
Setelah dirasa Risyella sudah sadar dengan situasinya sendiri, Vatler pun melepaskan tangannya dari mulut Risyella.
Melihat Vatler sudah melepaskan bekapan mulutnya, Risyella pun langsung memalingkan wajahnya dari pada menatap Vatler tarus/ Dan karena saking malunya, sehingga Risyella pun segera membuat Kursi yang di dudukinya itu untuk di jadikan tempat tidurnya, menutup jendela dan menyelimuti tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
'Akhh...bagaimana dengan nasibku ini. Aku baru saja mempermalukan diri sendiri dengan cara yang aneh dan memalukan.
Ah Risyella, bagaimana kamu bisa melindur dengan suara des*ahan seperti itu? Siapappun nanti bisa tahu kalau aku baru saja bermimpi sedang melakukan hubungan bada, apalaggi karena aku sempat menyebbut nama Vatler dalam tidurku, dia pasti langsung tahu kan? Tahu kan?' Pikir Risyella.
Melihat Istrinya sudah meringkuk d dalam selimut seperti itu, Vatler pun membatin, 'Apa dia baru saja bermimpi aku sedang melakukan dengannya? Ternyata, wanita ini sudak punya pikiran kotor. Dan sekarang dia yang malu, padahal disini yang baru saja dia permalkukan kan aku, gara-gara dia menyebut namaku.' Dan Vatler hanya bisa menghela nafas pela nsebab awal keberangkatan mereka berdua saat ini, justru di hadapi dengan tingkah Risyella yang men*desah di tengah-tengah tidurnya dan sempat menarik perhatian para pennumpang.
Sampai akhir dari suasana canggung mereka tiba-tiba saja berakhir karena..
BRAKK...
"Akhh...!" Risyella yang kaget karena pesawatnya tiba-tiba mengalami guncangan, langsung bangkit dari acara bersembunyinya. "Apa? Ini apa Vatler?!" Pekik Risyella kepada Vatler yang masih duduk di sampinngnya persis. "Kenapa pesawatnya berguncang seperti ini?!"
BRAKK...
"Kyaa...!" Risyella pun langsung membungkukkan tubuhnya sambil memegang kepalanya.
"Jangan disitu terus, sini." Ajak Vatler, menarik tangan Risyella agar turun dari tempat tidurnya.
"Aku takut, kita tidak akan mati kan?" Tanya Risyella, langsung berjongkok di depan Vatler yang saat ini sedang memperbaiki posisi kursi yang di gunakan oleh Risyella agar jadi kursi biasa.
BRAKK...
Saking takutnya itu, Risyella memegang kedua kaki Vatler saat itu juga, membuat tubuh Risyella saat ini pun berada di depan Vatler persis dengan posisi k\=wajah menghadap ke selnagkangannya vatler.
"Asal kamu tidak panik, kita tidak akan mati." Sahut Vatler. " Duduk lagi." Perintahnya, setelah berhasil memperbaiki posisi kursi penumpang milik Risyella yang sesaat tadi dalam posisi untuk tempat tidur.
Dengan wajah takutnya itu, Risyella segera mencengkram tangan kursi dari kursi miliknya, setelah itu Risyella buru-buru duduk dan niatnya langsung untuk menggunakan sabuk pengamannnya.
__ADS_1
'Seluruh penumpang untuk tidak panik, segera pasang sabuk pengaman.'
Namun ketika Risyella sudah tinggal hanya duduk saja, guncangan yang cukup besar kembali terjadi.
Risyella yang sesaat tadi masih dalam posisi berdiri, sontak langsung menubruk dinding pesawat dengan cukup keras, sampai tubuhnya langsung jatuh.
Melihat hal itu, Vatle langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan dan segera menangkap tubuh tubuh Risyella sebelum terjatuh ke lantai.
BRUK.
"Ris.." panggil Vatler seraya menepuk pipi Risyella dengan cepat agar wanita yang sudah Vatler tangkap itu segera membuka matanya. "Risyella, bangun."
Dan turbbulensi itu terus terjadi, mengguncang pesawat yang di naiki oleh Vatler. Membuat kepanikan di dalam pesawat menjadi alarm kalau saat ini keadaan mereka semua sedang tidak baik-baik saja.
Dan keadaan itu menimpa Risyella juga, sampai tidak sadarkan diri.
'Dia tidak apa-apa kan? Tapi ini, kepalanya tadi sempat terbentur keras. Kenapa hatiku tiba-tiba jadi merasa sakit, saat melihat Risyella tidak bangun seperti ini?' Batin Vatler saat itu juga, sebab wanita yang ada di pangkuannya itu saat ini tidak kunjung membuka matanya.
"Akhh! Vatler! Aku takut! Pesawat ini tidak jatuh kan? Tidak kan?" Racau Risyella secara tiba-tiba langsung menerjang tubuh Vatler untuk Risyella peluk sesuka hati.
Vatler yang terkejut karena ternyata wanita di depannya itu benar-benar masih sadar, ekspresi wajahnya pun diam dan menatap Risyella dengan tatapan mata tidak percaya, karena benturan sekeras tadi teryata tidak membuat istrinya ini langsung pingsan.
Dan apa lagi karena saat ini Risyella sedang dalam kondisi memeluk tubuhnya, Vatler pun tanpa pikir panjang jadi membalas pelukan dari tubuh Risyella yang terlihat gemetar itut.
"Tidak akan jatuh jika kamu tidak berisik lagi." Sahut Vatler. Dan anehnya, di dalam sudut lain di dalam hatinya itu, dia tiba-tiba merasakan rasa lega karena Risyella ternyata masih punya tenaga dan nyali untuk berisik di depannya persis.
"Eh..iya."
Tidak seperti sebelumnya, Risyella panik sendiri, sekarang dia pun jadi merasa tenang, karena dia memeluk tubuh Vatler yang benar-benar memberinya sebuah ketenangan hati dan jiwa.
"Dan setidaknya kamu duduk kembali, lalu pakai sabuk pengaman." Pinta Vatler untuk menyuruh Risyella melepaskan pelukannya, lalu duduk diam di tempat agar tidak menambah kepanikan yang terjadi di dalam pesawat.
__ADS_1
Hanya saja, Vatler yang sedari tadi menunggu Risyella untuk melepaskan pelukannya, tidak kunjung terwujud juga, yang ada Risyella semakin mengeratkan pelukannya.
BRAKKK..
Guncangan yang besar itu pun terjadi, tapi tidka membuat Risyella kembali masuk kedalam kepanikannya lagi, selain tetap dalam posisinya untuk terus memeluk Vatler.
"Ris, lepas dulu, kamu harus duduk."
"Tapi aku takut." Lirih Risyella tepat di leher Vatler, karena saat ini Risyella memeluk dalam poisi kepalanya dia letakkan di atas bahu sebelah kanan Vatler persis sambil menghadap ke arah leher Vatler. sebab aroma yang tercium oleh hidung Risyella, dia merasakan sebuah kenyamanan sekaligus menghilangkan kepanikan yang ada di dalam dirinya itu.
"Tapi kamu harus duduk lagi untuk keamananmu. Mengerti dulu, jangan bersikap egois." Beritahu Vatler kepada Risyella.
Merasakan nuansa seram sejuk saat mendengar Vatler menggunakan nada yang begitu rendah, Risyella pun terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuh Vatler.
"..........." Merasakan kalau Risyella akhirnya menurut, Vatler pun melepaskan tangannya juga dari punggung Risyella.
Tapi apa yang di dapat saat Risyella sudah menjauh darinya adalah...
TES...
".............!" Mendapatkan celana hitamnya tadi mendapatkan ada satu cairan yang menetes, Vatler sontak langsung mendongak ke atas.
Sontak matanya membulat sempurna, saat Vatler langsung di suguhi pemandangan yang cukup menyita perhatiannya.
Rupanya cairan yang sempat menetes ke tangannya juga sesaat tadi itu berasal dari darah yang keluar akibat benturan dari kepala Risyella yang tadi Risyella dapatkan itu.
Drah itu melumuri hingga menutupi pandangan mata sebelah kanannya.
"Ok, aku duduk lagi. Jadi jangan bicara lagi, jangan- aku malas bicara lagi." Rintih Risyella, seraya mencoba duduk kembali, dan
langsung menggunakan sabuk pengamannya. Setelah duduk di tempatnya lagi, dengan mata sudah berlinang dengan air mata karena rasa sakit itu, Risyella langsung menyeka dahinya dengan telapak tangannya, agar pandangan matanya tidak terhalang lagi.
__ADS_1
'Dia-' Vatler yang hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi yang terluka itu, tiba-tiba saja Vatler urungkan niat itu, karena saat ini terliha kalau Risyella sedang menahan sakit dan akhirnya juga harus menahan kepanikannya lagi.