Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
90 : IPHTV : Tubuh


__ADS_3

"Hei! Kenapa kalian diam seperti itu?! Kita harus bahagia! Bahagia. Sebentar lagi kalian menikan, dan sekarang kita bersenang-senang lebih dahulu, maka dari itu kalian berdua harusya senang dong. Ya kan? Hahahah...." Gelak tawa Marlina langsung menyelimuti mobil yang sedang mereka bertiga naiki.


Vatler yang merupakan anaknya pun hanya bisa mengeluh dalam diam, melihat Ibunya yang duduk di kursi bagian belakang terlihat senang, dan sekarang saja kedua tangan milik Marlina pun sedang mencubit masing-masing pipi dari Vatler juga Risyella.


"Kau harus lebih banyak senyum," Ujar Marlina lagi memperhatikan Vatler yang saat ini sedang memasang wajah seriusnya. Setelah mengatakannya kepada Vatler, sekarang giliran Risyella pula yang menjadi korbannya. "Risyella, Vatler kan tampan~ Jangan sampai dia di bawa oleh wanita lain, jadi pegang dia erat-erat, atau..."


'Kenapa aku punya Ibu seperti dia?' Batin Vatler, mengeluh akan tingkah Ibunya yang terlihat kekanakan.


Tiba-tiba saja tangan Risyella di pegang, bersamaan dengan tanagn Vatler.


"Kalian berdua harus bersama, dan jangan sampai terpisah. Apalagi kamu Vatler.....dia harus kamu awasi, kalau hilang, kamu yang harus mencarinya sampai dapat." Kata Marlina mmperingatkan mereka berdua, terutama kepada Vatler.


Risyella pun melirik ke arah tangan kanannya yang saat ini sedang di pegang oleh Marlina. Dimana tangannya dan tangan Vatler di buat untuk saling berpegangan tangan?!


'I-itu....~' Wajah Risyella seketika merah padam.


Marlina yang melihat ekspresi Risyella yang sudah malu setengah mati itu, hanya bisa tertawa dalam diam.


'Dia benar-benar sangat polos. Sudah aku duga, dia memang tidak pernah bergandengan tangan dengan laki-laki. Jika sudah pernah, mana mungkin reaksinya sampai berlebihan seperti itu.' Batin Marlina.


BLUSHH..


'Itu sangat besar, dan kuat,' Pikir Risyella di tengah-tengah hatinya kembali bergejolak merasa senang.


".............." Sedangkan Vatler hanya terdiam saja dan membiarkan mereka berdua melakukan apa yang ingin mekea lakukan, terutama pada tangan kirinya saat ini.


Tangannya saat ini benar-benar sedang bergandengan tangan dengan tangan kanan Risyella yang bagi Vatler tampak kecil juga rapuh.


Seakan tangan itu adalah sebuah gelas kaca yang harus Vatler pegang dengan hati-hati agar tidak pecah, yang artinya agar tangan itu tidak remuk di tangannya yang kuat dan bisa meremas apapun dengan mudah.


Hanya saja karena merasa lucu melihat ekspresi Risyella yang terlihat malu-malu itu, tangan kirinya yang awalnya digunakan oleh Ibunya ntuk memaksanya memegang tangan Risyella, sekarang Vatler pun benar-benar menggenggamnya dengan erat.


GREPP...


"............!" Semakin paniklah, Risyella terhadap tangannya yang saat ini sungguhan di genggam oleh Vatler.


Dan Marlina yang meihat hal tersebut pun hanya bisa mengulas senyum penuh dengan kepuasan. Oleh karena itulah, dia pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan mereka berdua dan duduk kembali dengan tenang.


'Semoga rencana kali ini berjalan sukses,' Niat terselubung Marlina pun muncul juga.


*********


DI waterpark.


Sesampainya di tempat tujuan, Marlina, Risyella dan Vatler pun turun dari mobil.


"..............." Risyella yang baru pertama kali pergi ke tempat kolam sebesar itu pun hanya celingukan dan memendam perasaan kagumnya untuk dirinya sendiri. 'Besar juga ya? Perosotannya juga tinggi.' Risyella mengernyitkan matanya untuk mengira-ngira tinggi dari papan seluncur yang cukup panjang dan meliuk-liuk gara-gara itu cukuplah tinggi. Bahkan melebihi tingginya dua pohon kelapa.


"Ayo kita ganti baju." Marlina langsung menyeret Risyella untuk ikut ganti baju dan meninggalkan Vatler sendirian. "Kamu juga, sana ganti.'" Cetus Marlina kepada anaknya sendiri yang di tinggal pergi begitu saja.


Ketika tangannya di tarik oleh Ibunya Marlina, Risyella pun menyempatkan dirinya untuk menoleh ke belakang, dimana Vatler yang berdiri sendirian di sana jadi terlihat seperti orang yang kehilangan arah.


Bagi Risyella, wajah bingung Vatler sungguhlah mengagumkan.


Aneh...


Kenapa Risyella selalu punya kesan aneh untuk setiap apa yang dilakukan oleh pria itu?

__ADS_1


".............." Masih di tarik oleh Marlina, tangan kirinya pun menyentuh dadanya. Tatapan matanya berubah menjadi sendu, ketika dia harus mengingat kisah balik alasan dari dirinya bisa berdiri di sisinya. Semua itu karena Ibunya Vatler, yaitu Marlina. 'Apakah nantinya aku bisa jadi Istri yang baik? Untuk orang seperti dia? Padahal banyak wanita cantik yang memandanginya, kenapa tidak pilih salah satu diantara mereka saja? Kenapa harus aku? Walaupun Ibunya Vatler sudah mengatakan alasannya, tapi aku tetap saja masih kurang percaya. Sudahlah....aku an coba jalani saja.' Rutuk Risyella di dalam hatinya.


Delapan menit kemudian.


"Apakah dia artis?"


"Wajahnya tampan sekali. Aku jadi ingin kenalan,"


"Hei-hei...coba kita dekati dia dan tanya namanya yuk,"


Ketiga orang wanita berpakaian bikini itu pun berjalan menghampiri Vatler yang baru saja berganti pakaian?


Dia hanya memakai calana renang, dan jaket saja untuk menutupi tubuhnya yang kelewat atletis itu.


Karena itulah, banyak kaum hawa yang tidak sengaja melihat keberadaan Vatler itu, langsung mengalihkan pandangannya untuk melihatnya.


"Hai, apakah kita boleh kenalan dengan anda?" Seorang wanita berambut pirang panjang, kulitnya putih, memiliki tinggi layaknya seorang model, dan saat itu dia sedang memakai pakaian renang berwarna merah yang cukup mencolok itu.


Sampai para pria yang tidak sengaja lewat pun sempat-sempatnya melirik ke arah wanita dengan body yang sempurna itu.


"Woww...walaupun dimataku dia terlihat seperti wanita ja*ang, tapi tetap saja body tubuhnya itu membuat orang jadi menginginkannya." Bisik pria bule ini, kepada teman di sampingnya setelah melihat keindahan tubuh dari wanita yang saat ini sedang menghampiri Vatler.


"Kamu benar, dia memang cantik, sexy, dadanya juga berisi, sampai aku tidak menginginkannya," jawab pria ini cuek dengan perkataan temannya itu. Karena dia lebih fokus untuk bermain game ketimbang menonton seorang wanita sedang minta kenalan dengan pria yang terlihat linglung itu.


"Padahal dia secantik itu," Akhirnya pria bule ini melamunkan wanita yang kini tengah bercengkrama dengan pria jangkung itu. "Memangnya wanita macam apa yang bisa membuatmu tertari?" Tanyanya.


Mendengar pertanyaan dari rasa penasaran temannya itu, pria ini pun meletakkan ponselnya di atas meja, lalu dia merotasikan pandangannya untuk mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai jawaban.


"I-ini..kenapa aku harus pakai pakaian seperti ini? Tidak...ini bukan pakaian lagi!"


Suara dari seorang wanita yang terdengar mebuat kalimat protes itu akhirnya berhasil menarik perhatian dari laki-laki ini untuk mencari keberadaan pemilik dari suara tadi.


"Kan kita mau berenang, jadi harus ganti dong. Dan itu pakaian renang yang cukup cocok denganmu," Puji Marlina saat dia tidak salah memilih sebuah pakaian renang untuk Risyella.


Dan Risyella sendiri, sudah malunya setenagh mati, sebab pakaian renang yang diberikan oleh Marlina kepadanya adalah sebuah pakian d*l*m. Baginya itu memang bukan pakaian renang lagi. Karena itulah dia pun protes dengan apa yang sedang dikenakannya itu.


"Tapi cocok apanya? Ini..." Wajah Risyella sudah merah padam dengan tubuhnya sendiri. "Tidak mau, aku harus ganti," Risyella yang tidak kuat dengan penampilannya yang sangat minim itu langsung berjalan pergi untuk masuk kembali ke ruang ganti wanita. Tapi sayangnya, Marlina lebih dahulu menahan tangan Risyella itu agar tidak pergi dari sisinya.


Di sisi lain, tempat dimana kedua pria tadi berada, dia pun mendapatkan sebuah jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh temannya itu.


"Lihat wanita yang sedang berusaha ingin kabur dari tante-tante itu? Itulah wanita yang aku suka," Jawab pria ini.


Pria bule itu pun mencari-cari wanita yang dimaksud oleh temannya itu. "Dia? Tubuhnya lurus seperti kayu itu, kamu sangat menyukai tubuh yang seperti itu?" Cibir pria ini, karena yang tipe tubuh wanita yang di inginkannya tentu saja jauh berbeda dengan apa yang di inginkan oleh temannya itu.


"Seleramu dan seleraku itu berbeda, jadi jangan dibanding-dibandingkan." Tukas pria ini, tidak suka jika wanita yang tadi dia gunakan sebagai contoh, di hina seperti itu.


"Tidak mau, aku tidak mau pakai ini." Risyella sudah meracau ingin ganti dengan pakaian biasa.


Tapi sayangnya, Marlina tetap tidak menghiraukan racauan Risyella yang seperti anak kecil itu.


"Tenang-tenang, akan ada yang menjagamu," Ucap Marlina sambil menarik Risyella terus agar bisa ikut dengannya.


'Aku benar-benar malu, masa aku pakai pakaian seperti ini! Ini kan namanya mengumbar aurat! Akhh! Dan aku tidak bisa kabur juga,' Risyella mencoba meronta untuk kabur dari cengkraman tangan Ibunya Vatler, tapi apa yang terjadi adalah dia tidak bisa lepas dari cengkraman tangannya.


Marlina terus menarik Risyella untuk menghampiri Vatler yang saat ini sedang di kerumuni oleh tiga orang wanita.


'Sialan kamu Vatler, calon istrimu ada disini tapi kamu malah asik negoborl dengan tiga wanita ja*ang itu.' Marlina yang tidak puas hati dengan posisi Vatler saat ini sedang berbicara ria dengan ketiga wanita cantik dengan tubuh adu hoy itu, sontak membuat ide cemerlang yang tiba-tiba tumbuh di dalam kepalanya membuat sudut bibirnya itu dia tarik menjadi senyuman penuh muslihat.

__ADS_1


'Tuh kan! Vatler saja sekarang sedang di kerumuni tiga wanita cantik. Aku tidak mau bergabung disana, tidak mau!' Hanya saja teriakan Risyella itu tidak akan bisa di dengar oleh orang lain.


"Perkenalkan, aku Claty nama anda siapa?" Tanya wanita berambut pirang ini


"Aku Berni,"


"Aku Indry, coba perkenalkan nama anda pada kami."


Ucap mereka bertiga secara bergantian.


Vatler yang awalnya menatap jam tangannya, langsung dibuat diam, lalu melirik kearah mereka bertiga satu persatu.


'Lihat tubuhnya ini. Kalau aku bisa mendapatkannya, aku bisa pamer pada mantan pacarku nanti.' Batin Claty, ketika matanya mecuri diam-diam tubuh Vatler yang atletis itu.


'Walaupun aku tidak bisa mendapatkan pria seperti ini, bisa kenalan juga rasanya menyenangkan. Ah...aku jadi ingin pnya pacaran seperti dia!' Pikir Berni.


'Dengan tubuh sebagus ini, dia pasti bisa memuaskan wanita yang ditidurinya.' Pikir Indry pula.


Semuanya punya pikirannya masing-masing, bahkan termasuk Risyella yang akhirnya sudah berada di belakang Vatler, gara-gara dari tadi ditarik terus oleh Marlina.


Dia punya pikiran kalau apa yang sedang dipakainya cukuplah memalukan, apalagi ketika Risyella melirik kearah ketiga wanita yang punya tubuh cukup berisi. Semua itu seperti sebuah tamparan telak secara tidak langsung.


"Kalian bertiga, jika niat kalian ingin menggodanya, itu akan sia-sia saja."


"A-apa?" Claty langsung dibuat terpegun dengan perkataannya Marlina. "Jangan salah sangka ya tante, kami hanya ingin berkenalan dengan dia." Sahut Claty dengan senyuman sinisnya.


"Tapi memangnya dia ingin berkenalan denganmu?" Timpal Marlina, tidak mau kalah dengan ucapannya Claty yang terkesan sombong itu.


Dan ucapan dari Marlina tadi membuat Claty kehabisan kata-katanya, karena dari tadi Vatler hanya diam saja.


Marlina tersenyum penuh kemenangan, dia pun langsung menarik Risyella yang ada di belakangnya itu dan segera mendorong tubuh Risyella ke arah Vatler.


BRUUKK...


"Ah...m-maaf." Kata Risyella, karena tidak bisa menjaga keseimbangannya agar tubuhnya tidak menabrak tubuh Vatler.


"Untuk apa minta maaf, lagi pula dia suamimu."


JEDERR.....


Mata dari ketiga orang wanita itu langsung membulat sempurna saat kata-kata suami, di tunjukkan pada pria jangkung nan taman itu untuk seorang wanita yang penampilannya sangat berbanding jauh dengan penampilan Claty, Berni, dan Indry.


"Jadi kalian bertiga, pergi jauh-jauh. Kalau tidak, aku akan menganggap kalian sedang merayu suami orang lain." Tukas Marlina, mengusir mereka bertiga secara terang-terangan.


"Ternyata mereka sedang merayu suami orang. Sungguh memalukan."


"Sok punya tubuh bagus seperti itu, mereka pikir pasti bisa merayu laki-laki lain."


"Pfft...mereka bertiga pasti berpikir, pria setampan dia itu belum punya pasangan, makannya mereka berdani mendekatinya untuk menarik perhatiannya. Kasian sekali mereka."


"Iya tuh. Wanita seperti mereka pastinya butuh pria seperti orang itu, dasar wanita ja*ang."


Satu persatu hiaan demi hinaan keluar ari mulut para pengunjung.


Marlina ang mendengar pernyataan dari mereka yang berjalan melewatinya pun tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Kalian tunggu apa lagi? Pergi dari hadapan suami Istri orang. Hush...hush..." Kata Marlina, akhirnya membeberkan kepada semua orang kalau mereka berdua adalah anak dan menantunya.

__ADS_1


Claty yang sebenarnya geram karena di permalukan di depan banyak orang seperti itu, pada akhirnya memutuskan pergi begitu saja, karena kebetulan sekali dia sedang malas untuk berdebat di depan umum.


Di ikuti oleh kedua temannya, akkhirnya mereka bertiga bisa pergi dari hadpan mereka bertiga.


__ADS_2