
"Hmm...kira-kira bagaimana dengan Vatler dan Risyella ya? Aku sengaja memisahkan diri agar mereka bisa berduaan." Lirih Marlina.
Ketimbang pergi ke pusat keramaian, sekarang Marlina sedang berada di kolam renang air panas. Dia berendam di salah satu tempat peristirahatan yang memang menyediakan fasilitas kelas atas layaknya berada di hotel bintang lima.
"Nyonya, ini makanan untuk anda." Seorang pelayan, meletakkan sebuah nampan di atas permukaan air, dan itu mengambang lalu bergerak menuju tempat dimana Marlina berada.
Sambil berendam, perut pun juga sekalian di isi. Itulah yang sedang Ibunya Vatler lakukan di kolam air panas. Dan saat ini pun, dia tetap melihat pemandangan dari ketinggian, untuk melihat para pengunjung yang sedang asyik bermain kesana kemari dan mencoba berbagai wahana yang sudah di sediakan oleh pihak dari pemilik waterpark itu.
Dan pemiliknya adalah...
"Nyonya, ini pantauan dari Cctv yang saya dapatkan. Nyonya muda dan Tuan, sampai saat ini masih berpisah." Pelayan wanita ini pun kembali meletakkan nampan berisi tab untuk di berikan kepada Marlina, selaku pemilik dari tempat itu.
Marlina pun mengambil tab itu dan melihat tontonan dimana Risyella saat ini sedang duduk sendirian.
Jika Risyella duduk sendirian seperti itu, kemanakah perginya Vatler?
'Anak ini. Padahal aku sengaja mengajak kalian agar bisa berduaan dan bersenang-senang bersama, kenapa akhirnya jadi seperti ini? Lihat itu, Risyella kan jadi duduk sendirian menunggu Vatler kembali. Padahal terlihat kalau dia ingin pergi ke banyak tempat untuk bermain air. Tapi karena dia takut saat Vatler kembali dia sudah tidak ada di sana dan membuatnya mencari-carinya, Risyella jadi menunggu seperti itu. Vatler....padahal aku sengaja memilihkanmu wanita ini agar kamu bisa lebih perhatian, dia tidak menuntut banyak apapun padamu, tapi kenapa dia masih saja bersikap seperti ini? Dia terlihat kasihan.' Marlina pun jadi merasa tidak tega melihat Risyella yang sudah dia pilih untuk dijadikan Istri Vatler, tapi di asingkan seperti itu, mau tidak mau Marlina pun jadi turun tangan. "Cari dimana Vatler saat ini?"
"Baik Nyonya," Wanita ini akhirnya duduk dan berkutat di depan laptop yang dia bawa.
Sesuai dengan perintah yang di inginkan oleh Marlina kepadanya, dia mulaimencari keberadaan dari posisi Vatler saat ini.
"Nyonya, saya akan mengirimkan Videonya." Dalam sekali klik, file tersebut langsung diterima oleh Marlina.
Marlina membuka Video yang dia dapatkan saat ini, dan menemukan Vatler tengah berbincang dengan wanita?
"................." Raut wajah Marlina seketika berubah menjadi lebih dingin. Dia tidak menyangka kalau saat ini Vatler justru sedang berbincang dengan seorang wanita lain, padahal Risyella saat ini masih saja menunggunya. "Rosie.."
"Ya nyonya?" Wanita yang dipanggil Rosie ini buru-buru menutup laptop dan segera berdiri untuk menghampiri Nyona manjikannya itu.
"Kamu tahu, apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan kan?"
"Iya Nyonya. Tuan akan menikah dengan Nyonya Risyella."
"Kira-kira persiapannya sudah sampai apa?" Tanya Marlina sekali lagi. Dia terus memantau apa yang sedang Vatler lakukan saat ini, sampai melihat wanita yang tidak lain adalah Angie itu sedang tersenyum ke arah Vatler.
"Nyonya muda meminta resepsinya di selenggarakan yang sederhana, tempatnya juga di belakang Villa milik Tuan. Kira-kira sekarang persiapannya sudah mencapai tujuh puluh persen. Gaun pun sudah di pesan, tapi masih dalam proses, dan sedikit memakan waktu lama, karena desainnya sedikit rumit, transportasi untuk semua tamu undangan juga sudah dipersiapkan." Jelas Rosie panjang lebar. "Apakah ada sesuatu yang perlu di tambahkan?"
"Ya..tambahkan beberapa pekerja lagi untuk membantu menyelesaikan gaun itu sekarang juga. Aku ingin besok semuanya sudah siap, aku akan membuat mereka cepat menikah." Ujar Marlina, menuntut agar semuanya bisa di selesaikan esok hari.
"Berarti sekarang keluarga dari pihak Nyonya Risyella-"
__ADS_1
"Benar, bawa mereka sekarang juga. Aku tidak ingin menunda-nunda waktu lagi." Imbuhnya, dengan ekspresi wajahnya yang sudah sangat serius. Ya..tentu saja semua yang keluar dari mulutnya itu harus segera di laksanakan saat itu juga, karena dia sudah tidak ingin menunggu lagi hari itu datang.
Jika bukan karena Vatler saat ini sedang berbincang ria dengan seorang wanita, maka Marlina tidak akan mungkin menurunkan titah kepada Rosie agar semuanya bisa cepat selesai.
"Baik, Nyonya." Jawab Rosie. Dia pun membungkuk hormat kepada Marlina sebelum dia pergi.
Keheningan yang ada di area kolam itu pun datang juga. Dan Marlina terus saja menatap layar dari tab yang masih dia pegang itu.
Terbesit rasa simpati ketika melihat Risyella yang tampak murung karena tidak henti-hentinya untuk menunggu Vatler kembali.
"Risyella, maafkan aku. Kamu jadi terlibat masalah Vatler itu. Tapi jika bukan kamu siapa lagi? Tidak ada yang lebih baik dari kamu Risyella." Gumam Marlina dengan nada lembut. Terselip rasa bersalah karena harus menyeret Risyella yang masih polos itu untuk masuk kedalam keluarga besarnya. Tapi hal itu pun dia lakukan karena Marlina merasa punya hutang budi.
___________
Flashback 1 jam yang lalu.
Di tempat ruang ganti wanita.
"Risyella," Panggil Marlina dengan manja.
Bahkan saat Risyella mendengar suara khas Marlina yang dibuat-buat manja dan seperti menggoda itu, berhasil membuat Risyella langsung menghentikan aktivitasnya untuk melipat rok panjang miliknya, dan menoleh ke belakang, dimana Marlina berada.
"Nanti kamu coba pakai ini ya?" Tawar Marlina terhadap pakaian bikini yang dia beli kemarin kepada Risyella.
Tapi tanpa jawaban, Risyella menggeleng tidak mau.
Siapa yang mau memakai pakaian seperti itu? Semua orang pun tahu, walaupun itu adalah pakaian renang, tapi baginya itu, kedua barang yang di perlihatkan kepada Risyella adalah dal*man, yang tidak lain adalah CD dan bra.
"Eh~ Ini bagus loh, Ibu sengaja membelinya khusus untukmu." Rungut Marlina melihat penolakan itu jelas terpancar di ekspresi wajahnya yang benar-benar merasa enggan untuk memakai itu.
"Tapi itu-"
"Haiih..coba dulu sana." Marlina langsung memberikannya kepada Marlina dan mendorong punggung itu agar masuk kedalam bilik.
Dua menit kemudian.
KLEK.
"I-ibu...masa aku keluar pakai ini? Ini memalukan." Rintih Risyella, tidak mau menggunkan pakaian seminim itu di depan banyak orang.
"Memalukan apa, banggakan. Itulah yang harus kamu tanamkan pada dirimu." Marlina mengecek penampilan Risyella dari atas sampai bawah. Serasa lumayan, walaupun aset milik Risyella tidak sebesar miliknya, apa gunanya itu?
__ADS_1
Selepas sudah selesai dengan bagian depan, Marlina pun menyuruh Risyella untuk berputar.
"Aku tidak mau pakai ini." Keluh kesah itu terus di utarakan oleh Risyella yang merasa risih dengan penampilannya kali ini.
"Pakai saja. Jangan membuang uang Ibu, karena kamu tidak memakainya loh." Peringat Marlina.
Hingga ketika Risyella mencoba berputar sesuai yang di interuksikan oleh Marlina, secara tidak sengaja dia melihat sesuatu yang berhasil menarik perhatian Marlina saat itu juga.
"Risyella? Ini apa?" Tanya Marlina saat dia melihat bekas jahitan tepat di punggung sebelah kanan Risyella.
"Oh..itu. Lupa." Jawab Risyella singkat.
"Apa?"
"Aku tidak tahu itu bekas luka karena apa. Aku tidak begitu mengingat apa yang terjadi saat aku masih kecil. Ibuku juga tidak tahu, karena Ibuku hanya bilang, saat aku pulang bermain dari luar, pulang-pulang aku sudah membawa luka itu. Jadi aku tidak tahu persis sebab apa," Jawab Risyella.
"..................." Marlina terdiam.
"Kalau begitu aku gan-"
"Eh! Tidak perlu. Sayang, Ibu sudah membelikanmu ini. Jangan sampai tidak dipakai." Bujuk Marlina lagi.
"Tapi-....." Risyella benar-benar memperhatikan aset miliknya yang tidak begitu berherga saking tidak sebanding dengan miliknya Ibunya Vatler yang sekalipun sudah menginjak kepala lima, tapi tetap terlihat bagus, dan kencang.
Terbesit rasa iri, tapi mau bagaimana lagi?
Dia harus bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang.
____________
Flashback off.
'Kira-kira kenapa? Aku merasa pernah mendapatkan kejadian yang sedikit mirip dengan cerita Vatler dulu. Sudahlah, nanti aku akan mencari tahunya.' Pikir Marlina.
Dia pun terus memantau Risyella dan Vatler secara bersamaan.
Ketika di satu sisi Risyella masih saja menunggu calon suaminya kembali, justru si Vatler masih saja berduaan dengan seorang wanita di tempat lain.
Melihat hal itu saja, Marlina terbesit rasa kecewa yang cukup mendalam kepada Vatler, sebab Vatler benar-benar meninggalkan Risyella untuk yanng ke sekian kalinya.
"Risyella~" Panggil Marlina dengan lirih, sambil melihat Risyella yang kembali meringkuk di atas kursi panjang.
__ADS_1