
“Paman.” panggil Risya, masih bersandar di lengan kanan Freddy.
“Ya?” sahut Freddy singkat.
“Mungkin ini pertanyaan yang sedikit sensitif, tapi kenapa paman tidak menikah? Lagi pula umur paman sebenarnya tidak jauh berbeda dengan umur ayahku, kan?” tanya Risya. Dia sekarang mendongak ke atas, untuk menemukan wajah paman Freddy yang bagi Risya cukup enak dipandang lama-lama.
“Kenapa? Apa kau penasaran?” Freddy membalas tatapan Risya.
“Penasaran sih, tapi aku juga tidak akan menuntut paman untuk menjawabnya. Pasti punya alasannya sendiri kan? Walaupun aku tidak tahu itu apa, rasanya seperti paman bisa seperti ini karena paman kehilangan orang yang benar-benar paman cintai.” Risya memang tidak tahu apapun, tapi dia hanya berkata berdasarkan besar kemungkinannya.
Freddy hanya membalasnya dengan senyuman lembut saja, dan mencubit hidung Risya dengan manja.
“Ah.., kenapa paman cubit hidungku.” Risya awalnya terperangah untuk sesaat, lalu dia buru-buru mengambil tisu dan mengusap hidungnya itu agar bersih.
Freddy sedikit merasakan hatinya lumayan menggelitik ketika melihat Risya benar-benar sangat memperhatikan kebersihan, sampai hidung yang Freddy sentuh, langsung di dibersihkan dengan tisu. “Kau itu masih kecil, jangan memikirkan masalah orang dewasa. Masalah orang dewasa itu terlalu rumit untuk anak seusiamu.” terang Freddy.
Risya mendeliknya, setelah itu Risya langsung merebahkan tubuhnya dan membiarkan kepalanya tidur di atas pangkuan Freddy. “Padahal aku sudah berumur 13 tahun. Jangan mengatakan aku anak kecil lagi.” sungut Risya sedikit tidak puas hati, karena masih dijuluki anak kecil di usianya yang sudah menginjak 13 tahun. “Karena mungkin saja aku tidak bisa berumur panjang, sekali-kali memikirkan masalah orang dewasa, bagiku tidak ada salahnya juga.” imbuhnya.
“Risya. Jangan mengatakan itu, kau akan terus hidup.” tukas Freddy tidak suka mendengar Risya yang sudah Freddy kenal dari lahir, mengatakan hal yang bagi Freddy sangatlah menyakitkan.
“Entahlah, lagipula, aku juga kangen ibu.” jawab Risya di detik itu juga.
Freddy lagi-lagi kehabisan kata-kata.
Dia tidak habis pikir bahwa Risya yang sedang tidur di pangkuannya itu selalu mengatakan hal menyedihkan dan terasa menyesakkan di hati Freddy sendiri.
Freddy sadar, kalau dirinya hanyalah orang asing untuk keluarga mereka.
Keluarga kecil yang sudah tidak utuh lagi.
Betapa menyedihkannya itu?
Freddy selalu menjadi sisi pendengar untuk Risya yang tidak pernah mendapatkan banyak kasih sayang dari orang tuanya, terutama Vatler yang notabene nya adalah ayahnya Risya, Sekaligus satu-satunya yang masih hidup sebagai orang tua kandungnya.
__ADS_1
Jadi peran Freddy itu sudah pasti seperti seorang pengganti.
Bahkan Freddy sendiri sampai tahu, kalau Risya adalah perempuan yang tidak tertarik dengan segala kemewahan.
Itu sangat jelas dari penampilannya yang sederhana. Yah, walaupun pakaiannya dan semua barangnya adalah branded, tapi kesan sederhana nya itu lebih dominan.
‘Dia memang seperti ibunya. Jika saja dia menikah denganku, aku tidak akan membuatnya kesepian. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan yang bisa aku lakukan sebagai orang luar dan sebagai orang yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan, aku hanya bisa menjaga anak ini seperti anakku.’ pikir Freddy.
Freddy akhirnya tersenyum kecut saat melihat Risya, anak dari istrinya Fatler kini sedang tertidur di pangkuannya. Dan itu pun selalu dalam kondisi menahan kesedihannya sendiri yang sangat menginginkan seorang ibu.
“Pasti kau lelah. Tidur saja sebentar.” tutur Freddy sambil mengusap kepala Risya.
“Hmm~” dehem Risya dengan pelan. Seiring waktu, tubuhnya yang sekarang memang sudah cepat lelah, membuatnya bisa tidur lebih cepat dari biasanya. ‘Semoga aku bermimpi bertemu ibu.’ batin Risya.
Sedangkan manager dari Cafe, dia kini sedang duduk di lantai dua dan hanya terdiam sambil terus mengamati Freddy dan Risya dari atas sana.
‘Padahal gadis itu bukan siapa-siapanya. Tapi tatapan mata yang Freddy berikan, terlihat sangat menyayangi gadis itu. Aku sudah melihat mereka datang kesini selama 4 tahun. Ternyata hubungannya benar-benar sangat harmonis sekali, ya?’ Hati wanita ini terselip rasa kagum melihat hubungan dari Freddy dan Risya yang terlihat sangat romantis.
Bahkan bagi orang yang sudah menjadi pelanggan di cafe nya, mereka juga akan tahu kisah hubungan Freddy dan Risya yang cukup harmonis yang mampu menyita perhatian banyak pengunjung.
Keramahan, perhatian, dan tatapan penuh kasih sayangnya diberikan sepenuhnya kepada gadis itu, yaitu Risya.
“Mau melihatnya berapa kalipun, aku tidak bosan melihat mereka berdua duduk bersama dengan pembicaraan ringan seperti itu.” puji seorang wanita muda, yang memang sudah menjadi pelanggan di Cafe tersebut.
“Iya, kau benar. Walaupun hanya bisa melihatnya saja dari kejauhan, tapi hatiku merasa senang melihat senyuman lembut itu tertuju pada gadis itu.” satu pujian lagi muncul.
Freddy yang masih mampu mendengar segala ucapan para pengunjung, hanya diam dan mendengarkannya saja.
Tidak masalah apa yang akan keluar dari mulut mereka, karena yang terpenting bagi seorang Freddy adalah bisa memberikan kenyamanan kepada Risya yang kesepian ini. ‘Aku akan tetap mencarikanmu pendonor sampai dapat.’
___________________
Di tempat parkir basement.
__ADS_1
“Nona kenapa belum kunjung kembali?” Paman Ard terus saja mondar mandir di depan mobil milik majikannya dan terus menunggu majikannya yang sedang berbelanja di Mall.
Itulah yang Risya minta, dan alasannya bisa keluar dan diantar oleh paman Ard.
“Paman Ard.”
Kegelisahan yang ada di dalam hati paman Ard langsung tertahan saat ada seseorang yang memanggilnya.
“No-”
“Shh~” Freddy langsung mendesis agar paman Ard menyesuaikan suaranya.
“Apa yang terjadi pada Nona?” tanya paman Ard kepada Freddy yang sedang menggendong tubuh Risya ala bridal Style.
“Dia hanya kelelahan, dan tertidur setelah makan denganku tadi.” jawab singkat Freddy. Kini di tangannya bukan hanya digunakan untuk menggendong tubuh Risya saja, karena di lengannya terdapat beberapa paper bag.
Alasan Risya yang berbelanja, Freddy penuhi agar tidak menaruh kecurigaan pada orang yang berhasil Risya tipu itu.
“Oh, maaf jadi merepotkan Tuan.” tutur paman Ard, dan bergegas membuka pintu mobil bagian belakang.
“Tidak juga. Karena justru aku merasa senang, bisa bertemu dan sedikit berbincang dengan Risya,” jawab Freddy, lalu meletakkan tubuh Risya di kursi penumpang. “Tapi aku harap paman menjaga rahasia ini, ya?”
Entah apa maksud alasan dari Freddy meminta dirahasiakan, paman Ard tetap menyetujuinya.
“Ini barang belanjaannya,” Freddy meletakkan paper bag itu di kursi depan.
“Kalau begitu terima kasih karena Tuan sudah mengantar Nona kembali,” ucap paman Ard dengan sopan.
Freddy hanya memberikannya anggukan kecil.
Setelah dirasa selesai semua, paman Ard langsung mengendarai mobilnya dan pergi kembali ke kediaman Ellistone.
“Risya,” panggil Freddy dengan nada lirih. Tangan kanannya Freddy angkat, lalu meletakkan telapak tangannya itu di depan mulut serta hidungnya. ‘Aromanya saja sama.’
__ADS_1
Freddy memejamkan matanya dan mencoba menikmati aroma parfum yang masih tertinggal di tangannya.
‘Risya, walaupun kau merindukan Ibu mu, tapi aku tetap berusaha agar kau tetap hidup terus.’ benak hati Freddy sebelum dia akhirnya pergi dari sana menuju mobilnya yang diparkir di lantai atas.