
"V-vatler...kenapa kita jadinya naik pesawat?!" Resah Risyella sambil mencengkram lengan Vatler dan mengguncang-guncang tubuh pria di sebelahnya itu dengan kuat.
"Kita akan pulang." Jawab Vatler dengan sisngkat.
"Pulang? Tapi rumahku justru ada di sini, ini mau pulang kemana?" Risyella semakin panik saat pesawatnya mulai lepas landas. Karena itulah ulu hatinya pun langsung bereaksi cepat dan berdenyut tak karena hingga Risyella secara refleks lebih menguatkan cengkraman tangannya.
'Dia... Tenaganya kuat juga.' Vatler tersenyum tawar, saat lengan tangan kirinya yang kuat itu ternyata bisa merasakan sakit akibat cengkraman milik RIsyella yang diam-diam punya tenaga lebih daripada yang terlihat, karena dari apa yang Vatler lihat, tangan kurus itu terlihat sangatlah rapuh layaknya gelas kaca yang harus di pegang dengan hati-hati. "Kita akan pergi kerumahku."
"Rumahmu?! Tapi aku bahkan belum berpamitan pada ibuku kalau aku akan pergi lebih jauh." Jawab Risyella.
"Aku sudah minta izin pada Ibumu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." TUtur Vatler mencoba menenangkan Risyella yang panik itu.
"Tapi..i-ini..Vatler! INi semakin tinggi!" Seru Risyella karena baru pertama kalinya naik pesawat, alhasil dirinya yang belum siap itu jadi meracau panik sendirian sambil mengguncang-guncang tubuh Vatler.
"Kalau tidak tinggi, bukan pesawat namanya." Sahut Vatler.
'Iya sih! Tapi jangan mendadak seperti ini juga!' Teriak Risyella dalam hati.
NGUUNG.
'Akhh...!' Teriak Risyella, dimana teriakan itu tidak akan terdengar oleh siapapun.
******
1 Jam kemudian, masih di dalam pesawat.
Risyella yang saat ini sedang mabuk udara hanya diam sambil memejamkan matanya, yang bukan berarti dia tertidur.
Risyella sesekali mengerutkan dahinya, bukti tanda perasaan paling tidak nyaman itu kembali data. Saat itu Risyella benar-benar ingin sekali muntah, tapi sayangnya kana tidak bisa mual untuk memuntahkan segala isinya, kini Risyella jadi berkeringat dingin penuh dengan siksaan.
Wajah rasa bersalah milik Vatler pun terlihat, ketika wanita yang sedang duduk di sampingnya sudah benar-benar diam tanpa mengatakan keluhan lagi selain ekspresi Risyella yang terlihat tersiksa. 'Apa ini baru pertama kalinya juga?' Batin Vatler.
"Sebaiknya minum ini dulu." Tawar Vatler sambil menyodorkan botol mineral keatas pangkuan Risyella.
Risyella yang sedang malas untuk membuka kelopak matanya itu langsung mengambil botol tersebut, membuka tutup botolnya, dan segera meminum habis air di dalam botol yang berisi setengah liter air.
__ADS_1
Selepas habis, Risyella pun mengembalikan botol yang sudah kosong itu kepada Vatler dan Risyella kembali melanjutkan tidur-tidurannya.
Sampai Vatler sedikit termangu melihat botol yang beberapa saat lalu masih penuh dengan air, kini hanya tinggal botolnya saja.
Tapi itu tidak Vatler permasalahkan, karena yang terpenting adalah Risyella bisa meminum air itu.
'Setidaknya dia akan bisa tertidur dengan tenang.' Vatler berpikir seperti itu sebab dia sudah memberinya obat tidur yang dia masukkan kedalam air tadi, dan air tersebut pun sudah habis diminum oleh Risyella sendiri.
******
Tap...Tap...Tap....
Di bandara, seorang wanita berambut coklat panjang juga lurus, dia saat ini sedang menyeret kopernya yang berwarna hitam.
Matanya tertutup oleh kacamata hitam, wajahnya yang sebenarnya cantik pun dia tutup dengan masker berwarna hitam juga. Mau seberapa keras dia mencoba menyembunyikan penampilan aslinya, dia tetap tidak bisa membuat semua orang terutama kaum pria untuk tidak menghiraukannya.
Banyak pria secara intens justru mengalihkan perhatian mereka hanya untuk menatap wanita tersebut.
"Dia pagi tadi tiba-tiba pergi, kira-kira dia kemana ya? Padahal ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadanya." Gumam wanita ini sambil memainkan ponselnya. Dia mencari-cari nomor yang akan dia hubungi, yaitu Vatler. "Hmm..." Wanita ini mencoba menunggu sampai panggilannya di angkat oleh si empu.
Di saat percobaan pertama gagal, dia pun melakukan percobaan untuk yang kedua kalinya.
TING...TING....TING...
Deretan notifikasi yang masuk itu langsung menarik perhatian wanita itu untuk mencari-cari sumber suara itu.
TIK.
Wanita tersebut dengan sengaja memberikan pesan singkat kepada Vatler untuk yang kesekian kalinya.
"Kenapa suaranya cukup dekat?" Semakin diburu rasa penasaran, wanita ini mencoba menghubungi Vatler lagi.
DRRTT..
Suara dering ponsel yang cukup familiar berhasil membuat wanita itu menoleh kebelakang, sampai akhirnya dia menemukan orang yang dari tadi coba wanita itu teror.
__ADS_1
"Vatler?" Panggilnya pada seorang pria yang saat ini sudah berdiri di depannya persis. Tetapi yang salah disini adalah, Vatler tidak sendirian, sebab Vatler saat ini sedang menggendong seorang wanita. 'Siapa dia?'
"Bukankah aku sudah perah mengatakannya, jangan menerorku dengan pesan tidak berguna." Peringat Vatler kepada wanita di depannya itu, namanya adalah Angie.
"Lagian kamu sendiri tidak kunjung merespon."
"Artinya aku memang sibuk." Celetuk Vatler.
"Jadi urusan apa yang membuatmu sibuk, sampai kamu datang menemuiku dengan seorang wanita di gendonganmu itu?" Tanya Angie, karena penasaran, Angie pun berjalan mendekat ke arah Vatler. Dan mencoba mengintip untuk mencari tahu, seperti apa wajah wanita yang ada di gendongannya Vatler itu?
"Uhm.." Lenguh Risyella, sampai merubah posisi wajahnya untuk lebih bersembunyi lagi, karena wajahnya merasa lebih nyaman berada di depan dada bidang Vatler persis.
Hasilnya Angie tidak dapat melihat seperti apa wajah dari wanita itu.
"Mau pergi kemana?" Pertanyaan dari Vatler pun sukses menarik semua perhatian Angie dari Risyella itu.
"Aku mau menjenguk Ibuku di Rusia." Jawab Angie. "Oh ya..waktu itu aku belum memberikanmu hadiah untuk ulang tahunmu." Angie kemudian merogoh tas selempang yang dia bawa itu.
"Aku tidak menyuruhmu untuk memberikanku hadiah." Tukas Vatler.
"Aku tahu. Tapi aku ingin memberimu hadiah, apa yang seperti itu saja kamu akan melarangku?" Tanyanya.
Vatler mencoba bersabar dan berkata "Tidak. Kamu punya hak sendiri atas keinginanmu. Sahut Vatler.
"Ini hadiahmu." ANgie yang sudah berhasil mengeluarkan kotak perhiasan, dia kemudian membuka kotak tersebut dan mengambil dua pasang bros dengan bentuk ular.
Karena kebetulan dirinya memang memiliki tubuh yang tinggi, Angie pun dengan leluasa memasang kedua bros dalam bentuk ular itu ke kerah baju kemeja biru Navy yang Vatler pakai.
Dikarenakan Vatler saat ini sedang menggendong Risyella, dia pun membiarkan Angie melakukan hal yang ingin wanita itu lakukan terhadap dirinya.
Banyak pasang mata secara gamblang melihat pemandangan aneh sekaligus menakjubkan.
Yang membuat mereka berdua aneh adalah mereka berpikir wanita yang Vatler gendong adalah Istrinya, namun secara terang-terangan Vatler membiarkan Angie berdiri berdekatan dengannya seolah sedang mengumbar kemesraan dimuka umum.
Tapi disisi lain, Angie yang memang sengaja melepaskan maskernya dan memperlihatkan wajahnya yang cantik itu berdekatan dengan pria yang memiliki paras tampan itu, membuat mereka berdua juga terlihat sangat serasi.
__ADS_1
"Sudah.ternyata cocok ya dengan karaktermu." Ucap ANgie memuji penampilan Vatler yang kini terlihat lebih keren karena memperlihatkan karakter Vatler yang dingin dan punya kesan lebih tegas layaknya seorang Bos Mafia yang angkuh. "Ini hadiah keduamu." Hadiah selanjutnya pun Angie berikan kepada Vatler berupa paper bag kecil dimana didalamnya terdapat sebotol parfum.
Mendapatkan dua hadiah sekaligus dari orang yang sama, Vatler pun bertanya : "Apa yang kamu inginkan?"