Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
96 : IPHTV : Vatler di pegang.


__ADS_3

"Kemana Risyella? Harusnya kan ada denganmu?" Tanya Marlina lagi. Dia benar-benar menuntut agar Vatler bisa cepat-cepat menjawab.


Marlina menoleh ke arah kiri dan kanan, tidak terlihat adanya wanita yang dia kenal selain orang lain yang sedang berlalu lalang kesana kemari.


"Dimana dia?" Marlina mengernyitkan matanya tidak puas hati dengan Vatler yang ternyata baru saja kembali habis saja berkencan dengan wanita lain di belakang Risyella, sampai Risyella sendiri sekarang sudah tidak ada lagi.


"Aku akan mencarinya," Tanpa menjawan pertanyaan dari Ibunya itu, Vatler kembali pergi.


Tapi tangannya lagi-lagi di cegat agar tidak pergi, dan Ibunya adalah orang yang melakukan itu.


"Cari dia sampai ketemu, kalau tidak-" Sudut matanya berkerut, Marlina memberikan sorotan mata penuh ancaman kepada Vatler yang tidak becus itu.


"Aku mengerti." Jawab Vatler singkat.


Vatler sebenarnya tidak mengerti, kemapa Ibunya benar-benar terobsesi sekali dengan Risyella, padahal Risyella sendiri termasuk orang asing yang sengaja di pilih oleh Ibunya.


Tapi apa yang ada di depan matanya ini, Ibunya justru terlihat benar-benar mengkhawatirkan perempuan itu.


Dengan pelan, Vatler melepaskan cengkraman tangan milik Ibunya dari lengannya. "Aku akan mencarinya sampai ketemu, jadi Ibu tenang saja."


"Padahal kemarin baru di bilang agar menjaganya. Tapi belum apa-apa, kamu meninggalkannya begitu saja, hasilnya, dia menghilang kan?" Gerutu Marlina.


Vatler yang awalnya hendak bicara itu berakhir dengan menggatupkan mulutnya, dan berbalik pergi.


'Anak yang nakal memang harus di beri pelajaran.' Kata hati Marlina atas niat terselubungnya. Marlina merogoh saku bajunya dan menelopon seseorang. "Bagaimana?"


-"Semuanya sudah siap, Nyonya."-


"Bagus, lakukan dengan baik."


-"Baik, Nyonya."-

__ADS_1


Setelah panggilan itu berakhir, Marlina pun beranjak dari sana dengan senyuman tipis menghiasi bibir berhias lipstik berwarna merah.


_______________


"Dia lagi-lagi merepotkanku." Gerutu Vatler. Dia kembali lagi dibuat untuk melakukan hal menyusahhkan, karena seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Risyella yang notabene nya akan menjadi Istrinya kelak.


"Akhh....!" Suara teriakan itu muncul karena perosotan yang cukup tinggi itu berhasil membawa adrenalin si pemilik suara itu.


Vatler saat ini sedang berkeliling untuk mencari calon Istrinya yang menghilang?


Mana mungkin dia melakukan hal yang merepotkan itu.


Saat ini dia pergi menuju ke ruang pengawas, ruangan yang memonitor seluruh Cctv yang ada di seluruh area Waterpark.


KLEK....


Vatler tanpa basa basi lagi langsung membuka pintu yang ada papan peringatannya.


"Hei, apa kamu tidak bisa melihat papan peringatannya?" Seorang perempuan berambut coklat panjang dan di kuncir satu itu langsung beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Vatler.


"Aku melihatnya, memangnya kenapa?" Ketus Vatler. Ketika wanita itu berjalan darri sisi kanan, maka Vatler pun berjalan memutar dengan mengambil sisi kiri.


"Kalau melihatnya berarti apakah tidak tahu artinya kalau selain petugas di larang masuk?" Wajahnya menyiratkan kemarahannya, sebab Vatler justru terus berjalan santai masuk lebih dalam.


Karena itulah, wanita ini pun berlari dan langsung menggapai tangan Vatler untuk menghentikan pria itu untuk menghalangi pria itu berjalan lagi.


GREP....


Lantas Vatler pun melirik ke arah tangannya yang lagi-lagi di pegang oleh wanita?


"Sudah aku peringatkan, jangan masuk kesini." Tegas wanita ini terhadap Vatler yang terlihat tidak memilki sisi bersalah sebab masuk tanpa izin. "Pergi sebelum aku mengusirmu dengan cara kasar."

__ADS_1


"Vi-"


"Diam! Dia sembarangan masuk ke sini, harusnya kalian mengusirnya, bukan malah diam seperti patung!" Seru wanita ini kepada anak buahnya yang dari tadi terlihat tidak memiliki niat untuk membantunnya untuk mengusir penyusup itu.


'T-tapi dia bos kita loh. Dia sembarangan pegang tangan Bos, bagaimana ini. Jangan sampai karena Vina ini, kami semua jadi di pecat,' Batin pria ini, merasa segan untuk bericara lagi karena tatapan mata dari kepala pengawas, yaitu Vina itu sangatlah menusuk.


"Cepat pergi!" Vina menarik tangan Vatler agar pria itu keluar dari wilayahnya.


Tapi seakan sudah menempel dengan lantai, seberapa keras usaha Vina untuk mengusir dengan cara menyeret Vatler pergi keluar, hasinya sia-sia.


'Hahhh....hah....siapa orang ini? Di kakinya itu mana mungkin ada lem, tapi kenapa dia seberat ini?' Vina mencoba menariknya lagi. Tapi seperti yang dia dapati dari percobaannya yang pertama, Vina sama sekali tidak bisa membuat pria itu bergeser sedikitpun dari posisinya.


"Vin~" Salah satu orang yang ada di sana, mencoba memanggil Vina seperti sedang berbisik.


"Kamu...bantu aku bawa dia keluar!" Alhasil, Vina yang tadinya di panggil oleh salah satu anak buahnya itu, langsung menunjuknya untuk membantu dirinya mengusir Vatler dari sana.


"Tidak.." Jawabnya tanpa mengeluarkan suara, tapi dia juga membuat kode dengan menggunakan kedua tangannya agar membentuk tanda X.


"Nyalimu besar juga," Keterdiaman Vatler segera menghilang tepat setelah Vatler menarik tangannya dari cengkraman tangannya Vina.


"Apa?" Vina langsung menangkap kembali tangan itu.


GREP....


Vatler yang malas berdebat dengan wanita yang merepotkan itu, mengangkat tangan kanannya yang masih bebas itu untuk menunjuk ke sembilan orang yang masih berdiri di depan sana. "Kalian, cari wanita berjaket biru."


""W-wanita?" Tanya Vina tidak mengerti.


"Baik Tuan." Semua orang kecuali Vina yang sudah berdiri mematung itu membungkuk hormat, lalu kembali duduk di kursi untuk melakukan tugas mereka untuk mencari seorang wanita dengan berjaket biru?


Melihat semua anak buahnya Vina dengan menurut melaksanakan perintah dari Vatler, Vina pun melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Vatler sambil membatin, 'T-tuan? Siapa dia? Kenapa mereka memanggilnya Tuan?'

__ADS_1


__ADS_2