
“Vatler~” Panggil Angie lagi.
Dia terus saja memanggil nama agung milik pria pemilik berjuta pesona ini. Siapapun sangat ingin memiliki pria ini, tapi untuk saat ini, Angie benar-benar mendapatkan penolakan dari Vatler secara gamblang.
Memang cukup menyakitkan, akan tetapi jika dirinya menyerah, maka itu akan lebih menyakitkan lagi.
“Sandi pintumu.” Ketus Vatler.
“Bukannya kamu sudah tahu?” Tanya balik Angie, dimana saat ini dia masih saja memegang wajah Vatler agar tidak pergi darinya.
Ucapan dari pertanyaan balik itu pun mengundang mata Vatler untuk melirik kearah Angie lagi.
“................” Setelah itu, Vatler kembali menatap ke arah depan, tepatnya ke arah pintu yang memiliki kode sandi untuk membukanya. Dan nomor sandi itu pun Vatler masukkan dengan menggunakan nomor ulang tahun Vatler sendiri.
KLIK…
Pintu pun berhasil di buka, dan itulah masanya untuk vatler masuk kedalam rumah pribadi yang dimiliki oleh Angie ini.
Rumah yang cukup besar, mewah tapi hanya untuk ditinggali satu orang saja. Itulah si Angie, wanita yang saat ini tengah Vatler gendong itu.
Lalu Vatler kemudian membawa wanita ini kedalam sebuah kamar yang letaknya di lantai satu.
KLEK….
Langkah itu pun berhasil membawa kedua orang ini masuk kedalam kamar milik Angie. Vatler lalu meletakkan dengan perlahan tubuh Angie di atas tempat tidur.
“Vatler..jangan pergi.” Pinta Angie, dia sudah tidak lagi memegang wajah Vatler, melainkan kemeja putih yang di pakai Vatler inilah yang sedang di jadikan bahan cegatan agar pria ini tidak kabur dari sisinya.
“Aku tidak akan pergi. Apa kamu mau makan?” Tanya Vatler, tatapan mata milik dari pria ini pun benar-benar seperti orang yang tidak menganggap lawan bicaranya yang cantik dan seksi itu sebagai wanita, karena reaksinya terhadap segala penampilan yang selalu Angie perlihatkan itu, terasa seperti bukan apa-apa, walaupun pernah hanya menggunakan pakaian renang minim sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya yang mengundang selera banyak pria.
“Aku ingin kamu tetap disini saja.” Rungut Angie, tetap tidak mau membiarkan pria ini pergi, sekalipun akan membuatkannya makanan.
“Jangan kekanakan,” Vatler mencoba melepas cengkraman tangan Angie dari kemeja putih yang Vatler pakai itu. “Aku akan membuatkanmu makanan, menurutlah.” Imbuh Vatler.
“...............” Bibir Angie yang sedari tadi digunakan untuk mencium bibir Vatler pun manyun. Setelah dikatain seperti itu, Angie pun menurut, dia memutuskan untuk melepas cengkramannya.
“Kamu ingin makan apa?” Tanya Vatler seraya memperbaiki bajunya, yang sebenarnya sudah kusut akibat berpuatan Angie barusan.
‘Aku ingin memakanmu.’ Kata hati Angie saat di tanyai ingin makan apa oleh pria ini. Akan tetapi, Angie pun tetap menjawab. “Aku ingin makan sop iga sapi, ikan goreng, salad buah, dan jus jeruk.”
“Aku akan membuatkannya. Tunggu saja disini.” Ucap Vatler sambil menggulung lengan panjang dari kemeja putih miliknya itu sampai sebatas siku, sehingga Vatler pun benar-benar memperlihatkan kedua tangannya yang begitu kekar, sampai Angie sendiri terus menatapnya.
KLEK…
__ADS_1
Pintu kamarnya pun tertutup, dan meninggalkan Angie yang sudah sendirian di kamar.
“Dia menyimpan rahasia dariku. Sebenarnya siapa wanita itu? Aku selalu saja penasaran. Pasti ada hubungannya dengan Vatler.” Gumam Angie. Tangan kanannya mengambil satu pigura yang berisi foto milik kakaknya.
Ya..Angie sebenarnya memiliki kakak kandung, dan secara kebetulan umurnya sama dengan umurnya Vatler.
Kakakknya Angie menjadi sahabat karib Vatler, sampai beberapa tahun yang lalu, sebuah insiden pun terjadi. Dimana sang kakak, meninggal akibat kecelakaan mobil gara-gara lomba balap mobil.
Itulah alasan kenapa Vatler selalu mendengar keinginannya. Setidaknya selama ini Vatler memang selalu datang, jika dirinya memanggilnya, bahkan termasuk sore ini, akan tetapi…entah karena apa, Vatler ternyata menolak cintanya.
“Kakak…seandainya kamu tidak membuat taruhan waktu itu, pasti kakak yang akan memasak dan menjagaku.” Lirih Angie sambil mengusap wajah di balik kaca pada bingkai tersebut.
*
*
*
Sedangkan di dapur, Vatler yang notabene nya adalah seorang pria, dia dengan cekatan mengambil segala bahan untuk pelengkap dalam masakan yang di pesan oleh Angie.
Ya…dia sudah mengambil beberapa bahan untuk di masak, akan tetapi dia sampai tidak sengaja, ketika dirinya membuka lemari bufet, dia diperlihatkan ada sisa makanan yang di tebak adalah masakan Angie yang awalnya untuk jamuan ulang tahun Angie malam tadi.
Tetapi di sebabkan Vatler sendiri tidak bisa pergi dari rumah, maka masakan yang di masak oleh Angie pun jadi terbengkalai seperti itu.
Hanya saja, mengingat saat ini dirinya akan memasak makanan untuk Angie, maka salah sati pikirannya pun jadi tertuju pada istrinya.
‘Apakah dia sudah sampai?’ Batin Vatler. ‘Sudahlah, jika aku bisa cepat membuat makanan untuk Angie, dan membuat dia tidur, maka aku bisa cepat pergi.’ Imbuh Vatler di benak hatinya.
Dalam kurun waktu setengah jam, Vatler pun berkutat di dalam dapur. Dia bisa membuat beberapa makanan dalam satu waktu, itu adalah berkat kepiawaiannya dalam memasak yang sudah dia lakukan selama tujuh tahun terakhir ini.
Sampailah, seluruh pesanan yang dipesan oleh Angie, akhirnya sudah sembilan puluh persen jadi.
DRRT….
DRRT….
Sayangnya, karena Vatler meletakkan handphone miliknya itu di atas meja, sedangkan dirinya sedang membuat jus jeruk, maka Vatler pun tidak menyadari kalau ada yang sedang mencoba meneleponnya.
*
*
*
__ADS_1
KLEK…
Dikarenakan si pemilik rumah sedang dalam kondisi sakit, Vatler membawa semua makanannya ke dalam kamar yang ditempati oleh Angie.
“Selagi masih hangat, makan ini.” bujuk Vatler kepada Angie yang terlihat sedang merenung sambil memeluk bingkai foto, yang ternyata adalah foto kakaknya Angie.
Lagi-lagi, melihat hal itu, Vatler pun jadi terjerat dalam hubungan tanggung jawab sebagai penjaga wanita yang sedang terbaring sakit itu.
‘Dia pasti akan selalu menyalahkanku. Padahal kakaknya lah yang terus memintaku untuk melakukan balapan mobil.’ Pikir Vatler, lalu dia meletakkan nampan itu di atas nakas.
Vatler mengambil kursi yang ada di meja rias, dan menyeretnya untuk di letakkan di samping tempat tidur Angie.
“Ah…sudah jadi?” Tanya Angie, baru tersadar dengan keberadaan Vatler yang sudah duduk di samping tempat tidurnya.
“Hmm…dan kamu harus habiskan ini semua.” Vatler mengambil meja lipat yang ternyata di letakkan di samping nakas, dia meletakkan di atas pangkuan Angie lalu menaruh semua makanan di atas meja lipat itu.
“Kenapa rasanya jadi terlalu banyak ya?” Senyuman canggung milik Angie pun datang juga. Dia tidak menyangka, permintaannya tadi ternyata menghasilkan seder makanan yang terlihat cukup banyak.
“Terlalu? Apakah lambungmu terlalu kecil untuk menampung semua itu?” Sindir Vatler, mengingat Angie itu bukanlah wanita yang suka diet, yang ada justru adalah memakan semua makanan yang terlihat enak tanpa pilih-pilih.
“Tidak-tidak…tapi aku mana mungkin makan sendirian sedangkan kamu cuman memasak dan melihatnya saja?” Ujar Angie.
Vatler tiba-tiba menghela nafas. Dia bangkit dari kursinya, lalu pergi keluar kamar dan kembali dengan membawa satu mangkuk kecil bersama dengan satu sendok juga garpu.
“Aku makan, maka kamu juga makan.” Kata Vatler.
“Ok.” Angie pun jadi senang karena akhirnya setelah sekian lama, dan setelah semalam dirinya merayakan ulang tahunnya sendirian, akhirnya saat ini dia jadi memiliki teman untuk mengobrol dan makan.
Tapi teman?
Angie sebenarnya sudah tidak begitu menganggap pria ini sebagai teman lagi, tapi pria yang ingin Angie kejar agar bisa menjadi miliknya.
“Ini..dan ini.” Angie lebih dulu mengambilkannya untuk di berikan kepada Vatler.
Vatler hanya memandangi perbuatan Angie ini.
“Stop, aku memasaknya ini semua untukmu, jangan memberikan semua ini kepadaku.” Tolak Vatler saat Angie hendak menyerahkan potongan daging sapi yang ada didalam mangkuk yang merupakan sup.
“O-ok…maaf, aku hanya terlalu bersemangat karena akhirnya ada yang mau menemaniku makan.” Jawab Angie. Dia pun mengambil kembali satu potong daging sapi yang sudah diletakkan di dalam mangkok milik Vatler, lalu meletakkannya di kedalam mangkuk milik Angie sendiri.
“Ya sudah..cepat makan, minum obatnya lalu tidur.” Tambahnya.
Maka sore itu, Angie dan Vatler pun makan bersama di dalam kamarnya Angie.
__ADS_1