Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
34 : IPHTV


__ADS_3

Dengan langkah lebar dan cepat, Freddy dalam kurung waktu kurang dari 10 menit itu, kini sudah berhasil sampai di rumah sakit kembali.


Demi apa dia kembali ke rumah sakit?


Itu adalah demi Risya.


KLEK.


“Risya,” Panggil Freddy dengan nada sedikit tinggi. Freddy segera berjalan masuk ke dalam kantornya sendiri. Tapi yang dia temui, Risya sudah tertidur di atas sofa.


Freddy berjalan menghampiri Risya yang tertidur lelap dengan tubuh sudah diberikan selimut oleh Jansen.


“Kau cepat juga ya, jika aku yang meneleponmu untuk datang cepat, malah lambatnya minta ampun.” Ujar Jensen dengan kedua bahu terangkat. “Kau pilih-pilih orang,” Imbuhnya. 


Freddy yang tidak peduli dengan semua perkataannya, hanya menatap wajah Risya yang baru saja menangis?


Itulah yang Freddy lihat setelah menyingkirkan sedikit rambut yang menghalangi wajah Risya, dan hampir membuat rambut itu sebagai makanan tidurnya. 


“Apa yang terjadi dengannya?” Tanya Freddy tanpa memperhatikan ekspresi jansen yang sudah berwajah masam, sebab ucapannya tadi tidak di gubris.


“Aku juga tidak tahu. Datang-datang, dia sudah seperti itu.”


Freddy memperhatikan wajah Risya dengan tatapan lembut, lalu jari telunjuknya pun mengusap ringan pipi Risya.


“Dia datang kesini agar kau bisa memulihkan data-data di handphone ini.” Jansen kemudian menyerahkan kotak stainless kearah Freddy. “Kakaknya yang membanting handphonenya, dia pasti menangis karena data-data penting di dalam handphone ini takut ikut hancur juga.”


Freddy mengambil handphone yang sudah rusak itu. 


Freddy segera mengeluarkan handphonenya, lalu berkata : “Aku sudah mengirimkanmu uang, belikan handphone yang baru sekarang juga.”


Jansen menilik handphone nya sendiri. Dia menerima notifikasi dari bank, kalau ada transferan yang masuk kedalam rekeningnya. ‘Dia bisa melakukannya?’


“Belikan versi yang terbaru,” Imbuhnya. 


“Ok,” Jawab Jensen singkat. ‘Kenapa dia terlihat sangat memperhatikan gadis itu? Itu seperti tatapan orang yang sedang jatuh cinta? Ha? Mana mungkin Freddy itu pedofil.’


“Apa yang kau tunggu?” Tanya Fredy memperingatkan.


“Iya, aku pergi.” Jansen melepas jas dokternya, lalu pergi dari sana. Memberikan ruang untuk mereka berdua. 


‘Aku rasa aku harus lembur.’ Freddy menghela nafas panjang, lalu dia pun memulai pekerjaannya untuk melawan kantuknya dengan duduk di depan komputer. 


Untuk apa?


Memperbaiki data yang ada pada handphone yang hancur itu. 


                          ********

__ADS_1


“Arshel, apa yang sebenarnya ada di kepalamu? Apa kau tidak kasihan dengan adikmu sendiri?” Serang Vatler, menanyakan semua masalah yang tadi terjadi di depan matanya persis itu kepada tersangka.


Arshel tiba-tiba tersenyum miring, mencibir. “Kasihan, apa Ayah sendiri kasihan dengan anakmu sendiri? Sering ditinggal pergi sampai berbulan-bulan.” Sela Arshel dengan cepat. 


Vatler seketika sadar, dirinya sendiri juga mempunyai banyak hutang untuk mereka berdua. Yaitu, hutang waktu dan kasih sayang. 


Tapi memangnya bagaimanakan cara menyayangi anaknya sendiri jika orang yang seharusnya mengajarkan itu kepadanya, ternyata sudah pergi?


“Kau harus minta maaf padanya.”


“Apa gunanya itu? Dia sudah keburu membenciku.” Cibir Arshel.


‘Tch...Kenapa semuanya jadi seperti ini?’ Vatler akhirnya mulai terlarut dalam emosinya sendiri, karena tidak ada yang sesuai dengan harapannya. 


Harapan agar kedua anak itu akur dan menjalani hidup yang berkecukupan, ternyata tidak bisa Vatler dapatkan, sekalipun sudah memberikannya banyak fasilitas. 


Ketika anak-anak lain akan menggunakan segala uang dan fasilitas mewah dengan sebaik-baiknya, ternyata itu tidak terjadi pada kedua anaknya itu. 


Uang yang selalu diberikan, selalu tersisih banyak oleh mereka berdua. Itulah yang Vatler ketahui karena terus memantau uang dari masing-masing tabungan yang Arshel dan Risya miliki. 


Dan hal itu mengingatkannya kepada Istrinya, yang sama-sama memiliki kebiasaan untuk berhemat. Membeli sesuai dengan kebutuhan, dan Arshehl juga Risya ternyata juga sama-sama melakukannya. 


‘Kenapa walaupun kau sudah tidak ada, tapi kau selalu menghantuiku terus?’ Racau Vatler. Dia sekarang sudah sangat pusing, gara-gara permasalahan yang terjadi pada keluarganya yang pada akhirnya, memang sudah berantakan dari awal.


‘Percuma berdebat dengan Arshel. Lebih baik aku menyusul Risya.’ Tidak mau memperpanjang dan membuat waktunya dengan berdebat dengan Arshel, Vatler memilih pergi begitu saja dan meninggalkan Arshel di dalam kamarnya itu.


Vatler kemudian membuka handphone nya yang bisa dibuka dengan layar yang lebih lebar. 


Dan hal yang sedikit mengejutkannya adalah saat mengetahui kalau posisi mobil yang digunakan oleh Risya, ternyata ada di rumah sakit!


“...............!” Vatler pun langsung berlari keluar dari rumah, sampai pintu yang dia tutup itu tertutup dengan cara kasar.


BRAK!


Sehingga, untuk yang ketiga kalinya, pintu di rumah itu dijadikan bahan pelampiasan dari tiga orang. 


‘Kenapa Risya ada di rumah sakit?!’ Panik bukan main, Vatler langsung naik motor dan tanpa membuang waktu lagi, dia segera tancap gas. 


                          ********


Hampir 20 menit itu, Freddy menatap layar komputernya terus. Mengoreksi data yang sudah dia dapatkan dari handphone Risya yang hancur itu. 


Sampai dimana, Freddy ternyata menemukan beberapa foto lama milik Ibunya Risya, yaitu Risyella.


Karena kebetulan mendapatkan foto milik Risyella, Freddy pun menyempatkan waktunya untuk mengirimkannya ke handphone nya. 


TING..

__ADS_1


Suara notifikasi itu pertanda semua file gambar yang sudah Freddy pilih berhasil diterima.


Freddy langsung memilih salah satu foto yang akan dia gunakan sebagai wallpaper di layar handphone nya. 


Tapi belum sempat melakukannya, sudut matanya secara tidak sengaja melihat darah tiba-tiba keluar dari hidung Risya. 


Freddy buru-buru menghampiri Risya yang masih tertidur itu.


“Risya,” Freddy mencoba memanggil namanya.


“Ehm?” Risya meresponnya dengan dahi yang berkerut. “Paman?” Sahut Risya, sebab sudah familiar dengan suaranya Freddy. 


“Hidungmu mimisan,” Freddy memberikan kotak tisu kepada Risya. 


‘Mimisan?!’ Risya yang langsung terbangung itu, tentu saja segera mengambil tisu sebanyak-banyaknya, lalu pergi masuk ke kamar mandi.


Dan disaat yang sama, pintu masuk kantornya, tiba-tiba saja terbuka.


“Freddy,” Suara itu segera menghantui Freddy. Pemiliknya adalah Vatler. 


‘Kenapa dia tiba-tiba datang kesini? Risya bukanlah orang yang akan memberitahu kemana dia akan pergi ke Vatler. Berarti secara kemungkinan, ada pelacak?’ Freddy mengernyit saat memikirkan adanya kemungkinan itu.


Karena hanya dengan itu saja, terkadang orang yang tidak akan mungkin datang, bisa datang secara tiba-tiba.


Dan sekarang terjadi pada Vatler ini. 


Vatler adalah orang yang sangat waspada dengan apa yang ada di sekitarnya. Jadi berurusan dengan pria itu, maka harus berpikir 2 kali jika tidak ingin mendapatkan imbas yang tidak terduga lainnya.


“Dimana Risya?” Vatler benar-benar menuntut Freddy untuk menjawab pertanyaannya itu. 


“Dia sedang di kamar mandi.” Balas Freddy sambil membuang tisu yang baru saja dia gunakan untuk membersihkan sofa yang tadi sempat terkena tetesan darah milik Risya. 


“...............” Vatler mencoba mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan ruang kerja milik Freddy. Sampai secara tidak sengaja, Vatler melihat ada satu handphone yang rusak, berada di meja kerja milik Freddy. ‘Apa Risya datang kesini untuk memperbaiki data-data yang ada di dalam handphone nya yang rusak itu kepada Freddy?’


Vatler langsung memberikan tatapan menyelidik pada Freddy ini. 


‘Aku kira terjadi sesuatu pada Risya. Jadi dia hanya datang kesini untuk menemui Freddy? Tunggu, Risya tahu Freddy ahli dalam komputer? Jangan-jangan belakangan ini Risya sering pulang telat itu karena menemui Freddy?’ Dalam sekilas, Vatler langsung mencurigai hubungan yang terjalin antara Freddy dengan Risya. 


‘Aku sudah memprediksinya lambat laun, Vatler pasti tahu.’ Freddy hanya bersikap biasa, dan tidak mau ambil pusing. 


Sampai ketegangan di antara mereka berakhir, setelah bunyi pintu dari kamar mandi segera muncul.


KLEK.


“Ayah?” Panggil Risya.


Freddy, mendengar Risya memanggil Vataler ‘Ayah’ membuat hatinya sedikit berdenyut. 

__ADS_1


Bagaimana tidak, jika sainganya itu sudah mempunyai anak yang suda besar, dan yang selalu bertemu sampai paling dekat dengan Freddy itu adalah Risya, anak dari Vatler ini. ‘Kenapa aku harus menghadapi kenyataan pahit ini?’ Freddy dalam diam tersenyum mencibir. 


Dia mencibir atas nasibnya sendiri.


__ADS_2