
"Tapi yang tadi itu, benar-benar mirip." Ungkap Arshel. Dia sungguh tidak akan mengira kalau dalam waktu yang dekat, dia bisa melihat lagi wajah itu.
Wajah polos yang sering di perlihatkan oleh Risya saat sedang sendirian dan melamunkan sesuatu.
Arshel yang diam-diam suka mengikutinya, sering kali melihat wajah Risya yang terlihat seperti tadi.
"Apakah jika sudah seperti itu, kesedihanmu bisa berkurang?"
"Jangan berkhayal, aku tidak mungkin akan membandingkan dia dengan Risya." Jelas Arhsel.
Dia sama sekali tidak ingin membandingkan Risya yaitu adik kandungnya dengan orang lain, hanya karena wajahnya yang mirip.
Bagi Arshel, Risya tidak bisa di bandingkan dengan siapa pun.
Mendengar hal itu, Vatler tidak akan bertanya lebih jauh lagi, karena luka di dalam milik mereka berdua memang belum sepenuhnya pulih, dan tidak akan pernah pulih sebab penyesalan yang ada di dalam diri mereka berdua tidak bisa di obati dengan apapun, sekalipun di dunia ini memang ada orang yang punya wajah kembar identik, tapi Vatler dan Arshel tetap hanya memiliki dua orang yang mereka sesali, karena tidak bisa memperlakukannya dengan cukup baik.
'Ya. Kamu benar, Risyella dan Risya, sekalipun ada banyak orang dengan wajah yang sama, tapi hal itu tidak akan bisa membuat hatiku ini berpaling darimu.
Risyella, apakah sekarang kita berdua punya takdir yang impas? Kamu punya Risya di sisimu, menemani kesendirianmu selama bertahun-tahun, sedangkan aku punya Arshel di sisiku.' Ungkap Vatler di dalam hatinya.
Lalu mengingat jam sudah mulai menunjukkan pukul setengah tujuh, Vatler pun semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
'Seharusnya aku lebih menghargaimu. Tapi karena keegoisanku, kamu terus berusaha mengadung kedua anak kita dalam rasa sepimu. Aku memang bukan seoran suami yang baik.
Dan akhirnya, aku sungguh menyesali perbuatanku sendiri, karena sampai akhir dari hidupmu maupun Risya, aku tidak ada di sisi kalian berdua.' Imbuhnya lagi.
______________
Dengan perlahan, Vatler melajukan mobilnya dengan cukup pelan, sebab di depannya ada banyak murid yang berjalan kaki dan menghalangi jalannya.
"Padahal kita sudah tidak ada pelajaran lagi, dan hampir watunya liburan. Tapi kenapa masuh berangkat sekolah saja ya?"
"Aku tidak mau tahu dengan semua keluhanmu. Yang sedang aku pikirkan itu adalah nilaiku. Aku sangat ingin sekali, bisa melampaui ketua kelas."
Satu dua orang, mereka berjalan bersama-sama.
"Kira-kira kamu akan kemana saat liburan nanti?"
"Ke pantai, aku ingin sekali merasakan ombak, jadi aku akan kesana dengan kakakku."
"He~ Kamu ternyata diam-diam punya kakak ya." Murid perempuan ini pun menyiku lengan temannya.
Vatler dan Arshel yang kebetulan berada di belakang mereka semua, tiba-tiba Arshel jadinya angkat bicara.
"Kenapa tidak klakson saja." Arshel yang tidak sabar dengan sang Ayah yang lebih memilih untuk memperlambat laju mobil, karena tidak ingin mengganggu pejalan kaki yang ada di depannya itu, langsung beranjak dari kursi duduknya dan menekan tombol klakson.
TIN...TIN...!
Sontak semua bahu mereka langsung terangkat, karena terkejut setengah mati, gara-gara keberadaan dari mobil yang ada di belakang mereka, cukuplah samar dan bahkan sama sekali tidak terdengar suara mesin mobil.
"Kan..ini akan jauh lebih mudah menyingkirkan mereka dari jalan." Cibir Arshel, melihat mereka semua akhirnya memberikan jalan untuk mereka berdua.
"Apakah kamu memang seperti ini, jika ada di sekolah?" Lirik Vatler kepada satu-satunya anak yang masih tersisa dan bisa dia ajak bicara itu.
"Hmm..memangnya kenapa? Salah mereka tidak menyadari ada mobil di belakangnya." Ketus Arshel, kembali duduk dengan manis di tempatnya tadi.
"Wah..tampan sekali." Satu pujian akhirnya terdengar juga oleh telinga Vatler dan Arshel juga salah satunya.
"Itu kan Tuan muda Arshel, bukankah wali kelas mengatakan kalau dia akan pindah ke luar negeri setelah kejadian itu?"
"Iya juga. Tapi daripada itu, kira-kira siapa ya pria yang ada di sebelahnya itu. Yang sedang menyetir itu loh, kenapa wajahnya cukup mirip dengan Tuan Arshel?" Tunjuk perempuan ini kepada dua orang yang baru saja melewati mereka, dengan mobil itu.
"Iya yah...kenapa wajah mereka berdua sangat mirip?"
"Kalau di pikir-pikir, selama ini kan kita tidak pernah melihat kedua orang tuanya, jangan-jangan apakah laki-laki itu adalah Ayahnya?"
__ADS_1
Semua bisikan itu akhirnya menghilang setelah mobil yang dikendarai oleh Vatler pergi menjauh dari mereka semua.
Setelah sampai di depan pintu masuk gedung sekolah persis, Arshel pun turun dari mobil.
"Nanti akan Ayah jemput." Ucap Vatler saat itu juga.
BRAK..
Arshel menutup pintu mobilnya dan menatap sang Ayah yang akan pergi?
"Apakah Ayah tidak akan bekerja?"
Vatler menole ke arah Arshel yang terlihat ragu-ragu itu, karena tidak mau sendirian lagi? Ya..Vatler sendiri juga tidak mau hidup dalam keegoisannya sendiri, maka dari itu Vatler menjawab. "Ayah memang akan pergi ke tempat kerja, tapi bukan berarti akan bekerja."
Setelah mengatakan hal yang terasa mengambang itu, Vatler kembali menancapkan gas mobilnya dan melesat pergi meninggalkan Arshel yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu masuk seraya melihat kepergian sang Ayah.
'Apakah maksudnya, Ayah akhirnya akan pensiun dari pekerjaanya?' Tebak Arshel.
"Apakah yang tadi itu adalah Ayah mu?" Tiba-tiba sebuah suara menyapa Arshel yang sedang melamun itu.
"Hmm.." Arshel hanya berdehem sebagai jawaban paling mengejutkan untuk mereka semua.
"Apa? Jadi yang tadi itu memang benar-benar Ayahnya?"
"Iya. Pantas saja wajahnya sama persis dengan Tuan Arshel, ternyata memang Ayahnya."
"Tapi kenapa tumben sekali? Kelihatannya, ini kedua kalinya aku melihatnya datang ke sekolah." Ujar perempuan ini.
"Tapi ternyata Ayahnya begitu tampan. Sampai awalnya aku mengira kalau pria tadi adalah kakak atau sepupunya Tuan Arshel."
Segala macam pembicaraan langsung menyeruak masuk kedalam telinga Arshel. 'Jadi aku memang cukup mirip dengan Ayah.' Batinnya. Tapi bagaimana dengan Risya?
Risya dan Risya lagi.
"Apa yang sedang kamu lakukan di tempat kerjaku?" Tanya Freddy kepada Angie.
"Tentu saja aku ingin mengunjungimu. Bagaimana? Seperti apakah reaksi dari orang yang sudah bersedia menodonorkan sum-sum tulang belakangnya? Bukankah dia baru saja keluar dari rumah sakit dan katanya akan dipulangkan?" Tanya Angie.
"Mau di pikirkan saja sudah bisa kamu tebak kan?" Ketus Freddy. Dia sedang mencoba membereskan meja kerjanya yang sempat berantakan, karena dia tidak sempat membersihkannya setelah insiden waktu di mana Risya ingin tinggal bersamanya karena pertengkaran yang terjadi antara Risya dengan kakaknya.
Tentu saja dia jadinya belum sempat membuang sampah dari handphone milik Risya yang sudah rusak parah itu.
"Handphone siapa itu?" Tanya Angie penasaran dengan serpihan handphone yang baru saja di buang oleh Freddy ke dalam kantong plastik.
Tapi bukannya di buang, Freddy justru menyimpannya ke dalam laci meja kerjanya. Alasannya, itu adalah barang yang membawa kenangannya. Makannya Freddy enggan untuk membuangnya, sekalipun itu sudah menjadi rongsokan yang tidak berguna.
"Ini punyanya Risya."
DEG.
Angie sesaat langsung diam mendengar Freddy menyebut nama Risya dengan nada yang terdengar penuh dengan sebuah perasaan.
'Apakah aku salah mengartikan tatapan matanya saat ini yang terlihat seperti orang yang menyukai anaknya Risyella itu?' Angie menatap wajah Freddy dengan lekat dari tempat duduknya itu, dan terus melihat apa lagi yang akan di katakan oleh Freddy kali ini.
Hanya saja, setelah beberapa saat, tidak ada sepaath kata yang keluar dari mulut Freddy, kecuali sebuah senyuman simpul dan di sertai sebuah usapan di pipi kanan serta bibirnya.
'Ada apa? Apakah ada yang terjadi antara dia dengan Risya?' pikir Angie lagi. "Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?'"
Akhirnya untuk membuang rasa penasarannya itu, Angie jadi memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Karena kemarin aku baru saja mendapatkan hadiah." Lirih Freddy dengan tatapan mata yang lembut. Dan arah tatapan matanya itu sebenarnya tertuju pada satu sebuah bingkai foto yang bisa memperlihatkan dirinya mendapatkan satu kecupan yang sama di pipi kanannya oleh Risya, tepat di hari ulang tahunnya Freddy waktu itu.
Dan kecupan yang sudah tidak begitu terasa selain rasa dingin itu, kembali Freddy dapatkan untuk yang terakhir kalinya dari Risya.
__ADS_1
"Kelihatannya itu sesuatu yang sangat spesial, memangnya hadiahnya dari siapa?" Tanya Angie lagi, demi memuaskan rasa penasarannya itu.
Freddy pun memejamkan matanya dan menjawabnya. "Risya."
Lagi?
'Sebenarnya apa pesona yang dimiliki oleh Risyella, sampai anaknya saja bisa membuat Freddy juga menyukainya.' Batin Angie, tidak percaya kalau wajah Freddy yang mengisyaratkan rasa suka Freddy terhadap anak smp itu memang benar-benar terjadi.
'Kenapa aku kesal ya? Apakah karena mereka berdua sangat menyukai kedua orang itu? Ah..benar-benar deh, padahal aku sudah berusaha untuk mendapatkan hatinya, tapi Risyella dan Risya yang tidak melakukan banyak hal untuk menarik perhatian mereka berdua, justru dengan mudah menarik hati mereka.' Imbuh Angie lagi.
Angie pun terus memperhatikan Freddy tanpa membuat celah sedikitpun.
Karena Angie sadar kalau dirinya tidak bisa mengambil hati Vatler, setidaknya saat ini Angie punya pegangan, karena dirinya bersama dengan Freddy pernah melakukan hubungan badan sekali.
Dan itu akan Angie jadikan sebagai alasan pertama untuk Angie agar dia bisa membuat Freddy jadi miliknya.
Sampai lamunan itu buyar saat Freddy tiba-tiba saja mendapatkan satu panggilan dari seseorang.
'Vatler, apa yang dia mau? Tumben sekali meneleponku. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan Risyella juga Risya. Tentu saja ya kan? Karena Vatler pasti sudah tahu apa yang aku lakukan selama ini untuk mereka berdua.' Pikir Freddy. Lalu tanpa membuang waktunya lagi, Freddy pun mengangkat telepon yang berasal dari Tuan muda Vatler itu.
-"Apa kamu ada waktu?"-
"Tenntu saja."
-"Temui aku di tempat kita yang biasa."-
Setelah itu, Vatler sudah lebih dulu memutuskan panggilan.
"Ada apa? Apa kamu mau pergi?"
"Kenapa kamu banyak tanya? Urus saja urusanmu sendiri. Jangan melibatkanku, aku sedang sibuk." Sahut Ferddy. Dia sama sekali tidak ingin di ganggu oleh siapapun, termasuk oleh wanita di depan sana yang saat ini sedang duduk dengan santai.
Apa alasan dari Angie datang ke tempatnya, Freddy sendiri belum tahu. Padahal semuanya sudah berakhir.
Tapi...
Angie terlihat seperti ingin memulai sesuatu yang baru dengannya.
Dan Freddy, tentu saja langsung menyadari itu. Sehingga Freddy jadi bertanya balik. "Apa sebenarnya tujuanmu datang ke kantorku? Pasti bukan sekedar untuk mengunjungi teman lama kan?"
Angie yang sesaat tadi sedang menyangga kepalanya karena sedang memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di lakukan oleh Freddy itu, tiba-tiba tersenyum tipis, lalu bersandar ke sadaran sofa yang ada di belakangnya.
"Aku ingin mengundangmu malam ini ke acara ulang tahunku. Apakah kamu mau?" Mengeluarkan sebuah surat undangan dan meletakkannya di atas meja.
Dari kejauhan, Freddy pun melihat amplop berwarna hitam yang terkesan mahal itu.
"Sudah di umur seperti itu, masih punya wajah untuk merayakan ulang tahun ya?" Ejek Freddy.
"Karena aku punya uang, makannya aku bisa melakukan hal yang aku inginkan. Jadi terserah mau mengejek dan menghinaku, aku tidak mempermaslaahkannya juga." Jawab Angie, tidak begitu mempermasalahkan apapun yang keluar dari mulut Freddy, karena malam ini Angie akan membuat pria itu akan seutuhnya menjadi miliknya.
"Malam ini kan? Memangnya jam berapa?" Freddy bertanya sambil melepaskan jas dokternya dan menyampirkannya di kursi kebesarannya.
"Jam delapan, di rumahku. Dan jangan bawa hadiah apapun, karena aku tidak membutuhkan hadiah, tapi kedatangan dari tamu yang aku undang saja." Imbuh Angie lagi.
Angie pun beranjak dari sofa, lalu berjalan ke arah pintu. Tapi setelah berada di ambang pintu persis Angie memberikan kalimat terakhirnya.
"Karena kamu kelihatannya akan pergi untuk menemuinya, aku akan pergi juga. Tapi ingat, malam ini, jangan lupakan udanganku."
"Iya." Singkat Feddy.
Setelahnya, Angie yang sudah pergi keluar dari kantornya, membuat Freddy pergi menghampiri undangan yang di tinggalkan oleh Angie tadi.
Freddy mengambilnya, dan membuka amplop itu. Ketika di buka, rupanya itu memang adalah undangan ulang tahun.
'Tapi kenapa tiba-tiba? Padahal dari tahun kemarin saja, dia tidak merayakannya. Tapi bukannya Vatler pernah mengatakan, kalau di hari ulang tahun Angie, itu juga adalah haru dimana kakaknya sama-sama berulang tahun. ' Lalu Freddy menatap pintu yang menjadi akhir dari kepergian Angie tadi.
__ADS_1