
Seperti yang di janjikan, Feddy pun mengantarkan Risya ke sekolah.
Tapi seperti yang sudah di perkirakan, Vatler yang dari kemarin membuat panggilan telepon karena Risya, maka Vatler pun berhasil mendahului Freddy untuk menjemput Risya. Sampai Risya sendiri terkejut, karena mobil putih yang Riysa pikir adalah mobilnya paman Freddy, karena mobilnya adalah jenis yang sama dan memiliki plat nomor mobil yang sama pula, sontak membuat Risya benar-benar sudah kena tipu oleh ayahnya sendiri.
"Masuk." Pinta Vatler kepada Risya, yang saat ini sudah membuka pintu depan mobil.
'Akhh! Kenapa aku jadi tertipu hanya karena mobilnya sama dengan yang paman pakai? Aku kan jadinya harus duduk bersama dengan Ayah!' Racau Risya, dengan terpaksa masuk kedalam mobil, yang saat dimana ketika Risya masuk, Risya juga mendapati Arshel tengah duduk di kursi belakang.
"................." Arhsel tidak mengatakan apapun, seakan masih dalam posisi perang dingin dengan Risya.
Melihat hal tersebut, Vatler kembali angkat bicara, "Arshel, minta maaf kepada Risya sekarang."
'Apa? Apakah tujuan Ayah melakukan peipuan kepadaku agar aku bertemu dengan Arshel, dan membuat Arshel minta maaf kepadaku?' Batin Risya.
"...................." Arshel melirik kearah Risya yang masih berdiri di ambang pintu mobil.
"Sudahlah, aku tid-"
"Maafkan aku." Sela Arshel ketika Risya hendak berbicara.
"Apa?" Risya merasa pendengarannya sedikit bermasalah, membuatnya bertanya lagi, "Kau bilang apa?"
"Maafkan aku, aku sudah merusak handphonemu." Kata Arshel, alasan dari dirinya tiba-tiba minta maaf adalah karena kejadian yang terjadi dua hari yang lalu.
".................." Risya seketika menunduk dengan senyuman tipi syang hampir tidak ada. Risya akhirnya masuk kedalam mobil, lalu berkata : "Ya, aku memaafkanmu. Lagai pula hanya sekedar handphone."
Tetapi apa yang dikatakannya itu sebenarnya mengandung satu makna lain.
'Bagimu itu memang sekedar handphone. Tapi kau tidak akan pernah mengerti, apa yang ada di dalam handphone itu, bagiku sangatlah berharga. Kalian berdua, kalian tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan saat ini.
Tapi tidak masalah, lagi pula sebentar lagi aku akan menyusul Ibu. Dan paman Freddy jadi tidak perlu repot-repot untuk mengurusku lagi. Bahkan uang yang paman pinjam dari orang lain, jadi bisa dikembalikan dengan cepat. Dan aku jadi tidak akan punya beban dari rasa sakit ini lagi." Pikir Risya.
__ADS_1
Sampai semua pikiran itu segra Risya tarik kembali saat Ayahnya, berbicara.
"Beberapa hari lagi ulang tahun kalian, apa yang kalian berdua inginkan?" Tanya Vatler. Tepat di tanggal 27 september itu adalah hari ulang tahun Arshel dan Risya, sekaligus tanggal kematian RIsyella, Ibu kandung kedua anaknya itu.
"Aku ingin pergi keluar negeri, kelihatannya paling bagus itu adalah prancis." Jawab Arshel dengan cepat, mendahului Risya.
Vatler melirik kearah Risya yang kebetulan duduk sampingnya persis. "Risya? Kau mau apa di hari ulang tahunmu nanti?"
"Aku hanya ingin pergi ke makam Ibu bersama-sama." Jawab Risya dengan lugas. Sedangkan Vatler, wajahnya menjadi kosong saat mendengar permintaan Risya yang tidak menginginkan apapun keccuali pergi ke makam Ibunya, yaitu Risyella.
Ya...sejujurnya Vatler sendiri sadar kalau beberapa tahun belakangan, Vatler sudah lama tidak mengunjungi makan Risyella bersama dengan Arhsel dan RIsya.
Mungkin karena itulah, Risya menginginkan bisa pergi bersama kemakam Risyella bersama-sama.
"Tapi, apa kau tidak ada keinginan lain selian itu?" Tanya Vatler sekali lagi.
Risya yang awalnya ingin mengatakan keinginannya yang lain, segera dia urungkan dan mengganti jawabannya dengan yang lain, "Seperti yang Arshel katakan tadi, itu saja." Risya pun mendukung apa yang diinginkan Arshel tadi.
"......................" Arshel hanya diam sambil memperhatikan Risya dari awal sampai akhir, di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu di balik tingkah adiknya itu. 'Apa yang dia sembunyikan?' pikir Arshel.
"Wahh....." Suara dari seorang wanita yang sedang mengagumi apa yang sedang dia lihat.
"Mereka siapa?"
"Lihat, mereka berdua kenapa tampan? Sangat mirip, apakah mereka berdua saudara atau ayah dan anak?"
"Tapi di mataku, daripada ayah dan anak, mereka lebih mirip seperti saudara."
"Apapun itu, mereka berdua tampan sekali~"
Segala pujian dari respon para pengunjung yang di dominasi perempuan langsung terdengar sampai ditelinga mereka bertiga. Termasuk Risya sendiri yang justru hantu tak kasat mata, sebab mereka semua pandangannya hanya tertuju pada Ayahnya dan Arshel saja.
__ADS_1
Saat ini mereka bertiga sedang berada di mall. Risya tidak tahu tujuannya untuk apa, karena selama ini belum pernah sekalipun melakukan kunjungan ke mall bersam-sama seperti ini. Tetapi disini perannya hanya bisa mengikuti sang Ayah saja, karena Ayahnya lah yang ingin pergi ke mall.
Meskipun Risya sebenarnya berusaha untuk tidak memperdulikan segala kalima yang RIsya dengar itu, tetapi tetap saja bagi Risya terasa menyakitkan.
"Tapi ngomong-ngomong siapa perempuan yang ada di belakng itu?"
"Mungkin saja dia saudara jauh dari laki-laki muda itu."
"Pfft...saudara jauh? Meskipun begitu, harusnya wajahnya itu sebanding dengan mereka berdua kan?"
DEG..!
"....................." Seperti disambar petir di siang bolong, Risya seketika langsung merasa sakit hati dengan ucapan yang baru saja Risya dengar sendiri. 'Saudara jauh? Aku sebenarnya tidak peduli soal aku ini cantik atau tidak, tapi kenapa saat dibilang sebagai saudara jauh, hatiku jadi terasa sangat sakit seperti ini?'
Perlahan Risya memperlambat langkah kakinya, sampai akhirnya dia berhenti berjalan.
'Kenapa mereka selalu seperti itu? Padahal hanya ucapan yang keluar dari mulut. Tapi kenapa terasa seperti ditusuk pisau?' Pikiran yang terlintas di dalam kepalanya itu pun membuat Risya bergeming dari tempatnya. 'Ah~ Kenapa bisa sesakit ini?' Risya tiba-tiba mencengkram baju seragamnya sendiri. Terbesit rasa amarah, tapi dia tidak berani mengeluarkan marah itu secara gamblang di muka umum.
Vatler yang merasakan Riisya tidak mengikutinya lagi dari belakang, membuatnya memberhentikan langkah kakinya lalu menolh kebelakang. "Risya?" Seketika matanya membulat sempurna, saat sudut matanya melihat Risya diam-diam sedang menangis.
"Ris-" Panggil Vatler, berjalan menghampiri Riysa yang masih berdiri mematung.
"K-kalian saja yang berbelanja. Aku tunggu di mobil saja." Pamit Risya, lalu berbalik pergi meninggalkan Vatler dan Arshel.
"Risya!' Panggil Vatler sekali lagi dengan suara sedikit keras. Tapi si empu tidak menggubris panggilannya, sehingga Vatler langsung melemparkan tatapan sengitnya pada dua orang wanita yang sedang duduk bersama.
Kedua wanita itu pun sadar ketika mendapatkan tatapan dari Vatler, tanpa mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi adalah karena ucapan mereka berdua sudah berani menyinggung Riysa secara tidak langsung.
TAP.....TAP......TAP....
"Eh, dia menuju kesini." Bisik wanita ini kepada teman disebelahnya yang sednag minum jus.
__ADS_1
"Kesini?" Merasa tertarik dengan kata-kata dari teman di sebelahnya itu, wanita ini segera menatap Vatler yang saat ini sudah berdiri tepat di depannya persis. 'Dilihat dari dekaaat, dia memang benar-benar tampan dan tinggi. Dia sangat sesuai denagn tipe idealku. Tapi kira-kira kenapa pria ini datang menghampiriku? Ah! Jangan-jangan dia tertarik dengan kecantikanku?' Pikir wanita ini.
"Kau-" Satu kalimat yang terucap dan menggantung itu pun berhasil mebuat wanita itu semakin penasaran.