Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
13 : IPHTV Salah ambil


__ADS_3

TRING…


Risya langsung mendapatkan jawaban dari Arshel setelah menanyakan soal buku yang ingin dipinjami RIsya saat ini juga.


‘Jawabannya singkat sekali?’ Risya mengangkat salah satu alisnya, saat melihat jawaban yang Arshel berikan kepadanya hanya berupa ‘Y’. “Padahal tadi malam dia bisa bicara panjang lebar.” gerutu Risya sambil memasukkan handphone nya kembali ke dalam sakunya.


KLEK.


Tepat saat membuka pintunya, Risya langsunng mendapatkan tatapan mata dari mereka semua yang masih duduk di kelas yang Arshel tempati.


“Apa kau dari kelas lain?” salah satu dari mereka bertanya langsung kepada Risya yang sedang berjalan menuju kusri milik Arshel.


“Iya, aku dari kelas 2-D.”


“Kau mau apa dengan tas milik tuan Arshel?” taya dia lagi kepada Risya.


“Aku ingin meminjam bukunya.”


“Memangnya kau sudah minta izin?” 


“Sudah.” jawab Risya, dan akhirnya menemukan buku yang dicarinya.


Karena mereka semua tahu bahwa perempuan itu adalah adiknya Arshel, jadi tidak ada seorang pun yang mengusiknya, dan hanya memberikannya tatapan kepada Risya yang tampak enak bisa meminjam segala hal yang dimiliki oleh Arshel dengan mudah. 


Itu adalah kesan iri mereka terhadap Risya.


Setelah Risya pergi, lima menit kemudian Arshel dan kedua temannya sudah balik, bahkan Rose si wanita bule masih ikut menempel diantara merkea bertiga. 


Banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan benci, melihat Rose sok dekat dengan Arshel dan kedua temannya itu.


“.....................” Rose hanya mendeliknya, lalu menghiraukan tatapan semua perempuan yang ada di kelasnya. “Kalian, terima kasih sudah mengajakku makan bersama ya.”

__ADS_1


“Iya Rose.” jawab Nivel.


“Hm…” Arden hanya berdehem pelan, sedangkan Arshel tidak merespon apapun. 


“..................” Karena ekspresi wajah Arshel berubah menjadi serius saat ada sesuatu yang dicarinya, ternyata tidak kunjung ketemu.


Nivel dan Arden yang penasaran, segera bertanya : “Ada apa?”


Setelah Nivel, Arden pula yang bertanya, “Apa ada yang hilang?”


“Apa ada yang datang kesini selain dia?” tanya Arshel secara tiba-tiba pada sekumpulan perempuan yang duduk berkelompok di belakang kelas. 


“Tidak ada, hanya dia saja.” salah satu orang mewakili untuk menjawab pertanyaan dari Arshel.


‘Dia?’ Rose dibuat penasaran, siapa yang dimaksud oleh Arshel. “Apa ada yang mencuri sesuatu di tasmu?”


“..................” tapi Arshel tidak merespon pertanyaan dari Rose, dan memilih meninggalkannya pergi.


Nivel, Arden dan Rose sama-sama dibuat bingung dengan kepergian Arshel yang cukup mendadak itu.


‘Dia mau pergi kemana? Apakah dia sedang mencari yang tadi dia tanyakan pada mereka?’ Rose sedikit melirik para perempuan yang duduk berkelompok itu, lalu akhrnya ikut pergi menyusul Arshel untuk mencari tahu siapa yang sedang dicari oleh Arshel.


‘Risya, dia malah mengambil buku yang salah.’ Arshel pun berjalan menuju kelas yang ditempati Risya, yang letaknya ada di ujung koridor.


KLEK.


Saat membuka pintu kelas 2-D, Arshel segera merotasikan pandangannya kesegala penjuru di kelas.


“Tuan Arshe?”


“Tuan muda?” ikut menoleh ke arah pintu masuk, dan akhirnya menemukan orang yang tadi disebutkan oleh temannya. 

__ADS_1


Terlihat Arshel sedang berdiri di ambang pintu dan sedang mencari-cari seseorang.


“Apa yang membuat anda datang kesini?” sang ketua kelas bertanya langsung kepada Arshel.


“Tidak ada.” ketus Arshel, tapi langkah kakinya dilanjutkan untuk masuk ke kelas lebih dalam lagi. Dia pergi menuju kursi yang ditempati Risya, dan disanalah tas milik Risya berada.


‘Tidak ada apanya? Kau sedang menggeledah tas milik adikmu seperti itu.’ terkadang meskipun ucapannya terdengar ketus, tapi melihat Arshel justru melakukan hal yang sebaliknya, membuat beberapa orang tertawa dalam diam. 


Arhshel yang sedang membutuhkan buku fisika miliknya, terus mencoba mencari di dalam tas milik Risya. 


‘Dia-’ tangan Arshel langsung berhenti saat tangannya tiba-tiba menemukan pembalut. ‘Jangan-jangan dia masih membawanya.’ 


Karena tidak ditemukannya buku miliknya, baik di dalam laci meja maupun di dam tas, Arshel akhirnya berhenti mencari dan pergi mencari keberadaan dari anak itu. 


“Dia tampan sekali.” gumam Annisa saat melihat Arshel sudah pergi dari hadapannya.


“Tentu saja Annisaa, banyak perempuan yang naksir dengan tuan Arshel, tapi di saat yang sama juga tidak ada yang berani mendekatinya.” teman belakang Annisa pun menjelaskan akan kekaguman dari Annisa yang benar-benar terlihat sangat tertarik dengan penampilan luar biasa milik Arshel. 


“Kenapa tidak ada yang berani?” tanya Annisa bingung.


“Kau lihat tadi kan? Dia selalu menatap lawan bicaranya dengan tatapan dingin, ucapannya yang ketus seakan dia memang menjadikan mereka semua adalah musuh dari Arshel itu. 


“Tapi kenapa dia menggeledah tas milik Risya?” itu adalah salah satu pertanyaan yang dari tadi membuat Annisa penasaran setengah mati. 


Benar, Annisa masih belum tahu soal hubungan dari kedua orang itu.


‘Bagaimana bisa Risya punya teman laki-laki sepopuler dia?’ Annisa tidak bisa mengalihkan imajinasinya saat mencoba mengingat kembali tatapan dan sorotan mata Arshel yang begitu serius untuk mencari sesuatu di dalam tas milik Risya.


“Mungkin saja Risya mengambil barang milik tuan Arshel. Tapi karena tidak ketemu, sepertinya tuan Arshel akan mencari Risya.” jawabnya. 


“Kelihatannya kalian tidak terusik dengan hubungan tuan Arshel tadi saat menggeledah tas perempuan.” tanya lagi Annisa. 

__ADS_1


“Kami memang iri, tapi memangnya apa yang bisa kami lakukan? Lagi pula tuan Arshel menggeledah tas adiknya sendiri.”


Annisa segera terdiam. Di atidak menyangka kalau Arshel yang sering menjadi buah bibir banyak perempuan setiap harinya, ‘Risya adiknya?!’ 


__ADS_2