Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
105 : IPHTV : Yakin aku jadi Istrimu?


__ADS_3

“Dari pertanyaanmu itu, apa kamu sedang meragukanku?” Tanya Vatler kepada RIsyella.


Tidak tahu datang dari mana asal keberanian miliknya itu, sampai bisa menatap mata Vatler, Risyella pun menjawab, “Mungkin aku memang sudha sering banyak bertanya, kenapa memilihku, dan kenapa pula aku? Aku adalah perempuan yang memiliki segudang banyak kekurangan, dan aku pun merasa tidak sebanding denganmu, jadi aku tanya, apakah kamu yakin ingin jadi suamiku sekaligus aku menjadi istrimu?”


Kembali menatap ke depan, Vatler menjawab segala pertanyaan itu. “Padahal aku juga sudha mengatakannya sberulang kali. Aku tidak mempermasalahkan, baik itu soal latar belakang, pendidikan, ataupun cara pandangmu terhadap aku atau keluargaku, karena yang terpenting disini adalah, aku bisa memiliki wanita untuk dijadikan Istriku, sesuai dengan keinginan Ibuku.” Jelas Vatler dengan panjang lebar. 


Mendengar penjelasan dari Vatler, Risyella pun jadi tersenyum lembut. Walaupun sudah tahu kalau hubungan ini di dasari karena perjodohan, Risyella pun pada akhirnya menerima apapun yang dikatkan oleh pria ini. 


Kalau bukan pria ini yang mengambil dirinya untuk dijadikan seorang Istri, lalu siapa lagi?


Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk Risyella sendiri mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. 


Rasa iri yang dia pendam ketika melihat banyak teman-temannya yang lebih dulu menikah lalu punya anak, sebentar lagi akan menghilang. 


Tidak masalah bagi Risyella untuk mencintai Vatler seorang diri tanpa mendapatkan balasan cinta yang sama dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini, karena yang terpenting di sini adalah bisa memiliki pria ini seutuhnya. 


“Baiklah, aku akan menerima hubungan ini. Aku sekali lagi berterima kasih karena sudah memilihku.” lirih Risyella. DIa benar-benar merasa senang karena tidak lama lagi dirinya akan menikah dengna pria ini. 


“Hmmm…jadi jangan tanya lagi. Karena dari awal jawabannya saja sudah jelas.” Peringat Vatler. Dia sejujurnya sudah merasa bosan dengan pertanyaan yang bagi diri Vatler sendiri tidaklah berguna, dan masih saja terus di bahas sampai berulang-ulang. 


“Maaf,” Risyella langsung menunduk. Dia merasa bersalah karena harus bertanya lagi dan lagi. 


Tapi jika tidak seperti itu, hatinya jelas saja akan terasa gelisah. Karena itu, demi kebaikan sendiri, dia pun jadi terpakasa untuk bertanya. 


“Tapi kita mau kemana?” Tanya Risyella, dia terus memandangi segala pemandangan yang ada di bawahnya persis. 


Menaiki Helikopter untuk pertama kalinya membuat dia merasa kalau semuanya benar-benar ada di bawah kakinya. 


“Sebagai ganti tidak jadi berenang,” sahut Vatler. 


‘Iya! Tapi kemana?!’ Tentu saja Risyella jadi terus bertanya-tanya mau pergi kemana?


____________

__ADS_1


“Hah…aku hari ini jadi tidak dapat apa-apa deh.” Gerutu pria ini. Dia adalah orang yang menyamar menjadi Vatler beberapa waktu lalu. 


Dan saat ini dirinya sedang berjalan santai mencari jemputannya. 


“Hei Vion, apa yang kamu lakukan jalan sendirian? Tidak seperti biasanya saja,” Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri laki-laki yang tadi di panggil Vion. Dan pria yang kenal dengan Vion itu saat ini sedang menjalankan mobil sedan miliknya dengan cukup pelan, sehingga dapat menyamai kecepatan langkah dari laki-laki yang sedang berjalan di trotoar sendirian. 


“Yah~ Aku awalnya ingin menculik seorang wanita, tapi dianya lepas dariku.” Jawab Vion. 


“Wahh~ Sejak kapan kamu punya keinginan untuk menculik wanita? Kira-kira siapa? Apakah cantik? Seksi? Atau karena sesuatu yang lain dari yang lain, makannya bisa menggerakkan hatimu yang seperti batu itu?” 


Dihujani banyak pertanyaan dari rekannya itu, Vion pun menjawab, “Mungkin…” Vion memberhentikan langkah kakinya, lalu dia pun mendongak ke atas. 


Terlihat ada satu helikopter yang baru saja lewat di atas kepalanya persis. 


“Karena aku yakin, wanita yang aku inginkan itu adalah sesuatu yang menjadi kelemahannya.” Jawab Vion. 


“Kelemahannya siapa?” Tanya pria ini penasaran. 


Vion melirik ke arah wajah temannya itu, “Nanti kamu juga akan tahu,” Timpalnya. 


“Hei Vion!” Pria ini berteriak memanggil nama laki-laki itu, tetapi apa yang terjadi, mobil sport yang dinaiki oleh Vion sudah melesat pergi dari sana, meninggalkannya seorang diri. 


*


*


*


Di dalam mobil Vion.


“Tuan, kenapa anda jadi repot-repot jalan kaki sendirian? Saya kan bisa menjemput anda ke sana langsung.” Tanya laki-laki ini. Dia adalah supir pribadi, yaitu Max, umurnya tidak jauh berbeda dengan Vion, hanya berbeda tiga tahun tahun saja, dimana umur Max masih berumur dua puluh lima tahun, sedangkan Vion sendiri dua puluh delapan tahun. 


“Apakah aku jadi terlihat aneh karena jalan kaki sendirian di trotoar?” Tanya Vion kepada Max dengan tatapan selidik.

__ADS_1


“Bukan aneh, tapi saya hanya merasa tidak wajar saja anda bisa-bisanya jalan jauh seperti itu.” Jelas Max. 


“Itu sama saja.” Singkat Vion. Lalu Vion pun mengambil tab yang sudah ada di saming kursinya persis, Max tentu saja sudah menyiapkannya.


“...........” Max terdiam, karena merasa ucapannya jadi serba salah. 


“Tapi aku akan menjawab rasa penasaranmu itu. Aku mau berjalan kaki sendirian, karena aku sedang ingin merenung.”


‘Hah? Ada apa ini? Kelihatannya Tuan akan membicarakan seseorang.’ Terka Max. Meskipun sedang menyetir, tapi dia masih bisa menyempatkan dirinya untuk melihat ekspresi wajah Tuan nya itu yang terlihat antara sedang senang juga sedih? ‘Ekspresi macam apa itu? Kenapa aku baru melihat Tuan seperti sedang galau?’ Pikirnya lagi. “Kalau boleh tahu, anda merenung karena apa?”


“Aku merenung karena seorang wanita bodoh,”


“A-apa?” Max langsung tersenyum tawar. “Bodoh dalam artian apa? Padahal selama ini Tuan selalu di kelilingi wanita yang pintar untuk menggoda anda dengan segala cara.”


“Nah itu permasalahannya. Biasanya kan mereka yang menggodaku demi mendapatkan aku, tapi asal kamu tahu, hari ini aku melakukan hal sebaliknya. Aku kebetulan menemukan wanita bodoh. Karena aku menyamar jadi ‘dia’, secara otomatis, dia malah benar-benar mengira aku adalah dia. Termasuk bodoh kan?”


‘Tapi tidak perlu menekankan kata bodoh berulang kali juga kan?’ Umpat Max. “Tapi wanita seperti apakah yang anda sebut sebagai bodoh itu?”


“Dia sebenarnya wanita biasa.” Vion memainkan tab miliknya. Dan dia pun sedang membaca segala informasi mengenai latar belakang yang dimiliki wanita yang sedari tadi dia bahas, yaitu Risyella. “Tidak seksi, juga tidak cantik, tapi sayangnya kebodohannya itu justru membuatku senang. Max-” 


Max langsung melirik kearah spion mobil yang ada di atasnya persis. 


“Dari apa yang aku ceritakan tadi, menurutmu aku sedang terkena apa?”


“Ketertarikan pada wanita bodoh.” Jawab Max dengan selamba. 


“Apa kamu tidak punya otak?” Hina Vion. 


“Punya, tapi karena dari tadi Tuan menyebut kata bodoh berulang kali, saya jadi berkata apa adanya. kan Tuan sendiri yang menanyakan pendapat saya itu apa?”


“Max, kamu selalu membuatku bungkam. Jangan bicara lagi,” Ucap Vion, tidak puas hati dengan jawaban dari supirnya itu. 


Seketika suasana di dalam mobil akhirnya kembali hening. Max dengan pekerjaannya yang sedang mengantarkan majikannya itu ke tempat tujuan, dan Vion, di dalam keheningan itu, Vion tiba-tiba saja menyeringai saat melihat beberapa foto wanita yang hampir dia dapatkan tadi sedang memakai pakaian renang. 

__ADS_1


Walaupun tidak memiliki tubuh seindah apa yang sering Vion lihat selama ini, namun di sudut hatinya dia memiliki ketertarikan sendiri terhadap wanita yang di bawa oleh Vatler itu.


__ADS_2