
‘Ah! Bagaimana caranya mengerjakan matematika ini?’ Risya seketika frustasi, setelah menemukan soal yang tidak bisa dia pahami, sekalipun sudah Risya kerjakan berulang kali, tapi tetap saja tidak bisa menemukan jawabannya.
Risya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu, dan mencoba kembali mengerjakan PR Matematika yang dia dapatkan tadi siang.
Tapi meskipun setengah jam sudah berlalu, dia tetap tidak mendapatkan apapun selain waktu yang terbuang dengan sia-sia.
‘Arshel, aku harus tanya padanya.’ hanya itu satu-satu cara, sebab kakaknya yang lebih pintar, Risya pun memutuskan membawa bukunya dan pergi menemui sang kakak. ‘Dia pasti berada di kamarnya.’
Lalu sesuai dengan dugaan, melihat pintu kamar milik Arshel sedikit terbuka, Risya langsung menyerobot masuk sambil mengetuk pintu.
Walaupun semua itu tidak ada gunanya, sebab masuk ke kamarnya lebih dulu baru mengetuk pintu adalah sesuatu yang sama-sama tidak sopan.
TOK….TOK…..
Risya tidak peduli itu, karena yang dia pedulikan saat ini adalah bisa menyelesaikan PR nya malam ini juga.
“Arshel, ajarkan aku untuk PR matematika aku.” pinta Risya kepada kakaknya yang memang sedang berada di dalam kamar dan sedang memakai baju.
“Kau sekolah gunanya untuk apa? Gurumu juga sudah mengajarimu soal yang mirip seperti itu kan? Kenapa minta aku mengajarimu?” sela Arshel sembari mengancingkan baju kemeja berlengan pendek.
“Ya...aku kan masih bingung, walaupun soalnya hanya plesetan.”
“Kalau bingung, kenapa saat diberikan PR, tidak sekalian kerjakan di sekolah dan tanya dengan temanmu. Meskipun itu untuk dikerjakan dirumah, tidak ada aturan tertulis harus dikerjakan dirumah.” jelas Arshel.
Memang benar, Risya lagi-lagi tidak bisa mengganggu gugat apa yang dikatakan oleh kakaknya.
“........................” karena melihat kakaknya merasa enggan untuk mengajari beberapa soal yang membuat Risya dalam kesulitan, Risya lebih memilih untuk memintanya lagi. “Kau mau pergi kemana?” tanya Risya, mengalihkan topiknya saat melihat kakaknya memakai pakaian yang cukup rapi.
“Aku harus menemui temanku, di mall.”
“Mall? Aku ikut ya?” RIsya langsung tertarik dengan kata ‘mall’ sebab merasa sudah lama tidak pergi kesana.
__ADS_1
Arshel yang mendengar adiknya ingin ikut, langsung berbicara lagi, “JIka kau ikut,maka kau adalah satu-satunya perempuan. Kenapa tidak pergi saja dengan temanmu? Lalu-” Arshel melirik ke arh buku yang dipegang oleh Risya. “Bukankah kau sedang mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan besok pagi? Tapi kau masih ingin pergi ke mall?” ucap Arshel sekaligus memberikan peringatan kepada Risya.
“T-tidak. Aku tidak akan pergi.” Risya memutuskan untuk tidak pergi, mengingat tugasnya sendiri memang menumpuk, dan harus diselesaikan hari ini juga.
“Kalau mengerti selesaikan tugasmu saja.” beritahu Arshel lalu berjalan pergi meninggalkan Risya yang masih berdiri di ambang pintu.
Meski memang tahu tugasnya harus diselesaikan malam ini juga, tapi apa gunanya mengerjakan soal yang bahkan Risya sendiri masih belum paham, dan seseorang yang dijadikan guru disini, justru pergi dengan temannya.
Maka dengan berpikir sendiri, apakah soal matematika yang Risya tidak dia mengerti masih bisa dikerjakan sendiri?
“...................” Risya mencengkram bukunya, dan berjalan lebih masuk kedalam kamar Arshel yang sudah kosong karena ditinggal oleh pemiliknya.
Akhirnya Risya memilih untuk mengerjakan PR nya di kamar Arshel sembari meminjam buku dan mencoba mengerjakannya sendiri.
“Mereka sama saja.” gumam Risya di tengah-tengah dia sedang mencari buku soal matematika milik kakaknya.
Mungkin karena kakaknya pintar, maka semua tulisan itu tertulis dengan cukup rapi, dan efeknya untuk Risya sendiri adalah dia jadi merasa tidak bosan untuk terus membacanya.
‘Soalnya sama. Apa aku salin saja? lagi pula aku mulai paham saat melihat cara kerja soal matematika ini.’ pikir Risya saat tidak sengaja bisa menemukan soal yang sama, dan ada juga soal yang mirip, tapi cara jalan untuk mencari jawabannya, sudah mulai Risya pahami.
Satu jam, berubah menjadi dua jam, sampai tiga jam berlalu Risya tidak beranjak dari kursinya dan terus melakukan pekerjaannya.
‘Sedikit lagi selesai.’ detik hati Risya dengan senyuman yang kian mengembang.
Rasa senangnya muncul, ketika tinggal 2 soal lagi yang belum dia kerjakan. Tapi semua itu ana berlalu karena Risya mulai mengerti bagaimana cara mengerjakan kedua soal itu.
‘Bukunya Arshel memang ampuh.’ Risya tertawa cekikikan, ketika otaknya mulai encer sebab mulai memahami matematika yang sedang dia kerjakan.
Tapi semua itu langsung terhenti saat ada sesuatu yang keluar dari hidungnya.
TES…
__ADS_1
TES…..
“..................!" Risya seketika langsung menghentikan tangannya untuk menulis, ketika cairan yang keluar dari hidungnya adalah darah.
TAP……..TAP……….TAP………..
“................!” Risya semakin terkejut saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang mula mendekat. ‘Jangan-jangan Arshel sudah pulang.’
Panik bukan main, Risya langsung menyambar beberapa tisu dan menyeka hidungnya sampai bersih, lalu segera memasukkan tisunya kedalam saku. Setelah itu Risya kembali mengambil tisu untuk diletakkan di atas lembar kertas yang tadi terkena noda darah, lalu segera Risya tutup.
PAK.
“Kau masih disini?” tanya Arshel.
“...............!” karena terkejut, Risya diam sesaat dan menjawab, “Iya, aku meminjam bukumu.”
Arshel menatap Risya dengan tajam. “Apa kau menyalin jawaban milikku?”
“..................” Risya memalingkan wajahnya ke tempat lain.
“Aku tidak mempermasalahkan soal kau yang menyalin jawaban dari buku milikku, tapi kau harus tanggung konsekuensi sendiri jika kau ditanya untuk mengerjakan soal yang seperti itu lagi di depan kelas, apakah benar-benar bisa menjawabnya atau tidak, kau akan ketahuan.” Arshel memang tidak memperdulikan bukunya dipinjam oleh Risya dan menyalin jawabannya, karena yang terpenting di sini adalah tentang penguasaan soal.
Jika Risya memang belum paham, tapi bisa mengerjakan PR dengan jawaban yang benar semua, itu akan menjadi senjata makan tuan untuk Risya sendiri jika tiba-tiba ditunjuk untuk maju dan mengerjakan soal lain dengan cara kerja yang sama.
“Iya, aku tahu. Aku juga sudah mulai paham caranya mengerjakan.” jawab Risya, dia masih saja tidak berani menatap mata Arshel karena tatapannya sangat menusuk.
“Jika kau berkata seperti itu, sekarang kembali ke kamarmu.” perintah Arshel kepada Risya.
“Iya.” Risya menarik bukunya, dan membawanya keluar dari kamar kakaknya.
“.....................” Arshel hanya menatap kepergiannya, dan setelah melihat kamarnya sudah ditutup kembali, Arshel segera duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Risya.
__ADS_1
Kursinya masih hangat.
Itulah yang Arshel rasakan ketika duduk. “Apa anak bodoh itu benar-benar bisa memahaminya?” gerutu Arshel sambil membuka buku yang Risya ambil untuk menyalin jawaban miliknya. “................”