Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
25 : IPHTV


__ADS_3

Sepulang sekolah.


Seperti biasanya, kebiasaan Risya adalah pulang di urutan terakhir. 


Dia merasa hal itu terasa enak, karena saat pulang jadi tidak perlu berdesak-desakan ataupun berpapasan banyak orang.


Tapi berbeda dari biasanya yang membuat Risya harus menunggu kakaknya, yaitu Arshel. Sebab Arshel memiliki jam tambahannya sendiri, hari ini dia sama sekali tidak menunggunya. 


“Paman, aku ingin pulang sekarang.” pinta Risya kepada paman Ard.


Seperti biasanya, paman Ard pasti akan datang 1 jam sebelum jam sekolah berakhir. Tapi jika biasanya mereka harus menunggu, sekarang yang ada adalah Risya meminta pulang lebih dulu.


“Tapi Tuan muda?”


“Dia kan punya banyak teman, dia pasti bisa pulang dengan meminta bantuan temannya itu. Sekarang paman antarkan aku saja pulang.” jelas Risya kepada paman Ard.


“Tapi-”


Risya yang awalnya bersikap biasa-biasa saja, kini dia berani memandang wajah dari sopir pribadinya itu dengan tatapan sengit. 


Tatapan mata yang menandakan kalau Risya tidak menginginkan alasan serta penolakan apapun.


“B-baik.” paman Ard pun terpaksa mengiyakan permintaannya. ‘Kenapa Nona tiba-tiba berubah?’ hatinya tetap saja berkata lain kalau Nona majikan yang dia layani itu berubah dan terasa seperti orang yang berbeda dari sebelumnya. 


Sedangkan di dalam kelas. Arshel benar-benar melihat mobil yang biasanya menunggunya sampai jam tambahan pelajarannya berakhir, kini tiba-tiba pergi, sontak membuat Arshel kalap.


“Apa-apaan anak itu, kenapa aku malah ditinggal?!” Arshel yang mulai dibawa emosi, langsung menelpon Risya. 


Nomornya memang terhubung, tapi sayangnya Risya tidak menjawabnya.


‘Dia sengaja.’ detik hati Arshel. Sebab tidak mendapatkan jawaban dari Risya, Arshel menelpon paman Ard.


Seperti sebelumnya, setelah mencobanya sebanyak 5 kali, panggilannya benar-benar tidak di angkat sama sekali.


‘Paman, kau ternyata berani menolak teleponku?’ Arshel langsung menatap sengit handphone nya sendiri. 


“Arshel?” panggil pak Guru kepada Arshel. “Apa ada sesuatu yang darurat?”


“Tidak.” Ketus Arshel, memasukkan kembali handphone nya ke dalam saku. ‘Risya, sebenarnya ada apa denganmu? Sampai berani menolak telfonku, kau sudah cukup melewati batasanmu sendiri sebagai adik yang tidak berguna.’ 


*


*


*


“Hachuumm…!” 


Suara bersin yang berasal dari belakang, membuat paman Ard bertanya. “Apakah Nona Sakit?” 


DEG.


“Jika bersin seperti ini, aku mana mungkin sakit. Yang ada adalah ada seseorang yang mengumpatku diam-diam.” jawab Risya.


Paman Ard diam setelah mendengar jawabannya itu, tapi tidak diam untuk bertanya tentang alasan, “Tapi Nona, kenapa anda menolak mengangkat telepon dari Tuan muda? Apa anda bertengkar lagi?”


Risya melirik ke arah handphone nya yang dia geletakkan di samping kursinya. “Bukannya hal seperti itu sudah biasa?”


“Tapi Nona, anda sampai men-”


“Ah paman, bisa diam dulu agar tidak membahas Arshel lagi dan lagi? Aku di sekolah sudah terlalu banyak nama yang mereka ucapkan setiap hari, dan sekarang mau pulang saja, apa aku harus mendengar namanya yang fenomenal itu? Aku sudah bosan. Jadi jangan sebutkan namanya lagi.” Racau Risya.


Tidak seperti sebelum-sebelumnya akan diam, saat ini Risya benar-benar mengeluarkan segala keluhannya secara gamblang.

__ADS_1


“Maafkan saya Nona.” paman Ard hanya bisa bersabar. Dia teringat kalau di masa remaja, pasti lebih sensitif untuk segala urusan yang berkaitan dengan sekitarnya. Jadi paman Ard hanya memakluminya saja, karena Risya juga sudah berumur 13 tahun, jadi itu termasuk sudah hal yang wajar.


“Hmm….” dehem Risya.


Dia kini duduk berselonjor di kursi belakang sambil memainkan handphone nya lagi.


Setiap kali ada telepon dari Arshel, dia akan membiarkannya saja. ‘Hah! Rasakan, kau harus tahu betapa lelahnya menunggumu sampai sore. Aku sendiri sudah lelah, tapi aku harus menunggumu pulang? Mulai sekarang itu tidak akan terjadi lagi.’ Risya benar-benar bersumpah serapah atas nama Arshel yang tidak akan menerima antar jemput lagi, karena saat ini Risya sudah memutuskan untuk memiliki satu sopir lagi. 


___________________


TING!


Freddy buru-buru melihat notifikasi pesan yang baru saja dia dapat setelah asistennya memperlihatkan handphone nya. 


“.....................” Melihat siapa yang baru saja mengirimkan nya pesan, Freddy melepaskan sarung tangannya sambil berkata : “Jansen. Aku sudah menyelesaikan semuanya, kau urus sisanya ya.”


“HEI! Freddy! Operasi ini masih belum selesai!” mau seberapa keras Jansen berteriak, tidak membuat Freddy berpaling untuk melihat tanggung jawabnya sebagai seorang dokter.


“Dokter Jansen, sekarang bagaimana?” seorang perawat tiba-tiba bertanya kepada satu orang dokter lagi, yaitu Jansen.


“Kalian sudah paham apa yang biasanya terjadi pada satu dokter gadungan itu kan? Kalian hanya perlu diam saja, dan sekarang akulah yang memimpin operasi ini.” jelas Jansen pada beberapa asistennya.


“Baik!” jawab mereka dengan serentak.


Tidak seperti yang diharapkan oleh keluarga karena melihat Freddy tiba-tiba keluar dari ruang operasi artinya operasinya selesai.


“Dokter! Apa operasinya lancar?” tanya seorang wanita paruh baya kepada Freddy.


Dengan alasan yang ringan, Freddy menjawab. “Operasinya berjalan lancar. Sekarang suami anda masih di dalam untuk melakukan pemulihan pasca operasi. Jadi jangan khawatir lagi ya Nyonya?”


“Syukurlah~ Terima kasih dok.” 


Freddy hanya mengangguk iya, setelah itu dia langsung lari berlari dari sana.


Sampai terpaksa membohongi keluarga pasien? Tidak juga, karena pada dasarnya pekerjaannya Freddy sudah sepenuhnya selesai, dan hanya tinggal melakukan jahitan saja. 


Tapi apa alasan dari Freddy sampai meninggalkan ruang operasi begitu saja?


Orang yang menjadi tanggung jawabnya, siapa lagi kalau bukan Risya.


*


*


*


Di Restoran Blurry.


BRAK!


Suara keras dari pintu yang dibuka secara kasar itu berhasil membuat sebagian besar pengunjung langsung dibuat terkejut.


Dan pelakunya adalah Freddy sendiri.


Setelah berhasil masuk kedalam Cafe Blurry, dia segera mencari-cari orang yang membuatnya bergegas keluar dari ruang operasi. 


‘Dimana dia?’ Freddy benar-benar mencari keberadaan Risya. 


Tapi sampai dia akhirnya menyadari seorang perempuan yang berdiri di lantai dua, sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah Freddy.


Jelas itu adalah kode untuk Freddy agar pergi ke lantai dua. 


Dengan mengandalkan sepasang kakinya yang panjang itu, Freddy membuat langkah kaki lebar untuk naik ke lantai dua. 

__ADS_1


Sampai akhirnya, dia dipertemukan oleh seorang wanita yang merupakan pemilik dari Cafe Blurry itu sendiri.


“Dimana dia?” tanya Freddy tanpa sungkan sama sekali. 


Lantas wanita muda yang baru saja menginjak umur 25 tahunan itu segera menjawab. “Dia di ruang kerjaku. Sini-” 


Wanita tersebut segera menunjukkan letak ruangannya, dan memimpin perjalanan Freddy.


KLEK.


Saat membuka pintu untuk pertama kalinya, Freddy dibuat terkejut melihat perempuan yang biasanya akan menunggunya duduk di lantai satu, saat ini justru terbaring di atas sofa sambil terbatuk-batuk.


“Uhuk...uhuk…” Risya terbatuk-batuk di tengah-tengah tubuhnya terbaring di atas sofa. 


Namun, hal yang membuat Freddy semakin terkejut adalah batuk yang dikeluarkannya adalah darah.


“Uhukk...uhukk...uhukk…, paman! Uhuk…” panggil Risya disamping batuknya tidak kunjung reda.


“Risya! Kenapa kau sampai seperti ini? Padahal aku sudah memberimu obat, agar gejalanya tidak cepat memburuk.” Freddy yang ikut panik itu, buru--buru berjalan menghampiri Risya, dan meletakkan tas yang dia bawa itu di samping kakinya.


“Uhuk...uhuk…,mana aku uhuk...tahu?” Risya tetap saja berusaha menjawabnya.


‘Seharusnya itu akan memperlambat proses gejala dari penyakit ini agar tidak parah. Apakah obatnya tidak manjur?’ Freddy semakin bingung tapi juga harus bertindak cepat untuk menangani Risya.


Demi menghindari orang lain tahu, Risya selalu memiliki alasan untuk menghindar. 


Risya, Freddy, dan wanita yang ada di belakang Freddy persis, yaitu Vanes, hanya mereka bertiga saja lah yang tahu.


Dan di Cafe Blurry menjadi tempat Risya bernaung dalam rasa sakit itu sendiri.


“Apa kamu tidak memberitahu keluargamu?” tanya Vanes. 


“Dia memiliki alasannya sendiri. Jangan mendesaknya dengan pertanyaanmu itu.” sahut Freddy.


“Tapi kau sendiri yang kesulitan.” Vanes merasa tidak mengerti dengan kedua orang yang ada di depannya itu, karena sama-sama memiliki watak keras kepala, tidak mau membeberkan penyakit yang diderita oleh Risya pada keluarganya. ‘Padahal pria ini bukan ayahnya, tapi kenapa keras kepala juga? Tapi kenapa aku pikir, RIsya ini lebih dekat dengan pria ini ketimbang keluarganya? Hubungan macam apa yang sebenarnya mereka jalani?’


“Itu dari sudut pandangmu. Dari pandanganku, aku tidak memiliki kesulitan apapun untuknya.” jawab Freddy.


Freddy tidak memperdulikan sudut pandang orang lain tentang situasinya itu, karena dia hanya ingin lebih peduli kepada Risya. 


Jadi apa yang terlihat sulit, jadi tidak terasa sulit. Apalagi jika itu dikerjakan dengan perasaan penuh kasih sayang, Freddy justru merasa tidak merasa ada yang membuatnya terbebani.


“Ini-” Vanes memberikan sekotak tisu kepada Freddy. 


Freddy dengan sigap membantu Risya untuk bangun. Dia sendiri yang membersihkan darah yang wajah, mulut dan tangan Risya. 


Membantunya minum, sampai membantunya minum obat. Setelah itu Freddy pun memberikan obat Analgesik kepada Risya dengan suntikan.


‘Itu!’ Sampai Vanes sendiri dibuat tercengang, saat melihat lengan Risya yang selalu tertutupi baju dengan lengan panjang, ternyata memiliki banyak bekas jarum yang terlihat belum lama ada itu. “Hei-hei, kau bercanda? Kau menyuntiknya lagi di saat tangan itu sudah ada banyak bekas suntikan?”


“Kau pikir aku harus menyuntiknya dimana? Pantatmu?” tanya Freddy balik dengan gamblang.


Hal itu tentu saja sukses membuat Vanes berwajah merona. “Ternyata kau dokter yang mesum.”


“Jika aku tidak mesum, bagaimana aku bisa menjadi dokter?” sahut Freddy lagi dengan cepat. Dia segera menyuntikkan obatnya tepat di lengan Risya.


“Ih! Kau mengatasnamakan itu untuk profesimu? Kau ternyata dokter abal-abal.”


“Apakah aku perlu melakukan sesuatu padamu agar kau percaya sendiri kalau aku bukan dokter abal-abal?” tanya Freddy sambil menoleh ke belakang dan memperlihatkan jarum suntik itu kepada Vanes.


TING..


“.............!” Vanes yang takut dengan jarum itu langsung berjalan mundur.

__ADS_1


“Paman Freddy bukan dokter abal-abal.” sela Risya setelah selesai di suntik. “Dia dokter pribadiku, temanku, sekaligus pamanku, kamu jangan menuduh pamanku seperti itu!” imbuh Risya.


Vanes langsung termangu melihat Risya yang tadi terlihat seperti sudah sekarat, kini justru sudah mampu memarahinya. 


__ADS_2