Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
136 : IPHTV : Gagal dibohongi


__ADS_3

"Jika kamu masih memikirkan surat kontrak itu, isi surat kontrak itu sebenarnya bisa aku rubah, dan bukannya kamu belum menulis syaratmu di dalam sana?" Kata Vatler, membujuk Risyella.


Tok...tok....tok....


Tapi setelah diberitahu seperti itu, Risyella tetap saja tidak merespon jawabannya.


'Padahal aku memberinya tiga kesempatan untuk dia agar mengisi keinginan yang ada di dalam kontrak itu, kenapa dia tidak tergiur dengan itu? Padahal dengan begitu, dia bisa saja mengisinya untuk memerasku. Dia ini...selalu saja membuatku kerepotan.' Pikirnya. Dia pun menatap pintu kamar mandi itu dengan tajam.


SPALSH...


"...........!" Sampai tiba-tiba saja Vatler mendengar suara air yang terdengar seperti air yang luber? 'Jangan bilang dia melakukan hal konyol.'


Sayangnya demi mencari tahu alasan Istrinya itu tidak kunjung keluar setelah di tawari tiga permintaan ataupun syarat yang belum Risyella isi, Vatler pun membuka pintu kamar mandi.


KLEK....


Lalu apa yang dilihatnya?


BRAK...


Vatler membuka pintu itu lebih lebar dengan cukup kasar, sampai menimbulkan suara yang cukup keras, dan dia pun berlari masuk kedalam kamar mandi untuk menilik apa yang ada di balik tirai?


SRAKK.....


"............!" Sepasang mata Vatler membulat sempurna, saat melihat Risyella ternyata sedang berendam di bathtup dengan air panas serta air dingin masih di buka dengan air yang keluar itu cukup kecil, sehingga air yang luber itu tidak begitu terdengar, dan apa yang di lakukan oleh Risyella itu adalah untuk mengganti air hangat yang mendingin itu dengan air baru, sehingga suhu air untuk Risyella gunakan berendam pun cukup.


Namun bukan itulah masalahnya, yang menjadi pusat perhatiannya adalah, seberapa Risyella berendam?

__ADS_1


"Risyella..." Vatler menepuk wajah Risyella yang terlihat seperti tertidur, akan tetapi yang pasti adalah wajah dari Risyella sangatlah pucat, apalagi di tambah dengan bibir yang terlihat kering dan membiru? 'Kenapa dia selalu saja membuat aku repot! Risyella ini-'


Karena membangunkan Risyella saja tetap tidak membuahkan hasil, dia pun langsung mengeluarkan tubuh Risyella keluar dari bathtup.


Mengangkat tubuh polos yang benar-benar sudah memperlihatkan segala sisi yang Risyella miliki itu tidak membuat pria ini tergoda sama sekali. Dia mengambil handuk kimono yang tersampir di wastafel lalu membawa Risyella keluar dari kamar mandi.


"Dia ini, sudah berapa lama dia berendam?" Vatler mengangkat tangan Risyella yang saat ini sudah dia baringkan di atas tempat tidur. Terlihat cukup jelas, tangan Risyella sudah cukup keriput, yang artinya itu lebih dari dua jam lamanya, atau...'Semalaman?'


PLUK...


Vatler langsung melepaskan tangan Risyella yang tadi dia genggam itu begitu saja.


Dia sedang berpikir pada satu pikiran yang sempat dia dapatkan tadi, kalau Risyella berendam di dalam air dalam waktu yang lama?!


Mengingat Risyella tidak merespon segala gangguan yang Vatler buat kepadanya, maka saat ini Vatler pun mencemaskan satu hal, kalau...


KLEK....


Siapa itu?


"Vatler...Risyella, apakah kalian berdua masih dirumah?"


'Ibu?! Kenapa Ibu bisa datang kesini? Kalau sampai Ibu tahu Risyella sedang kenapa-napa, apa jadinya nanti?' Vatler yang sebenarnya takut akan ketahuan jika Risyella saat ini sedang sakit, dan apalagi tidak sedang dalam kondisi tidak sadar, membuat Vatler harus putar otak lebih cepat.


Dan sayangnya, mengingat sang Ibu adalah orang yang suka hati masuk ke dalam kamar siapaun tanpa peduli apa yang akan terjadi, Vatler pun hanya tercetus satu ide paling konyol di dunia. Karena hanya ada satu saja yang dia pikirkan saat itu juga yaitu..


Vatler tanpa pikir panjang itu, langsung melepas bajunya yang memang sudah terkena keringat dan membuangnya ke lantai, hingga akhirnya dia saat ini sudah bertelanjang dada.

__ADS_1


Selepas itu, Vatler dengan buru-buru pergi naik ke atas tempat tidur, berbaring di bawah selimut putih tebal dalam posisi tengkurap, maka hasilnya...


Marlina yang tiba-tiba saja datang tanpa memberitahu dulu itu membuka satu persatu kamar yang ada di rumah milik anaknya itu, tujuannya agar dia bisa memergoki anaknya, apakah melakukan hal baik setelah melewati malam pertama atau tidak.


KLEK.


Dan Marlina setelah membuka segala pintu kamar, dia akhirnya membuka satu pinntu kamar yang letaknya ada di depan ruang makan persis.


Rupanya apa yang ingin dia lihat, bisa terwujud juga. 'Yehh...Jadi anakku sudah berhasil melewati malam pertamanya dengan Risyella dengan baik?' Pikir Marlina.


Tapi bukan Marlina namanya, jika langsung percaya begitu saja dengan pemandangan dua orang yang saat ini sedang tidur bersama di tempat tidur itu.


'Apa yang Ibu lakukan? Apakah dia mau masuk kedalam kamar anaknya sendiri?' Vatler sedikit cemas dengan keberadaan dari sang Ibu yang berani masuk kedalam kamar.


Ketika Marlina masuk, dia memang melihat kedua anak yang baru menikah kemarin itu sedang tertidur, tapi apa jadinya ketika Marlina tidak melihat adanya bekas tanda yang biasanya di buat oleh seorang pria pada wanita yang di tidurinya?


"Vatler..." Panggil Marlina, kepada anaknya yang berbaring dalam kondisi telungkup itu. "Jangan pura-pura tidur, aku tahu kamu dengar Ibu memanggilmu kan?" Tanya Marlina, menuntut. "Vatler." tekan Marlina.


"..............." Vatler pun balik badan, sehingga dalam posisi terlentang, lalu miring ke arah kiri, yaitu menghadap ke arah Risyella, yang saat ini wajah dari Istrinya itu benar-benar cukup tenang. "Kenapa Ibu tiba-tiba datang?"


"Kamu bertanya kenapa? Ibu tentu saja harus memeriksa apakah kamu melakukan hal baik atau tidak di malam pertamamu dengan Risyella."


"Memangnya apa yang Ibu harapkan dari kami berdua. Kita berdua lelah, sebaknya Ibu keluar dari kamar ini." Kata Vatler.


"Lelah apa? Jika malam pertamamu memang meakukan itu dengan Risyella, bukannya kamu harusnya membuat tanda di tubuhnya?"


Vatler langsung mengusap wajahnya dengan kasar, "Memangnya aku harus melakukan hal seperti itu ketika aku hanya tinggal menembusnya saja?

__ADS_1


"A-apa?" Marlina terkesan dengan jawaban milik Vatler yang cukup memukau, "Menembusnya? Ternyata kamu yang pintar itu ternyata bisa bodoh ya? Mana ada yang seperti itu, jika langsung masuk begitu saja, itu namanya penyiksaan untuk Risyella. Kamu memang benar-benar tidak melakukannya kan? Secara jika melakukan malam pertama dengan benar, harusnya tidak bilang seperti itu." Cibir Marlina terhadap anaknya itu.


'Ketahuan. Dari mana sih Ibu bisa punya sikap seperti ini?' Benak hati Vatler, merasa tidak benar karena semuanya benar-benar salah, dan yang disalahkan selalu dirinya.


__ADS_2