
‘Bagaimana ini? Handphone Ku sudah hancur. Kenapa Arshel melakukannya? Padahal di dalamnya juga ada foto Ibu, dan bagaimana aku bisa menghubungi paman Freddy lagi? Aku tidak hafal nomornya. Bagaimana aku bisa menemuinya jika handphone ku saat ini sudah hancur?!’ Dengan tangisan yang sudah pecah Risya terus memungut serpihan handphone nya sendiri.
“Nona,” Panggil bibi Jeni. Dia memberikan serpihan lainnya kepada Risya.
Risya yang sudah diselimuti amarahnya disertai rasa sakit hati itu, langsung menyambar memory card yang sempat terpental itu dari tangan bibi Jeni.
“ARSHEL AKU MEMBENCIMU!” Pekik Risya, lalu membawa semua serpihan handphone nya itu untuk dia bawa pergi keluar.
BRAK!
Vatler dan Arshel pun sama-sama terkejut dengan teriakan yang lebih keras daripada yang tadi.
Vatler yang melihat Risya langsung lari pergi dari rumah, langsung berlari mengejarnya. Sampat tepat melewati Arshel yang masih berdiri mematung itu, Vatler berbisik. “Kau kakak yang tidak berguna.”
DEG.
“..............!” Arshel langsung menunduk dengan kedua tangan terkepal cukup erat. ‘Kakak yang tidak berguna? Bukannya pada dasarnya aku memang bukan kakak yang baik untuk anak bodoh itu?!’
Geram dengan perkataan yang menusuk hatinya langsung, Arshel bergegas pergi ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
BRAK!
“................!” Bibi Jeni yang melihatnya sekaligus mendengarnya pun, ikut terkejut.
Kali ini, malam ini adalah malam paling buruk untuk keluarga kecil yang sudah tidak utuh itu.
Dalam kurun waktu kurang dari lima menit itu, kekacauan akhirnya datang. Membawa kemarahan pada ketiga orang itu.
*
*
*
Sepasang kaki itu langsung berlari keluar dari rumah dan pergi mencari paman Exel.
Setelah dicari-cari, paman Exel baru saja keluar dari garasi mobil.
Risya segera berlari menghampiri pria tu. “Paman!”
Paman Exel pun otomatis memutar tubuhnya ke belakang. “Ya Nona?” Pertanyaan itu segera menghilang di udara saat dia melihat wajah Nona yang dia layani itu sudah menangis.
“Antarkan aku ke suatu tempat!” Pinta Risya, akan pergi ke rumah sakit untuk menemui paman Freddy.
“Tapi ini sudah mal-”
“Paman hanya supirku, antarkan saja aku pergi!” Sarkas Risya.
Paman Exel segera diam dan tidak bisa berkata apa-apa karena apa yang dikatakan oleh Risya ada benarnya.
Dia hanyalah seorang supir yang harus menuruti perintah dari majikannya.
Tanpa berkata-kata lagi, paman Exel membuka kembali pintu garasi, lalu pergi menuju mobil sedan berwarna putih.
Risya langsung pergi masuk kedalam mobil, dan menghiraukan Ayahnya yang ternyata ada di belakangnya.
“Nona, Tuan besar-” Paman Exel jadi tidak berani melajukan mobilnya, gara-gara Vatler berdiri di depan mobil persis.
“Risya! Kau mau pergi kemana?!” Tanya Vatler.
“Nyalakan saja! Jika masih ingin hidup, saat mobilnya jalan, Ayahku pasti menghindar.” Saran Risya, sudah tidak memperdulikan lagi apa konsekuensi yang akan di dapatinya, karena hatinya sudah terlanjur marah dan tidak ingin mendengar apapun.
“Tapi Non-”
“Jalan saja!” Bentark RIsya kepada supirnya sendiri.
Merasa dalam suasana dilema, paman Exel dengan berat hati langsung menyalakan mesin mobil, dan menginjak pedal gas.
BRRMM……..
“............! Risya!” teriak Vatler tepat saat menghindari mobil yang ternyata tetap jalan kearahnya.
__ADS_1
Dan mobil yang membawa pergi Risya akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah.
“...................” Vatler terus menatap kepergian mobil itu dengan tatapan tajamnya. ‘Arshel, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku pikir dia lebih dewasa, tapi dia ternyata masih saja kekanakkan.’
Karena permasalahannya adalah ada di Arshel, Vatler membiarkan Risya pergi, karena ada Exel yang menemaninya, dan sekaligus mobil yang dibawa pergi itu sudah dipasang alat pelacak.
Oleh karena itulah, Vatler memutuskan mengurus satu anaknya lagi yang bermasalah itu.
_____________________
“Nona- kita akan pergi kemana?” Tanya paman Exel. Sudah lebih dari 10 menit mengendarai mobil, tapi Risya tidak mengatakan apapun tentang tujuan dari kepergiannya kali ini.
“Pergi ke rumah sakit Xxx.”
Paman Exel langsung terpegun. “Kenapa rumah sakit?”
Karena merasa seperti bertanya, ‘Apakah anda sakit?’
Risya langsung menjawab, “Karena orang yang ingin aku temui ada disana. Jangan banyak tanya, kerjakan bagianmu itu.”
Paman Exel sepintas jadi terdiam, seba ini kali pertamanya melihat Nona majikannya itu dalam suasana hati yang sedang tidak baik.
Risya. Dia masih memperhatikan serpihan dari handphone nya yang rusak berkeping-keping itu.
Apa yang akan dia lakukan dengan membawa barang yang sudah menjadi sampah itu ke rumah sakit?
10 menit kemudian.
Setelah melewati perjalanan yang sedikit panjang, Risya bergegas turun dari mobil, dan berlari kecil masuk kedalam rumah sakit terbesar di kota A itu.
Rumah sakit tempat dimana paman Freddy bekerja.
“Eh..?”
“Aw..!”
Satu per satu orang, secara tidak sengaja bersenggolan dengan Risya yang berjalan dengan langkah terburu-buru.
‘Apakah paman masih disini?’ Tanya Risya pada dirinya sendiri. Dia buru-buru pergi menuju Lift dan menekan tombol lantai 4.
Dentingan Lift sebagai tanda kalau tujuan sudah sampai, berhasil membuat Risya melangkah keluar dengan terburu-buru.
Para suster yang berpapasan dengan Risya, langsung berjalan menghindar, karena mereka sudah tahu siapa gadis yang terlihat baru saja menangis itu.
Sambil berlari, Risya mencoba mencari-cari sosok dari Freddy itu.
‘Apa di kantornya?’ Tidak mau berlama menebak-nebak dimana dan dimana paman Freddy, Risya pergi ke kantor milik pamannya itu.
TOK...TOK...TOK….
“Masuk,” Sahut seseorang yang ada di dalam kantor itu, dan orang tersebut adalah Jansen.
KLEK.
“Paman?!”
“Uhuk...uhuk.” Jansen yang sedang duduk minum teh itu, langsung menyemburkan teh nya sendiri gara-gara teriakan yang Risya lakukan.
Risya melangkah masuk ke dalam kantor itu sambil celingukan dan memanggil-manggil paman Freddy. “Paman Fred?! Paman?”
‘Padahal aku disini dan kau bisa menanyakan Fred kepadaku. Apakah aku tidak dianggap orang?’ Batin jansen setelah merasa terabaikan. ‘Tapi tunggu, apa dia baru saja menangis?’
“Paman?” Risya mencari ke segala ruangan yang ada di dalam. Tapi dia tidak menemukan batang hidung dari pamannya itu.
“Jika kamu mencari Freddy, dia sudah pergi dari 4 jam yang lalu. Apakah kamu butuh sesuatu?” Ucap Jansen, menghentikan suara berisik milik Risya.
Risya menoleh kebelakang, dan menemukan paman dokter yang lain. “Apa paman tahu dimana paman Freddy berada?” tanya Risya.
“Aku belum setua itu untuk di panggil paman.” Jensen mencoba meralat panggilan yang Risya ucapkan tadi. “Tapi untuk Freddy, katanya dia sedang mencari uang.”
“Uang? Untuk apa?” tanya Risya dengan wajah linglung.
__ADS_1
Jansen yang merasa kasihan dengan kondisi gadis di depannya itu benar-benar terlihat menyedihkan, membuatnya tidak mampu untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya Freddy cari. “Freddy mencari sisa uang untuk membeli sumsum tulang untuk pasien misteriusnya.”
DEG!
‘Paman, dia mencarikanku sumsum tulang?’ Risya semakin merasa bersalah sebab membuat paman Freddy ikut menanggung bebannya.
“Apa yang kamu bawa di pakaianmu itu?” Jansen yang penasaran pun bertanya langsung kepada Risya.
“Handphoneku baru saja dibanting kakakku. AKu pikir paman Freddy bisa melakukan sesuatu agar data yang ada di handphone ini tidak hilang.” Beritahu Risya.
Karena sudah mendapatkan jalan buntu, sebab paman Freddy tidak ada di tempatnya, Risya pun mau tidak mau menjawabnya dengan jujur.
“Apa kakak bisa tolong panggilkan paman?” Tanya Risya, memohon kepada jansen agar bisa menghubunginya,
Jansen yang merasa tidak tega dengan Risya yang terlihat benar-benar membutuhkan Freddy saat ini juga, akhirnya menyerahkan handphone nya kepada Risya.
“Jika kamu yang menghubunginya, dia pasti akan langsung menjawabnya.” Dengan maksud, jika Jansen sendiri yang menghubunginya dengan suaranya, Freddy akan segera mengakhiri panggilan saat itu juga.
Risya pun menerima handphone milik Jansen, dimana nomor yang tinggal dia hubungi, ternyata memiliki inisial sendiri, yaitu Frry.
Terdengar seperti menyebut nama seorang perempuan.
“Terima kasih sudah meminjamkan ku.” Ucap Risya.
“Sebaiknya kamu duduk dan makan dulu.” Tawar Jansen pada Risya.
“Ya.” Dengan mata sayu itu, Risya pun mulai mencoba menghubungi paman Freddy
*******
DRRTT…..
“Ehm…” Mendengar handphonenya berdering, Freddy dengan kasar, langsung mencari keberadaan handphonenya sendiri.
PUK.
Sampai tangan kanannya secara tidak sengaja memegang sesuatu yang lembut dan kenyal.
Freddy melirik ke arah samping kanannya.
‘Angie?’ Dengan mata masih mamai itu, Freddy mengernyitkan matanya, saat tangan kanan nya ternyata menyentuh buah dada milik Angie. Dimana sekarang mereka berdua sama-sama sudah telajang dan tidur bersama di ranjang yang sama.
DRRTT…
“Ah~” lenguh Angie ketika tubuhnya tiba-tiba merasakan ada yang memegang buah dadanya.
‘Apa aku terlalu kasar? Yah, tapi itulah konsekuensinya dia sendiri, menyuruhku berhubungan badan denganmu.' Pikir Freddy, terhadap apa yang sudah dia lakukan dengan Angie beberapa waktu lalu.
Memang, itu adalah permainan yang cukup menyenangkan, tapi karena wanita yang Freddy tiduri bukanlah wanita itu, maka Freddy bereaksi biasa saja.
Freddy langsung menarik tangannya dari sana, dan mencoba mencari-cari keberadaan dari handphone nya, yang ternyata Freddy ingat, dia meletakkannya di dalam saku mantel coat miliknya.
Dia pun turun dari ranjang dalam keadaan telanjang, lalu mengambil mantel miliknya yang tergeletak di atas lantai.
DRRTT….
‘Jansen? Kenapa dia menghubungiku?’ Awalnya Freddy tolak. Tapi setelah mendapatkan pesan notifikasi dengan isi pesan ‘Ini Risya’ . maka langsung membuat Freddy meneleponnya balik.
“Ris, kenapa kau bisa menggunakan nomor orang lain untuk menghubungiku?” Tanya Freddy.
Lalu ketika menunggu jawaban yang sangat ingin dia dengar, hal itu sukses membuat Freddy segera menutup panggilan itu secara sepihak.
“Freddy? kau mau kemana?” Tanya Angie, akhirnya sudah terbangun dari tidur sesaatnya.
“Aku harus balik ke rumah sakit.” sahut Freddy tanpa menatap lawan bicaranya itu.
“Ternyata kau masih saja sibuk, setelah semua ini. Akan aku kirimkan uangnya ke rekening kamu nanti.” Ucap Angie.
“Ya. Aku berterima kasih.” Jawab Freddy, sambil mengenakan semua pakaiannya kembali, lalu pergi keluar dari kamar ANgie.
__ADS_1
BRAK.
“Ternyata cukup menyenangkan juga.” Pikir Angie setelah melihat kepergian Freddy yang sudah berhasil membuatnya puas.