
Esok paginya.
Di ruang makan.
Tidak seperti biasa, dimana salah satu dari mereka berdua pasti akan menyapa. Kali ini mereka berdua hanya bertemu dan saling melirik untuk sesaat saja.
Perasaan Vatler terhadap hubungan diantara mereka berdua yang terasa renggang itu pun sampai disadari oleh Ibunya Vatler, yaitu Marlina.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Apakah kalian berdua bertengkar?" Tanya Marlina kepada kedua anak muda di depannya itu.
Tidak seperti yang diharapkan oleh Marlina akan hubungan Vatler dan Risyella dipenuhi kebucinan, yang ada justru hanyalah dua orang asing yang saling diam saja dan tidak terlihat adanya perkembangan. Padahal sudah dua minggu lebih hubungan mereka berdua terjalin, dan karena Marlina tidak punya kesabaran agar Vatler segera menikah dengan wanita pilihan Marlina, maka beberapa hari lagi pun acara untuk mengikat kedua anak ini akan terjadi.
Tapi apa yang ada di depannya itu?
Vatler yang terlihat seperti orang yang cuek, dan Risyella yang sedang berekspresi canggung. Dua orang yang punya sifat bertolak belakang ini punbenar-bear membuat Marlina jadi merasa bersalah pada Risyella.
Tapi saat melihat mata Risyella yang selalu saja melirik ke arah Vatler, itu saja sudah menjadi pemerjelas kalau Risyella memang sudah menyukai Vatler sejak awal.
Tapi Vatler sendiri?
Risyella yang tidak pandai dalam berbicara pun hanya terdiam, dan hanya fokus pada makanannya saja.
'Hah~ karena kejadian apa yang aku katakan tadi malam, Risyella pun jadinya mendiami aku. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan dia tidak berbicara denganku sih. Hanya saja, Ibuku. Aku sebenarnya sedang malas berdebat dengan Ibuku. Dan dia, karena hanya diam dan makan saja seti itu, suasana ini jadi lebih mencekam. ' Vatler saat ini justru jadi merasa bersalah dengan dirinya sendiri.
Setelah kejadian tempo hari, dimana Vatler memberikan peringatan yang sedikit menusuk hatinya Risyella, membuat hubungnnya dengan Risyella pun jadi mulai renggang seperti pertama kali bertemu.
Dan hal tersebut sangatlah mengganggu, mengingat Risyella adalah calon istri yang dipilihkan Ibu, dan sudah jelas kalau yang akan di salahkan nantinya adalah Vatler sendiri.
Sebab untuk ke depannya nanti, dirinya akan menaggung satu orang yang akan terus berada di sisinya.
__ADS_1
Karena itulah Ibunya pun benar-benar akan menuntut keras kepada Vatler jika membuat Risyella merasa tidak nyaman ataupun bahagia.
Dan oleh sebab itulah, ketika Risyella hendak menyuapi makanannya kedalam mulutnya sendiri, Vatler pun membuat inisiatif sendiri.
'Ahhh..aku harus bicara apa? Aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengan Ibunya Vatler. Aku memang benar-benar tidak berguna. Kalau seperti ini terus, Vatler pasti akan terus kesulitan karenaku,' Lamunan Risyella ketika otaknya sedang berpikir pada nasibnya yang terasa malang karena harus di apit diantara dua orang berstatus buldoser itu pun langsung pecah.
Benar...
Ketika sendok itu hendak mencapai mulutnya untuk memakan sesuap nasi lagi, secara tiba-tiba ada satu tangan yang menarik tangan Risyella, dan itu adalah Vatler sendiri.
"Nyam..." Sendok miliknya pun ternyata masuk kedalam mulut pria ini?!
KLANG....
Saking terkejutnya, sendok yang tadi digunakan oleh Vatler pun secara tidak sengaja terlepas dari genggaan tangan Risyella.
Ketika semua adegan ciuman secara tidak langsung hanya bisa Risyella dapatkan jika membaca novel, sekarang hal itu terjadi kepadanya?!
"Vatler, jangan mengecoh Ibumu dengan tindakanmu yang seperti itu. Katakan, kenapa kalian berdua terlihat saling diam satu sama lain?" Tuntut Marlina dengan wajah serius.
Sekalipun sudah diberikan kejutan seperti orang yang sedang melakukan hal romantis, sayangnya Marlina tidak akan termakan dengan drama spontan itu, karena dia tahu, Vatler bukanlah tipe orang yang mampu melakukan hal seperti itu.
Dimata Marlina, anaknya itu seperti dinding bendungan yang berdiri kokoh yang suka meahan apapun yang dirasakannya. Jadi tindakan seperti tadi itu sudah jelas bukanlah karakternya Vatler yang lebih suka diam ketimbang melakukan hal yang mempermalukan dirinya sendiri seperti orang yang suka melakukan hal romantis.
'Ibu ini...aku tidak bisa mengecohnya sedikitpun.' Batin Vatler. Uahanya pun jadi sia-sia.
Risyella yang tidak mau tahu apa yang sedang diperdebatkan oleh Vatler dengan Ibunya itu, hanya diam dan mengambil sendok baru untuk Risyella makan lagi.
Tapi ketika dia hendak mengambil sendok baru itu, temat sendok itu pun langsung diambil oleh Marlina.
__ADS_1
"Risyella, katakan pada Ibu, apa yang sudah dilakukan oleh Vatler padamu sampai raut wajahmu seperti ekspresi orang yang baru saja melakukan kesalahan. Jujur pada Ibu," Kata Marlina, mencoba membujuk Risyella yang terlihat sudah gerogi untuk membahas permasalahan yang sedang terjadi diantara mereka berdua.
Tapi jika Marlina tidak menanyakannya langsung, maka masalah diantara mereka berdua tidak akan kunjung usai sampai di hari pernikahan mereka berdua. Itulah yang sedikit Marlina takutkan.
"A-aku..." Risyella jadi merasa tidak enak karena lagi-lagi orang yang akan disalahkan adalah Vatler.
Vatler yang mengetahui Risyella sedang takut akan kena semprot lagi oleh dirinya, mau tidak mau Vatler pun menyerahkan diri dengan berkata jujur kepada Ibunya yang suka menginterogasinya.
"Aku hanya memperingatkan dia untuk tidak masuk sembarangan ke kamarku." Ucap Vatler dengan jujur.
"Kenapa? Lagi pula dia kan akan jadi Istrimu juga."
"Kenapa? Ibu harusnya tahu, wanita lajang tidak boleh masuk ke kamar laki-laki sembarangan. Setidaknya jaga sopan santun," Kata Vatler menambahkan.
"Iya sih. Tapi-" Marlina kemudian melirik kearah Risyella. Risyella terlihat malu-malu dan merasa sedih dengan apa yang baru saja Vatler katakan. "Tapi kalau aku jadi kamu, aku akan mengizinkannya. Pasti ada alasan lain kan, kenapa Risyella masuk kedalam kamarmu?"
"..............." Risyella tetap pada keterdiamannya, karena dia tidak tahu harus apa. Karena di pikiran Risyella, yang salah adalah Risyella sendiri karena tidak sabar menunggu sampai Vatler keluar kamar, dia justru jadi masuk kedalam kamarnya.
Tidak terlalu suka dengan suasana yang terlalu canggung itu, Marlina pun membua tsebuah usulan yang dimana kedua orang ini harus ikut dalam rencananya.
"Baiklah, demi meningkatkan hubungan diantara kalian berdua, bagaimana kalau kita ke waterpark?!" Usul Marlina dengan senyuman sinisnya.
"Uhukk...." Vatler yang kala itu sedang minum, langsung tersedak sendiri.
Sedangkan Risyella yang ingin merebut sendok dari tangan Marlina, langsung mengehntikan tinakannya itu, sebab pikirannya seketika berimajinasi cukup luas.
"Risyella, kamu pasti belum pernah keluar jauh dari tempat ini kan? Selagi hari pernikahan kalian berdua masih sedikit jauh, maka kita harus bersenang-senang." Lanjut Marlina lagi.
Dan hal itu pun benar-benar akan jadi hari kesempatan untuk Risyela juga Vatler agar bisa bersenang-senang bersama.
__ADS_1