini ruanganku, kenapa jadi kamu yang pakai?"


"Karena yang punya, lama datang." Ketus Vatler.


Kala itu juga, Alvis melihat di dalam ruang khusus untuk melakukan CT Scan kepada seorang pasien.


"Dari mana kamu bisa mengoperasikan CT Scan?" Tanya Alvis dengan tiba-tiba, sebab dia bingung karena Vatler bukanlah orang yang belajar di bidang medis, saat kuliah dulu, jadi bagaimana pria di sampingnya itu bisa mengperasikan alat CT Scan yang hanya bisa di gunakan oleh dokter yang berpengalaman dan bersangkutan seperti Alvis ini.


"Dari pada menayakan hal tidak berguna, lebih baik urus dia. Dia baru saja mengalami kecelakaan, dan kepalanya terbentur. Katnya matanya tidak bisa melihat, dan karena ketakutan hasilnya dia malah pingsan." Jelas Vatler.


"Sini." Alvis menyuruh Vatler untuk menyingkir dari tempat duduknya. "Apa dia mual? Pusing?"


"Itu termasuk."


"Dia menglami geger otak. Ringan atau tidak, setelah melihat hasilnya." Jelas Alvis.


________


PRAKK...


Sebuah pulpen tiba-tiba saja di lempar dengan keras hingga pulpen itu patah, karena menghantam tembok.


Vatler yang baru saja masuk itu berhasil menghindar dari serangan yang dilakukan Risyella karena kesal.

__ADS_1


"Kenapa datang? Bukannya tadi ada urusan?" Tanya Risyella saat itu juga.


"Aku sudah menyelesaikan urusanku." Jawabnya singkat, seraya meletakkan kotak bento berisi makanan.


DRRTT...


DRRTT...


DRRTT..


Dering dari handphone milik Vatler, sayangnya kembali mengganggu suasana mereka berdua yang sudah cukup canggunng itu.


"Kenapa tidak di angkat? Angkat saja itu." Perintah Risyella.


Setelah mendapatkan diagnosis kalau ia mendapatkan geger otak ringan, Vatler menyuruhnya untuk di rawat di rumah sakit sampai benar-benar pulih.


Tapi mau pulih bagaimana jika kesehariannya di tempat asing yang sudah Risyella jalani selama dua hari terakhir itu terasa sangat membosankan, karena dia benar-benar tidak tahu apapun bahkan bahasa yang di gunakan oleh pra perawat yang keluar masuk ke dalam kamarnya.


Itu semakin membuat Risyella seperti boneka yang di urus dengan sangat baik, tapi tidak mendapatkan kesan apapun.


'Kenapa Angie akhir-akhir ini selalu meneleponku?' Jika tidak di angkat, akan semakin mendapatkan daftar berisik dari Angie yang suka memuat teror, tapi jika di angkat, maka akan membuat Risyella yang sudah kesal itu semakin terlihat tambah kesal, karena hari-hari yang Risyella jalan di rumah sakit, membuat Vatler pun tidak bisa sepenuhnya menemaninya.


"Angkat saja sana. Itu berisik." Ketus Risyella sambil mencoba membuka kain yang membungkus kotak bento yang di bawa oleh Vatler itu.


"Aku tinggal sebentar."


Tanpa sepatah kata pun dari Risyella yang memilih memfokuskan dirinya untuk makanan yang Vatler bawakan itu, Vatler kembali keluar.


Dan lagi-lagi meninggalkan Risyella sendirian, yang hanya di temani bento buatan dari siapa?


"Siapa yang buat ini? Pasti dia beli kan?" Gumam Risyella lirih.


KRUYUKK...


Kebetulan yang pas, karena dia merasa lapar di saat yang tepat dengan makanan yang baru saja datang, Risyella segera mengambilnya dengan garpu.


Namun.


KLAKK...


Garpu yang sudah menusuk sushi itu malah jatuh.


'Kenapa susah sekali?' Pikirnya. Dia pun menatap tangan kanannya sendiri yang terasa lemah.

__ADS_1


Risyella mencoba untuk mengepalkan tangannya, tapi rasanya sungguh seperti dia tidak punya tenaga untuk membuat satu tonjokan, yang biasanya Risyella lakukan.


"Kenapa aku jadi tidak bisa memegang dengan benar?" Risyella yang sakit hati itu mencoba untuk memegangnya lagi. Tapi semua usahanya itu kembali gagal, dan membuat Risyella mendorong meja geser itu ke depan, menyingkirkan makanan yang tidak bisa Risyella makan, karena untuk memegangnya sendiri saja dia kesulitan. 'Apakah aku harus makan dengan menggunakan mulutku?' gerutu Risyella di dalam hatinya.


__ADS_2