
WUSHH~
Angin lembut itu secara tiba-tiba datang.
Sayup-sayup kelopak mata yang awalnya tertutup itu perlahan terbuka.
“...............” Vatler, pemilik dari iris mata berwarna biru itu pun akhirnya mengerjapkan matanya beberapa kali. ‘Kenapa aku tiba-tiba disini?’ Batin Vatler.
Vatler sedikit menengadah ke atas. Pohon rindang bernuansa bunga WIsteria adalah pohon yang menjadi tempat dirinya duduk bersandar.
Sesaat Vatler merasa bingung. Padahal yang dia ingat dengan jelas, dirinya sedang duduk di hadapan laptop selama semalaman.
Tapi apa yang terjadi ketika dirinya sadar, tiba-tiba sudah berada di tempat lain?
‘Apakah ini mimpi? tapi kenapa juga bermimpi tidur di bawah pohon Wisteria?’ Vatler benar-benar tidak mengerti alasan dirinya tiba-tiba saja bermimpi di tempat seperti itu.
Tempat dimana pohon Wisteria yang sudah tumbuh besar dan menjulang tinggi itu adalah pohon hasil tanaman yang ditanam oleh Risyella.
Vatler yang awalnya hendak bangkit dari posisi duduknya, dalam sekejap mata dia langsung mengurungkan niatnya itu setelah menyadari kalau saat ini, di pangkuannya ternyata sedang digunakan untuk bantal tidur oleh seorang wanita.
‘Dia-’ Vatler hanya mengatupkan mulutnya. Tangan kanan yang awalnya ingin dia gunakan untuk tumpuan dirinya akan berdiri, segera dia alihkan untuk menepis rambut hitam yang menutupi wajah dari wanita itu.
Saat sudah berhasil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu, sontak pupil matanya Vatler langsung melebar.
“Ris...yella?” Panggil Vatler dengan bibir bawahnya bergetar. ‘Kenapa Risyella? Disini? BUkan! Kenapa kau tiba-tiba bermimpi bertemu dengan wanita ini?!’ Racau Vatler di dalam pikirannya, dengan wajah termangu.
Vatler terkejut, kalau wanita yang saat ini sedang tidur di atas pangkuannya adalah Risyella. Wanita yang dimana 13 tahun lalu sempat menjadi Istri kontraknya.
Namun, status Istri itu sudah sepenuhnya menghilang bersamaan dengan nama yang sudah tertulis di atas nisan. Dan alasan dari Risyella meninggal pun adalah karena melahirkan kedua anaknya.
Perasaan bersalah yang dimiliki oleh Vatler pun kembali mencuat saat di depan matanya saat ini, wanita yang sudah lama menghilang dari hidupnya itu, kini kembali.
Meskipun, hanya di dalam mimpi, tetapi Vatler tetap merasakan rasa bersalah itu.
Padahal semuanya sudah berlalu, dan tubuh dari istri kontraknya itu pun sudah sepenuhnya menjadi tanah. Namun, semua keadaan yang pernah terjadi di masa lalu itu tetap tidak bisa menghilang dari hati Vatler.
Kenapa?
Vatler sendiri juga tidak tahu alasan itu. Sampai satu suara itu tiba-tiba terdengar menyapa indra pendengaran Vatler.
“Sudah besar ya?”
Vatler langsung tertegun dengan suara yang sudah lama tidak dia dengar secara langsung, sebab semalam dirinya hanya mendengar suara Risyella dari cuplikan Video yang pendek itu.
“Kelihatannya kau merawatnya dengan sangat baik. Risya, Arshel, namanya sangat bagus. Vatler, aku sadar, kalau aku benar-benar sangat tidak berguna. karena aku tidak sempat membuatkan nama untuk anak laki-laki kita. Maafkan aku….karena aku juga membuatmu dalam masa sulit karena harus mengurus mereka berdua selama 13 tahun ini.” Ucap Risyella panjang lebar.
__ADS_1
Dia masih memposisikan kepalanya untuk menjadikan paha Vatler sebagai bantal tidurnya.
Risyella, dia benar-benar tidak mau melihat ekspresi apa yang Vatler sedang digunakan itu. Alasannya jelas cukup sederhana, yakni karena Risyella tidak ingin menambah beban pikirannya Vatler sendiri, jika orang yang sedang Risyella ajak bicara itu sebenarnya adalah orang yang sudah berbeda alam.
Vatler masih memiliki kehidupannya sendiri, sedangkan dirinya? Dia sudah memiliki tempatnya sendiri.
“Kenapa, ka-”
“Kenapa aku bisa muncul di mimpimu, adalah karena hatimulah yang memanggilku.” Pungkas Risyella.
Secara, Vatler menyentuh dadanya sendiri. ‘Hati?’
“Pada dasarnya, aku memang sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tapi sayangnya, aku masih ada di hatimu. Itulah alasan kenapa aku bisa ada disini.” Jelasnya lagi.
Vatler nampak berekspresi terkejut, kalau dari hati yang Vatler miliki dan rasakan saat ini, ternyata adalah pemicu dirinya bisa bertemu dengan wanita itu.
Risyella, istri kontraknya, sekaligus Ibu yang sudah melahirkan Arshel dan Risya. Wanita yang berjuang sendiri melahirkan mereka berdua tanpa didampingi oleh Vatler, yang dimana waktu itu notabene Vatler masih sebagai suaminya.
Setelah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, Risyella pun perlahan bangkit sambil berkata : “Kau pasti sudah sangat lelah kan? Bekerja terus tanpa memiliki waktu istirahat yang benar.”
Setelah Risyella terduduk dengan posisi memunggungi Vatler, Risyella pun mengangkat tangan kanannya tepat di depan wajahnya. Dengan posisi telapak tangan menghadap ke depan, Risyella langsung berbalik untuk menghadap kearah Vatler persis sambil mengulurkan tangannya itu untuk dia letakkan di sepasang mata Vatler.
“”Apa yang mau kau lakukan?” tanya Vatler.
Saat hendak menyingkirkan tangan Risyella yang menghalangi penglihatannya itu, Risyella tiba--tiba mencengkram tangan Vatler agar tidak menghalangi niatnya itu.
Vatler yang matanya sudah tertutup pun, jadi tidak bisa melihat seperti apakah wajah Risyella saat ini.
Dia hanya bisa mendengar suaranya, serta deru nafas yang cukup samar.
“Hanya seperti ini, apakah kau akan menolak permintaanku ini?” Tanya Risyella.
“..............” Dengan pasrah, Vatler membiarkan wanita itu melakukan apa yang ingin dilakukannya.
“Karena ini hanyalah mimpi, aku akan berani mengatakan ini.” Kata Risya. dia mencoba mendekatkan wajahnya itu kedepan wajah Vatler yang diam tanpa membuat ekspresi.
‘Apa yang akan dia katakan?’ Sedangkan Vatler sendiri sudah penasaran apa yang ingin dilakukan oleh wanita yang keberadaannya saja sebenarnya sudah tidak ada di dunia nyata lagi.
WUSHH~
Risyella terus menatap Vatler yang masih diam itu.
Terbesit rasa menyesal karena dirinya sudah meninggal. Meninggalkan kedua anaknya, kehidupannya, dan apalagi meninggalkan Vatler yang menurut Risyella tetaplah tampan. Meskipun sudah memasuki umur kepala empat, tapi bagi Risyella Vatler adalah suami paling sempurna untuknya.
Penyesalan di hatinya hanyalah karena tidak bisa menemani kedua anaknya, tepat setelah melahirkan. Tapi perasaan dari kebahagiaannya yang masih tersisa di dalam hatinya, adalah bisa menjadi Istri dari pria ini.
__ADS_1
Vatler Ellistone. Perbedaan usia antara RIsyella dan Vatler adalah 5 tahun. Dengan kata lain, jika saat ini Vatler berusia 40, maka Risyella berumur 35 tahun.
Namun karena Risyella meninggal di usia 26 tahun, maka secara fisik, wujudnya saat ini adalah dirinya yang masih memiliki wajah yang muda.
Tapi Risyella tidak mau memperlihatkan wajahnya itu kepada Vatler.
Sebab, dia merasa kalau semua itu tidak akan berguna lagi untuk Vatler sendiri.
“Vatler.” Risyella memanggil dengan nada lirih dan lembut.
Membuat suasana di antara mereka berdua pun jatuh dalam kenangan masa lalu mereka yang seharusnya diisi dengan momen berdua yang cukup romantis.
Tapi karena Risyella tidak pernah mendapatkan hal itu dari pria ini, maka dia membiarkan saat ini menjadi momen dirinya menyatakan perasaannya sendiri yang sudah terpendam cukup lama.
“..............” Vatler terdiam.
“Apa kau bisa menjaga Risya, walaupun sesaat?” Pinta Risyella dengan tangan kiri melepaskan cengkramannya dari tangan Vatler.
Setelah terlepas, Risyella pun menggunakan tangan kirinya itu untuk mengusap wajah Vater dengan lembut.
“..............!” Vatler yang merasakan usapan lembut itu pun, jadi semakin masuk kedalam kenyamanannya.
“Aku tahu kau sudah menjaga anak kita dengan baik, tapi apakah kau bisa menjaganya dengan tanganmu sendiri?” Imbuh Risyella.
DEG!
Risyella semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Vatler, dan terus berusaha memakan jarak diantara mereka berdua.
“Aku tidak menginginkan lebih, tapi..aku berharap kau tidak melakukan apa yang sudah pernah kau lakukan kepadaku, Vatler.” Dan tepat setelah mengatakan hal itu kepada Vatler, Risyella pun mendaratkan bibirnya ke atas bibir Vatler.
Yang mana, Vatler lagi-lagi kembali dibuat terkejut. Meskipun di dalam mimpi, ternyata dirinya masih mampu merasakan kelembutan yang terjadi saat bibir mereka berdua saling bertemu.
Wanita yang biasanya malu, dan tidak memiliki keberanian hanya untuk sekedar bicara, meminta, dan bahkan berinisiatif menciumnya, sekarang seperti sudah tidak ada lagi.
Mungkin karena ini hanyalah mimpi, dan Risyella pun hanyalah sosok dari masa lalunya, maka wanita itu pun memiliki keberanian yang besar untuk melakukan apa yang tidak perna Risyella lakukan semasa hidupnya.
Ah~
Sungguh miris.
‘Ketika dia sudah tidak ada, kenapa aku bisa menikmati ciuman ini? Risyella.’ Batin Vatler. Dengan membiarkan tangan kanan Risyella menutup sepasang matanya, dan sedang menciumnya, Vatler pun meraih pinggang dari wanita itu akan lebih mendekat.
Sesuatu yang sudah lama tidak Vatler rasakan, kembali muncul.
Hati yang terus masuk dalam kegelisahan karena rasa bersalah itu, saat ini pun berangsur seperti menghilang?
__ADS_1
Itu tidak akan pernah menghilang sepenuhnya, karena semua perbuatan yang sudah pernah Vatler lakukan kepada wanita yang sedang menciumnya ini, adalah asal muasal dari situasi yang tidak masuk akal ini.