Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
18 : IPHTV


__ADS_3

TAP…..TAP…..TAP……


Sepasang dari langkah kaki berbalut sepatu boots berwarna hitam itu segera mengsisi keriuhan yang sedang terjadi di dalam koridor sekolah.


Dia adalah Vatler.


Sesuai dengan janji yang sudah disepakati, sebelum pukul 12 siang Vatler pergi ke sekolah untuk menemui seorang guru yang merupakan wali kelasnya Risya.


Tapi karena kedatangannya tepat di jam istirahat pula, berakhir dengan membuat diri Vatler sebagai pusat perhatian semua murid di sana.


Mereka semua terus menatap Vatler yang sedang berjalan sendirian dengan langkah kaki yang cukup lebar dan cepat, layaknya orang yang akan memburu seseorang.


“Siapa itu? Kenapa ada laki-laki setampan itu datang ke sekolah kita?” sebuah bisikan demi bisikan akhirnya muncul.


“Ah~ Aku tidak bisa melewatkannya begitu saja, aku ingin mengambil gambarnya,” bisik siswi ini, lalu mengeluarkan handphone nya.


Dia memiliki niat untuk mengambil gambar Vatler, tapi semua itu langsung ketahuan oleh Vatler yang memberikan tatapan tajam kepada semua orang di koridor itu. 


“.............!” merasakan takut dengan tatapan sengit dari Vatler, semua perempuan yang hendak mengambil fotonya langsung menyimpan handphone mereka dan memutuskan hanya melihatnya saja dengan mata kepala mereka sendiri.


Setelah dirasa suasananya kembali normal, Vatler akhirnya membuka pintu dari ruang guru.


“Siapa yang namanya Emi?” Tanya Vatler tanpa basa-basi.


Sonntak semua guru yang sedang beristirahat di tempatnya masing-masing langsung mengalihkan perhatian mereka pada seorang pria tinggi dengan penampilan layaknya seorang dari sebuah pasukan, karena tubuhnya yang berotot atau lebih tepatnya atletis itu, diselimuti pakaian dari kemeja hitam dengan jaket kulit hitam, sepatu boots berwarna hitam, dan celana yang memiliki beberapa saku yang cukup mecolok. 


Ditambah lagi adanya sebuah jepitan telinga yang menjepit di ujung telinga sebelah kiri Vatler, semuai itu menambah kesan dari pria keren.


“Siapa laki-laki tampan itu? Kenapa datang kesini dan tiba-tiba mencari bu Emi?” seorang perempuan awal 30 tahunan yang sedang makan siang, langsung dibuat memberhentikan aktivitasnya itu karena seorang pria benar-benar berhasil menarik perhatiannya.


“Apa dia kekasih bu Emi?” bisik guru yang iainnya.


Vatler yang merasa tidak adanya keberadaan orang yang sedang dicarinya, langsung berbalik. 


Tapi tepat saat berbalik dan hendak mengambil langkah pertamanya untuk keluar dari ruangan itu, dia tidak sengaja menabrak seorang peremppuan.


“Akh…..” karena di pelukannya sedang membawa buku serta laptop yang memenuhi pelukannya sendiri, alhasil barangnya terjatuh.


GREP…..


Dengan cekatan, Vatler mampu menangkap laptop itu sebelum jatuh ke lantai dan rusak dengan tangannya sendiri.


Wanita itu mengerjapkan matanya saat semua bukunya jatuh ke lantai, ternyata laptop berharganya berhasil di selamatkan oleh?


“M-maaf menabrak anda, tapi terima kasih sudah menangkap laptop saya.” ucap Emi, selaku guru dari wali kelas Risya.


“Akulah yang salah.” Kata Vatler dengan singkat.

__ADS_1


Tapi kalimat singkat itu berhasil menghipnotis semua perempuan yang mendengar suaranya, karena selain memilik paras yang tampan, bagi merkea, suara Vatler sangatlah seksi.


“Apa kau Emi?” Vatler melirik ke arah rag nama  yang terpasang di baju perempuan itu.


“Iya. Saya Emi. Apa anda mencari saya?” Tanya Emi sambil mengambil buku yang sempat jatuh tadi.


Vatler tidak membantunya, karena buku itu sudah tertumpuk rapi dengan waktu cepat.


“Kau yang semalam menelfonku.” Jawab Vatler lagi. 


Hal itu sukses membuat semua orang langsung mengambil kesimpulan mereka sendiri.


“Bu Emi menelfonnya malam-malam?” 


“Jangan-jangan Bu Emi ada hubungan dengan laki-lai itu. Kenapa Bu Emi menyembunyikan berita sebesar ini?” bisik guru yang lainnya.


Tidak sampai disitu saja, Emi yang merupakan dalang dari kejadian hari ini ikut termangu saat mendengar pernyataan dari Vatler yang berhasil membuat semua orang punya kesalahpahaman senidiri.


“Ah! Jangan-jangan anda, ay-” Emi yang hendak berbicara, langsung menggantungkan kalimatnya saat pri aitu menyela ucpannya dengan cepat.


“Jangan bicara disini.” Pungkas Vatler lalu berjalan pergi dari ruang guru.


Setelah ditinggal pergi, Bu Emi meletakkan buku dan laptop yang masih utuh itu ke atas meja kerja.


“Bu! Siapa pria tampan itu? Apa dia pacar anda?” salah satu rekan kerjanya bertanya dengan gamblang.


Bu Emi sempat memasanng wajah merona, tapi dia tetap menjawab : “Bukan.” dengan jawaban singkat itu, Bu Emi langsung pergi dan meninggalkan banyak pertanyaan pada semua guru yang ada di dalam sana.


Merasakan kehadirannya, Vatler berbalik dan tatapannya menuntut kepada Bu Emi untuk segera pergi ke tempat yang lebih aman untuk berbicara berdua.


Kenapa?


Apalagi kalau alasannya bukan karena salah satu anaknyam, yaitu Risya.


‘Gila, ternyata ayah dari Arshel dan Risya adalah laki-laki tinggi dan setampan ini?’ Hatinya terus merasakan kekaguman pada pria yang ada di depannya itu. 


Bagaimana tidak, jika tampang Vatler yang terlihat awet muda, ternyata tidak merubah fakta kalau Vatler adalah seorang ayah dengan dua anak yang sudah berumur 13 tahun.


“M-mari kita ke ruang tamu.” Bu Emi mencoba menata hatinya, karena pria yang harus dia hadapi adalah pria setingkat buldoser itu, karena apa?


Karena Bu Emi tahu jelas dari Arshel dan Risya yang selalu di antar dan di jemput dengan mobil mewah, ditambah melihat wajah Vatler ternyata cukup mirip dengan Arshel, Bu Emi sudah sangat yakin seratus persem bahwa pria di depannya itu adalah ayah dari kedua anak yang memiliki dua prestasi dan sifat yang bertolak belakang, sampai sudah terkenal di seluruh sekolah.


Vatler hanya diam dan mengikuti langkah Bu Emi yang membawanya ke suatu ruangan, dimana disana adalah ruang tamu.


Itu adalah tempar yang cocok digunakan sebagai tempat mengobrol.


“Aku tidak mau basa-basi lagi, apa yang ingin kau ucapkan tentang Risya? Apa dia membuat pertengkaran dengan orang lain saat di sekolah?” Tanya Valer secara gamblang.

__ADS_1


‘Tapi cara bicaranya yang blak-blakan ini, ternyata Arshel benar-benar keturunannya.’ Bu Emi menghela nafas dalam diam karena akhirnya dia menapatkan tambahan fakta asal muasal sifat Arshel yang dingin, dan selalu berkata apa adanya, meski setiap ucapan yang terlontar tkadang menyakitkan, tapi memang selalu masuk akal. “Untuk masalah pertengkaran, memang kemarin baru saja terjadi.”


Vatler semakin mengernyitkan matanya, berhasil membuat suasana di dalam ruangan itu semakin menegang. ‘Jadi yang dikatakan oleh BIbi memang benar.’ batin Vatler. Dia semalam mendapatkan telepon dari pembantunya, dan mengatakan apa yang sudah terjadi baik itu Arshel maupun Risya.


“Tapi permasalahan ini sudah saya atasi, jadi saya pastikan tidak ada yang kedua kalinya.” Imbuh Bu Emi.


“Siapa yang melakukannya?” Pertanyaan itu berhasil membuat buku kuduk Bu Emi meremang karena Vatler menggunakan nada seperti orang yang akan membalas dendam anaknya.


Tapi karena Bu Emi tidak memiliki otoritas untuk menyembunyikan masalah Risya yang berhasil mendapatkan tamparan, Bu Emi akhirnya memberitahunya. “Dia adalah anak pindahan dari luar negeri, namanya adalah Rose.”


“Siapa nama kedua orang tuanya?” Tanya lagi Vatler.


Sampai Bu Emi merasa dirinya lah yang sedang mendapatkan sebuah interogasi oleh Vatler. Padahal tujuan memanggil ayah dari anak kembar itu bukan untuk membahas masalah pertengkaran yang terjadi kemarin.


“Ibunya Avie, dan ayahnya Jackson. Awalnya keluarga itu tinggl di Swiss, ta-”


‘Jackson, jangan-jangan dia adalah orang yang bulan lalu aku penjarakan gara-gara ketahuan menyelundupkan senjata ke negara lain.’ Vatler semakin berekspsi serius saat mendegar nama Jackson sangatlah terngiang di dalam otaknya. 


“T-tapi tuan, saya sebenarnya memanggil anda bukan karena masalah itu saja.” Bu Emi sedikit memperhatikan situasi dan kosa kata yang dia gunakan saat melihat Vatler yang meereubah ekspresinya semakin dingin, seolah akan membunuh kedua orang tuan Rose.


Vatler yang diberitahu kalau bukan itu tujuannya dipanggil, dia langsung memperbaiki raut wajahnya yang pasti sudah menakuti Bu Emi.


Ah…


Itu sudah sangat jelas di mata Vatler ketika melihat senyuman tawar meghiasi bibir Bu Emi.


“Jadi apa alasamu ingin bicara denganku?” 


“Ini soal nilai.”


DEG.


Vatler memberikan tatapan sengit kepada Bu Emi. “Jadi?”


“Saya sebenarnya merasa tidak berani mengatakan ini kepada anda, tapi adik Tuan Arshel yaitu Nona Risya, dia terus mendapatkan nilai paling buruk diantara teman yang lainnya.


Saya tahu, Tuan Arshel pintar, tapi apakah sebagai kakak dia tidak pernah mengajarkan adiknya sendiri ketika dirumah?” 


Mendengar pernyataan dari Bu Emi mengenai masalah nilai Risya, Vatler jadi semakin pusing sendiri. Dia tidak tahu harus apa, karena ternyata Risya benar-benar memiliki IQ yang sangat berbeda ketimbang kakaknya?


“Sebentar,” Vatler mencoba meralat apa yang barusan dia dengar dari wali kelasnya Risya itu. “Aku pikir Risya saat masuk sekolah, dia selalu mendapatkan peringkat 10 besar, lalu apa-apaan dengan ucapanmu yang mengatakan nilainya lebih buruk dari teman sekelasnya?” 


Mendapatkan tatapan tajam dari Vatler, Bu Emi jadi menelan ludahnya sendiri. Dia harus cepat-cepat mengambil kosa kata yang tepat lalu segera menjawabnya.


Tapi setiap Bu Emi menatap mata dari pria itu, nyalinya seketika menciut kembali.


Dia memejamkan matanya sambil berkata : “Anu tuan, bisakan untuk tidak menatap saya seperti itu?” 

__ADS_1


“............!” Vatler seketika megusap wajah tampannya itu dengan kasar. Dia kembali sadar wajahnya kembali menakutinya. 


Karena itulah, Vatler lebih memilih berdiri dan berbicara dengan membelakangi Bu Emi seakan dia sedang mencoba melihat-lihat pemandangan luar kelas dari lantai dua itu.


__ADS_2