Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
24 : IPHTV


__ADS_3

“Risya,” Panggil Freddy dengan lirih.


“Hmm?” Risya mengangkat lengannya dan menatap Freddy dengan wajah lemas.


“Ini, kau minum dulu,” Freddy memberikan segelas air hangat kepada Risya.


Di suguhkan air hangat kearahnya, Risya langsung mengambilnya. Tapi saat Risya mengambilnya, secara tidak sengaja gelas itu terlepas dari tangannya.


PRANK…


Jatuh dan air hangat itu pun tumpah ke kakinya ke Freddy, sehingga kini celana dan sepatu yang dipakai oleh pamannya itu sudah basah.


“Eh, maaf paman, aku tidak memegangnya dengan erat.” Risya yang awalnya hendak turun untuk memungut pecahan gelas itu, segera Freddy tahan.


“Tidak apa, hanya gelas. Jangan biarkan tanganmu terluka.” balas Freddy.


“Aku tidak akan terluka, aku bisa hati-hati. Ini kesalahanku, jadi aku harus membereskan nya. Karena kesalahanku, celana dan sepatu paman pun jadi basah.” sahut Risya, tapi dia tidak peduli dengan ucapannya Freddy dan tetap turun dari kasur pasien.


“Risya, paman bilang jangan ya jangan,” sela Freddy sekaligus memperingatkan Risya untuk yang kedua kalinya, sampai dimana kedua tangannya sudah membopong Risya tepat di bawah ketiaknya Risya. Sehingga tubuh Risya pun terangkat dalam posisi menggantung.


“...............” Risya melirik ke bawah, dimana sekarang kakinya sudah menggantung di atas lantai. ‘Paman kuat sekali ya?’ batin Risya dengan pipi sudah merah merona.


Bagi Risya ini pertama kalinya tubuhnya diangkat dengan cara seperti itu. Walaupun cukup memalukan, tapi bagi Risya, itu cukup menyenangkan. Siapa lagi yang bisa dia ajak untuk saling bercanda selain paman dokter ini?


Freddy.


Ya...dia adalah orang yang sedari kecil selalu menemaninya disaat Risya sendiri merasa kesepian dan membutuhkan hiburan. Dan yang bisa mengisi hatinya adalah paman Freddy ini.


Setelah berhasil menghentikan kecerobohan Risya yang kedua, Freddy mengembalikan tubuh Risya ke atas ranjang pasien untuk tidak kabur kemana-mana.


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” pesan Freddy kepada RIsya. “Paman selalu bawa ganti, jadi ini tidak seberapa.” imbuh Freddy berusaha untuk menenangkan Risya agar tidak merasa bersalah.


“Tapi-” Risya kembali melirik ke arah bawah, dimana lantai sudah kotor, dan celana yang Freddy pakai juga sudah basah layaknya baru saja menyebrang sungai.


“Risya. Kau jangan terlalu memikirkan hal seperti ini. Yang harus kau lakukan saat ini adalah istirahat saja.” tambah Freddy dengan kedua tangan sedikit menekan kedua bahu Risya agar mau tiduran lagi. 


“Maafkan aku ya, paman.” kata Risya dengan ekspsi wajah bersalah. Dia mengulangi kata maafnya karena dia benar-benar merasa bersalah mengotori tempat kerja miliki pamannya yang terlampau bersih sekaligus rapi.

__ADS_1


Freddy tidak menjawab, dan hanya mengulas senyuman biasa. 


‘Sudah 1 minggu sejak pertemuan terakhirku di Cafe, kondisinya semakin buruk. Walaupun aku memberikannya obat Analgesik, tapi tetap tidak merubah kondisi tubuhnya yang sebenarnya.’ pikir Freddy. 


Saat ini dia memang sedang bekerja di rumah sakit dan Risya sendiri kenapa bisa berada di ruangannya, tidak lain adalah karena harus melakukan pemeriksaan rutin. 


Ya…


Tepat dari 3 bulan lalu, Risya yang mengeluhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan sering mengalami demam ternyata adalah awal dari penyakit yang di deritanya.


‘Leukimia. Risya, kenapa kau sampai punya penyakit seperti ini? Padahal aku sudah menjamin sejak kau bayi kalau kau akan tumbuh sehat sampai dewasa. Ibumu yang memberikanku wasiat terakhirnya padaku, aku harus lebih menjagamu karena kau….’ Freddy kembali menatap Risya yang sedang menghitung sesuatu sampai ke sepuluh jarinya ikut digunakan. “Persis seperti ibumu.” Gumam Freddy dengan lirih.


Mendengar kata Ibu, Risya kembali terpacu untuk berbicara kepada Freddy. “Paman. Tadi aku bermimpi bertemu dengan ibu.”


Freddy yang hendak melangkah pergi untuk mengambil celana ganti, langsung menghentikan langkahnya. Dia tidak pernah berpikir kalau apa yang dirindukan bisa terbawa ke dalam alam mimpi.


Risya memimpikan ibunya?!


Risyella?!


Freddy sontak segera berbalik dan bertanya : “Kau bertemu dengan Ibumu?” tanyanya, dengan ekspresi kurang percaya.


Terlihat Risya seperti benar-benar mengenang pertemuannya dengan Ibu nya di dalam mimpinya itu. 


“Paman.” panggil Risya lagi.


“Hmm?” 


“Jika tadi aku bisa bermimpi bertemu dengan ibu, apakah kedepannya juga bisa bertemu dengan Ibuku lagi?” tanya Risya. Dia merasa berharap kalau pamannya bisa menjawab ‘Iya’, tapi ekspresi yang Freddy berikan kepadanya terlihat sebaliknya.


Ekspresi dari rasa kecewa.


“Kenapa paman terlihat sedih?” Risya menatapnya dengan tatapan heran.


“Ini bukan sedih, tapi bahagia, Kau pernah merasakannya juga kan? Bahagia, tapi ekspresinya sedih. Itulah yang sedang paman rasakan. Tapi untuk pertanyaanmu tadi, paman rasa kau akan bertemu dengan Ibumu lagi.”


“Benarkah?!” tanyanya lagi dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


Jawaban Freddy yang singkat itu selalu menggunakan senyuman. Risya pun hanya merasa ikut senang saat melihat senyuman maut milik pamannya itu. 


“Paman, terima kasih sudah merawatku ya.” tutur Risya. “Karena paman mau direpotkan olehku.”


“Paman tidak merasa direpotkan.” jawab singkat Freddy, sebab kata hatinya berkata lain lagi, ‘Aku sama sekali tidak direpotkan. Karena yanga da, aku justru menikmati bisa merawatmu dengan tanganku sendiri.’


____________


Jam 4 sore.


Setelah pulang sekolah, atau lebih tepatnya Risya melakukan absen pertamanya, Risya yang baru saja pulang dan hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba tanganya di cegat oleh Arshel.


“Kenapa kau menghalangiku masuk?”


“Kau, darimana saja kau seharian ini?” tanya Arshel dengan aura hitam mulai keluar dari tubuhnya. Ya..itu adalah kemarahan yang tidak bisa diucapkan dengan teriakan, melainkan kata-kata penuh dengan penekanan dan aura yang cukup mengintimidasi.


Itulah cara Arshel jika sudah marah. 


“Apa urusanmu? Kau punya waktumu sendiri, aku juga punya waktuku sendiri.” jawab Risya dengan cepat.


‘Dia awalnya memang berangkat sekolah bersama denganku, tapi ternyata dia menghilang di jam istirahat pertama. Bagaimana dia bisa kabur?’ pikir Arshel, tidak suka melihat saudaranya sendiri bisa-bisa pergi saat di jam sekolah masih berlangsung. “Kau tahu, kau sudah mencoreng namaku secara tidak langsung?”


“Aku memang tidak tahu.” celetuk Risya. “Hanya nama, kenapa dipermasalahkan?” Risya mencoba melepaskan cengkraman tangannya.


“Kau tanya kenapa? Nama baikku jadi tercoreng gara-gara kau menghilang dari sekolah.” sarkas Arshel pada Risya.


“..............” Malas melakukan perdebatan dengan Arshel, Risya memilih diam dan terus memberontak dari cengkraman tangan Arshel. 


Meskipun mendapatkan tatapan tajam sekalipun dan aura mengintimidasi dari Arshel, Risya tidak memperdulikannya selain mencoba membuat akses untuk melepaskan dirinya dai dari cengkraman tangannya. 


“Lepaskan,” pinta Risya lalu mencoba menendang tulang kering Arshel. Tapi Arshel ternyata mampu menghindarinya. 


“Aku akan melepaskanmu jika kau mengatakan alasanmu tiba-tiba pergi dari sekolah.” tuntut Arshel.


“Ini urusan pribadiku, kenapa kau memaksa sekali?! Lepas!” Risya kembali menarik tangannya, tapi kini lebih kuat.


Awalnya Arshel menatapnya dalam diam, tapi setelah itu Arshel tiba-tiba saja melepaskan cengkramannya dan membuat Risya yang sedang menarik diri dari cengkramannya tadi secara otomatis langsung terhuyung ke belakang dan menabrak pintu kamarnya sendiri dengan keras.

__ADS_1


Tidak tersirat rasa sakit setelah menabrak pintu keras itu selain rasa kesal yang timbul akibat ulah dari kakaknya sendiri itu. ‘Mau sampai kapan pun aku tidak akan memberitahumu. Untuk apa aku memberitahumu? Aku tidak memerlukan simpatimu maupun orang lain.’ pikir Risya, mendelik tajam Arshel, lalu dengan kasar RIsya langsung membuka pintu dan menutupnya kembali dengan amarahnya yang benar-benar di lampiaskan ke pintu itu.


BRAK! 


__ADS_2