Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
128 : IPHTV : Pertemuan di bawah hujan.


__ADS_3

KRUYUKK…


“Akh…..” Di sisi lain, Risyella langsung berjongkok sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena, “Lapar! Aku ingin makan! Kemana suami tampanku itu pergi sih! Ini sudah lebih dari dua jam, dan dia belum kunjung kembali. Lalu sekarang, aku sedang kelaparan. Rasanya aku ingin mati kelaparan.” Racau Risyella di tengah-tengah pergulatan hati, pikiran, dan perutnya yang ternyata sudah minta untuk di isi lagi, padahal belum lama ini dia baru saja makan sampai kekenyangan, tapi dalam sekejap perutnya sudah meronta ingin di isi lagi.


Setelah berjalan selama itu, Risyella akhirnya sudah sampai didepan sebuah Villa yang terlihat horor. 


‘Apa benar, itu Villa milik Vatler? Mungkin saja kan di ujung sana ada Villa yang lain. Bagaimana aku memutuskannya?’ Benak hati Risyella. Dia mendongak ke atas, dan terlihatlah langit malam sudah datang dan di hiasi dengan taburan bintang?


Awalnya memang seperti itu, akan tetapi dalam sepuluh menit kemudian, gumpalan awal hitam akhirnya datang juga dan menghalangi pesona dari langit malam yang terlihat indah itu. 


Dan …


Tes..


“Hm?” Satu tetes air tiba-tiba saja mendarat di dahinya. “Hei.. ayolah, masa hujan.” Gerutu Risyella, merasa tidak puas hati, sebab tak lama kemudian, tempat dimana dia saat ini berada akhirnya..


ZRASSHH…..


Hujan pun berhasil mengguyur tempat itu, dan di saat yang sama pula, hujan itu juga membasahi tubuh Risyella yang masih terbalut dengan gaun pengantin. 


“Hahahha….kenapa hal seperti ini jadi terjadi kepadaku? Padahal ini hari pertama pernikahanku, Tapi kenapa…yang ada aku jadi sendirian berdiri di bawah hujan seperti ini?” Risyella yang sudah lelah pun duduk di atas batu besar yang di mana separuh dari batu itu tertanam di bawah tanah, dan selagi itu pula Risyella mendongak ke atas, membuat wajah yang awalnya di make up itu, perlahan luntur juga. 


Air hujan yang datang menerjang wajahnya pun seakan jadi pemijat wajahnya yang lelah untuk terus tegar dalam sebuah senyuman cantiknya. 


“Vatler…dimana kamu?” Risyella menutup matanya. Dia sangat berharap kalau tidak lama lagi suaminya itu bisa kembali ke sisinya. 


Dia benar-benar tidak ingin sendirian di tempat gelap dan duduk di depan Villa yang terlihat horor itu. 


Ya…Risyella juga punya rasa takut sendiri. Tapi sayangnya rasa takut dan perasaan miliknya itu lebih sering Risyella pendam untuk dirinya sendiri. 


ZRASSHH….


“Ini malam pernikahan yang menyedihkan ya?” Lirih Risyella, perlahan genangan dari air mata yang sebenarnya dari tadi Risyella bendung, akhirnya pecah juga. 


Mana air mata dan mana itu air hujan, Risyella sendiri sudah tidak tahu lagi. 

__ADS_1


“Hiks…aku takut. Kenapa dia beraninya meninggalkanku seperti ini?” Karena tak kuat menahan sakit diperutnya gaa-gara kondisi lingkungannya yang menakutkan sebab gelap itu, Risyella pun mengangkat kedua kakinya dan menekuknya untuk dia peluk dalam pelukannya sendiri. ‘Coba saja ada bantal, perutku pasti tidak akan cenut-cenut seperti ini.’ Pikirnya. 


Di kala Risyella sedang menahan sakit di bawah tekanan kesedihannya sendiri, maka di satu sisi lain…


__________


TIN…! TIN…!


Suara klakson itu terus menyeruak mengisi keributan dari jalanan pusat kota A yang terlampau cukup padat, gara-gara adanya saha satu lampu lalu lintas yang mati, dan akhirnya menyebabkan malam yang dingin karena hujan itu menjadi kian mecekam. 


TIN…!


Dan diantara ribuan kendaraan yang mengantri itu, Vatler sudah duduk terus menunggu gilirannya untuk jalan. 


‘Kenapa pakai macet segala? Kalau seperti ini, jelas aku akan lebih terlambat. Bagaimana dengan Risyella? Karena aku tadi sibuk, aku tidak menyadari kalau dia menghubungiku, dan di saat aku menghubunginya balik, nomornya sudah tidak aktif lagi.’ Vatler pun sedari tadi terus menatap layar hanphone nya, dimana sederetan panggilan tidak terjawab terpampang jelas di sana, dan hanya satu orang saja yang dalam waktu itu terus menerus meneleponnya. ‘Kenapa aku jadi gelisah seperti ini?’ 


Sudut matanya melirik ke arah samping kanan, dimana di trotoar, ada banyak orang berlalu lalang membawa payung dan berjalan lebih cepat dari biasanya. 


“Sayang, ini dingin ya? Tapi aku suka, karena hujan seperti ini, kita jadi sepayung berdua.” Ungkap wanita berpakaian tebal ini kepada kekasihnya yang sedang dia gandeng, dan berjalan bersama di bawah payung bersama. 


Tidak hanya mereka berdua saja yang menjadi tontonan untuk Vatler yang ada dalam kegalauannya. Tapi ada beberapa pasang kekasih lainnya yang berjalan bersama melewati mobilnya. Dan Vatler hanya bisa memandanginya saja. 


“Lelah.” Gumam Vatler, seraya meletakkan kepalanya di atas stir mobil. 


Sekalipun dirinya berada di dalam mobil, dan sedirian pula, akan tetapi pikirannya tetap saja tertuju pada bagaimanakah keadaan Risyella sekarang?


Semua pikiran itu tidak ada henti-hentinya terlintas di dalam kepalanya. 


‘Jangan lama-lama ya?’


Kata-kata itu pun terus terngiang. Risyella menyuruhnya agar tidak pergi telalu lama, akan tetapi dirinya kembali mengingkari janji dengan seorang wanita, dan itu adalah Istrinya. 


Rasa bersalah pun mendatanginya.


TINN..! TINN…!

__ADS_1


Suara klakson itu tidak ada hentinya untuk mengisi kebisingan di jalanan kota yang penuh sesak itu.


Sampailah dimana sepuluh menit kemudian, mobil Vatler akhirnya mampu melaju lagi. 


*


*


*


Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh menit, Vatler kembali sampai di titik terakhir di mana dia meninggalkan istrinya itu. 


Vatler sempat berhenti sebentar, dan mencoba mencarinya. 


‘Dia benar-benar sudah pergi dari sini?’ padahal Vatler ada sedikit pikiran kalau Risyella akan menunggunya di tempat yang sama, akan tetapi semua pikiran itu salah. 


‘Siapa juga yang mau menunggunya di tengah jalan sampai malam seperti ini?’ karena sudah di pastikan kalau Risyella sudah pergi dari sana, Vatler pun kembali menjalankan mobilnya. 


BRRMMM….


Di tengah jalanan yang gelap dan sepi, mobil Vatler yang melintas adalah satu-satunya hal yang memiliki cahaya untuk menerangi jalan. 


Tapi bagaimanakah dengan Risyella?


Mengingat jarak antaa posisi awal menuju Villa rumahnya sebenarnya cukup jauh, maka dapat di pastikan untuk sampai kesana, Risyella akan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan. 


Karena itulah, apakah istrinya itu berjalan di dalam kegelapan seperti ini? 


ZRASSHHH…..


Hujan masih saja mengguyur, dan derasnya hujan itu, pandangan Vatler untuk melihat ke arah depan pun jadi lumayan terbatas. 


Meskipun begitu, Vatler tetap saja menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, semua itu agad dia cepat sampai ke tujuan.


Sampai…

__ADS_1


“Dia?!” kata Vatler tiba-tiba saja membelalakkan kedua matanya, ketika dia dikejutkan dengan sosoknya seseorang yang berdiri tepat di tengah jalan, dan menghalangi jalannya. 


__ADS_2