Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
31 : IPHTV


__ADS_3

“Hari ini saja.” Risya sangat memintanya dengan hati-hati.


Arshel hanya mendeliknya dengan tajam. Tapi tak berselang lama, Arshel menghel anafas dengan kasar dan berkata : “Hari ini saja. Karena minggu besok sudah mulai ujian, jadi jangan bersantai-santai lagi. Kau tahu juga kan, niilaimu juga menentukan nasibku di tangan ayah?”


Risya hanya memberinya anggukan sebagai tanda setuju.


“Kau boleh pergi.” ketus Arshel. Sebenarnya dia tidak ingin membiarkan adiknya itu pergi, tapi karna permintaannya hanya hari ini saja, maka Arshel pun mengabulkan keinginannya. 


“..................” Tanpa sepatah kata lagi, Risya pun berpaling memunggungi Arshel, setelah itu dia mengambil handphone nya yang tertinggal di kasur dan langsung berlari keluar dari kamar.


“................” Arshel hanya melihat punggung itu kian menjauh dari pandangannya, sebelum sosok dari Risya akhirnya menghilang. ‘Dia kelihatan buru-buru.’


Tidak peduli lagi dengan urusan yang akan Risya lakukan, Arshel pun ikut keluar kamar untuk kembali ke tempatnya sendiri.


                          *****


“Paman Exel,” panggil Risya. Dia buru-buru pergi menuju garasi mobil, dimana terlihat seorang pria awal 35 tahunan itu sedang mengelap bamper mobil dinasnya sendiri.


“Ya Nona?” sahut paman Exel.


“Bawa aku pergi ke jalan xxx.” pinta Risya. 


“Baik Nona.” Tanpa membuang waktu lagi, paman Exel langsung masuk kedalam mobil dan segera menyalakan mobil.


“Cepat ya.” imbuh Risya sekali lagi, setelah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


Dan suara dari knalpot mobil yang melaju meninggalkan kediaman Ellistone segera menarik perhatian bibi Jeni yang sedang menyapu lantai.


‘Nona mau pergi kemana ya sore-sore seperti ini?’ Bibi Jeni merasa penasaran dengan Risya yang tadi keluar dari rumah dengan sangat terburu-buru. ‘Mungkin saja ada yang ingin Nona beli untuk tugas sekolahnya.’ pikir Bibi Jeni. Tidak mau berpikir negatif pada tindakan Risya yang sebenarnya terasa mencurigakan.


                      *******


‘Akhirnya Risya mengajakku bertemu. Bagaimana caranya dia bisa lepas dari Arshel? Padahal jelas tadi, Arshel seperti sedang memarahinya. Atau jangan-jangan mereka berdua bertengkar lagi?!’ Freddy langsung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran negatif itu dari kepalanya. 


Meskipun, itu tidak ada gunanya lagi, karena Freddy tetap saja dalam perasaan khawatir yang tinggi terhadap Risya. 


Tidak seperti sebelumnya Risya akan mengajak bertemu di Cafe Blurry karena dekat dengan Mall, sekarang tempat mereka bertemu sudah pindah untuk ketemuan di depan restoran. Tujuannya adalah agar tidak ketahuan?


Sebenarnya memang benar, semua itu agar tidak ketahuan oleh Arshel yang sudah menaruh curiga karena Risya sering ke Mall. Tapi di satu sisi lain lagi, adalah agar mencari suasana baru.


“...............?” Tidak sampai 5 menit, Freddy melihat Risya turun dari mobil berwarna putih. ‘Apa mereka sekarang sudah punya supir pribadi sendiri-sendiri?’ 


Mata Freddy yang tajam, menemukan orang yang menyupir mobil yang dinaiki oleh Risya adalah orang yang berbeda, sebab terlihat lebih berbeda.


Freddy terus mengekori kemana arah Risya berjalan, hinga akhirnya Risya masuk kedalam restoran juga. 


Freddy melambaikan tangannya kearah Risya yang sempat terlihat seperti orang bingung.


“Paman!” wajah yang awalnya seperti orang linglung tadi langsung berubah dengan senyuman yang kian mengembang. 


‘Dia sangat senang sekali bertemu denganku.’ Melihat hal tersebut, Freddy tetu saja merasa ikut senang. Karena Risya yang diam-diam dia rawat dari kecil juga, sekarang sudah tumbuh besar dan mirip dengan ibunya. 


Yah..


Kalau saja umurnya bukan 13 tahun, Freddy ingin sekali menikhinya. 


Tapi itu hanyalah angan-angan belaka, karena dirinya adalah orang yang dititpi pesan, yang berarti tidak boleh melebihi keinginan dari hati Freddy itu sendiri. 


“Apa paman sudah menunggu lama?” Risya langsung bertanya tepat setelah mendapatkan kursi, dan duduk tepat di depan paman Freddy.


Freddy menggeleng pelan, “Apa kau tadi batuk?”


“Tadi tidak sengaja handphone ku ditinggal di kasur, jadi Arshel lah yang menjawabnya.” ujar Risya merasa bersalah karena paman jadi menapatkan sedikit hinaan kecil dari Arshel. “Maaf ya paman,” 


“Paman tidak masalah kok.” Seperti biasa, Freddy menempelkan telapak tangannya di atas dahi Risya. 

__ADS_1


“................” mendapatkan sentuhan seperti itu, Risya tanpa sadar jadi melirik ke rah lain.


“Sudah seperti ini, kau masih tidak ketahuan ya?” Rasa khawatir Freddy kembail lagi, saat merasakan dahi Risya mulai panas lagi. 


“Karena mereka tidak pernah menyentuhku.” ucap Risya. 


Freddy mengulas senyum lemah, lalu dia berdiri. “Ayo,” ajak Freddy.


“............” Risya mendongak ke atas, dan menerima uluran tangan Freddy. 


Risya dan Freddy pun pergi ke suatu tempa lagi, tanpa keluar dari restoran tersebut. 


                   ***********


Malam harinya.


KLEK.


“Kau baru pulang?” Tanya Arshel, sudah berdiri tepat di balik pintu masuk, seolah sedang menjaga pintu dari penyusup. 


“Kenapa kau menungguku di depan pintu?” Risya merasa tertekan dengan aura yang keluar dari tubuh Arshel itu, cukuplah mengintimidasinya. 


“Apalagi kalau bukan melanjutkan urusan kita yang belum selesai. Kau suddah selesai istirahat dengan jalan-jalan kan? Kalau begitu lanjutkan materi yang belum kau kuasai.” perintah Arshel dengan anda tegas.


“Hanya sampai jam 8 ya?” rungut Risya, merajuk pada Arshel.


“Iya,” jawab Arshel dengan asal. Tidak mungkin akan menuruti adiknya yang ingin mendapatkan enaknya saja, tawar menawar. “Ayo cepat kerja.”


“Aku bukan pegawaimu,” sela Risya dengan cepat. 


“Murid sama saja pegawai. Jika kau menuruti ucapanku, kau pasti akan berhasil.”


Bibirnya Risya hanya manyun, karena dirinya terpaksa menjadi budak Arshel. Demi mencapai apa yang diinginkan, Risya mau tidak mau harus menuruti perkataannya.


‘Ehm...ngomong-ngomong, tinggal berapa lagi ya ulang tahunku datang?’ Sambil berjalan mengikuti Arshel, Risya pun menghitunng jarinya sendiri untuk menghitung hari yang tersisa sampai hari ulang tahunnya tiba. ‘Eh? 10 hari lagi? Kira-kira aku dapat hadiah apa ya dari ayah? Ah..kalau seandainya Ibu masih ada, kira-kira Ibu akan memberikanku apa ya? Apa sebaiknya hari itu aku pergi ke makam Ibu ya? Ya..harusnya akulah, yang pergi memberikan hadiah kepada Ibu.’ 


‘Sebaiknya aku tanya ayah, Ibu suka bunga apa selain bunga Wisteria.’ pikirnya lagi. Risya sudah tidak sabar menunggu hari itu datang, dan pergi membawakan hadiah spesialnya kepada Ibu nya yang tingal di alam bebas itu. ‘Pasti menyenangkan, bisa tinggal di alam bebas seperti itu. Apalagi makam Ibu kan tepat di bawah pohon bunga Wisteria.’


Risya pun tersenyum lemah dengan harapan bisa bertemu lagi dengan ibunya saat tidur nanti. 


Merasakan aroma tubuhnya yang samar, senyumannya yang lemah lembut dan menampilkan kecantikannya tersendiri. Risya sudah mulai merindukan semua itu setelag beberapa waktu ini, dirinya tidak pernah sekalipun memimpikan Ibunya lagi.


                        *************


DRTT…..DRRTT……


Di dalam sebuah rumah mewah, seorang pelayan yang tersadar denga nhandphone milik majikannya berdering, dia langsung pergi untuk menemui majikannya tersebut. 


Tok...Tok….Tok…..


Suara ketukan yang terjadi di depan pintu kamar mandi pun membuat seorang wanita yang sedang berendam di dalam bathtup langsung terbangun dari tidurnya.


“Nyonya, ada yang menghubungi anda.” beritahu pelayan ini kepada nyonya majikan yang sedang mandi itu.


“Kau masuk saja.” suara itu langsung memerintahkan pelayan tersebut untuk masuk.


“Baik, saya permisi.” Pelayan ini dengan hati-hati melangkah masuk kedalam kamar mandi. Dari situlah terlihat maikannya sedang asik bersantai sendirian.


“Siapa yang meneleponku?” tanya wanita ini, yaitu Angie.


“Tuan Freddy,” Sambil memberikan handphone itu kepada pemiliknya. 


“Kau boleh pergi.” perintah Angie. 


“Baik Nyonya,” Pelayan ini membungkuk hormat kepada Angie lalu berjalan pergi. 

__ADS_1


Angie, dia pun menatap handphone nya sendiri, yang mana di layarnya sekarang ini terpampang jelas nama Freddy dengan huruf besar semua. 


‘Apa setelah sekian lama, akhirnya dia merindukan aku?’ pikir Angie, dimana mulutnya melengkung membentukan senyuman miring.


Sebelum panggilan itu dimatikan oleh pihak terkait, Angie buru-buru mengangkatnya.


“Ada apa Freddy? Apa kau akhirnya tahu kalau hatimu sedang merindukanku?” sahut Angie dengan senyuman lebarnya. Lalu tangan kirinya memainkan busa yang mengambang di atas air, mengambilnya dan meletakkannya di bahu. 


📞: Tidak. 


“Yah~ karena kau tidak merindukanku, akan aku tutup teleponmu.” Ancam Angie. 


Tapi Freddy hanya diam, seperti mengiyakan teleponnya di tutup.


“Aku tutup nih!” Teriak Angie. 


Dan benar saja, Angie menekan tombol merah, hingga panggilan tersebut berakhir begitu saja.


“Dia ini, kenapa menelponku? Kalau memang ada urusan, harusnya dia mencegahku menutup telepon, kan?” Gerutu Angie, masih menatap handphone nya sendiri.


Karena mood baiknya untuk bersantai sudah hilang, Angie pun menyudahi acara berendamnya. Dia membilas tubuhnya, dan langsung memakai handuk kimono, sebelum dia keluar dari kamar mandi


“Dasar Freddy ini. Dia selalu saja membuatku penasaran.” Dumel Angie lagi, sambil mengikat tali pinggangnya.


KLEK.


“Dia kan harusnya bil-”


“Angie.” Panggilnya. 


Dan suara itu, sontak berhasil membuat kedua mata Angie membulat sempurna.


“Kyaa…!” Angie langsung berteriak kaget saat di depan pintu kamar mandinya, tiba-tiba sudah berdiri seorang pria tinggi, besar, dan masih memakai kemeja biru dengan mantel coat berwarna biru tua. “Freddy! Apa yang kau lakukan di depan kamar mandiku?!”


PLAK.


Angie yang geram dengan sosok Freddy sudah berdiri di depan pintu persis, langsung dia pukul sekuat tenaganya. 


 


“Kau sendiri yang mematikan panggilanku.”


“Itu kan salahmu, tidak mencegahku untuk tidak mematikannya? Minggir.” Masih menyisakan sedikit amarah, Angie langsung mendorong tubuh Freddy yang besar itu. “Lalu apa maumu sampai menemuiku di dalam kamarku pula.” 


“Apa kau punya uang?”


Salah satu alis Angie terangkat, dan kembali menoleh kebelakang. “Kau sendiri dokter, kenapa menanyakanku uang?” 


“Uangku kurang.”


Angie berjalan menuju lemari pakaiannya, dan mencoba memilih gaun tidur yang ingin dia pakai malam ini. “Kau butuh berapa banyak?” 


Angie memilih Lingerie berwarna merah, setelah itu dia mulai membuka laci untuk mengambil pakaian da*l*mnya.


Selesai mengambil dan memilih apa yang ingin dipakai, Angie pun melepaskan handuk kimono itu tepat di depan Freddy yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dan menatap ke arahnya.


“13 Milyar.”


Angie sesaat menghentikan aktivitasnya sesaat. “Memangnya kau butuh uang untuk apa sampai kurang 13 Milyar? Itu bukan uang yang sedikit.” Angie kembali memakai pakaian tidurnya. 


Freddy yang melihat setiap lekuk tubuh itu tidak memiliki reaksi apapun. “Aku harus membeli sesuatu,”


“Iya, sesuatu yang harus kau beli sampai harganya mahal itu karena mau beli apa?” Tanya Angie lagi sambil menggosok rambut panjang miliknya yang masih basah itu dengan handuk putih yang tadi baru saja dia ambil dari dalam lemari.


“Sumsum tulang belakang,”

__ADS_1


“................, apa?” Angie langsung terdiam setelah bertanya seperti itu. 


__ADS_2