
SRUK....
Jaket yang di pakai oleh Risyella pun akhirnya terlepas, memperlihatkan kaos putih miliknya. Seetelah melepaskan jaket yang menghalanginya untuk melihat kacamata yang memiliki warna yang cukup kontras itu, maka setelah itu Vatler pun benar-benar membalikkan tubuh Risyella agar menghadap ke pintu.
BRUK..
"Aduh..pelan-pelan." Sempat menuburuk pintu toilet.
"Maaf, aku hanya merasa ini sudah tidak bisa aku tahan lagi." Ucap Vatler seraya menyelusupkan kedua tangannya ke belakang kaos yang di pakai oleh Risyella itu untuk melepaskan bra yang di pakai itu.
'Aku akan melakukannya di tempat seperti ini? Padahal ini pertama kalinya untukku, kanapa aku harus mendapatkan pengalaman melakukannya di dalam toilet kecil seperti ini?' Merasakan malu yang cukup luar biasa, Risyella memejamkan matanya, apalagi setelah merasakan pengait yang menghubungkan kedua sisi bra miliknya itu, terlepas sudah dan saat ini sudah benar-benar melorot.
Dalam posisi membungkuk ke depan, maka Vatler yang kala itu ada di belakangnya persis, akan dengan mudah untuk melakukan penyatuan.
"Setelah ini, kita bisa melakukannya di kamar hotel." Bujuk Vatler untuk menghilangkan ke khawatiran Risyella saat ini.
"Hmm..." Dehem Risyella, sebenarnya merasa tidak puas hati karena Vatler justru mengajaknya di tempat yang sempit dan salah juga.
Tapi sayangnya, demi membuat Vatler dapat melampiaskan keinginannya itu, mau tidak mau sebagai Istri, dia akan menerimanya juga.
Risyella terus memejamkan matanya, karena dia tidak tahu apakah yang akan dilakukan oleh Vatler itu akan cukup kasar atau tidak, karena saat ini dengan beraninya, Vatler sedang menurunkan celana Jeans nya, sampai akhirnya saat ini Risyella pun memperlihatkan apa yang di miliknya itu kepada pria yang ada di belakangnya persis.
"Aku tahu ini pertama kalinya untukmu." Kata Vatler memperingatkan Risyella seraya mengeluarkan miliknya.
"Kalau tahu, jangan kasar-kasar." Pinta Risyella, sudah menundukkan kepalanya, hatinya sudah kacau dan jantungnya sudah berdegup cukup kencang, seolah jantungnya sebentar lagi akan meledak.
"Walaupun kamu mengatakan itu-"
__ADS_1
BRUK..
Vatler mulai memeluk Risyella dari belakang, dimana saat ini tangan kirinya sudah melingkar di pinggang ramping Risyella. Sedangkan tangan kanannya, perlahan mengarahkan miliknya untuk mengelus lembut pangkal paha Risyella itu, sampai hal itu menjadi awal panas untuk Risyella sendiri untuk mengeluarkan keluhan berupa lenguhan aneh yang semakin memikat Vatler untuk melakukannya lebih dari sekedar mengelus-elsu lebut dan hangat kepunyaannya Risyella itu.
"Auh..V-vatler, rasanya aku tidak kuat." Ringih Risyella, merasa sentuhan lembut namun panas itu membuat kedua kakinya tak kuasa untuk terus berdiri.
"Risyella, belum juga masuk." Peirngat Vatler.
"Tapi ini rasanya aneh," ungkapnya.
"Aneh seperti apa?" Tanyanya.
"Rasanya jadi gatal, dan...entahlah." Risyella yang sudah merasa kacau itu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu lagi karnea pikirannya saat ini sudah kosong gara-gara yang dilakukan oleh Vatler kepadanya itu.
"Shht, sudah jangan berisik lagi,"
"T-tapi ini.. akhh!" Risyella sontak langsung berteriak keras karena tanpa aba-aba sekaligus peringatan, Vatler sudah menjebloskannya masuk kedalam jurang surga ?
"Aauhww..Vatler, ini-" Kalimatnya jadi kembali hilang di telan kembali setelah Risyella mendapatkan hantaman keras oleh Vatler ini.
"Enak kan."
"Kamu diam-diam jadi mesum." Cetus Risyella.
Namun Vatler tidak menanggapi apa yang di katakan oleh Risyella ini kepadanya, karena yang terpentng saat ini adalah bisa menambah wawasan untuk mereka berdua bahwa satu pekerjaan yang hanya bisa di lakukanoleh seorang wanita dan seorang pria di tepat yang sama adalah bisa mendapatkan kesenangannya, dan salah satunya adalah yang ini..
Vatler berhasil membobol masuk kedalam lubang lawannya dengan kekuatan penuh, sampai Risyella sendir perlahan jadi tidak mampu untuk mengimbangi kekuatan yang di miliki Vatler ini kepadanya itu.
__ADS_1
Dan sekarang, hasilnya adalah mereka berdua perlahan masuk dalam jurang kepuasan.
Dengan tubuh kian berkeringat, erangan kasar yang memenuhi ruang kecil itu pun berhasil menjadi pengiring kebersamaan mereka berdua dalam melakukan penyatuan.
"Angh~" Satu dua dan tiga sampai entah berapa kali suara emas itu keluar dari mulutnya, tidak membuat Risyella merasa lelah sedikitpun, karena ternyata setiap hentakan yang dilakukan oleh Vatler terhadapnya itu selalu membawa kemanangan.
___________
"Anggh~ V-vatler,-" Keluh Risyella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kedua tangannya mengepal dengan erat, sebagai bukti kalau Risyella...
'Dia sedang mimpi apa? Kenapa~'
"Ahh~ Ini..jangan terlalu kasar." Ungkap Risyella.
Dan lagi-lagi Vatler yang baru saja keluar dari toilet itu, langsung di hadapi des*ahan yang tiba-tiba keluar dari mulut sang Istri yang sedang tertidur itu.
"Suara apa tadi? Jangan terlalu kasar?"
"Iya ya, tadi aku sepertinya mendengar desa*han dari seseorang yang tidak jauh dari sini."
Satu persatu penumpang pun pada akhirnya menyerukan keluhan mereka karena mendengar lenguhan yang tidak jelas itu.
"Ah..tung..mph..!" Seketika suara yang berisi de*sahan itu langsung menghilang setelah Vatler berhasil membungkam mulut nakal milik Risyella itu. "Mphh...!" Protes Risyella sepasang mata sudah melototi Vatler, karena mendaratkan telapak tangannya yang besar itu kemulutnya Risyella persis.
"Shtt..apa kamu sedang mempermalukan diri sendiri?" Tanya Vatler memperingatkan.
"Mhh..mh..mh..?" Tanya Risyella.
__ADS_1
Karena tidak mau ada orang lain yang mendengar ucapannya, maka Vatler pun memutuskan untuk berbisik di telinga Risyella persis, dan berkata : "Apa yang kamu mimpikan tadi sampai mende*sah seperti itu?"
'Apa? Aku mende*sah? Bagaimana bis- Ah...jangan-jangan yang tadi itu aku benar-benar sedang bermimpi. Dan karena-' Risyella yang awalnya memberikan tatapan sengit kepada Vatler, perlahan jadi melunak. 'Karena rasanya nyata, ternyata jadi terbawa keluar juga ini suaraku. Bagaimana ini? Aku jadi mempermalukan diriku sendiri dan Vatler.'