
"Kemana anak itu pergi? Tidak biasanya dia kabur seperti itu." Gerutu pria bersurai coklat ini sambil memandnag kopi yang sedari tadi dia tatap.
"Hoi, Freddy!" Satu orang pria lainnnya datang dengan sapaan tangan yang langsung mendarat di bahu sahabatnya itu, yaitu Freddy. "Apa yang sedang kau lamunkan sampai menatap kopi terus? Apakah di permukaan kopi itu ada wajah kekasihmu?"
Dengan sengaja pria itu menyodorkan kepalanya di depan wajah Freddy dan mencoba menilik permukaan kopi yang dia buat sebagai bahan candaannya tadi.
"Tidak ada apa-apa tu, atau kau sedang merenungi nasibmu sendiri kepada kopi?" Tanyanya lagi dengan wajah cemberut.
Freddy yang terusik dengan segala ocehannya itu, buru-buru meminum kopi itu sampai tandas.
TAK.
Meletakkan cangkir kopi dengan sedikit kasar diatas pagar pembatas balkon yang hanya memiliki tinggi satu meter itu, Freddy pun langsung menyingkirkan tangan temannya itu dari bahunya, lalu menjawab, "Aku hanya memikirkan, kemana si Iblis itu pergi?" Tekan Freddy.
Freddy memikirkan rekan kerjanya, yaitu Vatler.
"Maksudmu Vatler?" Terka pria ini dengan salah satu alis terangkat.
"Memangnya siapa lagi yang punya julukan itu?" Timpal Freddy.
"Kau- Jari telunjuknya menunjuk persis kearah Freddy. "Jika kau sedang marah, kau sudah mirip seperti iblis, loh."
Freddy langsung menepis tangan temannya itu dari depan wajahnya. "Semua orang jika marah, sisi Iblisnya pasti muncul.," Tukas Freddy. "Tapi aku hanya penasaran, kemana perginya Iblis berdarah dingin itu?"
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Sampai begitu penasaran, apakah ingin bertemu karena sudah merindukannya? Ciee...jangan-jangan kau jatuh cinta." Tuturnya dengan nada menggoda.
Tapi tepat setelah berkata seperti itu, dia langsung memberikan hadiah berupa..
CLING...
__ADS_1
Kilauan cahaya dari senjata yang Freddy arahkan tepat di pinggang temannya itu berhasil membuat temannya tersebut langsung mundur dua langkah kebelakang.
"Hei-hei, jangan marah. Aku hanya bercanda." harap pria ini dengan senyuman tawar menghiasi wajahnya yang sedang panik. "Jadi kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Vatler yang suka mengilang mendadak tanpa pamit itu?" Tanyanya, meralat ucapan sebelumnya.
"Tidak ada. Aku hanya heran, karena dalam bulan ini dia mengambil cuti sampai dua minggu. Tidak seperti dia aja. Kau tahu kan, dia bukan tipe orang yang suka mengambil cuti, karena menurutnya hal itu membuang-buang waktu." Jelas Freddy seraya menyimpan kembali belati miliknya kedalam sarung belati yang selu terikat di kedua pahanya.
"Hm...Kau benar juga." Mencoba mengikuti alur topik yang sedang di bahas oleh Freddy, tapi arah tatapannya terus mengawas terus mengawasi senjata milik Freddy yang kini sudah tersimpan dengan benar. "Serena juga sama-sama heran, karena dia menerima pesan singkat dari Vatler kalau dia akan mengambil cuti lagi selaam seminggi. Dengan kata lain, berarti ada yang sedang dia sembunyikan dari kita. Dia tidak bilang apapun padamu kan?"
Freddy hanya berdehem pelan sebagai jawabannya.
"Ah! Jangan-jangan dia sedang berdebat lagi dengan Ibunya, soal kencan buta lagi?" Terka pria ini.
"Masa sampai cuti sebanyak itu?" Tanya balik Freddy.
"EH, benar juga. Hmmm..." Wajahnya kembali memperlihatkan wajah beprikirnya. "Ah! Aku tahu...!" Seakan baru saja mendapatkan wahyu dari tuhan, pria ini kembali berkata, "Mungkin saja dia sedang dijebak oleh Ibunya untuk membuat anak. Kan kalau sudah begitu, si wanita akan menuntut pertanggungjawaban, jadi dia didesak untuk oleh ibunya ntuk segera menikahinya.
"Masa sih?" Tanya lagi Freddy dengan ekspresi wajah tidak percaya.
"Bah! Mulutku ini selalu masin. Vatler pasti adrencana untuk itu," Tegasnya, karena merasa jengkel pada Freddy yang tidak mau mempercayai ucapannya yang selalunya 99,9 persen benar-benar terjadi.
"Hmm..kau benar juga. Mulutmu itu selalu masin." Sahut Freddy.
Dia pun kembali menatap pemandangan kota dari balok kamar asrama miliknya.
**********
"Hachumm...!"
"Hachumm...!"
__ADS_1
Vatler dan Risyella seketika saling pandnag satu sama lain sebab mereka berdua baru saja sama-sama bersin.
'Pasti ada yang sedang membicarakanku dari belakang.' Batin Risyella.
'Pasti dua orang itu sedang mengumpat di belakangku.' Disaat yang sama Vatler juga sama-sama merasakan ada yang sedang membicarakannya dari belakang.
DRRTT....
Vatler melirik keadah handphone nya dan melihat siapa gerangan orang yang sedang mengganggunya. Dan dia melihat nama Freddy jadi dalang dibalik kebisingan yang sedang terjadi itu.
"Kenapa tidak diangkat?" Risyella bertanya ketika Vatler hanya memandangi layar handphone nya saja.
"Tidak penting." Ketus Vatler.
"Kan belm dijawab, apanya yang tidak penting?" Timpal Risyella.
Merasa disudutkan oleh Risyella agar mengangkat telepon itui, Vatler pun menghela nafas dan berkata : "Tunggu disini."
Risyella memberikan anggukan setuju untuk menunggu ditempat.
Melihat RIsyella dengan patuh menuruti perintahnya, Vatler segera berlalu pergi untuk mencari tempat yang teat untuk menerima telepon itu.
Sudah ditinggal pergi oleh Vatler, Risyella tiba-tiba langsung berbalik mengadap kesebuah danau.
Seperti yang diharapkan dan sesuai dengan apa yang Vatler katakan, tempat untuk dijadikan sebagai tempat berkenang dalam hidupnya di pernikahannya nanti akan diadakan dihutan belakang dari Villa milik Vatler.
Dari pohon pinus, danau, tanah diselimuti rumput hijau yang memanjakan mata bersanding dengan udara yang segar menajdi daya tarik tersendiri bagi Risyella.
"Hahh...." Risyella menghela nafas panjang dan pelan. 'Disini sangat sejuk, indah pula. Seberapa kaya Vatler ini? Kenapa bisa mendapatkan tempat seindah ini?' Benak hati Risyella ketika memperhatikan pemandangan sekitar. 'Ahh...aku sudah tidak sabar lagi jadi Istrinya! Akhh..! Kenapa aku bisa samapi ketahap seperti ini dengan cepat? Padahal dua minggu lalu aku hanyalah orang biasa, tapi semuanya berubah saat mereka berdua datang kerumahku dan...dia melamarku untuk menjadi Istrinya?' Risyella yang tidak tahan dengan semua imajinasi yang dia buat sendiri, membuatnya langsung berjongkok dengan kedua tangan memegangi kepalanya.
__ADS_1