Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
86 : IPHTV : Insiden takut mati?


__ADS_3

'Kalau dipikir-pikir, setelah dia perawatann kulit, tubuhnya lebih wangi.' Benak hati Vatler.


Saat ini mereka berdua sudah dalam perjalanan pulang.


Karena satu insiden yang tidak bisa Vatler ungkapkan secara gamblang mengenai adanya bom di dalam sana, Vatler refleks saja menariknya dan berakhir untuk pulang.


Tapi tidak seperti yang sebelum-sebelumnya, wajah Risyella saat ini tampak lebih cerah. Sekalipun tidak dengan kondisi matanya yang terlihat mengantuk?


Risyella saat ini sedang memejamkan matanya, bersender di pintu, dan mulutnya terus saja bungkam.


'Apakah dia mabuk lagi?' Padahal Vatler sudah mengganti Ac mobilnya dengan yang lain, tapi melihat keterdiaman Risyella yang seperti itu, maka Vatler pun memiliki dugaan kalau Risyella lagi-lagi mabuk darat.


'Ini sangat canggung! Canggung! Kenapa Vatler terus saja menatapku? Dia ternyata pria tangguh ya? Aku saja masih kepikiran dengan yang tadi. Aku benar-benar tidak bisa menghilangkan pikiran soal aku berdiri begitu saja di saat aku lagi berendam dalam kondisi tidak memakai apapun! Benar! Nanti malam aku pasti tidak bisa tidur karena kepikiran itu terus.' Racau Risyella.


Sudah lagi, pria yang melihatnya tanpa busana itu, sekarang duduk di sampingnya dan sedang menyetir.


Melihat ekspresi Risyella semakin tidak karuan, Vatler pun menepikan mobilnya.


"Sudah sampai?" Risyella langsung membuka matanya tepat setelah merasakan mobilnya berhenti bergerak.


"Bukannya kamu ingin muntah?"


Salah satu alis Risyella terangkat dan bertanya, "Siapa yang bilang?"


"Ekspresimu yang mengatakan itu keadaku." Tukas Vatler.


'Ekspresiku?!' Risyella memegang wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menggeleng pelan sebagai jawaban atas kesalahpahaman yang Vatler buat sendiri itu. "Aku tidak mabuk,"


"Terus kenapa ekspresimu seperti itu?" Liriknya.


"Aku...." Memandang ke arah lain.


Lagi-lagi Risyella tidak bisa melihat wajah Vatler lagi untuk jawaban yang ingin Risyella katakan kepadanya, karena terasa memalukan.

__ADS_1


"Aku hanya kepikran soal yang tadi." Jawabnya dengan wajah sedikit menunduk.


"Aku sudah bilang, aku tidak melihatnya."


'Kenapa dia terus mengatakan itu?! Kan rasanya dia memang sungguh-sungguh melihat semuanya!' Suara teriakan miliknya pun tidak akan ada yang bisa mendengarnya.


DRRTT....


DRRTT......


Tatkala Vatler hendak mengangkat telepon itu, di saat itu pula Risyella yang menemukan hal mengejutkan sedang terjadi di depannya, langsung dibuat mencengkram lengan kekar Vatler dan berteriak.


"Vatler! Mundur!" Teriak Risyella.


Merasakan kalau teriakan itu adalah tanda bahaya, Vatler segera menjatuhkan ponselnya.


Sepasang matanya menangkap adanya mobil sedan berwarna biru metalik dari sisi jalan lain yang datang dari arah berlawanan dalam kondisi ugal-ugalan, dan..


BRAK....


"Apa hari ini tidak ada hari yang tenang buatku?" Gumam Vatler dengan nada rendah. Dengan kecepatan tangan dan kaki yang dia miliki, Vatler mengalihkan tuas gigi mobil ke ke belakang, lalu dia pun segera menginjak pedal gas. Sampai mobil yang dikendarai oleh Vatler akhirnya bergerak mundur.


TIN.....TIN......TINNNN...!


Gara-gara Vatler mengendari laju mobil dalam posisi mundur, yang artinya melawan arus kendaraan yang ada di belakangnya, maka suara klakson tanda protes pengguna jalan pun semakin meriuhkan suasana di jalan raya.


'Akhh! Ini sangat mengangkan.' Risyella yang ketakutan itu memilih untuk menutup matanya sambil mencengkram sabuk pengaman.


Vatler pun tidak memperdulikan soal Risyella ketakutan atau tidak karena yang di utamakan saat ini adalah mengawasi spion mobil saat dirinya sekarang sedang menggerakkan mobil mundur kebelakang.


'Apakan ini di sengaja?' Curiga Vatler, melihat mobil sedan itu sudah mulai oleng dan mobil itu berputar hingga hampir saja bamper belakang mobil sedan berwarna biru itu menyenggol mobil miliknya.


Setelah mobil sedan biru itu sudah terguling dan sudah berhenti bergerak, Vatler pun segera menginjak rem mobil se dalam-dalamnya.

__ADS_1


SRETTT......


Sampai ban mobilnya berhasil meninggalkan jejak di aspal dengan cukup panjang.


'Uh.....' Dan ulu hati Risyella pun jadi merasa kena tantangan juga.


Tapi semua itu belum berakhir, sebab di belakang mobil Vatler persis saat ini ada truk tronton yang sedang berjalan kearahnya dengan suara klakson yang cukup panjang.


TIIINNNN......


"................" Risyella yang benar-benar ketakutan itu hanya diam dam menyerahkan nasibnya itu kepada pria di sampingnya.


Lalu seperti yang diharapkan oleh Risyella, Vatler dengan cukup gesit kembali mengalihkan tuas gigi ke nomor satu, menginjak rem dan pedal gas secara bersamaan, sebelum akhirnya Vatler melepaskan injakan pada pedal gas, sehingga mobil ynag Vatler kendarai pun langsung berjalan ke depan dengan cukup cepat.


"V-vatler....apa kamu tidak takut mati?" Tanya Risyella di tengah-tengah situasi yang sangat menegangkan dan memacu adrenali setiap manusia.


"Mati sudah jadi hal yang wajar untuk manusia yang hidup. Tapi selagi masih bisa menikmatinya, untuk apa mengkhawatirkan kematian yang tidak bisa di prediksi itu?" Itulah jawaban yang Risyella dapatkan atas pertanyaannya tadi.


Sekalipun Vatler memang terkata demikian, tapi sayangnya Risyella sendiri justru memiliki pemikiran yang sedikit berbeda, dimana setiap orang mati bisa terjadi kapanpun dan dimanapun tanpa mengenal waktu dan usia ataupun status yang mereka miliki.


Karena itu, yang sebenarnya Risyella takutkan ada kejadian ini adalah, 'Aku taku aku mati sebelum menikah. Itu kan sangat disayangkan.' Pikirnya. 'Kan sayang, kalau aku mati seelum menikahi laki-laki ini. Tapi...dia ternyata jago sekali!'


Ketakutan yang ada di mata Risyella pun sudah sirna dan tergantikan dengan ekspresi wajah yang sedang kagum. Dan mata itu tertuju pada pria yang saat ini sedang serius menyetir mobil.


'Oh..lihat-lihat itu, dia selalu menggulung lengan bajunya itu. Apa dia suka memamerkan ototnya itu?' tatapan matanya tidak bisa dia alihkan dari tangan Vatler yang terlihat begitu kuat itu.


Apa jadinya jika setelah menikah, lalu melakuan mala pertama?


BLUSHH.....


"..............." Risyella yang selalu bertingkah dengan ekspresi wajah yang berubah lebih cepat ketimbang membalikan buku itu, selalu menarik perhatian Vatler untuk sekedar mengintipnya dari sudut matanya. 'Sebenarnya kemana pikiran wanita ini pergi? Padahal beberapa saat tadi dia terlihat sangat takut, lalu seperti orang yang terpesona, dan sekarang ekspresinya jadi malu seperti itu? Dia ini, pikirannya pasti lebih liar dari pada penampilannya yang terlihat polos itu.' Pikir Vatler.


Setelah kejadian dimana mobil mereka hampir kena tabrak dengan mobil sedan biru tadi, juga hampir mengajak semua orang dalam aksi maut untuk meregangkan nyawa mereka semua, Vatler pun mau tidak mau jadi lebih bersikap waspada pada sekitarnya.

__ADS_1


Karena dibalik penampilan dan kegiatan Vatler yang terlihat seperti orang yang pekerjaannya santai-santai itu, sebenarnya dia memiliki banyak musuh di luar sana.


Karena itulah, Vatler pun sudah memiliki rencana sendiri untuk mengurus Risyella yang terlihat seperti orang yang tidak suka melanggar peraturan.


__ADS_2