
"Turun," Perintah Marlina kepada Vatler.
"Sudahlah, jangan mengangguku lagi." Vatler yang sudah malas dengan ocehan dari Ibunya itu, langsung meringkuk di dalam selimut. Rasa gerah tentu saja langsung Vatler rasakan. Tapi apa pedulinya itu? Dia sedang tidak mau berdebat lagi, apalagi dengan Ibunya, itu adalah hal yang sangat Vatler coba hindari.
"Keluar, aku harus memeriks-"
"Ibu, jangan sekali-kalinya membuatku langsung emosi lebih dari ini." Tekan Vatler seraya mendelik tajam kearah Ibunya yang hendak memeriksa tubuhnya? 'Yang benar saja, apa Ibu tidak tahu privasi milik seorang pria itu apa? Menyebalkan.'Selalunya saja seperti ini.
Marlina yang akhirnya mendapatkan delikan tajam dari mata si pemilik wajah tembok es itu, lansgung mengurungkan niatnya.
"Uhmm...?" lenguh Risyella, dia yang merasakan posisinya sudah tidak nyaman lagi, segera mengganti posisi berbaringnya dengan miring ke arah kanan.
TUK...
Tiba-tiba tangannya yang tidak sengaja merasakan sesuatu yang hangat itu, Risyella yang masih dalam kondisi tidur antara sadar dan tidak sadar itu, langsung meraih apa yang barusan tangannya temukan, dan itu adalah tangan milik suaminya.
'Hangat.' Karena merasa kehangatan yang memang sedang Risyella butuhkan, maka Risyella tanpa sungkan lagi mengambil tangan milik suaminya itu untuk dia jadikan sebagai bantal peluk.
GREP..
"............!" Marlina yang melihat Risyella terkesan seperti menikmati tidur lelahnya dengan mendekap tanangan kanan Vatler, langsung membuat Marlina untuk menarik diri dari sana dan membiarkan Vatler dan Risyella bermesraan di dalam kamar.
Akan tetapi ketika sang Ibu sudha pergi karena memiliki pikan yang bukan-bukan, maka hal itu sama dengan Vatler yang dimana tangan kirinya saat ini tiba-tiba jadi merasakan panas serta rasa empuk yang cukup menyita pergatian Vatler untuk meliriknya.
Dan rupanya, setelah meliriknya, Vatler tentu saja sadar, kalau aset milik Risyella ternyata benar-benar menghimpit tangannya dengan cukup erat.
Tentu saja akan begitu, apalagi melihat Risyella saat ini memang sedang dalam konisi telanjang total, maka semua kontak fisik, jelas akan semakin terasa dan memang cukup nyata.
Dan kali ini yang dia rasakan adalah lengannya yang mendapatkan keempukan yang tidak pernah dia alami.
"A-igh.." Namun karena saat ini dia merasakan tubuh Risella benar-benar panas, apalagi saat melihat ekspresi tersiksa milik Risyella, juga melihat tanda-tanda dari rahangnya, Vatler pun tiba-tiba saja bangkit.
Vatler buru-buru melepaskan pelukan itu dan segera meraih sisi selimut, dimana kedua jari Vatler dia bungkus dengan selimut itu sebelum dia akhirnya memasukkannya kedalam mulutnya Risyella.
__ADS_1
"Ighhh...!" Tepat waktu.
Setelah memasukkan kedua jarinya yang terbungkus dengan selimut itu, Vatler langsung menerima gigitan yang cukup keras dari istrinya itu.
Itu sudah jelas, mengingat Risyella saat ini sedang dalam kondisi demam tinggi, maka secara tidak sadar, rahang Risyella langsung memulai aksinya untuk melakukan pekerjaannya.
Gemlatuk gigi yang sempat Vatler dengar tadi adalah tanda-tanda kalau Risyella akan segera menggertakkan giginya dengan kuat.
Namun demi menghindari lidahnya tergigit, maka Vatler dengan cekatan, mengorbankan kedua jarinya untuk di jadikan bahan gigitan dari giginya Risyella.
"Aingghh..." Risyella mengerutkan keningnya, dan kala itu gigitan milik Risyella pun semakin kuat, sampai Vatler sendiri sudah mendesis sakit.
"***...." Vatler tentu saja ikut mengernyitkan matanya, karena harus menahan rasa sakit itu. Namun yang jadi pertanyaannya, 'Dia akan seperti ini berapa lama?'
Vatler tentu saja akan terus bertahan di posisinya untuk menjaga lidah Risyella agar tidak tergigit sendiri.
*
*
*
"Hnghh...?" Risyella perlahan membuka matanya. Dia merasa sangat mengantuk berat, tapi sayangnya tenggrokannya sangat kering dan ingin minum. 'Tapi apa ini? Aku merasa ada yang penuh di mulutku?'
Setiap kali menggigit, maka ada dua hal yang dia rasakan. Keras juga empuk.
"Augh...ungh.." keluh Risyella, merasa terganggu dengan apa yang ada di dalam mulutnya.
Vatler yang tidak sengaja tertidur itu, kembali di buat bangun setelah mendengar protesan dari Risyella. Dan rupanya karena Risyella mulai menyadari dengan apa yang ada di dalam mulutnya itu.
Kedua jarinya, saat ini sudah benar-benar basah, sekalipun sudah di bungkus dengan kain selimut itu.
Perlahan Vatler menarik tangannya.
__ADS_1
"Aunghh..!" Tetapi, tiba-tiba Risyella kembali menggigitnya dengan keras, sampai tidak sengaja Vatler jadi mengeluarkan suara.
"Akh.." Vatler mengernyitkan dahinya.
"...........?!" Risyella yang tidak sengaja mendengar rintihan kecil yang cukup dekat itu, membuat Risyella mau tidak mau harus mencari tahu suara apa yang tadi Risyella dengar itu?
Ketika Risyella membuka matanya,-
"Apwha...inwhi?" Dengan mata yang masih terasa berat, Risyella mengajukan pertanyaan kenapa mulutnya tiba-tiba saja di sumpal?
Dhavin terdiam atas pertanyaan Risyella itu. Lalu segera menarik tangannya dari sana, sehingga saat ini mulut Risyella pun jadi bebas kembali, salah satunya bebas untuk kembali berbicara.
'Ngomong-ngomong, kenapa aku melihat Vatler tidak memakai baju? Oh ya...aku sendiri juga merasa ringan, seperti tidak memakai baju juga.' Risyella yang kembali memejamkan matanya, berusaha meraba tubuhnya. Hingga dia tidak sengaja merasakan dadanya sendiri tidak terhalang oleh apapun?
Sontak Risyella mencoba membuka matanya lagi, dan membuka sedikit selimutnya, yang ternyata dirinya tidak memakai apapun?
'Sudahlah, ini juga menyenangkan, aku telanjang di samping suamiku sendiri. Itulah yang aku senangi.' Tanpa terkejut atau apapun, Risyella segera menyelimuti tubuhnya lagi yang terasa dingin. Ah...itu lebih dingin, seakan dirinya berada di kawasan kutub.
'Aku kira dia akan terkejut. Tapi apa ini? Mulutnya tetap saja berdarah, apa gusinya bengkak? Lecet?' Vatler puun memperhatikan selimut yang tadi sempat di gunakan untuk membungkus kedua jarinya, dan saat ini selimut itu sedikit ada noda darah.
Vatle kembali memperhatikan Risyella yang kembali tertidur dan lebih meringkuk, karena tubuhnya sedang kedinginan.
"..........." Tidak mau tahu lagi, Vatler beranjak dari tempat tidur, dan memakai pakaiannya lagi, lalu pergi keluar.
KLEK...
Brak..
Setelah pintu tertutup, Risyella kembali membuka matanya. 'Dia yang menolongku agar lidahku tidak tergigit?' Pikir Risyella.
Saat ini rasa dari gusinya terasa ngilu dan cukup sakit juga.
'Tapi gusiku bnar-benar sait. Seberapa kuat saat aku mengiit jarinya itu?' benak hati Risyella. Dia tidak sadar apa yang terjadi apda tubuhnya, karena tiba-tiba jadi demam, tapi yang pasti, jika setiap kali demamnya cukup tinggi dan tidak berangsur-angsur turun, maka saat Risyella tidur, dia tentu saja tanpa sadar akan menggertakkan gigirnya.
__ADS_1
Meskipun begitu, saat ini tentu saja adanya berbeda. Sebab kali ini ada yang membantu daripada lidahnya terkena gigitannya sendiri, dan orang itu adalah Vatler.
Pria yang kemarin melakukan banyak perkara dengannya, saat ini berubah menjadi seorang malaikat lagi.