Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
171 : IPHTV : Akhir dari harapan.


__ADS_3

Mendengar Arfiy mengutarakan sesuatu yang memang sedang di harapkan oleh Vatler sendiri, Vatler dan Arshel jadinya sama-sama menatap Arfiy secara bersamaan.


"A-ayah..hei Ayah! Jangan menatap dengan tatapan mata seperti itu!" Protes Arshel saat melihat tatapan mata milik Ayahnya kian sendu, dan perlahan menutup matanya?


Tapi Vatler yang tidak menggubris ucapan dari rasa protes Arshel hanya bisa memberikan senyuman lembut kepadanya, sampai akhirnya mulut itu mengutarakan sesuatu tanpa sebuah suara, sebelum Vatler pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir.


Dan tangan yang hendak meraih wajah satu-satu anaknya yang tersisa itu pun tidak bisa Vatler raih.


"Ayah! Hei! Ayah! Bangun! Ayah dengar aku kan! Cepat bangun Ayah bodoh! Masa Ayah mati seperti ini!" Racau Arshel, menambah ketakutan yang terjadi pada diri Arfiy karena melihat Arshel yang sedang memarahi Ayahnya sendiri.


Arshel teru menepuk wajah Vatler dan sedikit mengguncang lengan sang Ayah, sebab Arshel benar-benar tidak terima dengan Ayah nya itu yang dengan begitu mudahnya juga meninggalkannya?


Tapi karena usahanya itu tidak membuahkan hasil, Arshel pun akhirnya terdiam.


"T-tuan mu-" Arfiy yang awalnya hendak mencoba memanggil Arshel, tiba-tiba langsung di berikan tatapan mata Arshel yang cukup sengit itu.


"Jangan memanggilku! Kau tidak layak ada di sini, apalagi menggantikan adikku yang mati, apa kau mengerti!" Bentak Arshel.


Meskipun saat ini Arfiy benar-benar punya penampilan yang sama persis dengan Risya, Arshel tetap berusaha menilai pada satu kenyataan kalau Risya sudah tidak ada di dunia ini lagi, dan tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikannya.


'Ayah- Dia juga seenaknya meninggalkanku?' Arsehal yang tiba-tiba terdiam dengan sorotan mata penuh amarah.


Dia menatap Arfiy dengan tatapan bengis, karena dengan adanya wajah yang mirip dengan Risya sekaligus Ibu nya itu, membuat Arshel sendiri semakin tidak suka, karena mereka berdua itu sudah pergi meninggalkannya, dan sekarang sang Ayah pula.


'Jadi aku benar-benar sendirian ya? Kalian sudah berani meninggalkanku sendirian seperti ini? Kenapa aku harus punya keluarga yang seperti ini? Kalau saja Ayah tidak melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang Ayah lakukan waktu Ibu masih ada, tidak mungkin Risya meninggalkan kita.


Semua ini pada akhirnya yang tetap paling bersalah adalah Ayah.


Ayah kunci dari semua masalah ini. Sudahlah, aku tidak peduli lagi. Jika Ayah memang menyesal dengan apa yang dia lakukan selama ini, aku hanya bisa berharap kalau Ayah bisa kembali memutar waktu, memperbaiki hubungan Ayah dengan Ibu, agar aku dan Risya tetap ada, dan agar tidak punya keluarga seperti ini.' Pikir Arshel.


Tanpa memperdulikan Arfiy yang sudah mengeluarkan air matanya karena bentakan dari Arshel, Arshel memutuskan untuk mengambil pistol milik Ayah nya lalu berdiri dan mempersiapkan dirinya untuk membalaskan dendamnya karena membuat Ayah nya meninggal di depan matanya, di saat hati sang Ayah sedang dalam keadaan dilema, sebab dia ditinggal oleh dua perempuan yang ternyata Ayah sayangi.


Sedangkan Vatler, yang sebenarnya masih memiliki sedikit kesadaran, melihat anaknya itu berani mengambil senjatanya.


Bahkan terlihat jelas kalau Arshel seperti sudah berpengalaman, dalam memegang pistol.


'Arshel, kamu seharusnya lari saja. Bukan melawannya.' Pikir Vatler.


Dan dia benar-benar melihat Arshel sudah berdiri dengan memegang pistolnya. Berdiri memunggunginya, dan berkata : "Aku tidak tahu Ayah masih bisa mendengar ucapanku atau tidak. Tapi jika Ayah memang menyesal dengan semua keadaan di keluarga yang Ayah bangun dengan Ibu, aku harap Ayah bisa kembali memutar waktu, dan memperbaiki hubungan dengan Ibu."


Mendengar hal itu, pandangan Vatler yang kian kabur itu, tetap membawa sebuah kecemasan pada satu-satunya anak yang tersisa itu, karena akan menghadapi musuhnya sendirian?


"T-tuan? Tuan?" Arfiy yang masih menangis dalam diam itu, mencoba membangunkan Vatler, tapi semua itu adalah usaha yang sia-sia.

__ADS_1


Sebab apapun yang terjadi, jika tembakan sudah mengenai dada sebelah kiri, maka sudah pasti yang menjadi korban langsung membawa nyawanya ke alam lain.


Maka dari itu, Arfiy yang merasa bersimpati pada takdir dari pria yang tergeletak di depannya itu, tiba-tiba meletakkan telapak tangannya di atas sepasang mata Vatler yang sudah terpejam itu, lalu berbisik lih. "Semoga harapan Tuan Vatler dan Tuan Arshel, bisa di kabulkan."


'Arshel, Risya, dan Risyella?' Dan kesadaran milik Vatler yang tersisa sedikit itu pun akhirnya menghilang bersama dengan hati yang membawa sebuah kasih sayang untuk ketiga nama yang barusan dia sebutkan dalam benaknya.


DORR...!


"Keluarlah!" Teriak Arshel dengan pistol sudah siap untuk di gunakan dalam percobaan balas dendam nya.


'Ah..semoga, apa yang kamu katakan benar. Bisa kembali mengulang waktu.' Batin Vatler, dan akhirnya tangan milik Vatler pun terkulai lemas, jatuh ke atas pasir.


Yang menandakan dia membawa jiwanya ke tempat lain, menyusul kedua orang yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


___________________


Gelap adalah sesuatu yang membuatmu tidak bisa melihat apapun.


Itulah yang di yakini banyak orang jika sudah terjebak di dalam kegelapan.


Dan kegelapan itu sendiri, berdampingan dengan nuansa yang dingin.


"Bukannya aku sudah mati?" Vatler mencoba merotasikan arah pandangannya ke segala arah.


Kegelapan yang tidak bertahan lama itu, membawa Vatler menemukan sebuah cahaya yang tiba-tiba saja muncul tepat di belakangnya.


"Vatler."


"Risyella?" Hanya dengan mendengar suara yang sudah sangat lama tidak Vatler dengar itu, Vatler segera memutar tubuhnya ke belakang.


Betapa terkejutnya saat Vatler melihat wanita yang sudah lama meninggalkannya, sekarang berdiri dengan penampilan tubuh berbalut dengan gaun pengantin.


Satu langkah yang Risyella buat itu membawa Risyella mengambil sedikit demi sedikit jarak yang memisahkan mereka berdua selama ini.


Dan kian waktu berlalu, jarak diantara mereka berdua kian menghilang.


"Risyella, kenapa kamu disini? Dan gaun itu?" Vatler yang biasanya bertingkah dengan ekspresi dingin, berubah seperti orang bodoh yang ingin tahu segalanya.


"Akulah yang harusnya bertanya kepadamu, kenapa kamu disini? Bukankah kamu seharusnya menemani anak kita, Arshel itu?" Tanya balik Risyella.


"Aku-"


Risyella sempat menghela nafas dengan kasar, karena sebenarnya dia tahu apa yang sudah terjadi pada pria yang merupakan suaminya itu.

__ADS_1


Vatler, suaminya itu mati karena tertembak.


"Bisa-bisanya kamu yang biasanya waspada, jadi lengah seperti itu. Kan Arshel jadi sendirian." Protes Risyella kepada Vatler.


Vatler jadi terdiam, karena dia sama sekali tidak tahu, bahwa Risyella bisa memarahinya dengan kata-kata serta ekspresi yang sama sekali tidak pernah Vatler lihat sebelumnya.


"Tapi-" Kelopak mata Risyella terkulai, dia sangat kasihan karena Arshel akhirnya di tinggal sendirian seperti itu. "Arshel ternyata punya harapan denganmu, agar hubungan kita berdua diperbaiki, agar mereka tidak terkena imbas dari pernikahan kita."


Dan tentu saja Risyella tahu harapan apa yang di inginkan oleh kedua pria ini, Vatler dan satu lagi yang masih hidup itu, Arshel.


"Apakah kamu yakin? Mau memperbaiki hubungan denganku? Atau lebih baik jika kamu berhubungan dengan wanita lain saja, setidaknya aku jadi tidak akan meninggal dengan sia-sia.


Bagaimana mengatakannya ya?" Tanya Risyella sambil memejamkan matanya untuk berpikir sejenakl.


Risyella yang masih memimpin percakapan itu, kembali berkata : "Aku sudah susah payah bisa dihamili olehmu, mengandung anakmu sampai delapan bulan tanpa di temani olehmu, bahkan saat aku melahirkannya kamu sama sekali tidak datang, dan sampai melahirkannya pun ternyata aku akhirnya meninggal.


Lalu tugasmu yang hanya membesarkannya, malah membuat Risya meninggal juga.


Apa kamu tidak tahu betapa melelahkan nya karena kamu selalu meninggalkanku dengan alasan kerja? Apalagi Risya yang hanya punya dirimu seorang?"


Rentetan dari segala pertanyaan itu pun menghujani Vatler yang benar-benar dalam posisi paling salah.


Karena keegoisannya, dua orang terdekatnya jadi mendapatkan imbasnya.


"Tapi memangnya bisa?" Satu pertanyaan paling simpel, karena dia penasaran, apakah bisa memperbaiki hubungan yang bahkan sudah berlalu sangat lama ini.


Risyella kembali membuka kelopak matanya, dan menjawab : "Asal hatimu memang tulus ingin memperbaiki hubungan kita berdua, pasti akan ada satu jalan yang bisa kau lalui."


Vatler terdiam sejenak. "Memangnya aku pantas bisa men-"


Risyella yang sudah tahu apa yang akan di jawab oleh Vatler ini, langsung berjalan cepat menghampiri Vatler yang sempat menundukkan kepalanya ke bawah. "Karena aku juga menginginkannya, maka kau pantas untuk mengubah masa lalu kita berdua. Jadi sampaikan salamku pada diriku yang akan kembali bangun untukmu."


Setelah mengatakan itu, Risyella langsung meraih wajah Vatler yang sedang memasang wajah terkejutnya, dan segera mendaratkan bibirnya ke permukaan bibirnya Vatler.


CUP.


'Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi merasakan ciuman ini seperti kenyataan?' Vatler yang memang haus akan sentuhan dari sebuah ciuman yang dilakukan oleh Risyella, langsung membalasnya.


Dia meraih pinggang ramping milik Risyella, dan memulai adu silat dengan bibir wanita ini.


"Aku mencintaimu. Sampai aku mati dan menjadi arwah seperti ini, aku tidak bisa menghilangkan hatiku darimu, Vatler." Ucap Risyella dengan lirih sebelum mereka berdua akhirnya kembali menautkan mulut mereka.


'Aku juga. Aku juga ternyata mencintaimu, Risyella. Dan aku akan mencoba memperbaiki hubungan yang sudah pernah berakhir ini dengan cerita baru.' Benak hati Vatler.

__ADS_1


__ADS_2