Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
131 : IPHTV : Sampai


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Vatler pun akhirnya membawa Risyella masuk kedalam kediaman Vatler yang satunya lagi, Villa Linstone.


"............" Sesaat setelah sampai di depan rumah persis, Vatler sempat melirik kearah Risyella yang terlihat senang karena akhirnya bisa melihat cahaya? 'Melihat dia bisa bertahan di kegelapan dan di bawah hujan seperti tadi seorang diri, dia patut di puji. Aku menguji keberaniannya.'


Risyella terus celingukan melihat sekelilingnya.


Meskipun Risyella terlihat senang, tapi dimata Vatler jelas sudah kalau ditengah-tengah wanita di sampingnya itu hujan-hujanan, sebenarnya Risyella juga baru saja menangis.


'Ini cukup merumitkan, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Ibu jika tahu aku membuat Risyella menangis?' Vatler pun tidak bisa membayangkan wajah marah dari sang Ibu yang selalu menuntut dirinya agar bisa menjaga Risyella dengan baik, tapi ujung-ujungnya Vatler justru membuatnya menangis. 'Tapi ngomong-ngomong, apakah dia mau menandatangani surat kontrak itu?' Pikir Vatler sekali lagi.


Tanpa diperintah, Risyella pun keluar lebih dulu dari mobil sambil menyeret gaun pengantin yang masih Risyella pakai dan sudah sepenuhnya basah total.


BRAKK....


Hanya saja, mendengar suara pintu mobilnya di tutup dengan cukup keras, Vatler sudah menduga kalau Risyella sebenarnya sedang masih menyisakan amarah kepadanya.


"Hahah...wajahnya memang terlihat senang, tapi dari tindakannya itu, dia sangat jelas sedang menahan marahnya. Kenapa tidak dia lampiaskan kepadaku saja secara langsung?" Gumam Vatler seraya memperhatikan gerak gerik Istrinya yang ternyata lagi-lagi kembali menunggunya untuk keluar.


'Kenapa dia tidak keluar? Dia selalu saja membuatku menunggu.' Tatap Risyella kepada suaminya yang terlihat sedang menikmati untuk menatap kearahnya? "..............?" Salah satu alis Risyella terangkat, karena melihat Vatler sedang meletakkan kepalanya di atas stir mobil sambil memperhatikan kearahnya? 'Kenapa dia menatapku? Apakah ada yang aneh denganku? Atau dia mau membuat perhitungan denganku karena aku tiba-tiba men-'


Satu kalimat yang cukup menjadi acuan dasar atas tindakannya tadi untuk mencium Vatler pun membuat Risyella langsung bungkam.


Risyela tiba-tiba menyentuh bibirnya dan langsung berbalik memunggungi Vatler yang masih memperhatikannya terus.


'Sebenarnya ada apa denganku tadi? Tanpa sadar, aku menarik wajahnya dan menciumnya lagi! Akhh! Bagaimana ini? Aku kehilangan muka lagi untuk bertatapan dengannya.' Batin Risyella.


BRAK..


Mendengar suara pintu mobil itu tertutup, maka artinya Vatler pun keluar dari mobilnya.

__ADS_1


'Semoga dia tidak membahas apa yang aku lakukan kepadanya tadi.' Kata hati Risyella seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu mau disana terus?" Tanya Vatler.


Risyella langsung menoleh ke belakang, terlihat Vatler sudah berada di ambang pintu.


"Tidak!" Risyella dengan buru-buru berlari menghampiri Vatler seraya mengangkat gaunnya agar bisa bergerak dengan leluasa, sampai suara petir yang datang itu membuat Risyella berteriak.


JDEERR...


"Akhh...!" Risyella sontak langsung berjongkok sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


JDEERR...!


".............!" Risyella masih bertahan di posisinya, karena saking takutnya dengan petir yang terdengar cukup sangat dekat dengannya.


JDERR.....


GREP..


Di saat yang sama tepat petir itu menggelegar, Vatler mencengkram pergelangan tangannya Risyella agar berdiri.


"Kalau disini terus, yang ada kamu hanya mendengar petir terus. Ayo masuk." Ajak Vatler kepada sang Istri, yaitu Risyella.


"............." Risyella melihat kearah tangan kanannya yang saat ini sedang di cengkram ringan oleh tangan Vatler yang begitu besar itu, terbesit rasa hangat di dalam cengkraman itu. "Iya."


Genggaman tangan itu pun membawa mereka berdua masuk kedalam rumah baru yang akan menjadi tempat mereka berdua membuat kisah mereka bersama.


Setelah masuk kedalam rumah, Vatler pun melepaskan genggaman tangannya dari Risyella yang lagi-lagi terlihat sedang mengagumi rumah yang Vatler bangun itu.

__ADS_1


'Ini tidak kalah besar dengan yang ada disana. Kira-kira Vatler menghabiskan biaya berapa puluh Milyar untuk membangun ini?' Pikir Risyella.


Dia benar-benar tidak tahu mau apa lagi untuk mengungkapkan keindahan serta situasinya saat ini, dimana sekarnag...


'Aku akan tinggal bersama dengannya sebagai Istri?'


BLUSSH...


"............?" Vatler bingung, melihat Risyella kembali tersipu. 'Jangan-jangan dia sedang berimajinasi soal malam pertama?' Salah satu alis Vatler pun terangkat.


Dia mana mungkin akan melakukan malam pertama dengan Risyella, karena Vatler sendiri sudah punya tekad sendiri untuk tidak menyentuhnya sedikitpun.


"Kamu pilih saja kamar yang kamu suka." Tidak mau berlama-lama disana dengan Risyella, Vatller pergi menuju lantai dua, karena disanalah kamar miliknya berada.


"Eh...kita tidak tidur bersama?" Tanya Risyella.


Mendengar Risyella bertanya seperti itu, Vatler yang saat ini sudah di depan anak tangga persis, segera menghentikan langkah kakinya.


"Jujur saja, kita berdua kan masih merupakan dua orang asing, apa tidak sebaiknya lebih baik untuk tidur di kamar masing-masing saja secara terpisah?" Tanya Vatler.


Satu pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu pun membuat Risyella tahu, kalau Vatler tidak ingin berbagi kamar.


"Maaf, aku salah bicara." Sahut Risyella, merasa bersalah karena terlalu berharap akan berbagi tempat tidur bersama dengan pria itu.


Pria yang terlihat enggan untuk tidur bersama dengannya.


"Setelah ini, aku ingin bicara denganmu lagi. Jadi sebaiknya mandi dan ganti bajumu." Pinta Vatler sebelum akhirnya dia pun pergi dari sana.


'Bicara?' Risyella pun menatap kepergian pria itu lagi dan lagi. 'Dia terlihat seperti orang yang keberadaannya bisa menghilang kapan saja.'

__ADS_1


__ADS_2