
"Sebenarnya kemana dia pergi sih?" Rutuk Risyella.
Saat ini dia masih berada di tempat yang sama, duduk di kursi santai, memandangi orang-orang yang terlihat bahagia karena bisa bermain bersama dengan keluarganya.
Sedangkan dirinya sendiri? Walaupun saat ini dirinya sedang berada di tengah keramaian seperti itu, sayangnya kenapa dirinya justru seperti merasa sedang sendirian?
Memangnya apa yang membuat dirinya sendirian?
Karena pria yang sedari tadi dia harapkan, tidak kunjung datang. Padahal dia sudah menunggunya lebih dari sepuluh menit.
Kemana Vatler pergi?
Di sebabkan Vatler selalu pergi, maka hanya itulah yang selalu terlintas di dalam pikirannya.
Karena sebentar lagi dirinya akan menikah dan menjalin hubungan dengan Vatler untuk jangka yang cukup panjang, Risyella pun berpikir kalau ada baiknya kalau mulai sekarang dirinya perlahan harus merubah hubungan yang terkesan seperti orang asing terus.
Ya..itu memang harus Risyella lakukan agar kedepannya komunikasi diantara mereka berdua bisa jadi lebih baik lagi.
Tapi apa jadinya jika yang ingin di ajak untuk bekerja sama itu malah selalu pergi lebih dulu?
Sebenarnya apa yang sedang pria itu lakukan?
BYURRR.....
BYURRR.....
Suara dari ombak buatan itu pun terus menyita perhatian Risyella untuk menatapnya. Ini kali pertamanya bisa melihat kolam ombak dengan daya yang sebesar itu.
Dia ingin sekali bisa bersenang-senang dengan Vatler layaknya sepasang kekasih. Tetapi semua itu harus dia tunda atau memang tidak bisa?
__ADS_1
Dari luar saja, Risyella mengerti kalau Vatler bukanlah orang yang mudah meluangkan waktunya hanya untuk bersenang-senang. Dan faktanya saja sudah ada di depan matanya. Pria itu sudah tidak ada di dalam jangkauan matanya.
'Lalu apa artinya pergi ke sini jika aku di tinggal terus?' Lagi-lagi pikirannya terus tertuju pada satu orang pria yang, 'Kelihatannya walaupun nantinya dia akan menjadi suamiku, aku tetap tidak akan bisa menjangkaunya.' Imbuhnya.
Risyella merentangkan tangan kanannya ke atas dan menatap tangannya sendiri yang dimatanya itu tidak terlihat seindah tangan yang di miliki oleh Vatler.
Yahh...Vatler itu terasa seperti ada di atas langit yang bisa di pandang bebas oleh siapapun, sedang dirinya?
'Aku...hanyalah salah satu manusia dari jutaan manusia lainnya yang tidak bisa terlihat jika namaku tidak di panggil dengan keras.' Pikirnya lagi.
Tentu saja Risyella menyadari posisinya sendiri yang tiba-tiba berada di antara mereka berdua itu adalah karena seseorang menginginkan dirinya untuk menempati posisi kosong yang ada di sisi Vatler.
Jadi harusnya hatinya itu tidak mengharapkan lebih dari itu.
Tapi...
'Tapi...memangnya aku bisa melakukannya? Memangnya aku bisa menjadi orang yang bisa mengisi hati orang itu?' Risyella selalu bertanya-tanya, kenapa Vatler mau-mau saja di jodohkan dengannya, padahal dari segi akademik, kemampuan, semuanya seperti enol. 'Lagi pula dia tidak akan mendapatkan keuntungan lain selain menjadikanku sebagai tameng dari Ibunya itu.'
GREP....
Risyella pun mengepalkan tangannya sendiri. Dia tidak bisa melakukan apapun. Itulah yang dia yakini, karena tidak ada seorangpun yang akan mengerti hatinya yang sedang dilanda kasmaran sendirian itu.
'Mungkin dia memang sudah tahu, kalau aku juga menyukainya. Tapi tetap saja, kenapa rasanya jadi aneh sendiri? Karena aku mencintai laki-laki yang akan menikahiku, tapi dia sendiri kelihatannya tidak menyukaiku.' Rasa delima dari hati itu pun terus saja mencuat.
Risyella benar-benar tidak mampu untuk mengontrol dari dua perasaan yang saling bertolak belakang itu.
Hingga lamunan miliknya itu segera sirna, saat adanya satu bayangan yang tiba-tiba saja datang dan menutupi wajahnya dari sinar mentari yang kian meninggi itu.
'Siapa?' Saat Risyella mendongak ke atas, dia akhirnya langsung di suguhi satu orang yang sedari tadi dia tunggu, yaitu Vatler.
__ADS_1
"Maaf, membuatmu lama menunggu."
Itulah kata-kata yang terucap dari mulut yang terlihat seperti bisa mengucapkan kata-kata yang sangat kasar itu.
"Hmm..." Dehem Risyella, atas perkataan Vatler barusan dengan ekspresi merungut. 'Tapi....apakah aku salah lihat?' Risyella mengerjapkan matanya beberapa kali, bahwa pria yanga da di depannya saat ini adalah calon suaminya yang terkenal dengan ekspresi yang kaku dan juga terlihat dinginn itu. 'Kenapa dia terlihat seperti sedang tersenyum kearahku? Dia kan bukanlah orang yang akan tersenyum tanpa sebab seperti itu hanya dengan sebuah tatapan saja.' Pikir Risyella.
Dia memang merasakan keanehan itu, dimana Vatler yang biasanya berekspresi serius, saat ini justru berekspresi dengan tatapan yang cukup lembut?!
Kearahnya?
Hingga satu tangan milik Vatler tiba-tiba saja di ulurkan ke arahnya.
"Apa?" Tanya Risyella bingung.
"Ayo, kita pergi dari sini." Kata Vatler, mengajak Risyella untuk pergi bersama.
"Kemana?" Tanya Risyella penasaran.
"Nanti juga akan tahu." Jawab Vatler.
"Tapi-" Risyella sesaat terdiam. Keinginannya untuk bermain di kolam renang kelihatannya harus di tunda, sebab Vatler terlihat ingin mengajaknya ke suatu tempat. "Baiklah."
Karena belum terbiasa dengan cara yang digunakan Vatler saat ini, Risyella yang tadinya masih duduk manis pun langsung berdiri begitu saja, tidak menerima bantuan dari Vatler untuk berdiri.
'Tapi kenapa? Dengan wajah mautnya itu, mau aku berprasangka buruk pun, pada akhirnya aku tidak bisa membuat alasan pada pada diriku sendiri kalau ada yang aneh dengannya.' Hingga akhirnya Risyella pun membuang segala pikiran itu untuk menikmati momen bersama dengan pria ini.
Mau mengajaknya kemana?
Itulah yang selalu Risyella tunggu-tunggu sebagai perempuan dari desa yang tidak begitu mengenal tempat yang ada di kota.
__ADS_1