Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
27 : IPHTV


__ADS_3

“Risya.” panggil Freddy kepada rIsya agar mengurangi kemarahannya itu dari orang lain.


“Tapi paman, dia mengatakan paman dokter abal-abal.”


“Tidak usah dipikirkan. Dia hanya iri pada paman, karena pasien yang paman layani adalah tuan putri cantik.” seperti sebuah kebiasaan, Freddy lagi-lagi mengusap kepala Risya.


“Jangan memujiku. Arshel bilang aku tidak cantik,” rungut Risya sambil menepis tangan Freddy yang mengacak-acak rambutnya.


Terbesit rasa lucu saat melihat Risya yang tadi terbatuk-batuk sampai memuntahkan darah, sekarang malah sedang merungut karena diejek tidak cantik oleh kakaknya sendiri. 


“Hanya ejekan dari mulut satu orang, kau peduli dengan itu? Apakah kau pernah dibilang jelek oleh teman-teman sekelasmu?” tanya Freddy.


“Tidak sih.”


“Kalau sudah tahu, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?” 


‘Pemandangan macam apa ini? Aku seperti melihat bunga-bunga di sekitar mereka.’ Vanes merasakan silau dari dua orang yang lagi-lagi mengumbar kemesraan pada Vanes yang belum punya kekasih, jadi dia benar-benar merasa iri.


__________________________


Arshel, disebabkan paman Ard selaku sopir pribadinya juga, dia untuk pertama kalinya harus mengandalkan orang lain. 


Sekarang dia terpaksa meminta salah satu kenalannya untuk datang menjemputnya. 


Dia adalah Ardy, kenalannya yang berasal dari sekolah lain dan secara kebetulan jam pulangnya sama, jadi sekalian untuk mengantarkannya pulang.


“Hei, kau tidak biasanya menumpang mobil orang.” sindir Ardy, karena baru pertama kalinya dimintai tolong oleh Arshel yang notabene nya adalah orang kaya, punya supir pribadi juga.


“Diam,”


“Ada apa dengan Pangeran yang satu ini? Jangan-jangan karena Tuan Putri salju itu ya?” cibir Ardy lagi. Dia merasa senang melihat Arshel yang mempunyai tampang serius itu, kini sedang dibalut amarah karena seseorang berhasil meninggalkannya.


“..................” Sayangnya Arshel lebih memilih untuk diam ketimbang menjawab dari pertanyaan yang sudah jelas dengan jawabannya itu.


“Apa kalian bertengkar lagi? Sampai di tinggal segala.” 


“Tidak. Awalnya tidak, tapi saat ini sudah menjadi masalah yang membuatku ingin bertengkar dengan anak itu.” jawab Arshel dengan serta merta. 


Awalnya antara dirinya dengan adiknya, dia tidak memiliki masalah apapun. Bahkan soal dirinya yang ditampar oleh ayahnya, Arshel pun mencoba menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu kepada adiknya itu. 


Tapi sesaat setelah Risya menyuruh paman Ard untuk meninggalkannya, maka Arshel sudah kehilangan rantai yang mengikatnya itu. 


Mulai saat ini dia tidak akan tinggal diam kepada Risya. ‘Karena dia, aku sendiri yang selalu menerima getahnya.’ batin Arshel.


Hingga tepat di depan pintu Mall, Arshel secara tidak sengaja melihat dalang dari semua dramanya. 


“Ardy, pergi ke sana.”


“Kau mau belanja?” tanya Ardy sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


“.................” Sayangnya senyuman Ardy yang terkesan mengejek itu Arshel lawan dengan tatapan tajamnya, berhasil membuat Ardy kalah.


“Pergi ke mall.”


“Baik Tuan.” sopir pribadi Ardy pun segera menuruti permintaan majikannya. 


Mobil yang membawa kedua Tuan muda itu akhirnya pergi menuju pintu depan Mall. 


“Ohh...ternyata Tuan Putri cantik itu ada disini.” Ardy sengaja membuka jendela mobilnya dan melihat lebih jelas Risya yang baru saja keluar dengan membawa beberapa paper bag.


“Jelek seperti itu dibilang cantik. Matamu sudah rabun ya?” celetuk Arshel dan keluar dari mobil Ardy begitu saja.


BRAK.


“Doni,” panggil Ardy.


“Ya Tuan?” sahut Doni, yaitu sopir pribadinya Ardy.


“Sebagai sesama pria, kau lihat perempuan itu.” Ardy menunjuk ke arah Risya. “Menurutmu Risya itu jelek atau cantik?” 


Doni sebagai supir itu mencoba sedikit membungkuk ke depan dan menoleh ke arah kiri. Doni pun melihat seorang gadis berseragam sekolah sedang membawa tas belanjaan. 


“Cantik.”


“Kan? Berarti yang rabun itu aku atau Arshel?” tanya lagi Ardy kepada Doni.


“Ha..benar-benar. Arshel memang sudah buta, dia tidak bisa membedakan mana yang cantik dan yang tidak. Pasti itu efek samping dari sikap dan hobinya yang terus belajar dan belajar.” cela Ardy.


“Apa Tuan akan turun juga dan menyapanya?” 


“Kau memang peka. Aku maunya memang seperti itu, tapi situasinya saat ini, bukanlah waktu yang pas. Kita pulang saja.” ucap Ardy.


Domi mengangguk lalu membawa majikannya itu pulang.


*


*


*


‘Walaupun aku sebenarnya tidak begitu butuh, tapi jika aku pergi ke Mall dan pulangnya aku malah tidak bawa belanjaan, aku pasti akan dicurigai. Tapi lumayan lah, buat cuci mata.’ pikir Risya, tatkala matanya sedang menilik ke dalam beberapa tas belanjaannya.


“Eh, siapa itu?”


“Apakah dia artis? Tapi dia masih memakai seragam sekolah.”


“Wow, laki-laki itu..apakah dia sedang menunggu pacarnya?”


“Kenapa pia tampan itu malah berdiri saja?”

__ADS_1


Risya yang merasa familiar dengan berbagai pujian dan racauan tidak jelas dari perempuan, berhasil menarik perhatian Risya juga untuk mencari-cari laki-laki yang mereka maksud itu.


Tepat saat keluar dari pintu masuk, Risya langsung disambut oleh Arshel yang sedang berdiri di depan persis.


‘Kenapa dia ada disini?! Gawat, semoga dia tidak curiga kalau tujuanku sebenarnya bukan ke Mall!’ racau Risya dalam diam. Dia takut setengah mati jika Arshel mengetahui alasan sebenarnya Risya sering pergi ke Mall.


“Kenapa kau terkejut begitu?” tanya Arshel.dengan kedua tangan bersilang di depan dada.


“Kenapa kau bisa ada disini?” 


“Bukankah harusnya aku yang tanya, kenapa kau di sini? Aku pikir kau sudah pulang, tapi asik belanja sendirian.”


Semua orang yang melihat adanya aura tidak mengenakkan keluar dari tubuh Arshel, membuat mereka sedikit berjalan menjauh.


‘Kenapa mereka malah menjauh! Dekati saja anak itu agar aku bisa kabur!’ Risya semakin gelagapan melihat reaksi orang-orang yang ternyata sadar untuk tidak mendekati area kekuasaan Arshel saat ini.


Dalam jarak radius 8 meter, mereka semua seperti memberikan ruang untuk Arshel dan Risya berbicara empat mata di depan umum.


Melihat hal tersebut, Risya langsung berjalan menghampiri Arshel dan menarik Arshel untuk pergi dari sana sebelum menjadi tontonan orang-orang.


“Ayo pergi,” Risya menarik paksa Arshel.


“.................” Arshel pun mengikutinya keluar dari Mall dan pergi ke area parkir.


Setelah sampai di depan mobil milik mereka persis, Risya langsung melepaskan cengkramannya itu.


“Kenapa kau pergi meninggalkanku?”


“Aku malas menunggu.” ketus Risya.


“Kalau malas, kau harusnya pulang di saat jam pulang. Paman Ard balik ke sekolah.”


“.................” 


“Jika seperti ini terus, sebaiknya kau cari supir pribadi untukmu. Jangan paman Ard, kau mengerti?” beritahu Arshel.


“Aku tahu kok.” jawab Risya singkat. ‘Sebelum kau mengatakannya sekalipun, aku juga sebenarnya sudah mencarinya.’ benak hati Risya. 


“Terus bukannya kau sudah memperingatkanmu, jangan pakai make up. Kalau kau pakai, kau seperti pakai topeng.” tuntut Arshel. 


“....................” Risya melirik botol penghapus riasan yang Arshel sodorkan kepadanya. Itu tuntutan agar Risya menghapus riasannya. ‘Padahal Kak Vanes yang meriasku, masa aku menghapusnya?’ 


Tidak mau menerima tawaran dari Arshel, Risya langsung kabur masuk ke dalam mobil lebih dulu


BRAK!


“...................” Arshel mengulum senyum pahit dengan sifat Risya yang makin hari semakin mengesalkan Arshel. ‘Apa bagusnya pakai riasan? Kenapa dia semakin sulit diatur?’


Arshel pun menyimpan kembali botol pembersih make up itu kedalam saku uring dari seragam sekolahnya.

__ADS_1


__ADS_2