
Malam hari.
"Eh...kamu mau pergi kemana?" Tanya Risyella melihat Vatler sudah berpakaian rapi.
"Aku ada urusan sebentar. Tidak masalah kan aku tinggal sendirian?"
Risyella hanya memberikan anggukan.
Setelah mendapatkan konfirmasi dari orang yang bersangkutan, Vatler pun pergi meninggalkan Risyella sendirian.
BRAK.
Suara pintu yang ditutup dengan sedikit kasar.
"Kira-kira dia mau pergi kemana ya? Dia, mau pakai apapun akan tetap keren." Lirih Risyella. Setalah dia benar-benar ditinggal sendirian di dalam rumah mewah milik Vatler, Risyella pun melompat-lompat kegirangan. "Yes! Aku bebas!"
Tidak seperti yang biasanya terjadi dimana orang yang tiba-tiba ditinggal sendirian di tempat asing akan sedih dan mengeluh, justru hal tersebut tidak akan terjadi kepada Risyella.
Karena dia malahan lebih kegirangan karena bisa bebas berkeliaran di rumah mewah itu gara-gara si pemilik rumah sudah pergi.
Karena sekarang dia sedang sendirian, maka di dalam kepalanya pun terisi untuk menjelajah rumah besar itu satu per satu.
"Hm...kira-kira kita kemana dulu ua?" Risyella yang kegirangan sebab dapat lotre karena mendapatkan calon suami kaya, perlahan sepasang kakinya berjalan kesana kemari menyusuri segala ruangam, sampai kamar milik Vatler pun tidak luput dari dalam daftar kunjungannya.
Risyella pun menikmati kegiatannya untuk menjelajah semua ruangan yang ada di dalam Villa? Rumah? Risyella hanya akan menganggapnya sebagai rumah berkelas.
Ya...
Sebagai wanita dari desa, Risyella memang sangat menyukai hal baru, apalagi kehidupan dari orang kaya.
Walaupun, diwajahnya tersirat ekspresi seperti orang yang bahagia, sebenarnya di satu sisi dia menyimpan sedikit kesedihan.
Saat dimana tadi siang dirinya tertidur karena obat tidur yang diberikan Vatler kepadanya.
Dia sebenarnya tahu.
Tahu apa?
Ketika Vatler menggendongnya keluar dari pesawat, Risyella tahu sekaligus sadar saat Vatler ternyata bertemu dengan seorang wanita di dalam bandara.
__ADS_1
Ya..
Bros berbentuk ular yang terpasang di kerah baju Vatler, sampai sebuah ciuman yang Vatler terima dari wanita itu, Risyella sduah tahu akan hal itu semua dan membuat dirinya memiliki prasangka kalau wanita yang Vatler temui itu adalah kekasihnya Vatler.
"Hehe...." Risyella tiba-tia saja tersenyum getir. "Walaupun, wanita itu adalah kekasihnya, yang penting aku akan menjadi Istrinya, benar kan?" Gumam Risyella dengan nada yang begitu lirih.
Risyella yang saat ini sedang berjongkok di tepi kolam renang pun terus mandangi wahanya sendiri yang terpantul di atas permukaan air kolam.
Risyella, sebenarnya dirinya sadar kalau Vatler tidak mungkin mengiyakan hubungannya saat ini, hubungan yang akan berakhir ke jenjang pernikahan yang sebenarnya tidak di dasari oleh cinta. Dia tahu bahwa dibalik Vatler menyetujui Risyella menjadi Istrinya nanti, adalah karena sebuah alasan.
Walaupun Risyella tidak tahu apa alasannya, dia hanya bisa bersyukur kalau Vatler akan menjadi miliknya dalam ikatan sah. "Ya..benar sekali. Setidaknya dia akan menjadi milikku." Gumam Risyella sambil bercermin lagi. 'Orang kaya kan memang seperti itu. Memanfaatkan orang sepertiku yang merupakan dari pelosok desa.'
Risyella kembali tersenyum, dan meilhat senyumannya sendiri yang terlihat tidak begitu cantik.
"Tapi mau bagaimanapun, kenapa harus aku ya? Aku benar-benar tidak mengerti alasan dibalik itu semua. Padahal ada banyak wanita lain yang bisa dijadikan Istrinya, tapi kenapa jadinya adalah aku?" Risyella tidak bisa berpikir jauh lagi sebab di dalam kepalanya saat ini hanya terbayang akan wajah Vatler yang begitu rupawan.
Wajah tampan, membawa maut untuk banyak wanita, sekaligus sebuah dosa yang terus dibawa kemana-mana untuk menarik banyak pasang mata dari semua wanita yang berpapasan dengannya.
Kesan ingin memiliki Vatler secara utuh adalah hal yang didambakan banyak kaum wanita. Tapi disini, yang akan mendapatkannya adalah Risyella sendiri.
KRUYUK.
Tidak tahan dengan perutnya yang ingin di isi makanan, Risyella pun mencoba memasak dengan bahan makanan yang ada di dalam kulkas.
Tapi sesuatu yang tiba-tiba harus dia hadapi setelah dirinya mengambil dua butir telur. Risyella menatap dapur yang terlampau rapi dan bersih itu. Hingga Risyella bertanya-tanya sendiri, "Kompornya dimana?" Lirih Risyella sambil memperhatikan papan kaca berwarna hitam itu.
Dia akhirnya tahu bahwa dapur itu menggunakan kompor listrik. Namun, itulah yang membuatnya sedih, sebab Risyella sama sekali tidak bisa menggunakan kompor modern itu.
Terbesit ingin menelopn vatler untuk menanyakan langsung bagaimana caranya menggunakan kompor itu, karena dia tidak mendapatkan sinyal internet. Tapi karena takut mengganggu Vatler yang terlihat memiliki kesibukan lain yang cukup penting, Risyella pun jadi mengurungkan niatnya itu.
"Aku tunggu saja dia pulang." Gumam Risyella.
Walaupun, Risyella sendirian saja di rumah, dia adalah orang yang tidak memiliki ketakutan sama sekali, selain dengan serangga dan hewan melata yang menurutnya menjijikan.
****
BRRMM....
Mobil sedan berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan luar kota yang benar-benar sangat lengang.
__ADS_1
Deretan pohon menjadi saksi bisu jalan tol yang masih baru itu kini sudah dikuasai oleh raja jalanan.
Dalam kecepatan lebih dari 140 km/jam, pria yang tidak lain adalah Vatler, dengan kelihaiannya dalam mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi itu, dia benar-benar dibuat seperti sedang dikejar waktu.
Bagaimana tidak, jika waktu perjanjuan dimana Vatler sudah berjanji kepada Risyella hanya keluar sebentar, justru dibuat ingkar janji sendiri.
"Kemungkinan dia harusnya sudah tidur." Batin Vatler, matanya yang tersorot tajam itu menatap kearah depan dengan ekspresi seriusnya. Tangan kirinya pun dengan lihai mengganti tuas gigi moobil dari nomor 3 ke nomor emat. Dan salah satu kakinya pun menginjak pedal gas lebih dalam lagi, sampai speedometer itu terus menunjukkan kenaikan angka secara signifikan.
Dan masalah lain pun muncul saat itu juga. Di tengah-tegah Vatler mengebut, tiba-tiba hujan yang sangat deras pun terjadi.
ZRASSH.....
Secara, Vatler harus menurunkan sedikit kecepatan mobilnya sebelum tergelincir. Dan secara menakjubkan juga, seluruh lampu jalan secara berurutan mati semua, dan meninggalkan kesan jalanan yang paling gelap.
Vatller seketika memasang senyuman tawa. Dia tidak menyangka kalau malam ini akan menjadi malam yang gelap untuk seseorang yang sedang Vatler tinggal di rumahnya itu.
'Aku yakin kali ini dia pasti marah kepadaku.' pikir Vatler, mencoba membayangkan Risyella yang sudah Vatler tinggal di rumahnya, saat pulang nanti, wanita itu marah besar kepadanya, baik itu gara-gara ditinggal sendirian terlalu lama di rumah besarnya juga karena besar kemungkinan sekarang listri dirumahnya ikut padam juga.
********
Dikarenakan Risyella tidak tahu cara menggunnakan kompor, sekaligus sudha lama menunggu pria itu pulang, Risyella pun memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Sampai dikamar mandi, sebenarnya dia mendapatkan insiden, dimana saat Risyella mencoba segala peralatan di kamar mandi mewah itu, dia tidak sengaja menyenggol kran untuk menghidupkan shower, hingga baju yang dikenakannyapun basah.
Karena sudah basah begitu, Risyella jadi sekalina mandi dan setelah selesai melakukan ritual malamnya dengan mandi air hangat, saat keluar dari kamar mandi, dia menemukan ada banyak paper bag sudah terjejer rapi di atas kasurnya yang artinya barusan ada seseorang yang datang masuk kedalam kamarnya?
Dia tidak memperdulikan itu selain mencoba melihat apa yang ada di dalam tas belanja itu.
Ya..ketika Risyella mencoba mengeluarkan isi dari dalam tas belanja itu, bertapa terkejutnya dia karena semua barang yang ada di dalam tas itu bersi Lingerie semua.
"I-ini? Apa dia membelikanku ini agar aku aku memakainya?! Untuk apa? Bahkan kita saja belum menikah, tapi kenapa dia membelikanku Lingerie ini?!" Tekan Risyella ketika semua pakaian yang ada di tangannya saat ini adalah Lingerie berbahan tipis menerawang dalam berbagai warna dan merk.
Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah semua model Lingerie itu cukup seksi.
'Apa bedanya ini dengan jubah mandi tanpa pakaian d*l*m?' Batin Risyella sambil menatap datar perangkat penggoda calon suami?
BLUSH.
Wajahnya seketika merah padam. Risyella membuang jimat itu keatas kasur dengan cukup sembarangan.
__ADS_1
"Aku mana mungkin memakai pakaian seperti itu." Gerutu Risyella sambil memunggungi mereka semua.