Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
153 : IPHTV : Mual


__ADS_3

Vatler bersama dengan pelayannya yang ada di belakangnya persis, buru-buru berlari menuju kamar yang terletak di lantai dua.


KLEK...


Vatler membuka kamarnya dan menemukkan Risyella masih berada di lantai dengan kondisi ...


"Huekk..."


'Bodoh sekali kamu, seharusnya aku membawanya langsung ke rumah sakit setelah dahinya itu di jahit. Tapi karena aku egois gara-gara aku memang lelah, aku jadi membiarkan dia sampai seperti itu.' Dengan mulut terdiam itu, Vatler membantu Risyella untuk segera berdiri. "Ayo, kita ke rumah sakit."


"Eh, tidak usah. Aku hanya merasa mual gara-gara mabuk udara tadi." Tolak Risyella, merasa enggan untuk pergi ke rumah sakit. Apalagi untuk berjalan, dan mengarungi jalanan panjang untuk ke rumah sakit, semua itu rasanya cukup enggan untuk Risyella lakukan.


Tubuhnya lelah, tapi yang lebih penting lagi adalah kepalanya cukup sakit.


"Nyonya, jangan menolaknya. Ini cukup perbahaya jika di biarkan saja." Kata pelayan pertama, mencoba membujuk Risyella agar ikut pergi ke rumah sakit dengan Vatler.


"Tapi aku malas pergi. Semuanya terasa ja-. Huekk."


"Kalau kamu seperti ini, siapa yang akan susah? Tidak ada kata menolak, ayo ke rumah sakit." Tekan Vatler, merasa ingin sekali meletakkan Risyella ke dalam koper dan langsung Vatler bawa pergi ke rumah sakit saat itu juga, agar tidak berisik.


Tapi sayangnya dia tidak mungkin akan melakukannya juga.


"Aku malas pergi jauh-jauh. Perutku itu mulas, dan rasanya ingin muntah terus." lIrih Risyella. Dia benar-benar inginnya bisa beristirahat saja tanpa pergi jauh-juah.


Merasa geram dengan sifat Risyella yang ternyata cukup keras kepala, Vatler menarik tangan Risyella agar berdiri, tapi Risyella ternyata tidak mau berdiri juga.


"Ris-" Delik Vatler.


"Aku sudah lengket dengan lantai. Dan aku- masih takut." Jawab Risyella atas penolakan dari dirinya yang tidak bisa berdiri itu karena kakinya sudah kembali lemas, apalagi setelah membereskan semua dekorasi yang sesaat tadi sempat menghiasi kamar milik mereka berdua.


"Mau bagaimanapun di rumah sakit lah yang peralatannya lengkap, anda harus segera di periksa, karena anda baru saja mengalami benturan di kepala kan? Jadi ikut saja, jangan buat Nyonya besar marah kepada kami semua karena anda tidak mau ke rumah sakit."


DEG...!

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari satu orang pelayan yang dari tadi ada di depannya itu, Risyella tiba-tiba saja seperti baru saja mendapatkan satu tuntutan yang lain, yaitu agar tidak melibatkan banyak orang lagi, karena keras kepala yang Risyella miliki itu.


Sampai Vatler sendiri jadi tidak bisa berkata apapun, karena semua ucapannya seakan sudah di wakilkan oleh pelayan itu.


"Baiklah, aku pergi." Gerutu Risyella.


Kedua pelayan itu tentu saja langsung tersenyum cerah, karena mereka tidak akan mendapatkan hukuman dari majikannya yang asli.


"Ayo." Vatler tiba-tiba berjongkok dan memberikan punggungnya.


"Tanganku kotor." lagi-lagi menolak karena tidak sesuai dengan kondisinya yang tangannya memang kebetulan masih kotor karena muntahannya sendiri.


Karena itu, salah satu pelayan tadi segera pergi menuju kamar mandi, mengambil sebuah wadah untuk di isi dengan air bersih dan kembali dengan sebuah handuk juga.


Risyella mencuci tangan di wadah itu, dan mengeringkan tangannya dengan handuk. Barulah, setelah dirasa bersih, walau tidak begitu bersih juga sebab tidak menggunakan sabun sebagai aturan dasar milik Risyella kalau mencuci tangan, maka Risyella pun akhirnya mau di gendong oleh Vatler di belakang punggungnya yang ternyata cukup lebar.


GREP..


*


*


*


Di dalam mobil.


"Apa saja yang kamu rasakan?"


"Mual dan sakit kepala, tentu saja sakit di dahi ini." Risyella yang selalunya penasaran dengan lukanya sendiri, lagi-lagi menyentuhnya lagi.


Sakit iya, gatal juga iya, tapi karena yang dominan adalah ke arah rasa sakit yang tidak karuan itu, Risyella pun hanya memejamkan matanya sambil menikmati sensasi sakit yang lumayan.


"Jangan di sentuh terus." Vatler mencengkram pergelangan tangan Risyella agar tidak menyentuh dahinya terus.

__ADS_1


"Kenapa? Ini kan luka ku." Lirik Risyella, tiba-tiba merasa tidak suka dengan tindakan Vatler yang terlihat perhatian?


Risyella tidak ingin terbuai dalam sebuah harapan lagi. Jadi setidaknya dia harus hati-hati dalam menanggapi apa yang Vatler lakukan kepadanya.


Vatler tiba-tiba melepaskannya, merasa Risyella terihat seperti sedang menikmati luka yang ada di dahinya sendiri?


'Dia memang aneh. Tapi aku kenapa juga jadi merasa simpati kepadanya?' Pikirnya, dia perlahan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang di rasakan di dalam dadanya itu.


Kadang jengkel, tapi juga merasa kasihan juga, semuanya bercampur aduk seperti es campur.


'Dia orang yang aneh juga, tampangnya memang seperti orang yang bisa meledak kapan saja, tapi dia selalu menaruh perhatian di saat-saat tertentu.


Yah...ujung-ujungnya juga karena Ibunya. Jika bukan karena dia di awasi oleh Ibunya, tidak mungkin dia akan bersikap terlalu baik seperti ini kan? Lihat saja matanya, dia terkesan selalu waspada.


Ah..sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir lagi. Rasanya kepalaku mau meledak saja, karena rasanya sakit. Ya..rasanya-' Tiba-tiba saja pandangannya jadi terlihat kabur.


Bahkan untuk melihat di jarak dekat, seperti untuk melihat ke arah suaminya yang ada di sampingnya, lama-kelamaan pandangan matanya jadi benar-benar kabur, samar.


Risyella mengerjapkan matanya, dan mengucek-ucek matanya agar kali saja bisa kembali melihat dengan jelas.


Akan tetapi semuannya gagal. Risyella pun jadi panik.


"Vatler, aku tidak buta kan?"


"Apa?! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit." Jawab Vatler dengan cepat.


"Tapi..tapi-" Risylla yang takut itu, tiba-tiba saja memegang lengan Vatler. Dia tidak mau pria itu pergi dari hadapannya, lalu kembali menjawab. "Pandanganku jadi makin kabur, tidak...aku tidak mau buta." Racau Risyella, dengan air mata sudah mengalir membanjiri wajahnya. "Vatler, aku tidak mau buta."


"Tenang dulu, jangan panik seperti itu kenapa. Dan jangan ganggu aku dulu yang sedang menyetir." Balas Vatler, membuat Risyella yang takut dengan semua suasana yang terasa runyam itu, akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Vatler.


Risyella jadi ketakutan sendiri jika mengingat dirinya bisa saja jadi buta, dan awal dari serangan itu tentu saa seperti sekarang, dia pandangannya terus kabur, dan kepalanya kembali terasa sakit, di sampi itu tengkuknya juga sama-sama sakit.


'Tidak, aku tidak mau mengalami semua itu. Lebih baik aku di rumah saja, karena setiap kali pergi, aku pasti mengalami banyak hal. Seperti sebelum aku menikah dengannya, aku sering mendapatkan kejadian yang ngeri.' Pikiran Risyella yang makin kacau itu pun anehnya jadi menambah kecemasan Vatler yang masih sibuk untuk menyetir mobil.

__ADS_1


__ADS_2