Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
87 : IPHTV : Menyerobot


__ADS_3

'Hahhh~ Ini beneran gila.' Risyella membatin dengan wajah horornya.


Saat ini dia sudah ada di rumah. Tapi nikmatnya perjalanan kehidupannya yang dia jalani hari ini benar-benar menjadi pengalaman mendebarkan untuk Risyella sendiri.


Itu semua disebabkan Vatler yang berhasil menjadi raja jalanan.


'Haahh~ Aku masih saja menghela nafas. Dia memang pantas disebut gila. Ya..dia adalah pria pemilik dari segala kegilaan dari dunia ini.' Keluh Risyella di dalam hatinya lagi.


Dia pun memandangi langit-langit dari plafon rumah yang berwarna putih, dan dihasi oleh banyak lampu kecil, juga lampu kristal sebagai pemanis yang paling spektakuler.


Tapi sekalipun apa yang dilihatnya adalah pemandangan yang indah, akan tetapi tidak dengan apa yang terjadi beberapa puluh menit tadi.


_____________


Flashbak On.


Setelah kejadian dimana insiden tabrakan hampir terjadi kepada mereka berdua, jika Vatler tidak sigap dalam menanggapi situasi itu sudah pastinya kepulangan mereka berdua hanyalah tinggal nama.


"................." Karena kejadian tadi, Risyella pun sedang mencerna situasinya sendiri. "Vatler, apa kita bisa cepat pulang saja? Aku ingin sekali bisa tidur." Lirih Risyella meminta bantuan kepada supir tampan nya agar menuruti keinginan kecilnya itu.


"Jangan salahkan aku," Kata Vatler singkat.


"Apa?" Risyella yang belum sempat untuk mencerna apa yang diucapkan Vatler, Vatler secara tiba-tiba mengalihkan gigi roda dari nomor dua menjadi tiga.


Setelah itu, tanpa memerlukan waktu lama, laju mobil semakin cepat, siring Vatler menginjak pedal gas terus semakin dalam.


'Hah? Aku tidak salah lihat kan itu? Vatler tersenyum......sinis! Bahaya!' Pekik Risyella di dalam hatinya.


Dan sesuai dengan dugaan, senyuman sinis itu menjadi ajang pemacu adrenalinnya untuk yang kedua kalinya!


"Oi...oi...kamu gila?" Ejek Risyella sambil memegang sabuk pengamannya sendiri, saat Risyella melihat speedometer itu menunjukkan angka 70 Km/jam dan terus meningkat.


"Kan aku sudah bilang, jangan salahkan aku. Karena kamu yang menyuruhku agar bisa cepat sampai." Ucap Vatler. Tangan kanannya kembali memegang tuas gigi, lalu mengalihkan tuas gigi dari nomor tiga ke nomor empat. Dan disaat itulah, peralihan gigi itu menjadi bumerang bagi Risyella yang akhirnya bisa merasakan apa arti dari kecepatan sejati, dari mobil yang mengebut.


"V-vatler...ini terlalu cepat!" Risau Risyella, sangat khawatir dengan nasibnya sendiri karena harus mengalami hal mengerikan lagi untuk satu hari ini.


BRRMM.....BRMMMM.........


"Belum." Lalu kata belum pun menjadi awal dari semua itu.


SRETT.....


"Kyaa...!" Risyella refleks berteriak takut karena Vatler mulai mengebut di tengah jalan raya yang sedang padat-padatnya.

__ADS_1


"Apa kamu mempercayaiku?"


"Ha? Percaya apa?" Tanya Risyella balik ketika di tanyai seperti itu.


"Katamu ingin cepat sampai, jika kamu percaya padaku, apa yang kamu khawatirkan itu tidak akan ernah terjadi." Kata Vatler.


Memang terdengar seperti kata-kata penenang, tapi sebagai Risyella siapa yang akan tenang jika Vatler saja saat ini sudah mulai menggila!


"Halah...terserahmu lah. Yang penting jangan buat aku mati." Racau Risyella, pasrah dengan apa yang ada. Karena Vatler terlihat sangat percaya diri dengan kemampuannya dalam menyetir dan aksi kebut-kebutan, maka Risyella yang sejujurnya takut itu tidak akan mempermasalahkannya, asal hasilnya dia bisa selamat seteleh mengarungi jalan penuh maut!


"Akhhhh....." Risyella menahan suaranya agar tidak menjerit lagi.


"Padahal ini menyenangkan." Ujar Vatler berdasarkan pendapatnya sendiri. Setelah itu, dengan kemampuan yang dimiliki oleh Vatler, Vatler pun mulai memperlihatkan aksinya.


Seperti apa yang di inginkan oleh Risyella beberapa saat tadi, Vatler mulai mengebut di jalanan, membelah jalanan kota yang padat itu dengan kecepatan yang dimilikinya.


TINN...!


TINN....!


'Dia seperti seorang pembalap saja.' Benak hati Riysella. "Tapi apakah ngebut seperti ini kita tidak akan terkena tilang?!"


"Karena itu aku, tidak akan kena tilang." Wajah Vatler serius yang di dampingi dengan senyuman sinis itu menjadi bahan pertimbangan untuk Risyella kalau orang yang ada di sebelahnya itu seperti bukan manusia lagi, tapi Iblis!


WUSSHH.......


Dalam sekejap mata, dari sekian banyaknya persimpangan jalan dan rambur-rambu lalu lintas, tanpa Risyella sadari, seluruh rambu-rambu dari lampu lalu lintas itu sepenuhnya berubah menjadi hijau semua. Dan itu adalah kesempatan untuk Vatler mengebut di jalan tanpa hambatan apapun lagi, seolah jalanan itu hanya di peruntukan untuk mereka berdua lalui.


BRRMMM.......


______________


Flashbak off.


'Karena dia ngebut seperti itu, aku merasa apa yang ada di sekitarku jadi berputar-putar ya?' Masih menatap langit-langit plafon rumah yang bergitu luas itu, tapi kesan yang Risyella dapat adalah dia seperti sedang naik komidi putar. Dan mtatapan matanya pun menjadi dingin. 'Ini bahaya. Seharian ini aku banyak sekali masalah, sebaiknya aku tidur saja.'


Tidak seperti yang di inginkan Risyella yang ingin istirahat untuk tidur, tiba-tiba usara ketukan pintu depan rumah, langsung datang menghampiri.


TOK....TOK...TOK...


'Siapa sih?' Jeling Risyella terhadap dua pintu berwarna putih dan besar itu.


Dengan langkah terpaksa, Risyella pergi menghampiri pintu itu untuk dia buka dan mencari tahu siapa gerangan orang yang berhasil mengganggu nikmatnya duduk santai untuk sekedar istirahat.

__ADS_1


KLEK.


Saat Risyella sudah membuka pintu itu, deretan pertanyaan langsung mundul di benak hatinya. 'Apa yang akan mereka lakukan disini?'


"Apakah benar disini kediaman dari Tuan Vatler?" Tanya seorang wanita berkacamata ini.


"Iya. Silahkan masuk." Risyella menawarkan beberapa orang itu masuk kedalam rumah.


"Terima kasih." Tuturnya, lalu berjalan masuk mengekori Risyella.


"Silahkan duduk dulu." Ucap Risyella lagi.


Ke tiga orang itu pun berjalan menuju sofa dan duduk disana. Sedangkan Risyellla, pergi menuju kamar pemilik dari rumah itu, yaitu Vatler.


Tok...Tok......Tok.....


Risyella mengetuk pintu kamarnya Vatler. Tapi untuk beberapa waktu itu, Risyella tidak mendapatkan sahutan sama sekali.


'Apakah dia tidur? Tapi mereka bertiga sepertinya sedang mencarinya.' Pikir Risyella.


Merasa tidak enak jika tamu yang di undang oleh Vatler dibuat menunggu seperti itu, sedangkan Vatler sendiri entah sedang ngapain. Dengan terpaksa Risyella kembali mengetuk pintu untuk ke sekian kalinya.


Tok....Tok......Tok.....


"Vatler?" Panggil Risyella.


Tetapi lagi-lagi tidak ada sahutan sama seklai dari si empu.


Karena itu, untuk yang kali ini Risyella mencoba membuka pintu kamar itu. Pintu kamar yang ternyata tidak di kunci sama sekali.


Ada apakah di dalam?


'Gelap.' Kesan pertama Risyella saat mencoba mengambil langkah pertamanya.


Dua langkah dan tiga langkah, Risyella berjalan seperti orang yang hendak mencuri.


Dan mungkin karena itu pula, tanpa di sadari Risyella, tepat di saat pintu itu otomatis tertutup sendiri, sosok hitam dengan postur tubuh yang tinggi itu kini sudah berdiri di belakang Risyella.


"Kenapa kamu berani sekali masuk kedalam kamar seorang pria?" Suara rendah lagikan dingin itu segera menyahut respon dari kesalahan Risyella yang menyerobot masuk kedalam kamarnya. "Apakah karena aku akan menjadi suamimu, makannya kamu punya nyali itu?" Imbuhnya.


DEG.


Dan suara dari segala pertanyaan yang menyangkut atas hubungan dari yang akan mereka berdua jalin itu membuat Risyella langsung mematung.

__ADS_1


__ADS_2