
“....................!” mata Arshel melotot setelah mendapatkan tamparan kuat dari ayahnya sendiri. Itu adalah tamparan pertamanya, “Sampai menamparku?” tanya Arshel tanpa merubah ekspresi terkejutnya.
“Jika saja kau tidak mengatakan itu, tangan ini tidak akan menamparmu.” Di balik tampang Vatler yang merasa tidak bersalah setelah menampar wajah Arshel, sejujurnya hatinya merasa sakit layaknya di tikam pisau.
Kenapa?
Apalagi kalau bukan ucapan Arshel yang menatakan dirinya bukan anak kandungnya.
Itu adalah kesalahan yang pernah Vatler lakukan kepada Risyella karena pernah menuduh anak yang ada di dalam perutnya bukanlah anaknya.
Semua drama hidup yang sudah Vatler jalani selama lebih 13 tahun ini tetap tidak membuat hati Vatler merasa bebas dari semua siksaa ini.
Ketidakberadaan Risyella justru membuat Vatler masuk ke dalam jurang besar keputusasaannya. Harus menghidupi kedua anaknya sendiri yang berbeda sifat, dan hatinya yang merasa bersalah karena melahirkan anaknya membuat Risyella meninggal dengan membawa namanya sendiri.
“.................” Vatler mengepalkan tangannya dengan erat, membuat sebuah bogem mentah yang bisa dia layangkan kapanpun dan dimanapun.
Tapi dia tidak beriat untuk memukul anaknya lebih dari sekedar tamparan.
Vatler hanya merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat keluara kecilnya akur.
Keluarga?
Tanpa seorang ibu diantara kedua anaknya yang sudah tumbuh semakin besar ini?
Vatler langsung berbalik, dan sebelum pergi, dia mengucapkan kata terakhirnya, “Ayah minta maaf sudah menamparmu.”
“Maaf saja tidak bisa mneghilangkan rasa sakit ini.” jawab Arshel dengan cepat.
“Ayah tahu, tapi-” semua kalimat yang ingin Vatler ucapkan pun tertahan di terggokannya. Dia merasa tidak berani mengungkapkan hatinya kepada Arshel yang sedang marah kepadanya. “Tidak jadi.” ucapnya, setalhitu berlalu pergi dari kamar Arshel dengan kepala sedikit menunduk.
Vatler benar-benar merasa tidak yakin kalau Arshel yang masih anak-anak itu bisa mengerti situasi ayahnya sendiri yang sebenarnya cukup rumit, jika di beritahu sekarang. Karena itulah, Vatler memilih lebih baik diam setelah mengatakan minta maaf.
‘Karena Risya, aku bahkan sampai kena tampar? Hebat sekali anak itu, tidak melakukan apapun, bisa menarik perhatian Ayah.’ pikir Arshel.
Arshel dengan amarah yang masih menyelimuti hatinya, langsung menutup tirai jendela, karena secara tiba-tiba cahaya dari luar sengatlah mengganggunya.
*
*
*
“...................” Risya berjongkok dan akhirnya duduk sambil memeluk lututnya sendiri di bawah pohon. Kepalanya menunduk dan menangis dalam diam, dengan tubuh gemetar, dia sedang dalam suasana hati yang buruk dan sangat ketakutan. ‘Kenapa Ayah tiba-tiba menampar Arshel? Apa yang mereka berdua ributkan? Pasti tamparannya keras. Ibu, kenapa ibu tidak ada disiku? Aku takut melihat mereka berdua bertengkar seperti itu. Aku sangat takut, Ibu.’
Risya benar-benar merengek dalam diam. Dia sangat takut saat beberapa saat tadi dia tidak sengaja melihat pertengkaran yang terjadi antara Arshel dan Ayahnya.
Ayahnya, dari tampang yang terlihat seperti orang kejam, membuat Risya semakin tidak berani melihat apalagi bertemu dengannya.
Mungkin untuk saat ini.
Benar.
Untuk saat ini, Risya memiliki ketakutan mental melihat ayahnya yang menampar Arshel. Karena itu, Risya langsung menghubungi seseorang dari handphone yang selalu dia bawa.
______________________
DRRTT…..
DRRTT….
Dering dari handphone berwaran putih itu pun berhasil menyita perhatian pria berbalut jas dokter.
“Fred, handphonemu bunyi.” tutur pria ini kepada satuorang rekan kerjanya yang sedang berada di toilet.
KLEK.
“................” Pria bernama Freddy ini langsung mengambil handphone yang sedang di charger. ‘Ada apa ini?’ detik hati Freddy saat melihat nama dari si penelfon itu adalah Risya.
Freddy langsung mengangkatnya dan mengarahkan layar handpohne nya ke telinga kanannya.
📞 : Paman, apa aku boleh bertemu dengan paman?
‘Kenapa suaranya seperti habis menangis?’ Pikir Freddy. Dia langsung melihat kearah jam tangannya. Jam sudah menujukkan pukul 4 sore, secara kebetulan jam kerja nya memang sudah selesai.
“Kebetulan aku sudah selesai kerja. Kita bisa bertemu di cafe tempat biasa, bagaimana?”
__ADS_1
📞 : “Iya.”
TUT.
Mendapatkan panggilan tersebut sudah berakhir, Freddy buru-buru melepaskan jas dokternya dan mengambil mantel coat nya.
“Cie, ada yang mau kencan nih.” goda pria ini kepada Freddy.
“Berisik!” Ketus Freddy. Tanpa memperdulikan lagi kalimat apa yang akan keluar dari mulut temannya itu, Freddy langsung kabur dari kantornya sendiri.
BRAKK!
Pintu yang tidak bersalah berhasil menjadi pelampiasan Freddy yang terlihat buru-buru itu.
Dengan langkah lebar, Freddy terus berjalan melewati seluruh perawat yang tidak sengaja bertemu degannya.
“Doker Fred.”
“Dokter, hati-hati di jalan.”
“Dokter, selamat sore.”
“Ibu, dokter itu tampan ya?” bahkan sampai anak kecil yang tidak sengaja berpapasan dengan Freddy, bisa memujinya langsung.
Selain para perawat, pasien dan pengunjung yang sempat berpapasan dengan Freddy juga sama-sama memiliki reaksi yang sama karena Freddy memiliki tampang wajah yang tidak kalah menantang untuk Vatler.
“Wah, siapa pria ini?”
“Pria setampan itu ada dirumah sakit ini? Apakah dia baru saja menjenguk keluarganya?”
Segala kicauan dari para kaum hawa terus menyeruak masuk ke dalam indera pendengarannya.
Meskipun begitu, Freddy tidak memperdulikan semua omongan yang sudah biasa Freddy dengar.
‘Semua wanita sama saja.’ batin Freddy. Setelah keluar masuk ke dalam lift yang beruntungnya adalah lift nya kosong, maka Freddy bisa sedikit menghembuskan nafas lega.
Aroma menyengat dari segala macam obat, bercampur dengan minyak wangi yang dipakai oleh semua orang membuat suasananya terasa sesak.
TING!
‘Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia menangisi rasa sakitnya lagi?’ tidak mau ambil pusing dengan berpikir terus, Freddy pun memutuskan menemui orangnya langsung.
Dalam waktu kurang dari 15 menti, dia sampai di salah satu mall terbesar di kota A.
Tapi meskipun Freddy memarkirkan mobilnya di basment, tapi tujuan sebenarnya bukanlah Mall. Karena tujuannya ada di tempat lain yang letaknya ada di sebuah gang sempit persis berada di belakang Mall persis, yaitu Cafe Blurry.
KLING.
“Selamat datang tuan,” sapa seorang pria paruh baya kepada Freddy yang baru saja melewati pintu masuk.
Freddy hanya mengangguk pelan dan melangkah masuk lebih dalam.
Freddy merotasikan pandangannya ke segala penjuru, sampai akhirnya dia menemukan seorang perempuan yang sedang duduk dengan meletakkan separuh tubuhnya di atas meja, sampai kepala dan tangannya selonjor di atas meja.
TAP...TAP….TAP…..
“Ris,” panggil Freddy sambil pergi menghampiri gadis yang terlihat lesu itu.
“Paman Fred,” sahut Risya, masih berada di posisi nyamannya untuk menahan kesedihannya di atas meja.
Mendengar namanya dipanggil dengan nada pelan, Freddy langsung menghampiri Risya dan duduk di depannya persis sambil meletakkan punggung tangannya di atas dahi Risya.
“Kau tidak demam.”
Risya melirik ke arah tangan milik dari pria yang dia panggil dengan paman itu. Tangan yang besar serta terasa hangat, Risya selalu mendapatkan sentuhan ringan di dahinya setiap kali mereka berdua bertemu.
“Yang demam bukan tubuhku, tapi hatiku.” jawab Risya dengan guaman lirih tapi masih bisa didengar oleh Freddy.
“Apa kau sedang ada masalah di rumah?” tanya Freddy dengan hati-hati.
“Hmm….” Risya menyahut pertanyaan itu dengan deheman. Dia tidak tahu apa yang akan Risya katakan setelah membuat paman dokter itu pergi menemuinya.
“Apa kau sudah memesan makanan?”
Risya menggeleng pelan. “Aku tidak punya selera untuk makan. Aku juga tidak tahu apa yang ingin aku makan.”
__ADS_1
“Apa selera makanmu semakin turun?”
“Aku tidak tahu, tapi kelihatannya memang iya. Hanya 3 suap saja rasanya sudah kenyang. Bagaimana jika aku tambah kurus, dan ayah tahu? Apa tidak ada obat penambah nafsu makan?” balas Risya.
Melihat Risya begitu terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat, Freddy pun hanya mengulas senyum simpul seraya mengatakan : “Apa kau mau makan masakan dari paman?”
Sukses terpancing dengan tawaran dari paman Freddy, Risya duduk dan bersandar ke kursi lalu bertanya, “Memangnya paman bisa masak?”
“Paman tidak akan menawarimu jika memang tidak bisa masak.” terang Freddy kepada Risya yang terlihat mulai penasaran dengan makanan yang dimasaknya.
“Kalau aku mau coba sekarang? Apa paman bisa?” tanya Risya dengan wajah penuh harap.
Freddy tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mendarat di atas kepala Risya lalu mengusapnya dengan usapan manja. “Akan paman buatkan sekarang juga.” jawab Freddy, lalu beranjak dari kursinya dan meninggalkan Risya sendirian.
Freddy meminta izin pada pemilik cafe untuk meminjam dapur. Setelah diizinkan, Freddy pun melakukan pekerjaan ringan yang biasa Freddy lakukan di rumah.
“Kira-kira paman masak apa ya? Semoga saja lebih enak dari masakan bibi yang waktu itu.” gerutu Risya sembari tersenyum lemah. Tatapan matanya yang sendu itu pun membuat semua harapan lain masuk ke dalam pikirannya, ‘Aku jadi penasaran, apakah dulu ibu bisa masak ya? Aku sebenarnya ingin tanya kepada ayah, tapi karena hari ini ayah terlihat sedang punya emosi kepada Arshel, aku jadi takut menanyakannya.’
Risya yang kesepian itu pun langsung disuguhi momen dari dua orang antara ibu dan anak yang lewat di depan cafe persis.
“Ibu, ice cream nya enak.” ucap anak laki-laki berumur kisaran 5 tahun itu sambil menjilati ice cream dengan wajah bahagia. “Besok beli lagi ya bu.”
“Anak ibu tidak boleh terlalu makan makanan manis, kalau giginya bolong bagaimana? Tidak bisa makan manis-manis lagi kan saat gigi yang bolong itu sakit? Yang rugi siapa?” tanya sang ibu kepada anaknya sendiri.
Awalnya wajah dari anak kecil itu terlihat sedih, “Aku, jika aku sakit gigi gara-gara makananan manis, aku jadi tidak bisa makan Ice cream seperti ini lagi dong.”
Senyuman dari wanita yang masih terlihat muda itu pun mengembang saat mendengar anaknya benar-benar mengetahui alasan dibalik larangannya. Sebagai hadiah atas anaknya yang sangat pengertian itu, wanita itu pun memberikannya usapan halus di atas kepalanya.
“Nah, anak ibu memang pintar. Makan manis memang boleh, tapi juga tahu takaran.” sekaligus memberikannya pujian.
“Iya bu.” menjilat ice cream warna warni itu lagi dengan senang.
Melihat hal tersebut, Risya jadi menyentuh kepalanya sendiri. Dia meletakkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di atas tangan kirinya yang dia letakkan di atas meja, setelah itu tangan kanannya pun mengusap kepalanya sendiri seolah sang ibu yang sering dia impikan itu sedang mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“..................” Risya tidak banyak komentar apapun, karena pada dasarnya dia memang tidak memiliki hal yang ingin dia katakan pada dirinya sendiri.
Dia cukup lelah, semuanya, bahkan hidup saja juga sebenarnya sudah terasa melelahkan. Apa yang dia rindukan memang tidak akan pernah muncul lagi dalam hidupnya, itu yang Risya rasakan selama ini.
“Hiks….hiks…” dan isak tangis yang tertahan itu akhirnya melanda Risya.
Sampai Freddy yang sudah kembali dari dapur untuk menemani kembali Risya karena tidak tega ditinggal lama-lama, langsung dibuat diam. Dia berhenti persis di samping Risya duduk dengan wajah terbenam di atas tangannya sendiri.
‘Vatler apa kau sama sekali tidak tidak bisa berubah? Apa yang sudah kau lakukan kepada Risyella dulu, akan kau lakukan lagi kepada Risya?’ Melihat Risya seperti bertingkah seperti itu, membuat hati Freddy sebenarnya merasa sakit juga.
Siapa yang tidak sakit ketika satu orang anak yang kesepian sambil merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya, ternyata tidak bisa Risya dapatkan sama sekali. Entah itu dari Ibunya, ayahnya, maupun saudaranya sendiri.
“Risya,” panggil Freddy dengan nada lirih, lalu duduk di sebelah Risya yang nampak langsung berhenti mengusap kepalanya sendiri karena kaget.
Risya kembali duduk dengan benar, lalu bertanya “Apa masakan paman sudah jadi?” tanya Risya dengan senyuman paksa.
Freddy ingin sekali tersenyum kecut melihat senyuman paksa yang tersungging di bibir Risya. Tapi karena tidak mau menambah kepedihan yang sedang Risya rasakan, Freddy pun mengulas senyuman lembut sambil mengusap kepalanya Risya.
“Hanya tinggal menunggunya matang.” sahut Freddy.
Awalnya Risya terpegun karena rupanya pria tampan yang dia panggil paman itu selain bekerja menjadi dokter, ternyata bisa memasak.
Walaupun tidak diperlihatkan bagaimana dan seperti apa paman Freddy memasak, tapi Risya sangat meyakini semua yang pamannya itu katakan adalah benar.
“Terima kasih sudah mau datang.” ucap Risya dengan wajah malu-malu.
Melihat wajah Risya yang terlihat malu itu, Freddy sedikit merasakan sensasi menggelitik yang pernah Freddy rasakan pada orang yang sama. Tepatnya itu adalah 14 tahun yang lalu.
“Dan maaf merepotkan paman, karena sudah mau menemaniku disini.” tutur Risya sekali lagi, tanpa melepaskan pandangannya untuk menatap wajah Freddy yang sama-sama awet muda seperti ayahnya.
Membalas tatapan Risya dengan tatapan yang lembut, Freddy kemudian menjawab : “Sebagai paman, teman, sekaligus doktermu, aku merasa tidak direpotkan sama sekali.”
“Paman terlalu baik.” sela Risya, lalu menyenderkan kepalanya di lengan Freddy. “Padahal aku tidak bisa membalas apapun kepada paman. nanti jika uangku sudah terkumpul, aku akan mengganti uang paman.”
“Memangnya kau punya uang?”
“Ada, aku sudah mengumpulkannya sejak kecil. Pasti cukup untuk melunasi hutangku kepada paman.” ungkap Risya.
Hati Freddy semakin trenyuh saat mendengar jawabannya. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan uang ganti dari pasiennya sendiri yang sudah Freddy kenal dari bayi itu, karena yang diinginkan nya adalah anak di sampingnya itu bisa sembuh dari penyakit yang masih disembunyikan baik dari ayahnya, maupun kakaknya.
Tidak ada yang tahu kecuali Freddy yang notabene nya adalah dokter pribadinya.
__ADS_1