
"Aku mana mungkin memakai itu." Gerutu Risyellla sambil memunggungi mereka semua.
Tetapi sudut matanya terus menerus menangkap keberadaan Lingerie yang tergeletak diatas kasur semua.
Keteguhan hati itu musnah karena mendapatkan bisikan dari Iblis.
"Coba satu saja dulu ah." Karena mendapatkan bisikan dari sebuah hasutan, Risyella pun mencoba satu Lingerie itu dan memilih warna Navy sebagai percobaan pertamany.
Dan Lingerie yang sudah terpakai di tubuhnya itu pun benar-benar memperlihatkan body tubuhnya dari punggung, kedua paha nya, bahkan buah dadanya.
Oh...hanya saja dia memang punya minus di bagian tubuhnya. Tepatnya kedua buah dadanya yang benar-benar kecil. Membuat Risyella segera menundukkan kepalanya.
"Haaa~... Sekalipun aku sduah banyak makan, kenapa tubuhku selalu kurus?" Gerutu Risyella, melirik ke bawah. Tepatnya ke arah dadanya yang dapat dia lihat dengan jelas dalam sekali pandangan. "Lihat ini...kecil begini, apa yang bisa aku goda darinya?" Rutuk Risyella sambil memegangi kedua buah dadanya sendiri yang memiliki ukuran seperti bakpau.
Namun, tepat ditengah-tengah pergulatan batin, tiba-tiba seluruh lampu rumah jadi padam.
"............!" Risyella seketika celingukan gara-gara kamarnya jadi gelap gulita. "BUkan karena belum bayar listrik kan?" Gerutu Risyella.
Karena keadaannya begitu gelap gulita, Risyella pun berjalan sambil meraba-raba apa yang bisa dia sentuh agar dia tidak tiba-tiba tersandung sesuatu yang tidak bisa dia lihat.
Dia berusaha untuk menggapai tempa tidurnya, dimana dia meletakkan jubah mandi miliknya ke atas kasur tadi.
Setelah mendapatkannya, Risyella pun pergi keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai penerang, gara-gara handphone miliknya sudah mati kehabisan baterai.
TAP...TAP....TAP......
'Kenapa kesan horornya semakin kuat?' Risyella memasuki mode waspada. Dia melirik kearah kanan dan kiri.
JEDERR.....
"..........!" Risyella yang terkejut itu hanya diam mematung dengan teriakan sudah dia tahan di dalam tenggorokannya. 'Apa sebagiknya aku tidur saja kali, ya?'
Karena merasa tidak ada gunanya mencari lilin atau apapun yang bisa dia gunakan untuk penerangan sebab dirinya masih belum tahu seluk beluk semua barang-barang itu, Risyella pun memutuskan untuk berbalik.
Hanya saja, Risyella yang memiliki pendengaran yang tajam itu tiba-tiba merasakan ada suara langkah kaki di bawah hujan yang kian mendekat.
GLUK.
'S-siapa itu?' Risyella yang sudah mulai diselubungi rasa takut itu, segera lari dengan senyap kearah dua pintu utama. 'Jangan-jangan ada maling yang sedang menargetkan rumah ini?' Dengan perasaan takut itu, Risyella buru-buru meraih kunci knop pintu, menekan pintu itu dan langsung menguncinya.
Dan satu dorongan kuat sebelum tangannya mengunci gagang pintu, membuat Risyella terjungkal.
__ADS_1
BRUK.
'Gawat, dia mau masuk!' Tidak mau membiarkan sosok di luar pintu masuk lewat pintu depan, Risyella yang terjatuh itu buru-buru berdiri dan mendorong pintu itu dengan kuat.
BRAK!
Walaupun perutnya sedang dilanda kelaparan karena belum makan, bukan berarti dia tidak punya tenaga yang besar. Jadi dalam sekali percobaan itu, Risyella pun mampu menutup pintu utama itu dan langsung menguncinya.
KLEK.
"Apa kamu sedang mengusirku dari rumahku sendiri?"
'Suara ini?!' Sadar dengan suara yang datang dar iluar pintu itu adalah Vatler, Risyella pun membuka kuncinya dan membukakan pintu rumah untuk sang Tuan rumah. "A-aku pikir kamu pencuri." Sahut Risyella.
Sampai disaat yang sama, Sebuah dentuman keras dengan kilatan yang menyambar dengan keras berhasil mengejutkan Risyella.
JDERR..
"Akhh....!" Teriak Risyella. Dia bukan berteriak terkejut karena suara petir itu, melainkan sosok pria jangkung dan besar itu berdiri di depan pintu dalam kondisi penampilan yang cukup berantakan, ditambah dengan tubuhnya yang basah kuyup dari atas sampai kebawah, berhasil menambah kesan menakutkan untuk Vatler yang saat ini berekspresi datar.
"................." Vatler menatap Risyella dengan Intens. 'Ha..aku pencuri di rumahku sendiri? Dia sigap juga, langsung membuat wajahku hampir menabrak pintu rumahku sendiri.' Batin Vatler, mengeluhkan ketika Risyella dengan cepat langsung menutup pintu yang sudah Vatler buka.
'Tapi kenapa dia bisa basah kuyup seperti itu? Bukannya dia bawa mobil?' Siapapun yang melihat penampilan dari Vatler pun akan menganggap kalau Vatler sedang mencari mangsa untuk pelampiasan dendamnya.
"Apa kamu takut gelap?"
'Bukan gelap! Tapi kau!' Teriakan yang tidak akan bisa Vatler dengar. "Tidak." Ketus Risyella karena pria di depannya itu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan, sebab penampilan berantakan Vatler saat itu cukup menambah kesan seksi dari pria itu. "Kenapa hujan-hujanan? Kemana mobilmu?" Risyella sedikit keluar dari rumha dan mencari mobil yang beberapa jam lalu dipakai Vatler.
"Di tengah jalan, ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, jadi lebih baik mobilku aku tinggal saja." Jawab Vatler dibumbui kebohongan.
"Apa tidak khawatir dicuri?" Tanya Risyella seraya berbalik, melihat keberadaan Vatler sudah lebih dulu menghilang dari tempatnya.
Sambil melepaskan jaket kulit miliknya, Vatler menjawab, "Jika mobilku dicuri, mudahnya aku akan mencurinya balik."
'Aku kira dia akan bilang beli lagi.' Pikir Risyella sambil mengekori Vatler, karena hanya Vatler saja yang saat ini sudah memegang handphone dan sudah menyalakan senter dari handphone nya tersebut.
Tapi ditengah-tengah Risyella mencoba mengekori dari belakang, Vatler tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik sambil bertanya, "Dari mana kamu mendapatkan Lingerie itu?"
"Eh?" Risyella melirik kebawah. Risyella memang masih memakai Lingerie, tapi dia juga sudah memakai jubah mandinya. Tapi karena Risyella hanya asal memakainya saja, jadi Lingerie itu memang terlihat dengan jelas, apalagi setelah Vatler menyoroti senter di handphone nya kearahnya. "Bukannya kamu yang membelikannya?"
Vatler mengernyitkan matanya. "Aku memang beli pakaian untukmu untuk dipakai beberapa hari kedepan, tapi aku tidak pernah sekalipun memesan Lingerie itu." Jawabnya.
__ADS_1
"Tapi...aku tidak bawa pakaian, pakaian yang tadi sudah basah." Sahut Risyella.
'Jangan-jangan Ibu campur tangan lagi.' Tuding Vatler terhadap Ibunya. Meskipun, pikirannya memikirkan pasal Ibunya yang bisa berbuat seenak hati kepadanya, tapi sayangnya karena tatapan mata Vatler terus menerus tertuju kepada Risyella, Risyella pun berhasil dibuat salah tingkah sendiri.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah dia marah karena aku memakai ini, dan mengira aku menggodanya?' Risyella yang dilanda keresahan sebab tatapan Vatler yang begitu mengintimidasinya, membuat Risyella segera memperbaki jubah mandinya dengan mengikat kedua sisi jubah itu dan langsung menelusukan kedua tangannya kedalam saku. "A-aku akan pergi tidur."
Di saat hendak pergi, Vatler mencegatnya. "Tunggu. Ikut aku."
'Dia mau aku mengikutinya? Tapi aku ikut kemana?' Untuk membuang rasa penasarannya itu, Risyella terpaksa mengikuti lagi Vatler dari belakang, menuju lantai dua.
Lantai dimana Vatler seperti orang yang lebih berkuasa atas rumah itu, itulah mengapa Risyella memilih kamar tamu yang ada di lantai pertama.
Dan tujuan Vatler pergi adalah menuju ke kamar.
KLEK.
'Tunggu-tunggu, kenapa dia membuatku ikut kekamarnya? Dia mau apa?' Risyella semakin khawatir. Tapi itu ada diantara senang juga takut. Senang karena Vatler membawanya pergi ke kamarnya, tapi juga sedikit takut jika pria itu melakukan hal lain selain pembicaraan yang terdengar ambigu tadi.
Karena itulah, Risyella hanya berdiri di abang pintu saja.
Vatler yang mengetahui kecemasan diawajah Risyella itu hanya memilih diam.
"Apa kamu sudah makan?" Akhirnya Vatler bertanya untuk memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Sudah." Risyella jadi sengaja berbohong, karena dia tidak mau membuat pria itu cemas.
"Apa yang kamu masak?" Tanyanya lagi, sambil berkutat di depan lemari.
"Telor goreng."
"Hanya itu?"
"Aku hanya ingin yang simpel." Jawabnya lagi. Tapi setelah itu, suasana pun kembalii hening.
Sebagai orang yang tidak pandai membuat topik pembicaraan, Risyella hanya memilih diam lagi dan mencoba menunggu apa yang akan dilakukan Vatler kepadanya.
"Untuk malam ini pakai ini lebih dulu." Tiba-tiba Vatler sudah berdiri di depan Risyella sambil menyodorkan baju piyama miliknya kearah Risyella.
"Tapi itu kan punyamu?" Risyella memang mau-mau saja, tapi dia sengaja mengulur waktu agar tidak terkesan seperti sduah menunggu itu.
Vatler pun mengatupkan mulutnya, dan berbicara..
__ADS_1
"Kalau tidak mau ya su-"