Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
143 : IPHTV : Bermalam bersama


__ADS_3

Siang, sore, dan malam pun tiba.


Seperti yang diharapkan oleh Risyella saat ini yaitu menunggu Vatler pulang, dan Vatler pun benar-benar pulang dengan penampilan segar yang seperti terjadi di awal keberangkatan tadi.


Tidak nampak wajah pria itu lelah ataupun kesal, dan tidak pula terlihat seperti orang yang habis keluar untuk menyelesaikan urusannya, karena Vatler terlihat segar-segar saja.


"Apa kamu sudah makan?" Tepat di saat Vatler menghentikan motornya, Risyella pun membukakan pintu untuk sang Raja yang baru saja pulang dinas.


"Aku pulang." Kata vatler, dia sesaat melirik Risyella yang mau menyambutnya pulang.


Tidak seperti apa yang biasanya Vatler lakukan, jika pulang ke rumah, pasti rumah masih gelap, dan tida ada seoran pun yang akan membukakan pintu untuknya.


Tapi setelah dirinya menikah dengan Risyella, maka sambutan hangat selalu saja terjadi, dan pertanyaan pertamanya adalah sudah makan atau belum.


"Aku sudah makan di luar. Jadi tidak perlu repot-repot memasak." Jawab Vatler, dia membuka jaket kulitnya dan menyerahkannya kepada Risyella yang terlihat ingin mendapatkan bantuan. Karena itu, Vatler pun terpaksa melakukannya agar tidak melihat wajah sedih itu lagi.


"Iya." sambil menerima jaket pemberian dari Vatler.


Lalu ketika Vatler hendak pergi naik ke lantai dua, Vatler segera menghentikan langkah kakinya, karena dia sadar kalau dia akan memberikan sesuatu kepada Risyella yang terlihat selalunya tidak menginginkan apapun.

__ADS_1


"Ini untukmu." Sebuah amplop kecil berwarna coklat itu diberikan kepada Risyella.


"Terima kasih." Dan Risylla tanpa bertanya apa isinya langsung mengucapkan terima kasih begitu saja dengan senyuman bahagia.


Vatler yang melihat itu, segera melanjutkan perjalanannya untuk naik ke lantai dua.


Setelah di tinggal pergi, Risyella pun membawanya duduk ke sofa dan baru membuka hadiah kecil dari Vatler itu.


Dan ketika di buka...


"Dia- membelikanku ikat rambut? Darimana dia tahu aku butuh ikat rambut?" Gumam Risyella, padahal dia tidak pernah seilpun meminta untuk dibelikan apapun kepada Vatler, tetapi sekalinya di belikan, walaupun hanya ikat rambut, tapi itulah yang sedang di butuhkan Risyella untuk mengikat rambutnya, sebab ikat rambut miliknya yang lama entah hilang kemana.


'Dia benar-benar tahu apa yang aku butuhkan. Bahkan tanpa aku memintanya.' Risyella yang punya kebiasaan aneh saat dirinya senang pun masih dia bawa sampai saat ini. Yaitu dia akan menggerakkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri sambil tersenyum bahagia.


Akan tetapi, satu harapan yang dia miliki itu, sampai sekarang masih belum terwujud, yaitu makan bersama dengan Vatler.


'Padahal aku sudah memasak, kali saja saat pulang dia lapar dan mau makan bersama denganku. Tapi mungkin saja makanan di luar, apalagi direstoran mahal, adalah hal yang sudah biasa dia lakukan. Selera orang kaya kan selalu pada kemewahan dan kualitas. Dan masakanku tidak ada apa-apanya ketimbang makanan yang di masak oleh Vatler.


Aku kalah jauh dengan dia, mungkin itulah, Vatler tidak mau makan denganku.' Wajah senang itu pun jadi pudar, mengingat selama empat hari ini, dirinya belum pernah bisa duduk bersama ataupun makan bersama sekaligus membahas sesuatu yang ringan, sehingga ada kedekatan satu sama lain diantara merka berdua.

__ADS_1


Tapi di mata Risyella, semua itu hanyalah angan-angan belaka, karena Vatler terlihat enggan untuk makan makanannya. Sekalipun saat ini makanan yang Risyella masak sudah di sajikan di meja makan.


"Nasib." Gerutu Risyella sambil memeluk jaket milik Vatler yang saat ini sedang dia pegang itu.


Walaupun nasibnya tidak seindah khayalan yang Risyella miliki, akan tetapi karena Vatler saat ini sudah pulang, rasa sepi itu akhirnya sedikit terobati.


"Hahh..." Risyella terus mencoba mencium aroma milik dari suaminya itu yang terasa nyaman itu. 'Padahal baru menjalani pernikahan ini selama empat hari, tapi kenapa rasanya seperti sudah terlalu lama ya? Apakah karena aku yang terus merasa kesepian, gara-gara pernikahan ini adalah hubungan yang tidak sepenuhnya di dasari oleh cinta dari dua orang secara bersamaan?'


Risyella terus berada di ambang kebingungan ketia dia harus menghadapi Vatler, dimana di mata Risyella, Vatler terasa ada sedikit perubahan.


'Entah apa yang berubah, tapi rasanya aku tidak bisa dekat-dekat dengannya. Jika aku melakukannya, ekspresi wajahnya itu seperti sudah jadi isyarat kalau aku akan diusir saja.


Aneh, kenapa aku takut pada pria tampan seperti dia? Padahal, dia kan dia suamiku sendiri, harusnya aku itu malah senang, bukannya takut.' Pikir Risyella, merasa ada keanehan yang terjadi pada dirinya sendiri itu.


"Risyella-"


Mendengar namanya tiba-tiba saja di panggil oleh Vatler, Risyella buru-buru menjauhkan jaket milik pria itu agar tidak ketahuan, kalau beberapa saat tadi dirinya sedang menciumi sisa dari aroma tubuh Vatler yang tertinggal di jaket yang Vatler berikan kepadanya itu.


"Iya, ada apa?" Mendongak ke atas, dan menemukan Vatler saat ini sedang berdiri di ambang tepat di atas tangga persis.

__ADS_1


"Aku berubah pikiran." Kalimat dua patah kata yang membuat Risyella semakin di landa penasaran.


__ADS_2