Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
64 : IPHTV : Lamaran Jadi istri?


__ADS_3

"Ris...Risyella?" Marlina menepuk-nepuk wajah RIsyella degan pelan.


"Hmm?" Dehem Risyella setelah merasakan pipinya di tepuk oleh tangan seseorang.


"Bangun, ini sduah sore. Kamu belum makan siang, kan?"


"Tapi aku masih ngantuk." Jawab Risyella dengan mata masih terpejam sekaligus masih bertahan dengan posisinya yaitu memeluk bantal guling.


"Makan dulu, nanti tidurnya dilanjutkan." Kata Marlina lagi, masih membujuk Risyella agar bangun.


'Kenapa dia justru menawarkan aku tidur lagi setelah makan? Biasanya aku pasti akan kena omel ibuku kalau aku tidur lagi.' Pikir Risyella tat kala rasa kantuknya benar-benar masih ada. 'Tapi ngomong-ngomong, kenapa wangi ya? Ini wangi sabun mandi, siapa yang baru mandi?'


Ketika RIsyella mencoba bangun, dia samar-samar melihat pemandangan yang sudah tidak asing lagi. Sosoknya yang tinggi, besar, punya kulit putih, pemilik dari rambut hitam yang cukup menawan, satu-satunya pria yang ada di dalam rumahnya, yaitu Vatler.


Melihat Risyella termangu melihat Vatler yang baru saja masuk ke kamar dalam posisi telanjang dada, membuat Marlina angkat bicara. "Hah~ Kamu pasi terbangun karena ingin melihat tubuh anakku yang sedang telanjang dada kan?" Goda Marlina kepada Risyella yang sejujurnya masih setengah sadar.


'Apa yang ibu katakan? Kenapa Ibu suka sekali mengumbar kata-kata tak sopan itu atas namaku?' Benak hati Vatler.


Hanya saja Risyella sama sekali tidak merespon apapun atas ucapannya Marlina, dan justru dia tetap menatap Vatler dengan pandangan mata yang kosong.


'Aku dari awal terheran, kenapa di rumah ini ada pria setampan dia ya? Saat ini saja dia sedang telanjang dada. Kira-kira bagaimana ya jika dia telanjang total? Pasti lebih wow kan? Jika saja dia tidak disini dengan penampilannya yang seperti itu, aku tidak mungkin jadi punya pikiran kotor yang seperti ni.' Pikir Risyella, masih menatap kosong Vatler yang saat ini membalas tatapannya.


'Apalagi yang sedang dia pikirkan dengan otak kecilnya itu?' Batin Vatler ketika dirinya sudah menggunakan kaos.


'Hmm..tapi ini sudah sore? Bukannya aku harus mengantarkan buket bunga ya?' Kata buket yang terlintas di dalam kepalanya itu sontak membuat Risyella berdiri di atas kasur dan segera berlari turun ranjang. 'Gawat! Aku malah ketiduran! Bagaimana ini?! Aku pasti dimarahi oleh mereka!'


Tanpa memperdulikan dua orang yang saat ini menatapnya dnegan tatapan terkejut, Risyella buru-buru keluar dari kamar untuk mengantarkan buket pesanan punya orang yang tadi pagi sudah Risyella buat.


Tetapi saat keluar dair kamar, semua hasil pekerjaannya justru sudah menghilang tanpa jejak.


"Buketnya dimana?" Tanya Risyella kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Mereka sudah mengambilnya, dan ini uangnya,"Jawab Vatler sambil memberikan uang sebanyak 500 ribu rupiah itu.


Risyella mengambil uang itu dari tangan Vatler dan menghitung uang miliknya.


"Ris, kamu hebat. Hanya membuat itu kamu dapat 500 ribu." Puji Marlina.


"Tidak, separuhnya ini adalah uang modalku. Jadi jumlahnya tidak seberapa," Sahut Risyella sambil mengantongi uang miliknya itu.


"Tapi bagiku itu kamu termasuk hebat. Tidak semua orang bisa melakukannya sepertimu." Ucap Marlina lagi dengan bumbu pujian, yang mana hal tersebut berhasil membuat ekspresi Risyella seperti orang yang sedang malu-malu. "Risyella, apakah kamu mau?"


Merasa suasananya menjadi berbeda, Risyella langsung menoleh kebelakang. Terlihat dua orang itu saat ini sedang berdiri di belakangnya persis.


"'Mau apa?" Tanya RIsyella sedikit menuntut.


"Apa kamu mau jadi bagian dari keluarga kami?" Tanya Marlina.


Risyella sedikit teleng, dan bertanya kembali, "Apa maksudnya?" Karena dia hanya mengerti separuhnya saja.


"A-apa?" Risyella memasang wajah terkejutnya.


Marlina yang melihat keterkejutan dari Risyella, kembali berkata, "Kami keluarga Ellistone menyatkan kamu dipilih untuk menjadi Istri anakku Vatler. Apa kamu mau menerimanya?"


"I-itu?" Risyella sontak saja langsung dalam pikiran kacau. Bahkan pusing yang sebenarnya masih mendera di dalam kepalanya itu, tiba-tiba saja kembali menyengat. 'Apa-apaan ini? Kenapa aku tiba-tiba ditanyai sebagai Istri orang ini? Ini bukan mimpi kan? Ya..kalau ini mimpi, tidak mungkin rasa sakit di kepalaku ini bisa aku rasakan. Tapi ini sangat mengejutkan! Kenapa aku malah ditawari sebagai Istri?'


Masih ditengah kebingungannya, Risyella pun mencoba menjawab pertanyaan itu, "A-aku...aku jadi Istri? Soal itu aku-" Tanpa di duga, tiba-tiba kedua matanya jadi berkunang-kunnag, tapi demi menjawab pertanyaan itu, Risyella mencoba untuk mengatakan jawabannya. "Aku mau untuk jadi is-" Belum sempat menuntaskan jawabannya itu, seluruh pandangannya tiba-tiba jadi gelap total, dan kedua kaki yang tadi sempat masih bisa menopang tubuhnya tiba-tiba saja jadi lemas.


Dimata Risyella terlihat dua orang di depannya itu membuat ekspresi panik dan berlari menghampirinya.


'Kenapa mereka berdua lari kearahku?' Pikir Risyella kala itu.


Sampai akhirnya Risyella merasa tubuhnya semakin melayang jauh.

__ADS_1


BRUKK..


_______________


"Hah?!" Riseylla langsung membelalakkan matanya sambil membatin. 'Apa itu tadi mimpi?'


Disaat isi kepalanya sedang terngiang akan kalimat 'Istri' Istri untuk Vatler, seperti itulah yang terlintas di dalam kepalanya, Risyella dibuat sadar akan posisinya sendiri yang saat ini ternyata sudah terjatuh di lantai?


'Jadi yang tadi itu hanya mimpi saja?! Ah! Aku pikir itu benar-benar terjadi. Aku kira aku betulan ditawari sebagai Istrinya Vatler! Pupus sudah harapanku, karena aku hanya bermimpi.' Racau Risyella di tengah tubuhnya sudah berada di lantai dengan wajah kesal bercampur sedih.


Sampai Risyella menyadari hal lain yang membuatnya terburu-buru bangun dan lari keluar dari kamarnya.


Tapi baru juga mendapatkan satu langkah keluar kamar, dia secara tidak sengaja bertemu dengan Vatler yang tiba-tiba saja muncul.


Risyella yang terlambat untuk melakukan pengeraman pada sepasang kakinya, langsung menabrak tubuhnya.


BRUKK..


"M-maaf." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulutnya.


".............." Vatler yang tidak begitu memperdulikan tabrakan itu hanya berkata, "Mereka berempat sudah mengambil buket. Tidak perlu ada yang kau panikkan."


Sontak Risyella sedikit mendongak ke atas untuk menemukan wajah Vatler yang kelewat tampan itu. "Jadi maksudnya, mereka bertiga tadi datang kesini?"


"................" Diam tanpa kata, Vatler memberikan sejumlah uang yang tadi dia terima sebanyak 600 ribu itu kepada Risyella.


'Eh?! Kenapa rasanya ini banyak sekali ya? Harusnya kan 400 ribu?' Batin Risyella masih tidak mengerti kenapa uang yang dia terima dari hasil jasanya itu, justru lebih banyak dari yang seharusnya.


"Mereka membayar lebih untukmu." Imbuh Vatler sambil menyeka dagu dengan punggung tangannya, gara-gara keringat yang dia miliki sudah mengucur hampir jatuh menetes.


Yang dimana, hal tersebut berhasil membuat Risyella ternganga. 'Bagaimana bisa dia punya gen sesempurna ini?! Hanya mengelap keringat saja sudah menambah kesan kelakiannya.'

__ADS_1


__ADS_2